Dokter Valens Yth,
Salam damai dan sejahtera buat semua kru Pos Kupang. Semoga terberkati selalu. Nama saya Manis, gadis 25 tahun, tamatan diploma dan sudah bekerja pada salah satu kantor Leveransir yang cukup maju.

Dokter, saya tergerak menulis surat ini karena ada berita berita di televisi yang membuat saya tidak tenang. Dikatakan bahwa sekitar 25 persen pria yang sudah menikah, khususnya yang tinggal di kota-kota besar pernah melakukan perselingkuhan. Nah ini yang membuat saya cemas.

Begini cerita saya, sejak masih kuliah dulu saya sudah pacaran (jarak jauh) dengan Jack. Saya di Denpasar dan Jack di Kupang. Saat ini Jack setelah selesai kuliah dia bekerja pada suatu perusahaan Travel Biro di kota ini. Sebetulnya dari sudut pandang banyak orang, kami ini termasuk pasangan yang cocok.

Tapi menurut saya Jack itu sulit dimengerti. Dia memiliki banyak teman pria maupun wanita. Namun dari orang-orang yang saya temui mereka mengatakan bahwa teman-teman ceweknya itu juga pacar-pacarnya.

Kebetulan saya dan Jack kuliah dulu di kota yang berbeda sehingga saya tidak banyak tahu tentang hubungan mereka sebelumnya. Saya pernah secara tak sengaja menemukan satu surat dalam tas. Surat itu dikirim dari seorang cewek yang isinya mesra sekali.

Ketika saya tanyakan ini pada Jack, surat itu datang dari seorang teman baiknya. Saat ini kami berencana menikah. Tapi kalau sifat Jack seperti itu (yang suka punya WIL: wanita idaman lain), maka saya dalam hati tidak mau terima. Saya ingin setelah kami menikah, tidak ada lagi teman-teman ceweknya boleh mengganggu.

Dan saya akan berusaha keras agar Jack jangan sampai berselingkuh. Saya pernah melihat ada kejadian di sekitar keluarga saya, gara-gara selingkuh hidup pasangan tersebut menjadi begitu sulit dan menyakitkan. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin tanyakan: Bagaimana caranya untuk mencegah selingkuh ini?

Saya ingin Jack itu milik saya satu-satunya dan saya ini milik dia satu-satunya juga. Saya memang orang yang cemburuan, jadi kalau sulit dicegah maka biar batal saja pernikahan ini. Saya tunggu jawaban dokter.
Salam, Manis, Oeba-Kupang

Saudari Manis yang baik
Damai sejahtera juga buat Anda. Benar adanya bahwa dalam kenyataan hidup di jaman modern ini banyak terjadi love affair (perselingkuhan). Berita paling aktual tentang perslingkuhan datang dari seorang psikolog, Universitas Indonesia (UI), Yudiana Ratnasari, M.Si, yang mengatakan bahwa sekitar 25 persen pria yang sudah menikah, khususnya yang tinggal di kota-kota besar pernah melakukan perselingkuhan dan 15 persen wanita melakukan perselingkuhan.

Saudari Manis, banyak orang menyangka bahwa dengan modernisasi serta merta akan membawa banyak kesejahteraan. Tapi jangan lupa di balik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau terdapat juga banyak gejala yang dinamai the agony of modernization (azab sengsara karena modernisasi).

Di Amerika lebih heboh, serikat 75 persen para suami terlibat perselingkuhan, sementara perselingkuhan oleh para istri 40 persen akibatnya 60 persen keluarga mengalami broken home.

Dari lima perkawinan dalam lima tahun pertama, tiga berakhir dengan perceraian (Sumber: Family Crisis, APA, 2004).

Jadi dibandingkan dengan Indonesia, masih di kelas ringan. Selanjutnya saya menyampaikan salut buat Anda, karena sebelum menikah Anda sudah mulai mencoba berusah mencegah terjadinya perselingkuhan.


Perilaku Jack yang sebelum nikah terbiasa berada diantara banyak teman cewek, harus direm agar tidak terlalu laju dalam permainan cinta dengan banyak cewek. Untuk itu sebelum lebih jauh saya menjawab pertanyaan Anda tentang bagaimana mencegah Jack berselingkuh, saya ingin tunjukan beberapa alasan terjadinya perselingkuhan.

Menurut Prof.Dr. dr. H. Dadang Hawari, psikiatri, dalam bukunya Love Affair, ditulis beberapa alasan terjadinya perselingkuhan antara lain karena :
1). Kurangnya atensi (perhatian) istri pada suami ataupun sebaliknya.

2) Sikap istri yang terlalu dominan (menguasai) terhadap suami.

3) intervensi (turut campur tangan) pihak ketiga seperti: orangtua, mertua, ipar dan lain-lain.

4) Komunikasi suami istri yang "tidak nyambung". Istri yang "telmi" (telat mikir) atau "kuper" (kurang pergaulan).

5). Arogansi dalam wujud sombong, egois dan gengsi serta suka melecehkan pendapat orang lain termasuk
suami/istri.

6) Sikap kurang menghargai (apresiasi) antara suami istri.

7) Menurunnya gairah seksual (libido).

8) KDRT:Kekerasan dalam rumah tangga ( domestic violence). Dan masih banyak lagi.

Selanjutnya bagaimana upaya prevensi/ pencegahan agar Jack (pasangan Anda) tidak selingkuh. Dua orang peneliti Stinnet dan John de Frain dalam buku mereka berjudul The Natinoal Study on Family Streng membuat enam rumusan keluarga yang bahagia dan sehat (happy and healthy family) yang dapat mencegah resiko perselingkuhan.

1) Kehidupan beragama yang baik akan memberi rasa aman dan kasih sayang kuat antar suami istri (security feeling and love to be loved).

2) Mempunyai waktu bersama. Walaupun anda berdua masing-masing sangat sibuk harus dapat meluangkan waktu untuk kumpul bersama.

3). Mempunyai komunikasi yang baik. Selain untuk menghilangkan kesalah-pahaman, juga untuk secepatnya dapat menyelesaikan berbagai permasalahan.

4) Saling harga-menghargai, merasa membutuhkan satu sama lain, mempunyai arti penting secara psikologis.

5). Perkawinan merupakan suatu ikatan dalam hukum dan janji untuk saling memilki dalam suka maupun duka.

6). Kemampuan menyelesaikan masalah (secara positif dan konstruktif).

Menjadi suami/istri yang baik tidak mudah. Dibutuhkan proses adaptasi interaksi psikologis untuk memperoleh satu titik temu yang cocok, sehingga dapat membangun suatu rumah tangga yang harmonis dan bahagia serta jauh dari wujud perselingkuhan.

Saran saya, cari waktu yang pas dalam suasana yang romantis, bicarakan secara terbuka hal-hal mungkin akan menggangu hubungan kalian di masa mendatang setelah nikah, termasuk soal perselinglkuhan ini.

Akan lebih baik lagi bila jawaban saya ini dapat dibahas bersama-sama. Saya yakin cinta Anda akan semakin kuat. Semoga.
Salam, dr.Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 13 Lanjut...

Eduardus

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

EDUARDUS Mbete, Hendrikus Kia Walen, Fransiskus Tadon Kerans, Daniel Daen... Ada apa gerangan dengan kalian? Benarkah kalian pelaku pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen? Benarkah kalian terlibat dalam cinta segitiganya Antasari,
Nasrudin, dan Rani Juliani?

Benarkah, kasus Antasari sudah sudah melebar ke persoalan politik tingkat tinggi untuk menghentikan sepak terjang Antasari dalam Komisi Pemberantasan Korupsi? Kalian dibayar berapa? Tiga miliyard? Sudah dapat panjar lima ratus juta? Aduh, saudara-saudaraku... menyakitkan benar nasibmu ya..." mata Nona Mia berkaca-kaca memikirkan nasib pahir Eduardus yang terkenal dengan nama Edo dan kawan-kawannya itu.

"Ketinggalan kereta kamu! Sudah berlalu tiga minggu. Kenapa kamu sedihmu tidak selesai sudah? Memangnya Edo dkk itu apanya kamu?" Jaki tertawa sinis. "Biar saja mereka bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Mereka yang dapat uang. Kenapa kamu yang harus sedih?"

"Siapa suruh datang Jakarta?" Rara langsung nyambung. Orang lagi pikir capres cawapres, lagi kali bagi tambah kurang mau pilih SBY, JK, atau Mega? Ha ha ha kamu malah pikir Edo dkk."
"Aku merasa tambah terluka, tambah menderita, ikut terpenjara bersama mereka!" Nona Mia berkata sejujur-jujurnya.

"Aku malu, tidak sanggup mengangkat wajahku di hadapan temanku!"
"Wah, Nona Mia menangis? Mahal air matamu! Jangan buang untuk hal-hal yang tidak penting, tidak perlu! Itu bukan urusan kita," Jaki mencoba menghibur.
"Itu urusannya. Siapa suruh datang Jakarta? Sendiri susah sendiri rasa!"

"Sudahlah! Lebih baik pikir presiden. Kamu mau saya jadi tim sukses SBY? Tim sukses Mega saja! Lebih keren. Atau boleh juga jadi tim suksesnya JK. Ambil kesempatan dalam kesempitan. Siapa tahu calon kita yang menang, masa depan kita ikut gemilang bukan...Urusan Edo, Hendrik, Frans, dan Daniel biar saja jadi urusan polisi... Mereka bukan siapa-siapanya kita.

Apa kamu ada hubungan saudara? Keluarga? Famili? Tutup mata saja, biar badai berlalu. Toh mereka bukan siapa-siapanya kita. Buat apa pikir susah? Kasiaaaaaan..."
***
Benza tersinggung bukan maen mengetahui pikiran dan sikap Rara dan Jaki soal Edo dkk. Menurutnya sungguh keterlaluan, jika dua kawannya itu merasa nyaman, aman, tidak peduli, tidak prihatin, malas tahu dengan apa yang terjadi dengan Edo dkk.

Menurut Benza, dua sahabatnya itu sungguh-sungguh tidak punya perasaan.
"Mereka orang kita. Satu tubuh sebagai sebuah keluarga besar. Sebagai satu tubuh, kalau kaki terantuk, bagian tubuh lainnya ikut sakit bukan? Kalau mata buta, telingan tuli, bisu, bukankah bagian tubuh lainnya juga ikut prihatin?"
"Itu urusan mereka!" Rara setengah berteriak.

"Urusan kita juga!" Potong Benza.
"Mereka orang kita," sambung Nona Mia. "Sebagai orang kita, bukankah kita pun mesti ikut prihatin? Mengapa orang kita jadi tenar karena menghilangkan nyawa orang lain? Mengapa tenar karena debt colector, satpam dan menjadi pembunuh bayaran?" Nona Mia berkata sungguh-sungguh.

"Ah, bukan urusanku!" Jaki tidak peduli.
"Bukan urusanmu?" Benza tidak percaya.
"Ya!" Jaki mengangkat wajahnya. "Urusanku adalah tim sukses caleg, pilkada, suksesi presiden. Keren dong! Dapat nama dapat duit... Apa urusanmu?"

"Aku tidak peduli dan tidak mau peduli!"
"Tidak peduli? Benarkah kalian berdua tidak peduli? Kalian benar-benar keterlaluan. Sudah terlalu, kalau sebagai sesama orang kita kamu tidak ikut prihatin atas apa yang sudah terjadi... Aduh, betapa malunya..." Benza tertunduk.

"Silahkan malu sendiri..." Jaki tidak mau tahu.
"Terus kamu mau apa? Mau jadi pengacara, membela, dan berjuang untuk mereka? Silahkan saja!"
***
"Benza geleng-geleng kepala melihat kedua temannya. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kita sudah kehilangan rasa kebersamaan sebagai sebuah keluarga besar... Bayangkan! Rasa prihatinpun kalian tak punya..." Benza berusaha menjelaskan.
"Memang gue pikirin!" Rara dan Jaki melenggang pergi.

"Mereka orang kita!" Teriak Nona Mia.
"Lebih baik gue pikirin nasib SBY, JK, dan Mega!" Rara dan Jaki menjauh.
Tinggallah Nona Mia dan Benza terpekur memikirkan nasib Edo dkk. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 1 Lanjut...

Aku dan Valentino Rosi

Cerpen Laurensio Carlos Gaba

ANGIN malam berhembus kian kencang. Menggoyangkan dedaunan pohon di pinggir Jalan El Tari malam ini. Cahaya lampu jalan yang terang benderang seakan menemaniku menyusuri ruas jalan yang lebar, menambah keindahan malam ini. Aku memacu motor Kawasaki Ninja, dengan pelan, sambil menikmati pemandangan sekitar yang ramai.

Maklum! Malam minggu. Aku kemudian berhenti. Mataku memandang keadaan sekitar dan berhenti pada sekelompok pemuda yang sebaya denganku sedang duduk berkumpul. Sepertinya aku mengenali salah satu dari mereka, aku lalu menghampiri mereka. Ternyata benar dugaanku dia adalah Rian teman lamaku. Aku menghampirinya dan duduk bercerita dengan mereka.

Tak lama berselang, kudengar bunyi gonggongan motor disertai teriakan yang memecah kesunyian malam. Sekelompok motor yang mengelilingi sebuah motor besar dengan kombinasi warna putih, biru dan kuning melintasi melewati kami, di ikuti dengan puluhan motor lainnya.

Mataku terpana melihat motor besar yang diapit itu. Aku seakan tak percaya pada apa yang kulihat barusan. Rian yang tercengang dengan suara yang berat dan tergopo-gopo karena melihat hal itu spontan langsung berteriak iiituu kan Valen.... Valentino Rossi !!!” ya benar itu Valentino Rossi dengan motor Fiat Yamaha YZR- M1 miliknya. Ayo cepat kita susul rombongan itu.

Aku lalu berlari mendapati motorku dan segera memacunya dengan kecepatan tinggi menyusul rombongan itu. Aku seakan tak percaya dengan apa yang saja aku saksikan barusan. Rombongan itu berhenti tepat di depan kantor Gubernur. Banyak sekali orang yang memadati tempat itu. Aku lalu memarkirkan motorku menghampiri lingkaran penonton yang sedang menyaksikan atraksi yang dilakukuan oleh Valentino Rossi.

Ternyata keraguan ku tadi tidak benar dia memang benar-benar Valentino Rossi sang juara dunia Moto GP 6 kali dengan julukan THE DOCTOR” Aku begitu kagum dengan atraksi yang dilakukannya. Mataku terpana seolah tak mau berkedip. Ternyata aku bisa melihat langsung idolaku yang selama ini aku bangga-banggakan.

Aku memang sangat mengidolakannya dari dulu. Banyak poster dan gambarnya yang aku miliki. Ketika dulu ia masih berkiprah di Repsol Honda sampai sekarang di Yamaha Fiat Team. Banyak juga datanya yang aku miliki, mulai dari tanggal dan kota kelahiran serta prestasi yang dimilikinya.

Aku sangat senang malam ini tapi satu hal timbul di benakku. Memang tak mungkin aku lakukan tapi apa salahnya aku mencoba. Ini bisa menguji adrenalinku di lintasan. Aku memandang sekeliling mencari di mana manager Fiat Yamaha. ”Oh, itu dia pasti orangnya!” Pekikku dalam hati. Lalu dengan keberanian dan semangat yang membara serta tekad yang bulat aku berjalan menuju managernya. Beruntung karena di situ ada seorang promotor Indonesia yang mendampingi kedatangan tim Fiat Yamaha.

Aku menuju promotor itu dan meyampaikan maksudku untuk menantang Sang juara dunia. Promotor itu menertawakanku tapi aku tak gentar. Aku terus memohon agar dikabulkan. Manager Fiat Yamaha menanyakan maksud kedatanganku pada promotor itu. Promotor itu memberitahukanya dengan bahasa Italia. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan.

Ternyata manajer Fiat Yamaha menyetujuinya dan memberitahukan hal itu pada Valentino Rossi. Aku berlari mendapati motor kawasaki ninja, memakai helm warna hijau andalanku dan memacu motorku menuju garis start yang telah disediakan. Valentino Rossi menyalami aku dan mengancungkan jempol. Aku semakin bersemangat. Promotor itu menjelaskan jalur yang akan kami lalui.

Aku seakan tak percaya dengan hal ini. Aku bisa menantang sang juara dunia. Tekadku sudah bulat. Ternyata lintasan yang dilalui cukup panjang tapi hanya satu kali putaran saja dan itu adalah jalur yang biasa aku lalui sebagai pembalap liar di kota Kupang ini. Aku tersenyum kecil, bangga pada diriku sendiri. Aku memang tak sehebat Valentino Rossi tapi aku harus berusaha menang

Valentino Rossi menghidupkan motornya begitu pun dengan aku yang menunggangi kawasaki ninja warna hijau yang menjadi motor andalanku. Teriakan para penonton yang riuh semakin menyemangati kami berdua.
Ngg...ngg...ngg...nngggggg, suara mesin motorku tak kalah dengan suara motor Valentino Rossi.

One...two...three....goooo...!!!!” aku dengan cepat menancap gas meninggalkan garis start. Begitu pun dengan Rossi. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata. Posisi kami sejajar di trek lurus Jalan El Tari. Aku terus menancap gas. Dengan cepat, kakiku menginjak pedal gigi yang dirancang underground. Kecepatan motorku diatas 160 km per jam melaju dengan kecepatan yang tak terbendung di jalan raya lewat beberapa kendaraan bermotor. Aku meliuk-liukkan motorku melewati kendaraaan itu.

Aku tahu Valentino Rossi sudah lebih berpengalaman dalam menghadapi hal seperti ini, tapi aku tak boleh kalah. Pekikku dalam hati. Kulihat ia tampak tenang. Beberapa meter mendekati tikungan, aku dengan cepat menurunkan kecepatan. Tak sadar Rossi sudah melewatiku di tikungan. Ia membelokkan motor dengan begitu seni melewatiku dari bagian kanan. Rossi sudah mendahuluiku. Aku akui ia memang hebat dalam hal tikungan. Kini ia berada di depanku. Aku berusaha menyusulnya lagi. Takk.... 3 takk....4....takk.... 5. Kecepatan motorku meningkat seiring naiknya gigi.

Aku akhirnya bisa menyusulnya. Aku berusaha melewatinya ketika mendekati Bank NTT, dan berhasil lewat pada tikungan pendek di depan Flobamora Mall. Balapan kami sangat sengit. Saling melewati. Aku terus memimpin hingga ketika melewati jalan depan SMAN 3. Aku terkecoh dan berhasil dikuasai lagi oleh Valentino Rossi.

Ia kini memimpin lagi balapan. sial” Pekikku dalam hati. Sampai di depan GOR motor kami bersenggolan karena aku menghindari kerumunan tukang ojek di cabang Korem. Walaupun begitu ia masih tetap memimpin. Sementara itu orang-orang yang berada di pinggir jalan masih terus bersorak menyemangati kami berdua. Valentino Rossi meliuk- liukan badannya, menghindari kendaraan yang searah maupun dari lawan arah.

Aku tidak putus asa.”Ah... kenapa harus gentar? Ini kan lintasan liar kami?” aku sangat merasa optimis untuk menang. Aku kembali menancap gas dengan kecepatan tinggi membuntutinya dari belakang berusaha mencari celah untuk lewat. Kecepatan motorku memang tak sebanding dengan kecepatan motornya. Tapi bukan berarti aku harus menyerah begitu saja. Aku harus berusaha.

Kini kami melewati jalan di TDM menuju bundaran PU. Mendekati bundaran PU aku dengan cepat menurunkan gigi menyalip dari kanan melewati bagian pinggir badan jalan sampai melewati trotoar rendah yang mengelilingi bundaran tersebut. Aku nekat, walaupun resikonya sangat besar. Aku berhasil melewati dan mendahuluinya.

Kini kami melaju kembali menuju garis start. Rossi dengan tenang dan tatapan mata yang tajam kembali memburuku dari belakang. Kami sejajar, saling melewati. Mendekati tikungan ia menerobos masuk dari sebelah kiriku.”sial! lagi-lagi aku kecolongan”. Gerutuku. Aku berusaha untuk mengejarnya lagi.

Aku nekad menambah kecepatan motorku padahal lagi beberapa meter lagi ada tikungan. Aku mendekatinya dari belakang mencoba membuntutinya. Tapi sia-sia. Rossi membelok dengan sangat indah dan cepat. Tak ada celah bagiku. Tapi aku tak putus asa. Kukejar lagi dia dari belakang. Ia mengendarai motor dengan sangat profesional. Meliuk-liukkan motornya diantara kendaraan lain.

Ia seperti sedang menari dengan motornya diatas lintasan dengan sangat indah. Aku pun tak mau kalah. Mendekati Pertamina kami kembali sejajar. Kecepatan kami di atas angin tak kusangka MILAN bemo lampu 6 jurusan Oebufu menerobos keluar dari cabang dekat ASKES. Kami terkejut dan dengan cepat mengerem motor. Motor masih dalam keadaan kencang. Slep pun tak terhindari. Keadaan sekitar menjadi tenang seketika. Dan ..... iittttsssss slep motor kami menimbulkan bunyi yang membuat orang sekitar menahan napas seketika. ah..... ! untung saja”. Hei mau cari mati ya......?” aku meneriaki orang itu dan aku menjadi emosi.

Kini laju motor kami kembali meningkat. Rossi masih saja berada di depanku. Aku berusaha mengejar. Tapi apa daya. Kekuatan motornya melebihi kecepatan motorku. Aku hanya mampu mensejajarkan motorku dengannya. Itu pun dengan kekuatan penuh. Kini sulit bagiku untuk melewatinya.

Rossi sempat menoleh ke belakang menatapku. Aku menjadi semakin tertantang untuk memburunya mendekati Korem. Aku menambah kecepatan. Jarum speedometerku bergerak menuju angka 180. terpaan angin dari arah depan semakin besar. Aku sedikit lebih menunduk. Laju motorku menyamai laju motornya. Aku sedikit membanting badan ke kanan dan berusaha melewatinya. Aku mendahuluinya.

Aku berusaha agar tidak kecolongan lagi. Aku berhasil menjaga posisiku di tikungan depan Flobamora Mall. Kini tinggal satu tikungan lagi aku memasuki jalan El Tari. Rossi mendekatiku dari belakang. Aku berusaha untuk menghalanginya.

Rossi mencoba mendahuluiku dari kanan, ketika melewati Bank NTT. Aku meliukkan badan ke kanan. Aku berusaha menghalanginya. Tapi......dimana dia sekarang...? ternyata dengan cepat ia kembali ke arah kiri dan mendahuluiku. Dia duluan melakukan tikungan . arrrghhh !!! sial...! aku terjebak. Geruruku dalam hati. Memasuki jalan El Tari dengan trek yang lurus. Rosssi memimpin balapan. Aku tak berdaya mengejarnya.

Aku akui Rossi memang hebat, profesional dan memiliki strategi yang sangat bagus, dibanding aku yang hanya pembalap liar. Mendekati garis Finish Rossi disambut dengan meriah oleh para suporternya lalu aku menyusulnya dari belakang dengan selisih waktu 2 detik. Rossi memang pantas menang. Aku akui itu. Motor kami diparkir barsamaan di garis finish.

Kami berdua berjabatan tangan. Aku diberi selamat oleh manager Fiat Yamaha dan promotor Indonesia itu. Manager itu memuji kehebatanku, walaupun aku kalah tapi aku bisa menyelesaikan balapan dan masuk finish dengan selisih waktu 2 detik. Aku sangat senang. Satu yang dapat aku katakan bahwa aku bangga pada diriku sendiri karena dapat menantang Valentino Rossi untuk balapan. Aku merasa sangat senang.

Aku bisa bertemu langsung dengan idolaku bahkan mengajaknya untuk berduel. Aku hanya tersenyum pada mereka tanpa mengerti pembicaraan mereka. Aku teringat akan sebuah iklan di TV. Dahiku mengkerut memikirkan itu. ehmmm..... oh ya.....!!! aku tersenyum pada Rossi dan managernya serta berkata padanya Rossi, Numero Uno !” Mereka menatapku dan tertawa.

Sambil menepuk bahuku. Rossi membalas kata-kata ku tapi aku tak mengerti apa yang dikatakan. Aku hanya tersenyum padanya. Manager Fiat Yamaha menyampaikan sesuatu pada promotor Indonesia. Sepertinya penting. Raut wajahnya berubah serius, lalu tersenyum dan berbalik padaku. Di sampingku Valentino Rossi sedang dikerumuni para fans yang meminta tanda tangannya.

Tak lama promotor itu meminta perhatian kami semua ternyata ada hal penting yang ingin disampaikannya. Promotor itu memanggilku dan memberitahuku bahwa manager Fiat Yamaha memintaku untuk bergabung bersama. Badanku gemetar, darahku seakan berhenti mengalir. Lemas. Seakan tak percaya dengan apa yang baru kudengar hingga aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.
***
Sang surya mulai bangkit dari peraduannya dan sinarnya yang terang mulai menyelimuti bumi seakan mengisyaratkan kepada penghuni bumi untuk segera bergegas melakukan aktivitasnya masing-masing. Sinar mentari pagi memeng telah masuk melalui celah-celah ventilasi kamarku sehingga silaunya perih menusuk mataku. Ketika aku pertama kali membuka mataku tersadar dari mimpiku. Aku kaget dan segera bangun .

gila !!!” spontan aku berteriak. Teman kostku berlari menghampiriku. ada apa ?” pikiranku berputar-putar tak karuan. Kenapa Jef...?” aku memandang sekilas gambar- gambar di dinding kostku lalu tersenyum lebar. Aku tak memperdulikan keberadaannya di sampingku yang dari tadi mencemaskanku. Ahhh. Ternyata hanya mimpi.” Pekikku dalam hati. ada apa Jef ? Mimpi buruk ya?” Ah tidak”. Jawabku.

Aku tak mau mnceritakan padanya apa yang baru aku alami dalam mimpi tadi. Kau ini mengagetkan aku saja.aku pikir kau hilang ingatan karna benturan semalam.” Ahh. Kau bercanda saja. Aku tidak apa-apa” oh ya!!! kau tidak ke kampus ? sudah jam 6 lewat 30 menit.” Apa !!!!. wah, aku hampir terlambat.!” Aku bergegas menuju kamar mandi dengan raut wajah yang berseri.memikirkan mimpi malam tadi. Rasanya aku sangat bersemangat. kenapa kau senyum tadi ?’ jangan-jangan kau benar-benar sudah gila ? kau biasanya bercanda saja. Cepat siap-siap.hampir terlambat nih.”

Aku meneguk segelas teh dan berlari keluar kamar. Di luar Rian sudah menunggu di atas motornya. Kami lalu segera bergegas meninggalkan kost kami.

***
Untuk para pencinta MOTOR GP, dan Fans Valentino Rossi
Komunitas Sastra Seminari Oepoi


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi - Puisi Josse Leu

Doa Menjelang Pesta Rakyat

Tuhan,
Tumpulkannlah mata pedang
Asalah kearifan budi
Dan popor senapan itu, lenyapkanlah
Bukalah mata hati
Teehadap nafsu dan hasrat jiwa

Demi kebijaksanaan
Anak-anak bangsa



Suaraku Kecil


Suaraku kecil
Senyap,
Diredam bisingnya jiwa
Teriakan suara-suara besar
Orang-orang mabuk

Bagai semilir
Angin pada rerumputan
Tak ada lagi makna
Juga cerita
Hilang semuanya
Wisma Gabriel, Akhir Maret
Anggota Arung Sastra Ledalero


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-Puisi Innocent NB

Derita
(Bagi mereka yang ketiadaan pekerjaan)

Tak ada yang datang
Untuk menatap dari dekat
Tulang-tulang yang berserakan
Di pinggiran jalan berdebu.

Ah......
Aku ini manusia
Milik tanah tempat ku berpijak
Tataplah

Hai para konglomerat
Pada jiwa-jiwa yang melarat
Mereka harap hadirmu dalam waktu berdetak
Apa tidak ada lagi hasrat tuk berjalan

Kearah mata yang berkedip
Tak ada tempat lagi
Untuk mengais sesuap nasi
Hadirmu
Adalah mutiara bagi kami.
Penfui, 26 Agustus 2008


Sahabat
Kau datang membawa kesejukan
Di hati yang gersang
Ada suka kautaburkan
Tanpa henti dalam waktu

Yang berjalan tapak demi tapak
Aku tak tahu
Kau begitu baik
Membagi cerita indah

Menuai cinta suci
Aku dikuatkan di jalan yang terbentang
Kehadiranmu meneguhkan
Kau tetap kukenang
Dalam ceritera malam ini.
Penfui, 4 Desember 08


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-Puisi Hiro Nitsae

Demokrasi (I)

Berbaliho memajang,
Mmpertontonkan sang pribadi
Aura memancar
Menggetarkan pribadi -pribadi publik
Publik bertanya

Menakar ide, memandang kualitas
Mencari kejelasan dalam ruang publik
Siapakah engkau
Memunculkan diri untuk kami?


Demokrasi (2)

Publik berkoar
Meminta asa, berharap
Engkau diambil dari publik
Kembalilah untuk publik


Demokrasi (3)


Adil, jujur, setia
Berlangkah menatang aspirasi
Bergandengan kata dan tindakan
Berpayungkan kebhineka-tunggalan
Anggota KMK St. Mikhael.


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi Matalim Blikuleng

Senandung Pohon Pinus

Ketika raja kehidupan hendak kembali ke peraduan
Sayup terdengar senandung lirihnya:
Tertatih - tatih aku merajut kehidupanku
Merengkuh ibu pertiwi
Penuh kekuatan
Mencakar serta menyusup semakin jauh ke lubuk
Demi hidupku

Seolah berpacu bersama sang kala
aku mencoba menggali lebih jauh ke dalam lubuk
agar aku makin kokoh di antara yang kokoh,
tegar di antara yang tegar,
kuat menghadapi kekuatan
Tiga puluh tiga tahun
aku bersenandung bersama sang bayu
memecah kesunyian senja
membahana ke seluruh negeri
Akankah terjadi sesuatu dalam hidupku akan senandungku itu?
Aku tak tahu
Aku hanya sebatang pohon pinus
yang akan terus bersenandung bersama sang bayu
ketika sang raja kehidupan
kembali ke peraduannya.

Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Drs. Frans Meak Parera

POS KUPANG/BENNY
DASMAN

FRANS Meak Parera ketika
diperkenalkan Gubernur NTT,
Drs. Frans Lebu Raya, kepada
para undangan yang menghadiri
acara penandatanganan MoU
pengelolaan Arena Fatululi
menjadi NTT Expo di Rumah
Jabatan Gubernur NTT,
Rabu (29/4/2009) malam.



Kupang Harus

Jadi 'Service City'


------------Pengantar Redaksi--------------------
Rabu (29/4/2009) malam. Ada tiga hajatan besar yang digelar di Rumah Jabatan Gubernur NTT. Salah satunya penandatanganan MoU antara Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dengan Direksi PT Alfa Beta Tapili-Kupang, Briando Pribadi Gotama, tentang Pengelolaan Arena Pameran Fatululi menjadi NTT Expo.

Di antara tamu undangan yang hadir, ada sosok fenomenal yang mendapat perhatian khusus dari Gubernur Frans Lebu Raya. Siapa dia? Drs. Frans Meak Parera, Sekretaris I Forum Usahawan Ekumene Indonesia (Funisia). Gubernur NTT sangat mengharapkan pikiran-pikiran cerdas dari Frans Meak sebagai masukan untuk pengelola NTT Expo agar mendesain 'menunya' secara profesional. Apa harapan Frans Meak dari NTT Expo? Berikut refleksinya ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, di Kupang, Kamis (30/4/2009) malam.

Waktu penandatanganan MoU NTT Expo, Anda diperkenalkan khusus oleh Gubernur NTT kepada tamu undangan lainnya. Tersirat harapan dari Gubernur NTT agar Anda membantu mendesain NTT Expo! (Apa maksudnya saya 'dikerjain' pak gubernur malam itu. Ha..ha..ha.). Saya mau tempat NTT Expo itu (Fatululi, Red) direposisi. Sangat tepat Pemprop NTT memercayakan pengelolaannya kepada PT Alfa Beta Tapili-Kupang. NTT Expo itu harus menjadi tempat pengembangan industri otomotif, agribisnis dan media. Ini salah satu cara untuk membangun brand/image baru terhadap Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Muaranya menjadikan Kupang sebagai Service City.

Ini adalah upaya pengembangan dan pembangunan Kupang sebagai kota layanan jasa-jasa dan pusat perdagangan domestik dan internasional yang terintegrasi, efektif, efisien, dan kompetitif. Dengan demikian sektor perdagangan menjadi sumber devisa utama bagi perekonomian Kupang dan NTT.

Untuk mewujudkan hal ini, selain mengefektifkan program NTT Expo, juga menekankan pembangunan Kupang pada bidang infrastruktur untuk mendukung kawasan ekonomi regional wilayah Kupang dengan mitra utamanya Darwin-Australia. Jadi semangat Service City adalah pelayanan. Menjadi kota jasa yang melayani. Hotel- hotel yang ada harus siap melayani dan memuaskan. Pengelola hotel dan para personelnya harus dilatih menjadi pelayan yang baik. Birokrasi pun harus menjadi pelayan yang baik.

NTT Expo harus mencitrakan posisi Kupang sangat strategis!
Dari posisinya, Kupang menjadi kawasan internasional. Dekat dengan Australia. Kupang, sebuah kota propinsi kepulauan yang memosisikannya juga sebagai kepulauan internasional. Merujuk pada predikat ini, Kota Kupang harus dibangun di atas sebuah pesona yang indah. Jadi, jangan main-main membangunnya. Sebab hal ini menyangkut harga diri. Kupang itu harga diri NTT.

Kupang menjadi Service City, potensi apa yang harus dikembangkan?
Di Kupang banyak perguruan tinggi. Fakta yang tak terbantahkan. Juga banyak media massa. Ada harian dan mingguan. Ini potensi yang harus dilirik dan dikembangkan. Jangan disia-siakan. Potensi itu apa? Kupang itu harus menjadi Creative City. Kota ini banyak dihuni para pekerja kreatif, pekerja yang berilmu pengetahuan. Banyak tradisi intelektual yang ditanam sejak dulu tidak tertanam dalam refleksi kota ini. Berarti terjadi salah urus.

Artinya, ilmu-ilmu terapan yang didapat tidak dapat diaplikasikan kepada masyarakat. Jangan pikir yang muluk-muluk. Misalnya, forum penulis akademi atau jurnalis. Dalam forum, para pekerja intelek ini bisa kreatif bagaimana membangun NTT dari visi mereka. Jadi, komunitas penulis akademis harus berkembang di NTT.

Hadirnya NTT Expo sebagai forum kreativitas masyarakat Kota Kupang dan NTT untuk mengembangkan potensinya? Pendapat Anda?
Saya lebih suka NTT Expo itu menjadi Kupang Fair. Kalau NTT Expo hanya terfokus pada teknologi. Sedangkan Kupang Fair memfokuskan pada pengembangan kreativitas atau industri kreativitas. Ini sangat potensial untuk dikembangkan di Kupang atau NTT. Pertanyaannya, kita mau bikin apa kalau Kupang ini menjadi pusat industri kreativitas. Saya sangka banyak yang kita bisa buat. Misalnya, teater, seni musik, dan sebagainya.

Apa muara dari industri kreativitas ini!
Lho, hanya satu. Membuka isolasi. Jangan pikir isolasi di NTT hanya soal fisik saja. Di NTT ini isolasi terbesar adalah isolasi kreativitas. Kita bisa menjalin kerja sama dengan Darwin. Sangat menarik bagi orang Australia untuk menjalin kerja sama bisnis. Konteksnya you punya apa, saya punya apa. Saling membutuhkan. Ini juga salah satu peran hadirnya NTT Expo ini. Kita bisa menggandeng Bank Dunia untuk mendapatkan dukungan dana. Bukan untuk minta-minta, tapi maksudnya jelas. Mengapa tidak.

Bisa kita lakukan dengan Bank Dunia. Soal industri kreativitas, saya juga punya obsesi, yaitu Kupang harus menjadi pusat ilmu bahasa, playground industry. Dengan cara ini kita menguasai dunia dalam waktu cepat. Misalnya, ada bisnis penerjemah, bahasa mandarin dan sebagainya. Kita di NTT bisa melakukan hal ini. Selain itu, kita di NTT bisa juga kelola lahan untuk pentas, syuting film dan sebagainya. Motifnya supaya orang Jakarta datang ke Kupang, datang ke NTT. Di Jakarta, lahan syuting film sangat sulit.

Bentuk landskapnya sudah lain. Tidak alami. Kalau kita buat di NTT tentu masih asli. Ini yang harus kita tangkap dan kreatif.

Peluang industri kreativitas lainnya?
Di NTT bisa dibangun sekolah atau akademi sinematografi. Dalam konteks ekonomi, industri-industri kesenian menempatkan anak didik selaku pangsa pasar potensial. Pendidikan apresiasi seni yang mereka kembangkan pun dalam rangka memperbesar volume pemasaran produk-produk seni yang dihasilkan.

Sinematografi pada dasarnya mengembangkan pendidikan apresiasi seni. Konsep muatan lokal dapat dimanfaatkan sebagai wadah pendidikan apresiasi seni. Sampai saat ini pendidikan apresiasi seni di sekolah belum ada. Kalaupun hal itu ada, masih tergolong kegiatan-kegiatan insidental atau sesaat dan tidak terprogram dalam pendidikan. Sekolah tetap melihat hal itu tidak fungsional dan kurang penting.

Di samping dimasukkan ke dalam muatan lokal, pendidikan kesenian biasanya dibawahi dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler (teater sekolah, sastra, musik). Dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun pendidikan kesenian belum dikembangkan secara maksimal. Hal itu lebih diarahkan sekadar sebagai tempat untuk menyalurkan hobi anak didik.

Sinematiografi masih tergolong langka. NTT harus menangkap peluang ini. Yang ditemukan, dan hal ini biasanya di kota-kota, hanyalah kursus-kursus musik, tari daerah dan melukis. Apresiasi atau penghargaan terhadap seni bermula dari pengertian-pengertian terhadap seni tersebut. Untuk memahami realitas-realitas multikultur itu, tidak dibutuhkan kemampuan melakoninya, tetapi di atas hal itu adalah pengetahuan-pengetahuan yang pada akhirnya tahu akan arti multikultur itu.

Di samping berupa materi teoritis, pendidikan apresiasi seni juga dapat memanfaatkan produk-produk seni yang telah ada (dalam film, dalam rekaman kaset, dan dalam video dokumenter). Seni etnik tenggelam di NTT, didominasi seni kemasan (musik pop yang semakin diterima sebagai musik nasional yang tersimpan dalam kaset, VCD, program-program televisi, film-film asing, dan lain-lain).

Untuk mengembangkan industri kreativitas, misalnya di bidang seni, tentu membutuhkan dukungan sarana dan prasarana seperti buku-buku. Apa konsep Anda sebagai 'mahluk' buku untuk mengisi pameran buku di NTT Expo?
Saya senang ditokohkan oleh Pos Kupang sebagai 'mahluk' buku. Saya sebagai Sekjen Dewan Buku Nasional akan membuka jaringan Dewan Buku sampai di Kupang. Misinya, membangun infrastruktur agar masyarakat NTT gemar membaca buku.

Juga membangun sistem distribusi buku, misalnya buku grafis dan elektronik dan buku-buku lainnya secara merata sampai ke desa-desa. Bahkan sampai ke Maluku, Irian dan Timor Leste. Dan, pengelola NTT Expo harus masuk dalam jaringan ini. Di NTT, toko buku harus banyak dibangun, sekolah cukup, sudah banyak. Kalau banyak toko buku, konsekwensinya harus ada taman bacaan. Kalau ada taman bacaan berarti buku baru selalu tersedia. Supaya ada buku baru harus ada penulis.

Melalui NTT Expo nanti saya berniat mengembangkan komunitas penulis akademis di Kupang. Untuk NTT Expo, saya berniat menjadikannya sebagai Book Fair dan Book Centre. Tujuannya untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di NTT. Selain Book Fair, pengelola NTT Expo harus menjadi penggerak toko buku mobile, toko buku voluntir sampai ke desa-desa. Dengan demikian di desa ada perpustakaan mini. Untuk mendukung obsesi ini, saya akan mengajak 50-100 penerbit untuk mengisi pameran buku di NTT Expo yang dilakukan secara periodik.

Menghadirkan Bank Dunia mencitrakan posisi Kupang semakin penting!
Ya, ada konsekwensinya. Kupang harus menjadi pelabuhan samudera, sebagai pintu keluar di kawasan Asia Pasifik. Jadi, kita butuh sarana untuk menjual Kupang jika kita lekatkan predikat ini. Antara lain menggalakkan NTT Expo sebagai bagian dari perencanaan dunia.

Jadi, jangan main-main, NTT Expo ini kalau di-manage dengan baik menjadi bagian dari kegiatan internasional, dunia. Setidak-tidaknya menurut versi kita. Makanya Bank Dunia harus terlibat. Kita harus buat bagaimana caranya Bank Dunia terlibat dalam pekerjaan ini, khususnya soal dana.

Predikat Pelabuhan Samudera bisa menjadikan Kupang sebagai gudang komoditi!
Betul itu. Misi dari predikat Kupang sebagai pelabuhan samudera itu agar seluruh komoditi perdagangan terkonsentrasi di Kupang. Kupang harus menjadi gudang. Misalnya, pengolahan agribisnis yang dilakukan di Flores semuanya diarahkan ke Kupang.

Demikian pun Pulau Timor dan Sumba sebagai kawasan ternak. Gudang dari semua ini harus di Kupang. Ini harus dijawab bagi pengembangan kawasan industri Bolok ke depan. Porosnya Kupang-Darwin-Kupang-Menado. Mudah-mudahan lobi dengan Bank Dunia bisa kita lakukan untuk mendapatkan bantuan untuk menyukseskan pekerjaan besar ini. Dengan cara ini kita dapat mengubah wajah NTT. Dengan demikian Kupang menjadi service city dan creative city.

Posisi Kupang sebagai pelabuhan samudera menempatkan Darwin sebagai mitra dagang utama! Pendapat Anda?
Ya, masa depan NTT itu ada di Darwin. Selain karena kedekatan, kita di NTT bisa melakukan kebebasan berusaha. Dengan demikian kita dapat bersaing di kancah global asalkan kita punya jurus, punya kiat, harus punya semuanya. Jangan paksa diri ke Singapura. Mengapa tidak bemitra dengan kawasan terdekat. Ya, otonomi daerah itu seperti ini. Kita bisa menentukan mitra bisnis yang tepat.

Media NTT Expo berperan besar mencitrakan Kupang sebagai Pelabuhan Samudera!
Ya, kampanyenya melalui NTT Expo atau Kupang Fair. Melalui NTT Expo, kita harus bisa mengontrol harga komoditi. Ini salah satu perannya. Karenanya NTT Expo harus dilengkapi dengan teknologi informasi (IT) untuk membantu masyarakat agar mendapatkan informasi terkini perihal harga komoditi di pasaran. Lembaga koperasi harus digandeng untuk bermitra, semangat wirausahanya harus dibenahi. Ini wadah kerja sama dengan NTT Expo.

Misalnya, Darwin butuh paronisasi peternakan, kita perkuat koperasi peternakan. Bisa juga untuk bidang lainnya. Singkatnya, melalui NTT Expo penggunaan dan harga komoditi ekspor dari NTT harus bisa dilacak. Jadi, penting adanya kontrol harga. Distribusi juga harus diawasi agar masyarakat tidak dirugikan. Kita juga harus cari industri mana yang menjadi primadona di NTT. Ini penting supaya kita jangan didikte oleh pasar.

Kita harus bisa bersaing. Intinya, memperjuangkan apa yang dibutuhkan masyarakat. Ini utama. Soal profit tentu berjalan dengan sendirinya kalau masyarakat percaya produk kita. Ini kredibilitas usaha, inti dari usaha. Kita juga harus bisa prediksikan keuntungan, tapi bukan itu yang utama.

Terimplisit dari penjelasan Anda, melalui NTT Expo, Kupang harus menjadi Information City!
Itu benar. Jadi, Kupang harus menjadi pusat informasi, Information City. Misalnya, seperti yang saya jelaskan tadi, melalui NTT Expo masyarakat Kupang dan NTT umumnya mendapatkan informasi akurat tentang perkembangan harga-harga komoditi di pasaran.

Atau informasi tentang peningkatan keterampilan seperti kursus-kursus keterampilan. Atau informasi apa saja. Semua ini ada konsekwensinya seperti kelengkapan berbagai fasilitas, misalnya radio komunikasi, jaringan komputer, operation room dan sebagainya. Jadi, wartawan pun bisa mengakses informasi itu dari NTT Expo.

Informasi-informasi yang disediakan juga diharapkan berguna bagi mahasiswa melalui penyediaan buku referensi tentang pembangunan, lingkungan, ekonomi, kemiskinan, energi, bahkan tentang korupsi. Buku-buku dan informasi sering dimanfaatkan mahasiswa untuk membuat skripsi, juga bagi dosen untuk referensi mata kuliah.

Mitra NTT Expo dengan koperasi sangat tepat. Apalagi saat ini Pemerintah Propinsi NTT menjadikan Flobamora sebagai propinsi koperasi!
Koperasi jangan besar di kampung saja. Perannya harus mendunia. Jika koperasi maju, kita pasti bisa bersaing dalam memasarkan produk atau komoditi. Saya minta usahawan-usahawan muda di NTT harus berperan membangun koperasi.

Melirik komoditi apa yang bisa dikembangkan, dipasarkan. Jangan melulu simpan pinjam. Cari yang monumental. Bila perlu usahawan-usahawan muda di NTT harus tergabung dalam wadah Funisia (Forum Usahawan Ekumene Indonesia). Wadah ini sangat mendukung koperasi. Misalnya, dengan membentuk konsorsium semacam leadership coorporation. Jadi, kita harus kompak untuk memenangkan pertandingan bisnis.

Menurut pandangan Anda, bagaimana profil usahawan di NTT saat ini!
Selama ini usaha mereka hanya terfokus pada bisnis keras seperti otomotif, agribnisnis dan media. Industri kreatif belum banyak dilirik, padahal sangat potensial untuk dikembangkan. Kalau kita fokus pada industri ini, pasti berhasil. Ingat, dari 1.000 lagu-lagu cilik pengantar tidur di dunia, salah satunya berasal dari NTT (Bajawa). Ini membanggakan.

Mengapa lahan ini tidak dilirik. Saya minta usahawan muda di NTT memanfaatkan NTT Expo untuk mengembangkan industri kreatif. Misalnya, buka kursus teater, MC, kursus gitar, viol, kursus bahasa Inggris, pelatihan-pelatihan keterampilan, grafika, desain, tataboga dan sebagainya. Juga mengembangkan konser. Semua ini harus jadi andalan industri kreatif. Jadi, semua aktivitas ini harus ada di Fatululi sehingga hidup sepanjang hari, waktu.

Saya harapkan NTT Expo ini harus ada kaitannya juga dengan musik. Musik di NTT harus menjadi garam dan terang yang menghidupkan. Gereja juga harus berperan mengembangkannya. Jadi, harus ada konsentrasi usaha. Ini pekerjaan rumah untuk usahawan-usahawan muda NTT.

Tentang Funisia, bisa dijelaskan seperti apa refleksinya!
Ini organisasi profesi usahawan. Bersifat umum tetapi juga eksklusif, terbatas karena terikat kondisi fungsional tertentu. Semangat dasar dalam membangun Funisia di tengah kehidupan masyarakat di masa yang akan datang mengambil model dinamika sebuah organisme, yang berarti sebuah tubuh yang bersifat dinamis dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

Funisia menggabungkan diri dalam gerakan spiritual yang sudah dirintis oleh kelompok usahawan Indonesia selama ini dalam menanggapi tantangan besar yang semakin memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat yang berasal dari sumber-sumber sekularisme dalam proses globalisasi.

Tujuannya?
Pertama, mengembangkan spiritualitas usahawan kristiani di Indonesia. Kedua, mengembangkan komunikasi dan penukaran informasi antarusahawan kristiani Indonesia. Ketiga, mengembangkan komunikasi dan penukaran informasi dengan usahawan kristiani di dunia dan kalangan usahawan kristiani dalam negeri. Keempat, mengembangkan etika bisnis yang sesuai dengan tuntutan cinta kasih kristiani di dalam perusahaan masing-masing di Indonesia agar berfungsi sebagai garam dan terang bagi dunia bisnis di Indonesia pada khususnya dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Lagi, soal NTT Expo. Pengelola, PT Alfa Beta Tapili, bertekad mendesain NTT Expo secara profesional. Tak hanya menata fisik berupa gedung yang bagus, tetapi juga 'menunya'!
Ya, supaya berhasil harus ada tekad. Kalau NTT Expo ini sudah berjalan sesuai harapan, maka sudah sepantasnya pemerintah memberikan REWARD atau penghargaan kepada para penggagas dan pengelola NTT Expo. Mengapa harus ada reward? Karena NTT Expo akan menjadi cikal bakal perubahan struktur ekonomi dan kebutuhan masyarakat banyak, khususnya untuk Kota Kupang. *

Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 3 Lanjut...

Bakar Sampah Bukan Solusi

FOTO istimewa
BAKAR SAMPAH -- Salah satu
contoh pengelolaan sampah
yang salah dengan cara
membakar. Gambar
diabil di Ruteng-Kabupaten
Manggarai.


JALAN tikungan di Kilometer (Km) 5 arah selatan Kota Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai menuju Reok menyisahkan tragedi yang memilukan. Tepat sebelah kiri ruas jalan itu ada tumpukan sampah. Bau sampah di tempat itu begitu menyengat hidung.

Lokasi dengan radius sekitar 100 meter persegi menjadi tempat pembuangan akhir sampah dari Ruteng. Dari beberapa titik tumpukan sampah asap terus mengepul. Asap meliuk ditiup sepoi angin. Asap beterbangan kemudian hilang ditelan angin. Kadang-kadang dari tumpukan sampah disertai nyala api.

Udara kurang sedap. Udara sudah terkontaminasi asap dari tumpukan sampah. Setiap orang melintasi wilayah itu harus menutup hidung.

Tarikan napas kita pun terkadang terhentak sejenak karena sengatan udara kurang bersahabat itu cukup kencang. Berbeda dengan para pejabat ketika melintasi wilayah itu pasti tidak terganggu.

Mereka tinggal menutup rapat kaca mobilnya dan menikmati segarnya udara ber-aircondition dalam mobil.
Asap terus mengepul tak pernah berhenti. Kondisi ini sangat beralasan karena tumpukan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) itu cukup banyak. Setiap hari selalu mendapat pasokan sampah dari Ruteng.

Pemandangan di TPA tersebut menjadi kontras. Di satu sisi bau tak sedap, di sisi lain menjadi tempat meraih secerca harapan bagi orang-orang tertentu.

Pemandangan, Selasa (14/4/2009) lalu, misalnya sangat jelas. Dua orang bapak membalut mulut dan hidung dengan masker ala kadarnya, sambil mengais di antara tumpukan sampah.

Sesekali berdiri tegak sambil membetulkan masker buatan itu karena bau udara yang sangat menyengat hidung. Keduanya mengumpulkan barang-barang bekas, kaleng-kaleng yang masih berguna.

Sesekali melepas lelah sambil isap rokok djitoe. Asap ditarik dalam-dalam. Pandangan kosong. Bola mata cekung seperti sedang memikul beban berat.

Meski tumpukan sampah itu menjadi ladang berkat bagi segelintir orang, namun yang pasti di tempat itu sudah menjadi pemandangan tak sedap, mengkhawatirkan.

Pencemaran lingkungan menjadi fakta yang tak terbantahkan. Namun perhatian dan kepedulian dari instansi teknis dan pemerintah setempat terhadap ancaman pencemaran lingkungan di tempat itu seolah-olah wajar.

Sampah yang ada di tempat itu memberi gambaran bahwa instansi terkait yang menangani persampahan dan lingkungan seolah hanya duduk berpangku tangan dan tidak peduli pada akibat yang ditimbulkan dari tumpukan sampah.

Sampai kapan ada perhatian terhadap kondisi yang mengkwatirkan hajat hidup orang banyak itu? Tentu masyarakat masih menunggu perhatian itu.

Yang jelas pencemaran akan terus melaju mengikuti arus waktu. Pencemaran udara dengan beragam dampak ikutannya, langsung maupun tidak langsung, tidak akan menunggu kapan pemerintah ada hati, kapan pemerintah ada kepedulian untuk mengurus persoalan sampah.

Cepat atau lambat menyikapi pencemaran lingkungan di KM 5 Ruteng itu, yang jelas kondisi TPA itu menjadi mazmur duka, nyanyian pilu. Tragedi salah urus sampah. Jika ada keterdesakan, orang-orang tertentu membakar tumpukan sampah itu.

Kebiasan membakar sampah tidak hanya di KM 5. Di beberapa titik dalam kota Ruteng, bahkan dalam kontainer pun sampah dibakar.

DPRD Manggarai sudah berulangkali menyuarakan kondisi sampah KM 5 itu. Bahkan merekomendasikan agar pemerintah segera merelokasi dan mencari tempat baru yang lebih layak sebagai TPA.

Teriakan Dewan di sidang paripurna cukup beralasan, selain lokasi itu tidak tampan, sistim pengelolaan pun tidak profesional. Hanya mengandalkan api. Sampah dibuang dan dibiarkan begitu saja. Tak jarang langsung disulut dengan api agar mengurangi aroma tak sedap. Sebab semakin besar tumpukan sampah, menambah lama bau busuk.

Kebiasaan itu bertahan hingga saat ini. Akibatnya seiring perjalanan waktu kondisi di KM 5 kian parah merana. Imbauan DPRD agar menyikapi kondisi KM 5 seperti pepatah anjing menggonggong kafila berlalu.

Dari sisi tempat TPA KM 5 sangat tidak ideal, bahkan menciptakan masalah baru. Lokasi tersebut dekat dengan sumber mata air. Jika hujan
sampah-sampah akan terbawa banjir. Lingkungan sekitar pun tercemar. Selain itu resapan air ke dalam tanah pun tercemar. Sampah dibakar bukan solusi, bahkan menambah masalah baru yakni pencemaran udara.

Belum lagi bahan kaca beling yang tidak terbakar entah kemana. Langkah yang harus dilakukan adalah pemilahan sampah-sampah, pengolahan dan mengatasi barang-barang yang mau didaur ulang. Sementara lokasi TPA yang disiapkan saat ini di Wae Ri'i disinyalir tidak memenuhi syarat. Lahan tidak memenuhi standar.

Padahal fasilitas sudah disiapkan. Sangat boleh jadi sarana yang menelan ratusan juta
itu akan mubasir. Sampah tetap tidak terurus.

Hanya Sementara
Kepala Kantor (Kakan) Pengendalian Dampak Lingkungan, Sensi Gatas, mengatakan lokasi TPA KM 5 masih digunakan. Lokasi itu dipakai hanya sementara sebelum TPA di Ting dimanfaatkan. Sementara Seksi Pengendalian dan Pengawasan, Hima Kasmir, menjelaskan, lokasi baru belum dimanfaatkan karena fasilitas belum lengkap.

Terutama jalan masuk dan beberapa sarana pendukung lainnya.
"Kita sudah ajukan permohonan dana Rp 700 juta untuk melengkapi fasilitas di Ting, namun belum diakomodir," katanya. Menurutnya jika TPA di Ting sudah dilengkapi fasilitas memadai, maka KM 5 segera ditinggalkan. (lyn)


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 14 Lanjut...

Karaoke untuk Ekspresikan Hobi

Foto ilutrasi/travelinmic1.com
Asyik ekspresikan
diri dengan berkarouke.


HAMPIR setiap malam sejumlah tempat hiburan malam di Kota Kupang yang menyediakan fasilitas karaoke selalu dipadati pengunjung. Fasilitas tersebut baik tersedia secara terbuka di hall atau di ruang khusus (VIP room), selalu padat. Dan, berbagai lagu yang disediakan selalu menjadi "santapan" penikmat karaoke.

Bila kita berjalan-jalan di sejumlah tempat hiburan, langsung terdengar suara nyanyian baik dari hall maupun dari VIP room. Tak jarang terdengar pula suara fals. Nada suara penyanyi tak serasi dengan nada musik pengiring. Tapi sang penyanyi tetap menikmati acaranya. Menikmati musik dan suaranya.

Syair lagu tidak perlu hapal di luar kepala. Sebab tertulis pada layar monitor dan perangkat audio visual itu menuntun sang penyanyi kapan mulai menyanyi dan kapan harus jeda dengan urut-urutan perwarnaan naskah di layar monitor.

Sungguh mudah. Cukup mengetahui nada lagunya dan bisalah orang menyanyi.
Berkarouke bisa dilakukan sendiri atau berkelompok, tergantung fasilitas yang ada pada sound sistem karouke tersebut. Aneka jenis lagu pun sudah tersedia. Dan, orang-orang yang memegang mice di tangan selalu menikmati dan bersenang-senang dengan lagu yang dibawakan.

Gaya menyanyi pun bebas merdeka. Boleh duduk santai. Berdiri sambil berjoget pun tak ada yang melarang. Apalagi sejumlah tempat hiburan yang menyediakan wanita cantik sebagai teman berkaraoke. Bisa menjadi teman bernyanyi dan berdansa.

Sekarang ini, karaoke telah menjadi suatu hobi yang disukai untuk menghilangkan penat sehabis lelah bekerja atau jenuh berkegiatan. Apalagi, sekarang tempat-tempat karaoke semakin menjamur dan berlomba-lomba menawarkan pelayanan jempolan dengan harga yang bermacam-macam.
***
Sebetulnya bagaimana kisah awal mula karaoke itu? Kata karaoke berasal dari bahasa Jepang. Karaoke terdiri dari dua kata yaitu kara yang berarti kosong dan okesutora yang berarti orkestra. Dalam bahasa Jepang, karaoke artinya sebuah bentuk hiburan di mana seorang penyanyi amatir bernyanyi dengan diiringi musik/video musik dengan menggunakan microfon.

Alat karaoke sendiri ditemukan oleh musisi Jepang, Daisuke Inoue, pada awal 1970-an. Seperti bisa diduga, alat itu menjadi populer dan meledak sampai tersebar ke Asia timur dan tenggara hingga akhirnya ke seluruh dunia. Sebelumnya, karaoke hanya tersedia di klub malam dan hotel-hotel berbintang. Karena ekslusif dan berhubungan dengan dunia malam, karaoke di

Indonesia kadang dianggap sebagai hobi yang kurang baik. Namun, beberapa tahun ini karaoke semakin disukai oleh segala kalangan. Bukan hanya kalangan eksekutif yang ingin melepas penat dan lelah selama bekerja di kantor, namun anak-anak muda seperti mahasiswa dan pelajar pun juga hobi bersenang-senang dengan mikrofon di tangan.

Sebenarnya apa sih yang menarik dari karaoke ini? Sebagian orang merasa karaoke adalah salah satu sarana yang cukup nyaman untuk mengekspresikan diri. Dengan bernyanyi di ruang tertutup dan kedap suara, mereka tak akan takut mengganggu orang lain dengan suara keras mereka.

Mereka bisa menyanyikan lagu kesenangan mereka sesuka hati bahkan sambil berjoget dan berteriak tak ada yang melarang. (alf/kpl)

Bernyanyi Saja untuk Bahagia

BERNYANYI memang menyenangkan. Dari segi medis, ternyata bernyanyi memberi pengaruh yang baik bagi kesehatan. Bernyanyi bisa membuat Anda bahagia!
Beberapa penelitian seperti dikutip detikhot dari telegraph, Rabu (13/5/2009), mengungkap manfaat dari bernyanyi. Dr. Danny Williams dari Inggris menganjurkan pasiennya yang mengalami kejang otot untuk mengikuti paduan suara. Hasilnya para pasien tersebut mengalami kemajuan yang pesat. Otot serta syaraf mereka tak lagi tegang. Merka pun menjadi lebih rileks.

Tak hanya itu, bernyanyi juga bisa menyebabkan seseorang terbebas dari stres dan depresi yang berlebihan. Misalnya seperti yang dialami Louis Palmer pasca perceraiannya. Warga Hampshire itu hampir memutuskan untuk bunuh diri. Namun setelah ia mengikuti terapi bernyanyi seperti yang dianjurkan dokternya, ia merasa lebih tenang dan bahagia.

Pengalaman luar biasa yang lain dirasakan oleh Emily Thackery. Perempuan 25 tahun itu awalnya mengalami kesulitan bernapas. Setelah berlatih nyanyi dengan rutin, ia melatih kapasitas paru-parunya. Jadi mau sehat dan bahagia? Bernyanyi saja! (dtc)


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 13 Lanjut...

Dokter Valens Yth,

Salam sejahtera Pak Doker. Saya Mindy, gadis Sikka yang saat ini sedang menuntut ilmu di Kota Kupang. Selain aktif kuliah, saya juga senang ikut kegiatan kelompok pemuda di kelurahan tempat saya tinggal.

Di sanalah saya mengenal Aldi, pemuda lajang yang bekerja sambil kuliah. Aldi adalah seorang pria ganteng yang memang menghanyutkan pikiran saya ke arah angan-angan yang indah-indah. Dia orangnya sangat mandiri, sehingga kadang menjadi tempat curahan hati. Sebenarnya saya belum berpacaran resmi dengan Aldi, namun saya sangat mengaguminya.

Banyak teman berpikir bahwa saya sering dekat dengan Aldi berarti saya sudah menjadi pacarnya. Namun dari sudut pandang saya Aldi itu sulit mengerti perasaan orang lain.

Kepada saya Aldi tak pernah menyatakan perasaan cintanya secara terus terang. Bahkan bila saya mengajukan suatu keluhan sekadar untuk mendapatkan perhatiannnya dia bahkan sering balik mengeritik dan menganggap saya lemah.

Perempuan itu makluk yang lemah 'kan, dokter? Bila penampilan saya agak beda dari biasa, dia tak segan- segan memberikan kritikan yang kadang-kadang membuat saya mati gaya. Karena kesal, saya pernah coba membalas mengeritiknya secara tajam, tapi Aldi mampu memberikan argumentasi yang membuat dia benar saja.

Kadang saya membuat sesuatu yang menurut saya baik dan pas, tetapi ketika dilihat Aldi pasti ada saja kritikan yang tak menyenangkan. Kadang-kadang saya berpikir lebih baik saya katakan cinta lebih dulu tapi melihat Aldi suka memberikan kritik yang tak enak di dengar maka saya jadi enggan dan ragu.

Tapi kalau menunggu sampai dia katakan cintanya pada saya, ah kapan?. Akhirnya kebetulan saya juga langganan koran Pos Kupang, saya tulis surat ini buat Dokter Valens. Pertanyaan saya begini:
1) Bagaimana cara melunakkan orang yang suka mengeritik (suka beri kritik tanpa diminta)?
2) Bagaimana berbuat agar bisa tetap bertahan walaupun si dia (Aldi) sering kritik?
3) Nah, dari kasus saya ini apakah saya boleh berharap banyak bahwa Aldi bisa mencintai saya. 4) Apa mungkin saya bisa pacaran atau menjalin cinta dengan Aldi yang senangnya kritik dan kritik? Saya sangat membutuhkan saran dokter untuk melangkah. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Salam, Mindy, Oepura


Saudari Mindy yang Baik,
Salam balik dari kami di Pos Kupang. Dari nada surat Anda rupanya saat ini Anda berada pada suatu hubungan persahabatan yang menuntut Anda untuk banyak berkorban (perasaan).

Kira-kira empat puluh tahun yang lalu, Willian Schult (AS), membuat penelitian mengenai orang-orang yang bisa hidup rukun, bahu-membahu dalam kurun waktu yang lama dengan konflik yang sedikit mungkin.

Dia akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa kerukunan, dalam arti kata hidup bersama dan dapat saling bergaul dengan baik tanpa harus banyak berkorban ditentukan oleh kecocokan yang sifatnya alamiah”.

Dengan demikian, yang diharapkan dalam hidup ini adalah memiliki banyak teman yang tidak terlalu memberi beban, yaitu orang-orang yang secara alami Anda bisa merasa cocok.

Aldi, seperti dalam surat Anda, tampaknya termasuk seorang yang bertipe pengritik (tukang kritik). Seorang profesor dari Universitas Seattle Pasific, AS, bernama Dr. Les Parrott III mengemukakan bahwa seorang pengritik biasanya memiliki suatu detektor bawaan yang negatif dimana suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain.

Masih ada beberapa sifat lain yang menandai seorang pengritik adalah perfeksionis (segala sesuatu musti sempurna), suka memerintah, suka menyalahkan, haus kekuasaan, angkuh, melelahkan. Dia berpengetahuan luas tapi rewel. Bagi pengritik yang bersifat perfeksionis ini memang melukai hampir setiap hubungan yang mereka miliki.

Tolok ukurnya yang tinggi itu merupakan jalan yang pasti menuju kepada kehancuran hubungan dengan orang lain. Dia dapat mengomel panjang lebar hanya oleh sedikit noda yang kena di baju.

Selain suka memerintah dan suka menyalahkan pengritik bisa mendapatkan kekuasaan melalui kritik dengan membangun cara bersikap lebih unggul dan menggunakan kesempatan untuk membangkitkan keraguan dalam diri orang lain.

Pengritik umumnya sombong, bergaya seperti ahli yang paling pintar hampir dalam segala hal. Memang melelahkan menghadapi orang seperti Aldi-mu yang tukang kritik itu. Dalam benak orang-orang tukang kritik seringkali mereka berpikir bahwa kritik mereka itu berguna.

Mereka merasa terdorong oleh keinginan untuk menyelesaikan masalah, tapi sering bikin masalah baru. Banyak pengritik sebetulnya telah dibentuk lingkungan dan masa kecilnya sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang rewel yang suka mengritik.


Tentang bagaimana mengatasi orang model Aldi (pengritik), Parrott dalam bukunya High Maintenance Relationship, mengatakan, sulit untuk kita mau tetap bersifat obyektif terhadap pengritik.

Kadang-kadang kita merasa mereka itu laksana jarum di pabrik balon. Namun, pada saat yang sama beberapa pengritik juga bisa memberikan saran yang bermanfaat. Jadi cara yang tepat untuk menghadapi Aldi adalah dengan belajar memisahkan antara baik dan buruk dari hasil kritikannya.

Yang perlu Anda lakukan pertama adalah mengakui bahwa Aldi itu dasarnya adalah seorang tukang kritik. Karena, secara tidak sengaja kita juga sering mengeluarkan pendapat mengenai perbuatan dan perkataan orang lain.

Dengan mengakui dalam hati bahwa Aldi itu seorang pengritik maka bisa membantu Anda untuk melangkah lebih jauh dengan mencoba menjalani kehidupan yang terbiasa dengan karakter Aldi.

Cara lain lagi yakni oleh banyak ahli jiwa menyebutnya ketulian ibu” pada anak-anak yaitu sifat anak – anak yang pura-pura tidak mendengar perintah ibu, karena jauh di seberang sana ada terdengar bunyi bel penjual es krim. Bisa juga Anda gunakan istilah masuk telinga kiri keluar, telinga kanan”.

Apapun yang diomeli Aldi anggap angin lalu saja. Tetapi yang lebih positif adalah seperti yang dikatakan E. Stanley Jones, yaitu Anda perlu menganggap dia (Aldi) sebagai penjaga tanpa bayaran bagi diri Anda (karena dia selalu memperhatikan dan mengkritik Anda).

Terakhir, saya ingin katakan bahwa apabila Anda terbiasa dengan kritiknya Aldi dan Anda bisa menerima itu tanpa beban dalam hati maka kemungkinan untuk bisa berpacaran dengan Aldi semakin terbuka lebar. Yang merasakan adalah Anda sendiiri………..!
Semoga sukses.
Salam, dr. Valens sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu, 17 Mei 2009, halaman 13 Lanjut...


Ulfianty MD Laapen,
anak-anak dan suami


Manfaatkan Waktu Luang Bersama Anak

KESIBUKAN karena pekerjaan dan berbagai kegiatan lain di luar rumah membuat Ulfianty MD Laapen-Toelle dan Yulius Apollo Laapen harus memanfaatkan waktu luang dengan baik untuk bersama anak-anaknya.
Pertemuan dan kebersamaan, walau sebentar, tetapi diupayakan lebih berkualitas akan membawa dampak yang baik pula pada anak.

Hal ini dilakonkan pasangan suami-istri ini sebagai upaya mendidik dan bentuk curahan kasih sayang pada anak-anak mereka. Pasangan suami istri memiliki kesibukan yang banyak menyita waktu mereka. Ny. Ulfianty MD Laapen atau akrab disapa Ulfy sebagai guru administrasi perkantoran di SMK Negeri 6 Kupang.

Selain mengajar, Ulfy juga kuliah pasca sarjana bidang pendidikan di Undana Kupang. Sedangkan suaminya Yulius Apollo Laapen bekerja di Bank Indonesia (BI) Cabang Kupang.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Si sulung, lahir di Kupang, 30 Agustus 1992, saat ini duduk di kelas III Jurusan IPA SMA Negeri 1 Kupang. Putra keduanya, Gian Jumario Laapan, lahir di Kupang, 14 Juni 1997, saat ini kelas I SMP Katolik Giovanni dan si bungsu Calinka Prinses Laapan (tiga tahun).

Kepada Pos Kupang di sekolahnya, Ulfy, kelahiran Kupang, 10 Desember 1971 ini, mengatakan, saat ini dia dan suaminya sedang menghadapi krisis perkembangan yang dialami anak-anaknya. Anak-anak mulai memasuki masa remaja dan yang masih kecil.

Situasi dan perkembangan teknologi dan informasi serta komunikasi yang pesat di saat ini membuat orangtua harus waspada dalam membimbing, mendidik dan membesarkan anak.

Kota Kupang yang terkenal keras, juga membuat pasangan ini harus ekstra hati-hati. Namun demikian, keduanya yakni bisa melewati masa ini dengan baik.

Salah satu tips yang cukup ampuh yakni mendidik dengan pendekatan rohani. Keduanya yakin pendekatan rohani sangat mempengaruhi mental anak dan membuat anak lebih dewasa dalam menjalani kehidupan di luar rumah.

"Pendidikan rohani menjadi dasar bagi kami dalam membina dan mendidik anak sehingga dijauhkan dari pengaruh negatif di luar rumah. Kami yakin, hal ini bisa membantu. Makanya dari kecil anak-anak sudah dibiasakan ikut sekolah minggu dan saat ini si sulung kami biasakan untuk mengikuti berbagai kegiatan di gereja. Inilah hal-hal dasar yang kami lakukan untuk mengantisipasi gejolak masa remajanya," kata alumni Jurusan Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Undana Kupang tahun 1996 ini.

Menurutnya, kebiasaan lain yang juga dibuatnya di rumah adalah memanfaatkan saat teduh bersama keluarga, yakni malam hari menjelang tidur. Pasangan ini memanfaatkan saat teduh ini dengan melakukan berbagai permenungan dan sharing bersama.

Sesibuk apapun, ia harus menyempatkan diri untuk menanyakan proses kegiatan belajar di sekolah pada anak-anaknya. Misalnya, di sekolah anak-anaknya belajar apa, ada tugas atau tidak, ada kendala atau tidak dan sebagainya.

Dikatakannya, semua kebersamaan dengan anak dilakukan dengan memanfaatkan waktu seefektif mungkin. "Ya kalau pulang mengajar saya harus mempersiapkan diri lagi untuk pergi kuliah. Pulang pasti sudah malam. Sedangkan suami saya pulangnya sore.

Otomatis pertemuan kami dengan anak sangat kurang. Apalagi anak-anak juga ada kegiatan di sekolah dan ada les privat sore. Namun demikian, saya memanfaatkan waktu di malam hari yang sedikit itu untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Biar sedikit tetapi kalau dilakukan secara berkualitas pasti hasilnya baik. Dan, saya bersyukur anak-anak saya termasuk anak yang disiplin dan penurut," kata Ny. Ulfy.

Sementara itu, mengenai waktu belajar di rumah, keduanya tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk membuat jadwal ini dan itu. Sebab karakter anak- anaknya berbeda satu dengan yang lain. Si sulung memang bisa belajar secara disiplin dan tekun, tetapi putra keduanya tipe anak yang tidak mau terlalu tekun dalam hal belajar. Namun anak-anaknya termasuk anak yang pintar di sekolah. "Saya biarkan mereka untuk belajar sesuai dengan karakter masing-masing.

Tetapi tetap mengarahkan. Saya katakan kepada mereka kalau belajar adalah utama dan kegiatan lain hanyalah tambahan," katanya.

Ulfy juga mengaku harus memperhatikan kebiasaan anak-anaknya menggunakan internet. "Anak-anak saya sudah pintar mengoperasikan komputer dan mengakses internet. Nah, menghadapi hal-hal seperti ini tidak banyak yang saya buat kecuali mengontrol dan mengarahkan. Namun demikian semuanya adalah proses belajar.

Daripada mereka diam-diam pergi keluar dan melakukanya di luar, lebih baik di rumah kita bimbing mana yang boleh diakses dan mana yang tidak boleh," katanya.
Dikatakannya, sebagai guru dia berusaha tidak mau otoriter namun tetap fleksibel dalam memberikan pilihan kepada anak-anak. Yang penting, katanya, anak-anak bisa sukses. (nia)

Berikan Les Privat

PERKEMBANGAN dunia informasi dan teknologi yang begitu pesat saat ini membuat pasangan ini tidak mau gegabah. Selain mengikuti pendidikan formal di sekolah, keduanya juga memberikan les privat kepada anak- anaknya.

Misalnya mengikuti privat di Primagama, Super Math Pluss, English First untuk anak-anak sejak SD. Mengapa? Keduanya yakni kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan bekal masa depan bagi anaknya. Walau keduanya sanksi kalau kegiatan itu membawa manfaat saat ini, tetapi keduanya yakin ke depan semua kegiatan yang dilakukan anak saat masih dini bisa membawa pengaruh dan manfaat yang berarti.

Ia mencontohkan, ada orang yang saat kecilnya biasa- biasa saja tetapi ketika dewasa ia luar biasa. Sebaliknya ada orang yang saat kecil cerdas dan pintar tetapi ketika dewasa atau terjun ke masyarakat dia biasa-biasa saja. Terlepas dari semuanya itu, katanya, ia hanya ingin agar anak-anaknya bisa mampu bersaing di era yang penuh dengan persaingan saat ini.

"Perkembangan begitu pesat, kalau anak tidak dibekali dengan keterampilan di luar, bagaimana bisa bersaing," katanya.

Pendidikan formal di sekolah saja dengan menimba ilmu pengetahuan belum bisa mengcover semuanya. Untuk itu perlu ada pembekalan di luar agar anak bisa bersaing.

Apalagi, katanya, sistim pendidikan di Indonesia yang masih mengutamakan pembelajaran di kelas, tanpa ada keterampilan lain yang diberikan kepada anak. (nia)

Pos Kupang Minggu, 17 Mei 2009, halaman 12 Lanjut...

KABUPATEN Belu yang berada di bagian timur Pulau Timor menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Posisi kabupeten yang berbatasan dengan Negara Timor Leste ini menjadi perhatian dunia pada tahun 1999 ketika gelombang pengungsi warga Timur Timur memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Kabupaten Belu.

Hubungan antara orang Belu dan Timor Leste memiliki sejarah yang sangat panjang. Bahkan beberapa etnis di Belu berasal dari Timor Leste. Tidak heran bila hubungan kekerabatan antara orang Belu dan orang Timor Leste sangatlah kuat. Orang Belu terdiri dari etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan.

Kata Belu mengandung banyak makna. Menurut Paulinus Asa, seperti termuat dalam Buku Hasil Kajian Upacara Budaya Matekio/Tara Mete Suku Bey Leto, Kabupaten Belu yang diterbitkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Kupang, menyebutkan makna lahiriah dari istilah Belu adalah rasa kebersamaan, gotong royong antara dua orang yang terikat dalam ikatan kebersamaan atau ikatan "alinmaun" dalam rangka saling membantu, apabila salah satu pihak membutuhkan bantuan dan pertolongan.

Kata Belu yang mengandung makna batinia menggambarkan ikatan jalinan hubungan batin antara kedua pihak, baik yang terikat dalam hubungan "alinmaun" antara dua pihak yang terkait dalam "alinmaun" tersebut. Sementara Belu dalam arti rohania adalah mengungkapkan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Disebutkan juga, orang Belu selalu memberikan penghargaan kepada sesamanya, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Mengakrabkan diri dengan sesamanya pada hubungan antar pribadi, kelompok dan antar etnis dalam suasana keakraban melalui gotong royong, tradisi perkawinan dan ritual upacara adat yang bersifat sakral dan lain- lain.

Dengan demikian, istilah Belu (sahabat) berakar dari falsafah orang Belu yang terdiri dari etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan yang senantiasa menjalin hubungan persahabatan, gotong royong, kekerabatan, toleransi anatara mereka maupun dengan sama lainnya.

Kabupaten Belu merupakan suatu pemerintahan yang sejak dahulu hingga kini dihuni oleh mayoritas etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan. Suku Tetun yang terdiri dari dua etnis, yakni orang Tetun yang disebut Tetun Tasifeto yang berdomisili di Belu bagian Utara, terutama berada di Kecamatan Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur dan etnis Tetun yang sering disebut Tasimane orang Fehan adalah mereka yang mendiami seluru wilayah Belu bagian Selatan.

Suku Bunaq yang sering disebut orang Marae mendiami Belu bagian utara, terutama di wilayah Kecamatan Lamaknen dan sebagian kecil berdomisili di Kecamatan Kobalima. Suku Kemak yang disebut juga orang Atmas atau Atamas Ema berdomisili menyebar di sebagian Belu bagian utara yang dinilai memiliki beberapa unsur sistem budaya yang sedikit relatif beda dengan Suku Tetun dan Bunaq serta Suku Dawan yang berdomisili di bagian sebagian Kecamatan Sasita Mean (Namlea).

Mengenal Orang Kemak
Suku Kemak yang mendiami Belu menamakan dirinya Atma Ema yang berarti orang. Etnis ini memiliki bahasa asli kemak yang dikenal dengan To'u Ema, To'ek Ema atau Dale Ema.

Menurut Paulus Asa, berdasarkan wawancara dengan sejumlah Makoan di Belu seperti ditulis dalam buku Belu Dahulu dan Sekarang, menyebutkan orang Kemak berasal dari wilayah Timor Timur, yakni dari kabupaten/distrik Ermera (Hatulia dan Lete Foho) dan Kabupaten Bobonaro (Atabae dan Kailaku).

Setelah perang Lakmaras pada tahun 1911 melawan Portugis, yakni mulai tahun 1912- 1916 orang Kemak bermigrasi ke wilayah Timor Barat yang masih dalam wilayah jajahan Hindia Belanda. Orang-orang bersama anak dan istri ini membawa serta hewan piaraan seperti sapi, kerbau dan harta pusaka berupa uang perak, emas dan benda-benda pusaka lainnya. Perpindahan besar-besaran ini setalah basis pertahanan mereka dihancurkan dan dibakar habis oleh musu.

Di tempat baru, mereka tetap mempertahankan bahasa asli dan lembaga adat serta perannya dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya walaupun telah dan sudah membaur dengan penduduk setempat melalui kawain-mawin.

Dalam Registrasi ADM, Parera tahun 1964 menyebutkan, etnis Kemak yang bermigrasi dari Timor Portugis menempati wilayah di Kabupaten Belu, yakni di Fatukmetan sekitar empat kilometer sebelah timur Teluk Atapupu merupakan mereka yang berasal dari Kutubaba. Mereka kemudian membentuk ketemukungan di tempat itu. Selain itu ada pula yang mendiami Wehor atau antara Atambua dan Atapupu yaitu mereka yang berasal dari Sanirin dan membentuk lima ketumukan. Ada pula di Tenubot atau sekitar dua kilometer arah utara pinggiran Kota Atambua. Kelompok ini berasal dari Diruhati, Leimea dan Atabae dengan membentuk lima ketemukan besar (kini disebut RW) yang masing-masing di ketuai oleh satu orang suku Kemak.

Suku Kemak juga mendiami Sadi atau sekitar delapan kilometer sebelah timur Pantai Atapupu. Kelompok ini berasal dari Leolima, Leohidu dan Atabae. Ada juga yang mendiami Lemak Sanalulu Kecamatan Lamaknen yang berasal dari Sanirin yang tergabung dalam lima ketemukungan. Orang-orang Kemak lainnya tersebar di Kenaian Tohe dan Maumutin yang sudah tercampur dan berdampingan dalam kehidupan sosial dan ekonomi dengan etnis Tetun dan Marae serta setnis lainnya.

Dr.Ormelin mencatat bahwa orang-orang Kemak mendiami sekitar 20 kampung di daerah perbatasan Belu bagian utara dengan Timor Leste. Mereka dianggap sebagai sisa dari penduduk Timor Timur yang lebih tua dan secara antropologis, mereka masih mempunyai hubungan dekat dengan orang Marae dan bahasa serta budayanya mirip dengan orang Bunaq.

Keberadaan Suku Kemak Diru Hote di Belu meru pengugsi asal Diru Hati-Nalo Tete di Sub District Hatulia-District Ermera, Timor Leste. Pengungsi ini merupakan akibat perang Funu Manufahi (1911). Dalam pengungsian tersebut Korel (raja) Diru Hati Don Fransisco Xavier de Martins Nai Leto membawa 22.000 rakyatnya menuju Belu pada tahun 1912. Saat itu Belu merupakan bagian dari wilayah jajahan Hindia Belanda.

Korel dan rakyatnya diizinkan Belanda untuk menetap di Tohe-Haikesak. Setelah tiga tahun menetap di wilayah itu, Belanda memindahkan Korel bersama rakyatnya ke daerah Dila Lara dan Kuneru (sekarang Kelurahan Manumutin). Setelah menetap di Dira Lara dan Kuneru, Korel tetap menjalankan adat istiadat sebagai raja.

Orang Kemak memiliki unsur tradisi adat yang sedikit berbeda dengan suku-suku lain di Belu. Perbedaan ini terlihat pada pesta kenduri atau upacara adat tentang arwah atau leluhur yang telah meninggal pada puluhan tahun lalu.(*/alf)

Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 11 Lanjut...

LIAR

Cerpen Elly Nuga

DIA dibilang hopeless. Dia disamaratakan dengan para rebellion. Dia dimeteraikan sebagai kawan yang terbuang dari kawanannya. Tapi dia sangat meresahkan, mencemaskan sekaligus menakutkan para penghojat dan lawannya. Mungkin dia tepat disebut sebagai seekor jangkrik yang mengaum begitu nyaring di tengah rimba yang maha luas.

Suaranya menggelegar dan selalu menyimpan kesan perlu ada yang harus diperhitungkan oleh para seterunya. Dia masih misterius. Tetapi, revolusi yang dia angkat sangat realistis dan sangat transparan, menjamah sanubari dan mendobrak akal sehat kita untuk sedapat mungkin mengatakan setuju dengannya.

Dia dicari tapi tak pernah ditemukan. Dia diundang tapi tidak pernah secara nyata menghadiran diri. Ini tidak berarti dia penakut. "Siapakah dia itu Kek?" tanya seorang bocah atas cerita sang kakek.

Pertanyaan ini rupanya harus membawa sang kakek kepada masa perjuangan yang sudah lama berakhir itu. Bisa dilihat ketaksanggupan kakek untuk menjawabi pertanyaan bocah mungil yamg haus sejarah itu. Dengan sedikit teratih-tatih si kakek tua angkat bicara.. "Dia adalah prajurit tanpa tanda jasa. Penuh energik dan selalu menunjukkan sikap patriotis yang tinggi.

Dia tidak bernama tetapi sangat dikenal. Dia tidak pernah membutuhkan nama karena namanya yang saat itu ada adalah pemberian manusia yang tidak pernah mencintainya dan tidak pernah mendengarkan permintaannya untuk dicintai sebagai anak manusia yang sungguh-sungguh manusia.

Dia juga tidak mengutuki hidup ini. Yang dia kutuk ialah para perampok kebahagiaan. Karena itulah ia menerima sejuta perlakuan sadis". Serentak kakek terhenti. Lalu air mata yang keluar dari mata yang sudah usang, tua dan keriput itu tumpah membasahi rambut bocah itu. "Mengapa menangis, Kek?" komentar bocah itu.

Sejenak situasi menjadi sunyi, sepi, sendiri. Sang bocah masih dalam tanya yang menantikan sebuah jawaban sedangkan si kakek masih dalam kebingungan bercampur duka dalam pengarungannya menentukan jawaban yang tepat untuk si bocah yang cukup lugu tapi haus informasi itu.

"Enrique, mari bantu aku membereskan meja kerja ayah," undang Sinta kakak bocah itu.
"Tidak bisa kak. Sekarang saya lagi sibuk. Saya mohon maaf karena tidak bisa membantu kakak. Nanti lain kali saja ya", balas Enrique dari kejauhan.
"Kalau begitu ntar kalau kamu sudah menyelesaikan tugasmu, tolong buang sampah-sampahnya saja, ya.............?," sambung Sinta.
"Ok, kak!" potong Enrique.

Si kakek masih belum bersuara juga. Tetapi Enrique belum cukup kecewa melihat tingkah kakek yang belum hidup itu. Sampai pada suatu saat ia harus mendesak dengan suara memelas yang cukup memaksa kakek agar segera menjalankan tugasnya sebagai pencerita dan pemberi jawaban yang baik. Tetapi sama saja desakan itu belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa akan datang suara dari si kakek.

Enrique hampir menunjukkan kebiasaanya (menangis) andai saja kakek tidak segara menjawabinya. Situasi yang hening kini berseri kembali. Enrique kembali menyendengkan telingannya yang masih jernih dan muda itu untuk mendengarkan kisah tadi. Namun kini ia harus bekerja ekstra untuk memahami kisah bersambung itu lantaran kakek sedang dalam keterpaksaan dan terbata-bata memulai kisah tersebut.

"Dia sungguh ksatria yang sejati. Syukur bahwa dunia ini masih memiliki orang seperti dia. Dia memang harus berhadapan dengan sekelompok musuh yang membenci keadilan yang terus dikoar-koarkannya itu." cerita itu berlanjut.

"Kala itu, 12 November. Langit di kota itu sedang malu untuk mengatakan bahwa mereka bisa ceria seperti hari kemarin. Hanya sejengkal saja yang masih setia dengan yang kemarin. Seolah-olah situasi ini mau menggambarkan akan adanya perang dua kubu. Satu kubu adalah dia itu dan yang lain ialah antagonisnya.

Di sana dengan akal busuknya dan di sini dengan cita-cita luhurnya. Oh....perang besar akan terjadi lagi. Mungkin bukan perang frontal tetapi yang pasti perang itu ada. Siapa yang akan menjadi tumbal semua orang tidak dapat merekanya. Mungkin hari ini akan menjadi hari bersejarah di mana perjuangan untuk sebuah keadilan akan dipernyaring lagi. Mungkin kisah Tibo, cs dan Munir akan hadir lagi. Sebuah kisah mempertahankan " kemanusiaan bagi seluruh bangsa manusia" kisah itu terhenti sejenak.

"Tiba-tiba saja di jalan protokol dia sudah berada di depan sebuah perarakan massa, memimpin mereka yang juga dengan garangnya menyuarakan satu nafas untuk penegakan keadilan. Massa itu berdesak-desakkan sambil menghujankan kata-kata pedas yang tentunya beralasan dan terarah kepada mereka yang pernah disebut sebagai `kera putih' dunia ini. Ya, mereka cukup liar untuk ini.

Tetapi sayang mereka terlalu terhanyut dan tenggelam dalam ketidaksadaran. Dia pun tidak sanggup menyadarkan mereka yang sudah sangat brutal itu. Kini dia hanya mengharapkan satu suara yang lain bisa membuat baru keadaan itu. Kelakuan layaknya binatang buas yang telah molor selama tiga jam lebih telah melumpuhkan semangat penuntut keadilan itu.
***
"Pak, ini bukan perjanjian dan peraturan kita. Massa anda dan nafsu mereka sangat massif menciptakan keonaran. Anda melanggar hukum. Anda bersalah. Lihat banyak orang yang tidak bersalah menderita perlakuan liar massa Anda. Masih inginkah Anda melanjutkan semuanya ini di kala kaum tak berdosa itu dibantai secara sadis oleh Anda dan massa Anda." komentar seorang petugas keamanan.

Kata `oleh Anda' amat menyerikan telinganya. Ia rebah ke tanah dan menangis. Dan baru kali itu ia menitikkan air mata untuk perjuangannya. Dia mungkin telah kalah. Ya, mungkin????????????????????????".

"Berdasarkan peristiwa 12 November itu, maka Anda dijatuhi hukuman mati, dieksekusi mati. Dan, sehubungan dengan itu usaha yang telah Anda jalankan atas nama keadilan itu dinyatakan berakhir bahkan itu dinilai sebagai usaha pemecahbelahan dan pengrusakan bangsa" demikian keputusan hakim kepadanya, Enrique.

"Dia dibunuh dengan timah panas yang tak pernah bisa berbicara bahwa orang yang ditembusinya itu adalah penyelamat dan pembawa damai bagi hidup ini" tambah si kakek kecewa.
***
"Beberapa tahun berlalu. Ternyata setelah ditelusuri secara saksama massa di 12 November itu adalah manusia boneka para `kera putih', yang juga licik seperti kancil dan licin seperti belut seperti mereka," kisah itu berlanjut.
"Ia pun pergi karena kelicikan. Sungguh malang nasibmu keadilan. Demi engkau nyawa telah menjadi taruhan yang takkan pernah berakhir," ungkap si kakek mengakhiri ceritanya.

Ketika tatapan kakek diarahnya kepada Enrique telah bersama mimpinya. Mungkin Enrique sedang bersama dia telah mati demi keadilan itu.
"Mungkin ia bisa menjadi seperti Engkau temanku," seru kakek yakin. End.

Anggota "Arung Sastra" Ledalero"


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Santisima Gama

Bukan Boneka

Kaum Hawa bertutur
Kita adalah keindahan
Kita adalah kedamaian
Kita adalah kehidupan
Kaum Hawa menjerit
Kita bukan boneka hias

Tersenyum dalam potret bisu
Mengais mimpi pada bingkai baliho
Busyet!!! Betapa sulit duduk manis
Di kursi empuk harapan rakyat
Kaum Hawa menangis
Kita bukan boneka barbye

Yang ditakhta pada etalase
Mengapa tubuh lemah ini
Jadi korban trafficking???
Di manakah nurani mereka?
Pandai bersandiwara, sok jadi pahlawan_


Hatimu Pelembut Bumi

Wahai perempuanku!
Kekekerasan melintasi mata
Jangan takut!!!
Lembutkan hati, dia akan bertekuk
Kita ditipu, mengapa?

Karena kepolosan, yah!!!
Dan kini tiba saatnya, mari bersatu.
Berlenggang di atas panggung politik
Panggung berirama teka-teki
Tampilkan kreativitasmu

Awas!!! Jangan terjebak silau rupiah
Atasi problema dengan hati
Temukan solusi dengan hati
Santun hatimu itulah keanggunan
Berabad-abad bumi mencucurkan airmata


Karena kekerasan dan ketidak-adilan
Maka pijakan "HATI" sebagai pelembut
Di tengah warna kebobrokan
Agar damai menghiasi pertiwi
Kado untuk Ibu Gubernur
Dalam Seminar Sehari
UNIPA, 17 April 2009

Pengiriman berbagai karya sastra dalam bentuk puisi dan cerpen melalui alamat ini: cerpen_puisi@poskupang.co.id


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Apu

Di Kebun
(Para Petani)

Di kabon katong cangkol
Trus kalo ada nasib, tanam
Jagung ko, ubi ko apa _ kol
Asal kalo bisa katong jang lapar
Mau pi mana lai?
Kabong itu sah nadi
Bawa darah idup

Tuk katong pung kaluarga
Kalo kabon dong su ke pabrik
Asap-asap di rumah makin sasak
Son bisa masak
Trus parampuan dong ju
Son bisa tenun
Dari mana dong dapa makan
Anak-anak lebih para lae
Tapi katong son bisa bilang
Iko deng bapa sah
Dong bisa mati capat
Abis dong son makan na
Mana dong bisa karja
Jadi, kabon abis,
Kaluarga ju abis
Eban, 2008


Doa Tukang Ojek

Tuhan, ke mana be pargi
Sasudah orang-orang dong be antar
Ada yang bayar pas
Ada yang kurang
Yang bayar lebe be sanang
Orang ini bae hati
Mana sonde, ko be jalan di angin-angin
Jaga ko jang oleng
Ini bukan ke oto
Ato bemo kota ko dong pung roda
Ampat bagitu
Paling-paling kas turun gas sah
Ma ini musti jaga kasaimbangan ju
Sadikit sah katong bisa talempar
Trus orang dong luka ko apa ko
Katong musti bayar lai
Salah-salah ju bisa masok panjara
Sapa suka mau pi itu tampa
Tagal angin sah
Ma be son ba-angin kalo dapa rejeki
Be mau buat apa deng limapuluh ribu
Ato kalo untung na seratus ribu
Beli bensin su sakitar limapuluh bagitu
Trus sator kira-kira seratus
Be musti utang lai
Jaga be o Tuhan
Sama ke be jaga orang di belakang
Ma kalo be di belakangMu?
Be paling sanang
Be jamin son oleng-oleng
Apalai Lu son parlu uang ke be
Uh...be ojek
Trus ke rumahMu
Katong turun trus
Tiba-tiba be son mau pulang
Tar tau kanapa
Itu su. Lu salalu bayar lebe
Liliba, Kupang, 2008

Pengiriman berbagai karya sastra dalam bentuk puisi dan cerpen melalui alamat ini: cerpen_puisi@poskupang.co.id


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 6 Lanjut...

Tahta, Harta dan Wanita

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

BENARKAH Antasari bersalah? Terkenal ke seantero jagat, itulah Antasari, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Reputasinya yang luar biasa dalam bidang tangkap koruptor, membuat banyak pihak terkaget-kaget menghadapi ketegaran laki-laki ini.

Setelah sukses menjebloskan sekian orang ke dalam hotel pordeo gara-gara "korupsi", pamor Antasari pun bagai meteor melintasi langit kota Jakarta. Namun tiba-tiba saja, Antasari kesandung kasus pembunuhan, bukan karena urusan korupsi yang telah mengangkat citra dirinya, tetapi soal perempuan dan cinta segitiga yang disinyalir sebagai penyebab.

Nama Antasari pun berkibar dalam berita soal tahta, harta dan wanita. Tahta identik dengan singgasana kekuasaan, harta atau kekayaan berlimpah adalah ikutannya. Dua hal ini menjadi lengkap bagai ruas ketemu buku, dengan kehadiran wanita.

Ah, wanita kasihan benar nasibmu. Mau saja masuk dalam perangkap pejabat yang doyan selingkuh.
***
"Ini kata Kristina lho, bukan kata Nona Mia," Rara cepat-cepat melengkapi komentarnya setelah melihat wajah Nona Mia terlipat karena marah. "Kristina, si penyanyi dangdut istrinya AL Amin yang dijebloskan Antasari ke penjara gara-gara korupsi. Kristina yang sedang dalam proses perceraian dengan Al Amin.

Kristina yang begitu terlukanya menghadapi kenyataan bukan hanya soal korupsi dan kasus suap, tetapi terutama soal perempuan yang tertangkap tangan bersama sang suami. Begitu ceritanya," Rara merasa perlu memberi penjelasan. "Kristina yang bilang banyak pejabat doyan selingkuh! He he he benar-benar tahta, harta, dan wanita!"

"He he he jangankan pejabat besar seperti Antasari. He he kalau betul dia terbukti bersalah. Pejabat kelas teri seperti Jaki saja, juga maenkan tahta, harta, dan wanita. Wanita-wanita..." Rara terus berbicara. "Aku juga, sama! Maaf ya Nona Mia, ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan kamu bukan? Kamu tidak termasuk jenis wanita-wanita yang rela masuk dalam sarang selingkuh para pejabat bukan? Ya kan Nona Mia manis..."
***
"Aduh, seandainya aku jadi Antasari. Punya kuasa, punya harta, wah, ditambah wanita lagi. Hmm kamar 808 atau 802 atau kamar berapa ya. Bahagianya jadi Antasari dengan gadis secantik Rani Juliani. Tetapi tentu saja, tidak secantik Nona Mia.

Nona Mia kamu pasti lebih cantik. Wah, kalau para bos itu lihat kamu, pasti kalang kabut, kamu jadi rebutan, kamu tinggal pilih suka-suka kamu, kamu jadi piala bergilir, dan cepat atau lambat kamu pasti jatuh ke pelukanku. Aduh, Nona Mia! Mana lebih ganteng! Aku atau Antasari? He he he..." Jaki jadi salah tingkah tidak karuan. "Bagaimana Nona Mia?" Jaki mengedipkan matanya menghadapi Nona Mia.

"Halo, Nona Mia," Rara pun nyambung. "Apa khabar? Jangan mau kalah dengan itu Rany Juliani mantan caddy golf. Kamu lebih cantik. Hanya kamu perlu tambahan senyum sambil berkedip dan lenggang kangkung gaya bebek! Nah, tidak perlu Antasari, aku saja! Aku jadi orang pertama yang akan menikahimu secara sirih pinang!

Lebih ganteng mana antara aku dan Antasari?"
"Bisa diam tidak!ö Nona Mia bangkit berdiri dan marah besar. öKamu kira aku ini perempuan gampangan ya? Yang murah saja jadi piaraan kamu kah? Kamu orang atau bukan orang sih!" Nona Mia marah bukan kepalang membuat Jaki dan Rara terpental beberapa langkah ke belakang. "Kamu mau pukul rata semua perempuan ya.

Kamu kira aku semurah perempuan yang terjebak dalam doyan selingkuhnya para pejabat?" Nona Mia menarik kerah baju Jaki dan Rara dengan kedua tangannya, dan mendorong sekuat tenaga, sehingga kedua laki-laki hidung belang itu tersungkur.
***
"Halo Nona Mia! Ada apa? Mengapa jadi galak begini?" Benza berdiri di tengah-tengah. "Apa yang terjadi dengan dua pejabat kita ini?" Tanya Benza. "Apakah kalian berdua termasuk pejabat yang doyan selingkuh? Masuk dalam opini Kristina si penyanyi dangdut? Kamu berkelahi memperebutkan Nona Mia?"


"Kami dihajar Nona Mia!" Kedua laki-laki itu berusaha berdiri.
"Dihajar Nona Mia?" Benza terbelalak.
"Ya! Kamu juga bakal saya hajar, kalau berani menjatuhkan penilaian salah terhadap saya. Kamu kira pejabat yang doyan selingkuh itu keinginan perempuan? Kamu kira perempuan gampangan?" Nona Mia marah bukan maIn. "Selingkuh dimana-mana.

Berbagai selingkuh. Selingkuh pilkada, selingkuh suksesi, selingkuh pemilu, selingkuh suara, selingkuh korupsi, selingkuh video, selingkuh sms, segala selingkuh selalu memanfaatkan perempuan sebagai umpan? Dengan keperkasaannya berlindung di balik daster perempuan. Seolah-olah perempuan adalah biang kerok! Ayoh, kalau berani maju satu lawan tiga..." Ancam Nona Mia.

"Nona Mia! Apakah kamu serius?" Benza ternganga.
"Ya! Saya mual melihat perilaku para pejabat, para penguasa model kalian bertiga yang sok perkasa tetapi ikut-ikutan berlindung di balik ketiak perempuan untuk menyelamatkan diri! Ayoh maju!" Nona Mia menantang dengan mata melotot. Jaki, Rara, Benza kabur dengan langkah seribu...*


Pos Kupang Minggu 10 Mei 2009, halaman 1 Lanjut...

Anak NTT Juga Mampu


FOTO IST
Kapten Psk.
Helmi Ardyanto Nange, SE
dan istri


HARI Selasa, tanggal 28 April 2009 lalu, Kapten Psk. Helmi Ardyanto Nange, SE secara resmi menerima jabatan sebagai Komandan Kompi D Paskhas BS, Kupang. Pria yang biasa disapa Ardy ini menggantikan Kapten Psk. Isbudiarto yang akan menempati jabatan baru sebagai Kadis Ops Lanud El Tari Kupang.

Upacara serahterima dilaksanakan secara militer di lapangan upacara Paskhas BS, Penfui-Kupang, dipimpin Komandan Wing II Paskhas, Kolonel Thedorus Seto Purnomo.

Pergantian jabatan dalam organisasi merupakan hal yang sangat biasa. Naik atau turunnya seseorang pada sebuah jabatan, juga biasa. Namun yang membuat pergantian ini menjadi berbeda adalah karena Ardy adalah putra NTT pertama yang menjadi Komandan Paskhas di Kupang.

Dan, hari serahterima tersebut menjadi hari yang bersejarah dalam hidup Ardy.
Sebuah prestasi dan kebanggaan, karena ternyata putra- putra NTT juga sudah masuk hitungan dan memiliki kualitas untuk menjadi seorang komandan. Kebanggaan ini akan menjadi tantangan namun bukan sebuah beban. Ardy yang baru berusia 31 tahun dan dipercaya menjadi seorang komandan di Kupang tahu bahwa dia masih harus banyak belajar. Profesionalismenya sebagai anggota TNI membuat dia harus percaya diri.

Jumat, 1 Mei 2009, wartawan SKH Pos Kupang, Sipri Seko, bertemu Ardy di ruang kerjanya. Tak ada birokrasi yang berbelit mulai dari tempat piket hingga ke ruang kerjanya. Jabatannya sebagai seorang komandan tak bisa menyembunyikan keramahtamahannya sebagai orang Kupang kebanyakan. Ardy juga ternyata punya kenangan sendiri dengan Piet A Tallo, S.H almarhum, mantan Gubernur NTT.

Siapa Ardy sebenarnya?
Saya adalah orang Kupang asli, namun saya lebih banyak berada di luar Kupang. Karena tugas, orang tua sebagai pegawai Dolog, selalu berpindah-pindah sehingga saya harus mengikutinya. Saya pertama-tama sekolah di SD Inpres Oetete 2, namun hanya sampai kelas empat karena orang tua pindah ke Ende. Tamat SD di Ende, orang tua pindah lagi ke Dilli, yang kala itu masih menjadi wilayah Indonesia. Selanjutnya sekolah saya lebih banyak di luar, yakni Dilli, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta. Saya pernah kuliah teknik sipil di Unika Kupang tahun 1997, namun karena lulus Akabri, saya tidak lanjutkan. Teman-teman saya yang dari Unika sekarang banyak yang sudah bekerja.

Punya ayah pegawai Dolog, bukan tentara atau polisi. Mengapa Anda memilih TNI untuk berkarier?
Sejak kecil saat di Dilli, tentara sudah menjadi bahagian hidup sehari-hari. Saban hari kami pasti melihat ada tentara atau mendengar ada tembakan. Sebagai anak kecil, saya lihat tentara-tentara waktu itu sangat gagah- gagah. Hal inilah yang kemudian membuat saya tertarik untuk menjadi tentara. Jadi, ketika saya kuliah di Kupang namun mendengar bahwa ada testing Akabri di Dilli, saya memilih pulang ke Dilli untuk ikut tes dan ternyata saya lulus.

Apa komentar orang tua atau keluarga ketika Anda lulus Akabri?
Tidak semua orang bisa lulus dan masuk menjadi siswa di Akabri. Jadi, orang tua dan keluarga saya sangat senang ketika mengetahui kalau saya lulus Akabri.

Karier Anda di TNI AU boleh dibilang cukup bagus. Masih muda namun sudah menjadi seorang komandan. Bagaimana perasaannya ketika menerima surat keputusan menjadi Komandan Paskhas di Kupang?
Secara pribadi saya sangat bangga. Mama dan keluarga saya sangat senang. Bagaimana tidak, kami adalah tujuh bersaudara dan yang laki-laki hanya saya sendiri, sehingga mereka sangat bahagia ketika saya ditunjuk untuk menjadi komandan di Kupang. Biasanya saat Natal baru saya pulang. Saya juga mendapat telepon dan SMS dari banyak senior-senior asal NTT yang juga adalah anggota TNI AU. Mereka bilang kepada saya agar menjaga kepercayaan ini dengan baik. Mereka bilang, karena saya orang NTT pertama yang menjadi Komandan Paskhas di Kupang, saya harus menunjukkan bahwa anak-anak NTT ternyata banyak yang mampu. Saya berjanji akan menjalankan tanggung jawab ini dengan baik.

Ada pesan juga dari orang tua?
Kalau dari sisi tugas militer, saya lebih tahu dari mereka. Tapi sebagai orang tua, mama selalu berpesan kepada saya agar jangan lupa berdoa. Bagi saya, kekuatan yang datang melalui Yesus tidak ada duanya. Saya sangat yakin dan percaya dengan itu bahwa segala sesuatu yang kita minta pasti akan dipenuhi- Nya. Bagi saya, Yesus itu sangat luar biasa. Saya selalu ingat pesan Yesus, bahwa ketika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, duduklah dengan tenang dan jangan protes karena Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang mungkin lebih buat Anda. Percayalah bahwa Tuhan sudah mengatur segala sesuatu untuk menjadi indah pada waktunya. Ketika kita kecewa, sebagai manusia pribadi, itu wajar tapi jangan membuat kita lantas patah semangat dan putus asa. Hal-hal ini yang menjadi prinsip dalam hidup saya.

Istri Anda tentu sangat mendukung.
Dia sudah memilih saya sebagai pendamping hidup, dia juga harus menerima konsekuensi dari tugas yang saya emban. Istri saya sebelumnya adalah pegawai bank di Purwokerto, namun dia harus tetap ikut saya. Dia tidak pernah protes meski harus meninggalkan keluarga dan kerjanya di Jawa, karena dia sudah tahu konsekuensi ketika memilih saya sebagai suami. Saya pernah tugas darurat militer di Aceh selama satu setengah tahun, ke Korea Selatan dan Australia itu tidak menjadi masalah bagi istri saya. Namanya wanita pasti ada keluhan, tapi sejak pacaran saya sudah katakan kepadanya bahwa sebagai seorang prajurit saya harus siap kemana saja. Seorang Paskhas, di barak, rangselnya sudah siap dengan peralatan tempur, sehingga ketika ada perintah dia sudah siap untuk berangkat.

Anda menjadi komandan di Kupang dengan usia yang masih muda. Apakah ada perasaan canggung saat harus memerintah bawahan yang usianya lebih tua atau lebih senior di Paskhas?
Bukan mau sombong, tapi saya mau katakan bahwa menjadi seorang komandan tidak gampang. Tidak semua orang bisa memakai lambang komando di bahunya. Seorang komandan itu tidak hebat, tapi dia terlatih. Dan, sebagai seorang militer yang profesional semua orang tahu itu. Saya profesional saja, dan semua mengerti tugas itu, sehingga bagi kami di militer hal ini sudah biasa.

Menjadi orang NTT pertama yang memimpin Paskhas di Kupang, apa yang ingin Anda lakukan untuk NTT?
Saya diangkat menjadi prajurit untuk profesional. Artinya, saya diangkat menjadi prajurit untuk menjaga wilayah Indonesia, sehingga dimana saya ditugaskan, di situ tanggungjawab akan saya jalankan. Tapi dari sini, saya mau memberi bukti kepada seluruh masyarakat NTT, bahwa ternyata anak-anak NTT juga bisa menjadi komandan. Di Mabes TNI AU dan daerah lainnya, banyak anak NTT yang menjadi pemimpin. Dan motivasi itu saya juga peroleh dari almarhum Bapak Piet Tallo.

Setelah dilantik, apa yang sudah Anda lakukan?
Pertama-tama yang saya lakukan adalah mengenal lingkungan saya. Saya mau menjalin hubungan dengan masyarakat di lingkungan ini mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, Kapolsek dan lainnya. Saya akan mendatangi mereka untuk melaporkan keberadaan saya sebagai komandan baru di sini. Mungkin setelah itu baru saya datangi birokrasi seperti walikota, gubernur, wakil gubernur dan lainnya untuk meminta dukungan. Tapi yang utama adalah mulai dari lingkungan sendiri. Saya ingin mulai dari bawah sehingga jangan ada kesan hanya menghargai pejabat tapi mengabaikan masyarakat biasa, yang sebenarnya sangat dekat dengan diri kita.

Apa perkenalan ini termasuk dengan keberadaan Paskhas di Kupang?
Betul! Saya mau perkenalkan kepada masyarakat NTT mengenai keberadaan Paskhas. Selama ini, orang menganggap bahwa Paskhas itu adalah Lanud, sehingga saya mau klarifikasi ini. Kalau Lanud itu Lanud El Tari Kupang, sementara Paskhas adalah Paskhas BS Kupang. Artinya, sama-sama angkatan udara, namun kami adalah pasukan yang siap tempur. Lanud dan Paskhas itu sejajar atau, bukan atasan bawahan. Jadi kalau Lanud minta pasukan dari saya, saya harus minta izin ke komandan di Malang.

Tadi Anda katakan bahwa sering mendapat motivasi dari mantan Gubernur NTT, Piet Tallo almarhum. Bisa diceritakan apa motivasi yang diberikan?
Pertama-tama saya mau katakan ikut berdukacita atas meninggalnya Bapak Piet Tallo. Atas nama keluarga dan Paskhas, saya mendoakan semoga beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Saya mengenal Pak Piet Tallo ketika dari AAU Yogyakarta mengadakan festival band di Kupang. Saat komandan saya audiens dengan Pak Piet Tallo, dia katakan bahwa ada anggota band yang asli anak NTT. Pak Piet Tallo kemudian meminta dia untuk mempertemukan saya. Dan, saya banyak mendapat nasihat dan motivasi dari beliau. Nasihat pertama yang dia katakan kepada saya adalah, jangan suka minum, disiplin dan laksanakan tugas dengan tanggung jawab. Setelah perkenalan itu, setiap kali ke Kupang, saya pasti bertemu beliau. Bagi saya, Pak Piet Tallo adalah seorang pemimpin yang luar biasa. Dia baik, punya wawasan dan patut ditiru.

Ada yang paling berkesan dengan jabatan Anda?
Yang paling berkesan bagi saya saat menjabat sebagai Komandan Paskhas di Kupang adalah hari pelantikan saya yang bertepatan dengan tanggal lahir almarhum bapak saya. Ini memang tidak direncanakan, sehingga bagi saya ini adalah hal yang luar biasa.

Ada pesan untuk masyarakat NTT atau pemerintah?
Saya tidak memiliki pesan khusus kepada siapa-siapa, tapi saya mau katakan kepada seluruh anak-anak muda NTT untuk tidak ragu-ragu dalam memilih. Kita memiliki nilai saing yang sangat baik dengan orang luar NTT. Ada banyak bukti bahwa anak-anak NTT ternyata lebih mampu dari orang luar. Hilangkan stigma bahwa kita ditakdirkan bukan untuk menjadi pemimpin, tapi tunjukkan bahwa anak-anak NTT juga mampu. *


Dirikan Klub Sepakbola

ARDY ternyata punya cara sendiri untuk bersosialiasi dengan lingkungannya. Hobinya bermain bola membuat dia ingin mendirikan klub sepakbola yang pemain- pemainnya adalah anggotanya di Paskhas.
"Kalau sebelumnya orang Kupang mengenal PS Angkasa, itu adalah klub yang terdiri dari anggota Angkatan Udara dan masyarakat sekitarnya, kalau yang saya dirikan ini adalah klub yang pemainnya adalah anggota pasukan saya," ujar Ardy.

Menurut Ardy, klub sepakbola yang hendak dirintisnya bukanlah klub yang hanya digunakan sebagai sarana untuk berolahraga tetapi benar-benar klub profesional. Tak heran kalau dia kemudian ingin mendaftarkan klubnya menjadi salah satu anggota di bawah PSSI Kota Kupang.

"Saya ingin klub kami nanti terdaftar resmi di PSSI Kota Kupang sehingga kalau ada turnamen bisa ikut. Kami juga ingin ikut turnamen yang disponsori oleh Dji Sam Soe dan Pos Kupang, meski nanti harus lewat kualifikasi," ujar Ardy.

Ardy mengaku bahwa selama ini masih ada kesan kuat dalam masyarakat bahwa ketika ada klub sepakbola baik itu dari TNI ataupun kepolisian selalu identik kekerasan. Untuk itulah dia merasa tertantang untuk tampil beda dengan klubnya.

"Tujuan saya ingin agar pemain klub klub saya hanya anggota adalah untuk menghilangkan stigma tersebut. Kalau dulu di Kupang kalau klub dari tentara atau polisi suka buat keributan di lapangan, bagi saya itu hanya oknum saja. Kalaupun ada oknum tersebut sedang tidak sadar atau tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Saya jamin, klub saya tidak akan sama seperti, karena ada tekniknya," jelas Ardy.

Ardy yakin lewat olahraga dia bisa bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Dia ingin masyarakat benar- benar merasakan perlindungan dari TNI atau bukan sebagai ancaman. Sebagai putra asli Kota Kupang, Ardy sudah sangat tahu karakter masyarakatnya. Tak heran kalau pria yang juga hobi fitnes dan menembak ini sangat yakin kalau Paskhas tetap akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan di Kota Kupang. (eko)



Data Diri:
Nama: Helmi Ardiyanto Nange, SE
TTL: Kupang, 10 Desember 1978
Istri: Dayu Anggraeni Nange, ST, MM
Ayah/Ibu: Drs. Anthon Nange (Alm) dan Yeane Nange- Thedens
Saudara: Feby Yulia Riwu-Nange, SP
Lorensia Seraya Desembri Mandolang-Nange SP
Imelda Fonyke Nisnoni-Nange, ST.MP
Selfy Handrayani Liu-Nange, S.Sos, M.Si
Merlyn Novita Wenyi-Nange, ST
Ansy Olene Nange, ST

Pendidikan Umum:
SD: SD GMIT Ende 4 (1990)
SMP: SMPN 2 Dilli (1993)
SMA: SMAN 2 Dilli (1996)
Strata 1: STIE Surabaya (2005)
Pendidikan Militer:
Akabri Udara di Yogyakarta tahun 2000
Para Dasar di Bandung
Aklan AAU di Yogyakarta
Kibi AAU di Yogyakarta
Sesarcab Elektronika di Bandung
Sesarcab Paskhas di Bandung
Komando di Bandung
Dinas Operasi
Darurat Milier di Aceh 2003
Darurat Militer di Aceh 2004


Pos Kupang Minggu 10 Mei 2009, halaman 3 Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda