Musim Layang-Layang

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

MUSIM layang-layang tiba. Itulah saat yang paling ditunggu-tunggu kedua kakak beradik Ivan dan Alvin. Inilah kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan banyak uang.

Bermodalkan sebuah layang-layang dengan benang gelasan, benang yang dicelupkan pada campuran lem dan pecahan botol yang digiling halus, Ivan menantang anak-anak lain untuk beradu layang-layang. Mereka saling mengaitkan benang layang-layang mereka dan siapa yang berhasil memutuskan benang layang-layang lawannya, maka dialah yang menang.

Dengan kelincahannya menyabet benang lawan dan dengan ketajaman benang gelasan yang digunakan, maka Ivan selalu tampil sebagai pemenang. Sementara adiknya Alvin dengan gesit akan mengejar layang-layang yang putus tersebut. Layang-layang yang didapat Alvin itu akan dijual kembali kepada pemiliknya semula atau anak-anak lain yang mau membelinya.

Dengan demikian dalam sehari kedua kakak beradik itu mendapatkan banyak uang. Uang itu dibagi rata berdua dan akan dibelikan apa yang menjadi keinginan mereka.

****

Keasyikan bermain layang-layang membuat Ivan dan Alvin lupa akan tugas yang telah diberikan ibu kepada keduanya. Hampir seminggu halaman tidak dibersihkan oleh Ivan, sehingga halaman itu sangat kotor seolah rumah mereka tidak berpenghuni. Begitu pula halnya dengan lantai dan perabot di dalam rumah. Semuanya kotor dan berdebu.

Itu terjadi karena Alvin yang seharusnya membersihkannya tidak melaksanakan tugasnya. Ibu kewalahan kalau harus membersihkan sendiri. Ibu sibuk membuat kue pesanan orang.
"Kalian boleh bermain layang-layang, tetapi jangan sampai melalaikan tugas kalian. Lihat rumah dan halaman sangat kotor. Ini terjadi karena kalian telah lupa akan tugas kalian. Lagi pula bermain layang-layang itu apa untungnya? Kalian lihat kan di televisi, ada yang terkena setrum listrik gara-gara menjolok layang-layang. Ada yang kakinya tembus tertusuk bambu tajam gara-gara mengejar layang-layang. Apa kalian ingin seperti itu?" nasihat ibu.

****

Di kepala Ivan dan Alvin yang ada hanya laying-layang dan uang. Karena itu meski diperingatkan dan dinasihati ibu berkali-kali mereka tidak perduli.

Hari itu permainan sangat seru. Berkali-kali Ivan memutuskan benang lawan. Alvin sampai kewalahan mengejarnya. Satu lagi layang-layang yang putus dan terbawa angin ke arah jalan raya. Alvin berusaha keras mengejarnya. Tetapi... Braaaaak ! Alvin terpental ke trotoar dengan berlumuran darah. Sebuah mobil kijang berhenti di dekatnya. Rupanya mobil kijang itu menabraknya.


Ivan segera berlari ke tempat kejadian. Terlihat adiknya itu mengerang kesakitan dengan tubuh berlumuran darah. Ivan meminta sopir kijang itu untuk membawa adiknya ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata adiknya menderita patah kaki dan luka lecet pada beberapa bagian tubuhnya. Kaki Alvin segera digips dan luka-lukanya diberi obat dan diperban.

Tidak berapa lama ibu datang. Ibu menangis melihat keadaan Alvin seperti itu. Ivan sangat sedih melihat ibunya menangis.
"Itulah, nak. Ibu sudah memperingatkan kalian berdua untuk tidak bermain layang-layang, tetapi kalian tidak menghiraukan kata-kata ibu. Beginilah jadinya. Ibu tidak tahu dari mana uang untuk membayar biaya pengobatan ini. Kalau saja bapak kalian masih hidup, ibu tidak merasa sesulit ini," ibu kembali menangis.

"Biar saya yang menanggung biaya pengobatan ini, bu," kata sopir mobil itu.
"Kalau begitu, terima kasih, pak," sahut ibu sambil mencium tangan sopir itu.
Dalam hati Ivan berjanji, tidak akan menyusahkan ibu lagi. (*)


Pos Kupang Minggu 26 April 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda