Membolos

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

ORIS dan keluarganya baru saja pindah ke kota mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Dengan pembawaannya yang tidak memilih-milih teman, maka tidak lama setelah kepindahan mereka, Oris sudah memiliki banyak teman. Teman-teman Oris itu tidak hanya sebatas di sekolah saja, tetapi juga di sekitar kompleks tempat tinggal mereka.

Tempat tinggal Oris termasuk di wilayah pinggiran kota. Di belakang kompleks tempat tinggal Oris berdiri sejumlah bangunan liar yang dihuni para penduduk miskin. Karena itu tidaklah mengherankan kalau hampir sebagian besar teman Oris tidak sekolah. Kalau ditanya, alasan mereka selalu sama, orangtua tidak sanggup membiayai. Waktu mereka lebih banyak diisi dengan mencari uang membantu orangtua.

****
Pagi itu Oris ke sekolah dengan wajah merengut. Di kelas nanti dia akan dihukum Pak Guru karena belum mengerjakan PR Matematika. Belum lagi pelajaran yang tidak disukainya itu berlangsung dari pagi hingga istirahat pertama tiba. Tentu akan sangat membosankan. Benar-benar hari yang buruk baginya.

"Ada apa, Ris? Kok wajahmu merengut seperti itu?" tanya Yoyo ketika keduanya berpapasan. Oris pun menceritakan permasalahannya.

"Ah gampang itu, Ris. Tinggalkan saja guru dan pelajaran yang membosankan itu. Lebih baik kita berkeliling kota dengan menumpang angkot abangku," ajak Yoyo. Ajakan itu diterima Oris dengan senang hati. Selain mengatasi masalah, juga berkeliling kota secara gratis, sangat menyenangkan.

****
Angkot yang ditunggu pun datang. Oris segera melompat masuk. Kalau penumpang sedang kosong seperti sekarang Oris boleh duduk. Kalau penumpangnya penuh, Oris bergelantungan di pintu seperti Yoyo. Hari itu penumpang agak banyak sehingga Yoyo agak kewalahan menagih ongkos. Oris membantunya.

Siang harinya mereka diajak Bung Markus, kakak Yoyo berteduh sambil melepas lelah di sebuah warung. Bang Markus memesan nasi ayam dan es teh manis untuk mereka bertiga.
"Makanlah, Ris. Mungkin rezekinya kamu sehingga hari ini Abang dan Yoyo mendapat banyak penumpang," kata Bang Markus.

Usai makan mereka kembali berkeliling mencari penumpang. Menjelang malam baru Oris diturunkan di dekat rumahnya. Bang Markus memberinya sejumlah uang. Oris sangat senang.

****
Setibanya di rumah Oris langsung dicegat ibunya di depan pintu.
"Dari mana saja kamu sampai pulangnya malam begini?" tanya ibu.

"Oris ikut kegiatan ekstrakurikuler, Bu," Oris berbohong.
"Apa katamu? Ikut ekstrakurikuler?" ibu balik bertanya.
"Ya , Bu," Oris kembali berbohong.

"Karena kamu belum pulang, ibu lalu menelepon wali kelasmu. Wali kelasmu bilang, kamu tidak masuk sekolah hari ini." Perkataan ibu membuat Oris tidak dapat mengelak lagi.
"Sekarang kamu jawab dengan jujur, ke mana saja kamu seharian ini?" tegas ibu.

"Oris... Oris ikut Yoyo menjadi kernet di angkot kakaknya," jawab Oris.
"Mengapa kamu sampai membolos?" tanya ibu.
"Karena belum mengerjakan PR Matematika. Juga karena Oris tidak menyukai pelajaran Matematika, Bu," ujar Oris jujur.

"Ooooh, itu persoalannya. Nanti ibu carikan guru privat Matematika untukmu. Namun sebelumnya kamu harus berjanji untuk tidak akan membolos lagi," pinta ibu.

"Oris berjanji, Bu. Oris tidak akan membolos lagi. Oris juga mau berterima kasih kepada ibu yang telah bersedia mencarikan guru privat untuk Oris," kata Oris tulus. Mendengar itu ibu tersenyum bahagia sambil memeluk Oris erat. (*)

Pos Kupang Minggu 19 April 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda