FOTO IST/nurturingfaith.
files.wordpress.com

Kebersamaan dalam
suasana makan
bersama sangat membantu
pperkembangan mental remaja


ORANGTUA yang ingin menanamkan kebiasaan makan yang baik pada anaknya, terutama remaja, mesti memastikan bahwa mereka harus menanamkan kebiasaan makan bersama keluarga. Satu studi jangka panjang pertama yang meneliti manfaat makan bareng keluarga dan ditempuh beberapa peneliti pada School of Public Health, Universitas Minnesota, mendapati bukti bahwa makan bareng berdampak besar pada remaja karena mendorong tumbuhnya kebiasaan makan sehat dan pilihan gizi yang baik.

"Temuan ini menunjukkan makan bareng secara rutin selama masa peralihan dari awal sampai pertengahan masa remaja secara positif berdampak pada perkembangan prilaku sehat pemuda," kata Teri L. Burgess-Champoux yang mengerjakan studi itu.

"Pentingnya kebersamaan dalam berbagi pengalaman waktu makan dengan landasan konsisten selama masa perkembangan penting ini mesti ditekankan oleh orang-tua, penyedia perawatan kesehatan dan pendidik," katanya.

Para peneliti mengkaji data dari Project EAT, studi yang meneliti faktor sosio ekonomi, pribadi dan prilaku apa yang mempengaruhi kebiasaan makan hampir 400 anak.
Semua siswa diminta menjawab semua pertanyaan ketika mereka berusia 12 sampai 13 tahun dan selama lima tahun kemudian. Selama masa 10 tahun pertama, 60 persen anak secara rutin makan bersama keluarga mereka, sedangkan 30 persen melakukannya belakangan selama masa remaja.

Anak yang makan lima kali atau lebih setiap pekan bersama keluarga mereka baik pada awal maupun pertengahan masa remaja, menyantap makanan yang lebih sehat dengan banyak sayuran dan makanan yang kaya kalsium, serat dan mineral lima tahun kemudian.

Meskipun makan rutin bareng dengan keluarga ini berkaitan dengan pola makan yang lebih baik, secara keseluruhan makanan yang memadai tak menjadi capaian studi tersebut, kata para peneliti itu. Temuan tersebut disiarkan pada Journal of Nutrition Education and Behavior, terbitan terakhir. (ant)


10 Kiat Kembangkan Otak Anak

DIJELASKAN oleh Dr. Eddy Supriyadi, Sp.A, dari RS Sardjito Yogyakarta, ada dua komponen dasar dalam perkembangan otak anak, yaitu lingkungan yang aman dan pengalaman positif. Saat seorang bayi merasa tertekan, otak akan merespon dengan menghasilkan zat kortisol. Kadar kortisol yang tinggi akan memperlambat perkembangan otak.

Lingkungan aman dan nyaman diperlukan bayi untuk membantu perkembangan otaknya. Beri respon saat bayi menangis maupun mengoceh.
Pengalaman yang diterima setiap hari juga akan membantu perkembangan otak anak. Aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajak anak ke pasar atau ke toko buku, ujar dokter anak lulusan UGM ini, sangat penting untuk pembentukan jaringan perkembangan sel otak.

Dr. Eddy memberikan 10 tip bagi orangtua untuk membangun dasar perkembangan otak anak:
1. Beri perawatan dan kasih sayang yang adekuat selama masa kehamilan.
2. Beri nutrisi yang cukup. Enam bulan pertama kehidupan bayi, berikan kecukupan nutrisi dengan ASI.
3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
4. Berbicaralah kepada bayi. Buat kontak mata saat berbicara dengan anak. Jangan lupa selalu tersenyum kepada anak.
5. Bila harus menitipkan anak, carilah tempat penitipan yang bermutu tinggi.
6. Kenalkan aneka ragam musik pada anak, dan bernyanyilah bersama.
7. Beri interaksi yang nyata dengan anak demi perkembangan otaknya. Jangan biarkan anak menonton televisi terlalu lama. Batasi waktunya.
8. Beri ruang bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan teman sebaya.
9. Redakan stres pada orangtua. Orangtua yang mengalami stres cenderung mengalihkan stres kepada anaknya. Bila Anda merasa stres, cobalah bercerita kepada orang yang dekat dengan Anda.
10. Ingat, otak tidak akan pernah berhenti berkembang. Jadi, beri stimulasi sebanyak-banyaknya secara terus-menerus.(Kompas.com)


5 Kebiasaan Buruk Ayah & Ibu

SETIAP orangtua tentu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Apakah dengan membuat Si Kecil tetap sibuk beraktivitas, atau memberi kebebasan memilih kepadanya. Yang jelas, orangtua selalu merasa, membahagiakan anak adalah tugas utama mereka. Nah, berikut ini lima kesalahan yang sering dilakukan orangtua dan cara mengatasinya.
1. Terlalu Banyak Negosiasi
Banyak orangtua merasa sudah bersikap adil dan demokratis ketika bertanya kepada anak-anaknya tentang segala hal. Mulai soal pakaian yang ingin dikenakan, sampai soal menu makan malam.

Namun, anak-anak sebenarnya ingin diberitahu mengenai apa yang harus dilakukan, dan justru jadi takut berpendapat bila terus ditanyai. Begitu sudah menetapkan keputusan, beri penjelasan singkat. Lakukan kontak mata dan sampaikan pernyataan dengan jelas, mengapa aturannya harus begitu.

Kesalahan lainnya adalah pada saat menyampaikan permintaan. Jika ingin anak mandi tetapi ucapan Anda terdengar seperti pertanyaan, anak akan memanfaatkannya dengan mengatakan "tidak". Kita tidak perlu merasa bersalah jika harus menyuruh anak mandi karena itu sudah menjadi bagian dari tugas sebagai orangtua.

2. Tak Pernah Membiarkan Anak Merasa Bosan
Seberapa sering, sih, Si Kecil merengek, "Saya bosan, saya bosan!" dan Anda merasa seolah-olah ini salah Anda? Banyak para ibu dan ayah merasa gagal jika tidak bisa menstimulasi anak-anaknya. Padahal, anak-anak perlu merasa sedikit bosan.

Dengan begitu, kita akan mengajarkan kepada mereka untuk mampu berpikir kreatif dengan waktu yang dimiliki, serta belajar bahwa kehidupan tak selalu menyenangkan.

3. Membelikan Segala yang Anak Minta
Banyak orangtua lalu membanjiri anak-anaknya dengan hadiah, dan membuat anak jadi tak menghargai uang. Ini sangat berbahaya bagi para orangtua bekerja yang menggunakan hadiah sebagai pengganti dari ketidakhadirannya. Akibatnya, anak-anak akan memanfaatkan rasa bersalah orangtuanya. Jika anak-anak sangat menginginkan sesuatu, biasakan mereka menabung dari uang jajannya dulu.

Beri pengertian bahwa, jika mendapatkan sesuatu dengan susah payah, mereka akan lebih menghargainya.

4. Terlalu Memaksakan Kehendak
Orangtua selalu merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya, padahal ternyata mereka melakukan hal yang membahayakan bagi anak-anak. Jika dukungan berubah menjadi tekanan, anak-anak justru menjadi gelisah dan prestasinya mulai mundur. Mereka juga dapat mengalami gejala stres, seperti sakit perut yang tak jelas, sembelit, tak dapat tidur, gangguan tidur, dan mimpi buruk. Pada anak-anak yang sensitif, harapan orangtua yang terlalu tinggi agar anak-anak menjadi pintar dapat menurunkan rasa percaya diri mereka.

5. Tak Pernah Bilang "Tidak"
Banyak orangtua terperangkap dengan berpikir, mengatakan "ya" kepada setiap permintaan anak-anak akan membuat mereka bahagia. Masalah juga kerap terjadi kepada orangtua yang dibesarkan di dalam keluarga yang sangat keras, dan ingin menerapkan hal berbeda kepada anak-anaknya.

Jika tak dapat mengatakan "tidak", Anda tidak melakukan tugas sebagai orangtua dengan benar. Begitu Anda mengatakan "tidak", hal yang paling penting adalah konsisten dan tidak mengubah pikiran. Sebab, bila tidak begitu, anak-anak akan memanfaatkan kelemahan Anda. (Kompas.com)


Pos Kupang Minggu 29 Maret 2009, hal 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda