Urbanus Ola Hurek dan Anna Maria Pelo Killa

Keluarga Pasangan
Urbanus Ola Hurek


Urus Anak,

Tanggung Jawab

Orangtua


ANAK-anak merupakan permata hati orangtua titipan Tuhan. Dan, sudah menjadi kewajiban setiap orangtua untuk mendidik, merawat dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Pemahaman itu membuat pasangan Urbanus Ola Hurek dan Anna Maria Margarertha Ivona Pelo Killa, mengurus anak adalah hal utama dalam keseharian mereka.

Bagi keduanya anak adalah titipan Tuhan yang paling berharga di dunia ini. Apapun alasanya, anak menjadi nomor satu dan tidak bisa dititipkan pada siapapun. Itulah wujud tanggung jawab keduanya sebagai orangtua yang menginginkan anak-anaknya bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas, sukses dan taat pada orang tua dan Tuhan.

Kepada Pos Kupang di kediamannya di Kelurahan Sikumana-Kupang, Selasa (31/3/2009), pasangan yang sama-sama sibuk ini menceritakan banyak hal tentang suka duka membesarkan dan mendidik anak.

Ur Hurek, begitu akrabnya saat ini menjadi dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang. Sedangkan istrinya Ivon Pelo Killa, bekerja sebagai PNS di Dinas Sosial Propinsi NTT.

Pasangan yang menikah tahun 1997 ini memiliki dua orang anak. Anap pertama Stefania Truly Ngadha, lahir di Bajawa, 16 Juli 1998, saat ini duduk di kelas V, SDK St. Familia Sikumana. Anak kedua, Leonardus Kenisah Cornelis Samun, lahir di Kupang, 2 Februari 2001, saat ini duduk di kelas II, SDK Don Bosko 4 Kupang.

Bagi keduanya, mengurus, membesarkan dan mendidik anak adalah harga mati menjadi urusan orang tua. Keduanya tidak akan menitipkan anak kepada siapun meski sesibuk apapun baik di kantor maupun dalam berbagai organisasi di luar kantor. Apalagi urusan antar jemput anak, pergi dan pulang sekolah.

Bagi pasangan ini, kerja bukanlah sebuah alasan untuk tidak mengurus anak, karena keduanya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan. Mengurus anak, katanya, adalah ibadah dan apa yang dilakukan di dunia akan menjadi sebuah pertanggung jawaban di akhirat nanti. Prinsip tidak melibatkan orang lain dalam mengurus anaknya merupakan kesepakatan bersama antara keduanya.

Bagi Ur dan Ivon, tanggung jawab harus dilakukan secara utuh dan tidak bisa sepotong- sepotong. Sebab, pendidikan yang dilakukan orang tua di dalam rumah akan menjadi cerminan ketika anak berada di luar rumah.

Keduanya mengakui tidak sempurna dalam mengurus kedua anaknya, tetapi apapun diupayakan untuk selalu membuat yang terbaik bagi anak-anaknya. Apalagi, kata Ur dan Ivon, kedua anaknya masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari keduanya sebagai prang tua.

"Yah, kami tidak muluk-muluk dalam membimbing dan membesarkan anak-anak. Kadang di rumah juga menjadi kandang binatang, tetapi semua itu selalu dalam suasana keakraban antara kami orang tua dan anak," kata Ur, yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FISIP Unwira tahun 1988-1990, dan saat ini menjadi anggota dan pengurus NTT Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).

Menurutnya, satu hal yang paling tidak diinginkan keduanya adalah mendidik anak dengan kekerasan atau dengan kata-kata kasar. Dikatakanya, kekerasan hanya akan membuat anak menjadi pribadi yang minder dan tidak bisa berekspresi. Kedua anaknya adalah tipe anak yang nakal dan memiliki kemauan keras, sehingga bagi keduanya mengikuti kemauan anak bukan memanjakan anak.

Keduanya yakin seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usia anak-anak akan bertumbuh dewasa dan mandiri. Sehingga, saat ini yang dilakukan keduanya adalah mengarahkan dan memberi pengertian bahwa yang dilakukan itu benar atau salah. Untuk itu, penjelasan menganai benar dan salah atau ia dan tidak dari suatu keputusan menjadi snagat penting bagi anak-anaknya.

Sebagai orang tua yang sibuk, keduanya juga menyesalkan kebijakan pemerintah yang memberlakukan lima hari kerja. Alasanya, pemberlakuan lima hari kerja sangat merugikan orang tua yang memiliki anak. "Kami harus berangkat pukul 06.30 Wita ke kantor dan pulang pukul 17.00 Wita. Waktu kami sangat sedikit untuk bertemu dengan anak-anak. Belum lagi kalau ada lembur dan sebagainya di kantor. Pulang sudang malam, cape, yang pasti adalah tidur.

Makanya, anak ditelantarkan. Memang ada waktu hari Sabtu dan Minggu, tetapi anak- anak kan juga hari Sabtu ada sekolah dan Minggu ada kegiatan-kegiatan di luar rumah. Kapan waktunya bersama anak-anak. Kalau enam hari kerja dan pukul 14.00 Wita, pulang masih banyak waktu untuk bersama anak di rumah," kata Ur dan ivon. (nia)


Pos Kupang Minggu 5 April 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda