Shanaz Haque Jadi Korban "Pengancaman" Anak

Fotowww.mahasiswa.com
Shanaz hak dan anak

BAGI anak, apa yang menjadi keinginannya selalu berharap harus terpenuhi, tanpa melihat kondisi ekonomi orangtua. Sehingga, tidak jarang anak harus memaksa hingga mengancam orangtuanya agar menuruti apa yang menjadi kehendaknya.
Ternyata hal itu dialami artis Shahnaz Haque (36).

Adik kandung artis senior Marisa Haque ini pernah menjadi korban pengancaman buah hatinya. Tragisnya lagi, dia diancam bakal diganti sebagai ibunya, jika tidak mau membelikan salah satu mainan kesukaannya.

Shahnaz pun tidak kehabisan cara. Sehingga ancaman sang buah hati agar dirinya membelikan membelikan video game yang menjadi permintaan bisa tidak dikabulkan. Malah, dia membalas ancaman tersebut dengan tertawa. Menurutnya, dia memang sengaja tidak memanjakan anak dengan benda-benda yang tidak penting dan tidak bermanfaat bagi perkembangannya.

Karena dianggapnya hal itu justru bisa menjadi kendala dia dalam pendidikan. "Anakku yang besar itu umur tujuh tahun. Dia pernah bilang, Kalau Ibu tidak mau mengabulkan, permintaanku, aku mau mengganti ibu'. 'Oh, Alhamdulillah kakak. Kapan?'," ujar Shahnaz sambil tersenyum.

Begitu saya tantang seperti itu, ternyata dia malah mundur dan ketakutan. Artinya, apa yang menjadi keinginan anak itu tidak harus semuanya dituruti. Selain melatih dia untuk memahami kondisi keuangan orangtua, juga harus memandang azaz manfaat.

"Senjata saya itu benar-benar ampuh. Terbukti, pas saya tantang begitu, dia mundur. Malah bilang, tidak jadi deh. Aku pikir-pikir dulu'," kata ibu tiga putri ini sambil tertawa.

Selain permintaan mainan, menurut Shahnaz juga permintaan terhadap buku. Dia tidak langsung cepat mengabulkan permintaan buku buah hatinya, dengan mengajukan berbagai syarat. Misalnya, buku yang lama yang dianggap kurang penting itu harus diberikan kepada anak jalanan yang membutuhkan buku tersebut.

Dengan persyaratan tersebut, secara tidak langsung ada hikmah untuk berlatih berbagi dengan sesame. Agar kelak, ketiga buah hatinya itu, tidak menjadi orang yang konsumtif dan hedonis. Karena sudah belajar sejak dini. "Kalau tidak diajak belajar seperti itu, kita bisa dianggap sebagai ATM saja. Apa yang menjadi permintaan selalu dituruti dan minta sewaktu-waktu sesuai keinginan," cetusnya.

Untuk mendidik agar anak tidak berlaku konsumtif, presenter ini juga memberikan batasan waktu bagi buah hatinya menonton televise khususnya tayangan anak-anak. Paling lama, dia memberikan waktu nonton selama dua jam per hari.

Karena, disadari atau tidak, anak terlalu lama nongkrong di depan televisi itu tidak baik bagi perkembangan ketiga putrinya. Bahkan, dia juga sempat berkonsultasi dengan pengamat media dari Kritis Media pada Anak (Kidia) untuk meminta panduan acara televisi yang sesuai untuk anak-anaknya.

Dengan panduan ini, Shahnaz tak khawatir meninggalkan anak dalam pengawasan pengasuh anak, lantaran mereka juga tahu apa yang boleh ditonton dan apa yang dilarang. Karena, sejak dini kita menanamkan pendidikan tersebut.

Ketika ditanya, apakah buah hatinya pernah protes karena membandingkan teman sebayanya yang bebas menonton oleh orangtuanya? Dengan tegas, Shahnaz mengaku tidak pernah. Dengan santai dia mengatakan, anak-anaknya tidak mudah iri dengan sesame temannya. (Persda Network)



Pos Kupang Minggu 26 April 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda