Aku dan Valentino Rosi

Cerpen Laurensio Carlos Gaba

ANGIN malam berhembus kian kencang. Menggoyangkan dedaunan pohon di pinggir Jalan El Tari malam ini. Cahaya lampu jalan yang terang benderang seakan menemaniku menyusuri ruas jalan yang lebar, menambah keindahan malam ini. Aku memacu motor Kawasaki Ninja, dengan pelan, sambil menikmati pemandangan sekitar yang ramai.

Maklum! Malam minggu. Aku kemudian berhenti. Mataku memandang keadaan sekitar dan berhenti pada sekelompok pemuda yang sebaya denganku sedang duduk berkumpul. Sepertinya aku mengenali salah satu dari mereka, aku lalu menghampiri mereka. Ternyata benar dugaanku dia adalah Rian teman lamaku. Aku menghampirinya dan duduk bercerita dengan mereka.

Tak lama berselang, kudengar bunyi gonggongan motor disertai teriakan yang memecah kesunyian malam. Sekelompok motor yang mengelilingi sebuah motor besar dengan kombinasi warna putih, biru dan kuning melintasi melewati kami, di ikuti dengan puluhan motor lainnya.

Mataku terpana melihat motor besar yang diapit itu. Aku seakan tak percaya pada apa yang kulihat barusan. Rian yang tercengang dengan suara yang berat dan tergopo-gopo karena melihat hal itu spontan langsung berteriak iiituu kan Valen.... Valentino Rossi !!!” ya benar itu Valentino Rossi dengan motor Fiat Yamaha YZR- M1 miliknya. Ayo cepat kita susul rombongan itu.

Aku lalu berlari mendapati motorku dan segera memacunya dengan kecepatan tinggi menyusul rombongan itu. Aku seakan tak percaya dengan apa yang saja aku saksikan barusan. Rombongan itu berhenti tepat di depan kantor Gubernur. Banyak sekali orang yang memadati tempat itu. Aku lalu memarkirkan motorku menghampiri lingkaran penonton yang sedang menyaksikan atraksi yang dilakukuan oleh Valentino Rossi.

Ternyata keraguan ku tadi tidak benar dia memang benar-benar Valentino Rossi sang juara dunia Moto GP 6 kali dengan julukan THE DOCTOR” Aku begitu kagum dengan atraksi yang dilakukannya. Mataku terpana seolah tak mau berkedip. Ternyata aku bisa melihat langsung idolaku yang selama ini aku bangga-banggakan.

Aku memang sangat mengidolakannya dari dulu. Banyak poster dan gambarnya yang aku miliki. Ketika dulu ia masih berkiprah di Repsol Honda sampai sekarang di Yamaha Fiat Team. Banyak juga datanya yang aku miliki, mulai dari tanggal dan kota kelahiran serta prestasi yang dimilikinya.

Aku sangat senang malam ini tapi satu hal timbul di benakku. Memang tak mungkin aku lakukan tapi apa salahnya aku mencoba. Ini bisa menguji adrenalinku di lintasan. Aku memandang sekeliling mencari di mana manager Fiat Yamaha. ”Oh, itu dia pasti orangnya!” Pekikku dalam hati. Lalu dengan keberanian dan semangat yang membara serta tekad yang bulat aku berjalan menuju managernya. Beruntung karena di situ ada seorang promotor Indonesia yang mendampingi kedatangan tim Fiat Yamaha.

Aku menuju promotor itu dan meyampaikan maksudku untuk menantang Sang juara dunia. Promotor itu menertawakanku tapi aku tak gentar. Aku terus memohon agar dikabulkan. Manager Fiat Yamaha menanyakan maksud kedatanganku pada promotor itu. Promotor itu memberitahukanya dengan bahasa Italia. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan.

Ternyata manajer Fiat Yamaha menyetujuinya dan memberitahukan hal itu pada Valentino Rossi. Aku berlari mendapati motor kawasaki ninja, memakai helm warna hijau andalanku dan memacu motorku menuju garis start yang telah disediakan. Valentino Rossi menyalami aku dan mengancungkan jempol. Aku semakin bersemangat. Promotor itu menjelaskan jalur yang akan kami lalui.

Aku seakan tak percaya dengan hal ini. Aku bisa menantang sang juara dunia. Tekadku sudah bulat. Ternyata lintasan yang dilalui cukup panjang tapi hanya satu kali putaran saja dan itu adalah jalur yang biasa aku lalui sebagai pembalap liar di kota Kupang ini. Aku tersenyum kecil, bangga pada diriku sendiri. Aku memang tak sehebat Valentino Rossi tapi aku harus berusaha menang

Valentino Rossi menghidupkan motornya begitu pun dengan aku yang menunggangi kawasaki ninja warna hijau yang menjadi motor andalanku. Teriakan para penonton yang riuh semakin menyemangati kami berdua.
Ngg...ngg...ngg...nngggggg, suara mesin motorku tak kalah dengan suara motor Valentino Rossi.

One...two...three....goooo...!!!!” aku dengan cepat menancap gas meninggalkan garis start. Begitu pun dengan Rossi. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata. Posisi kami sejajar di trek lurus Jalan El Tari. Aku terus menancap gas. Dengan cepat, kakiku menginjak pedal gigi yang dirancang underground. Kecepatan motorku diatas 160 km per jam melaju dengan kecepatan yang tak terbendung di jalan raya lewat beberapa kendaraan bermotor. Aku meliuk-liukkan motorku melewati kendaraaan itu.

Aku tahu Valentino Rossi sudah lebih berpengalaman dalam menghadapi hal seperti ini, tapi aku tak boleh kalah. Pekikku dalam hati. Kulihat ia tampak tenang. Beberapa meter mendekati tikungan, aku dengan cepat menurunkan kecepatan. Tak sadar Rossi sudah melewatiku di tikungan. Ia membelokkan motor dengan begitu seni melewatiku dari bagian kanan. Rossi sudah mendahuluiku. Aku akui ia memang hebat dalam hal tikungan. Kini ia berada di depanku. Aku berusaha menyusulnya lagi. Takk.... 3 takk....4....takk.... 5. Kecepatan motorku meningkat seiring naiknya gigi.

Aku akhirnya bisa menyusulnya. Aku berusaha melewatinya ketika mendekati Bank NTT, dan berhasil lewat pada tikungan pendek di depan Flobamora Mall. Balapan kami sangat sengit. Saling melewati. Aku terus memimpin hingga ketika melewati jalan depan SMAN 3. Aku terkecoh dan berhasil dikuasai lagi oleh Valentino Rossi.

Ia kini memimpin lagi balapan. sial” Pekikku dalam hati. Sampai di depan GOR motor kami bersenggolan karena aku menghindari kerumunan tukang ojek di cabang Korem. Walaupun begitu ia masih tetap memimpin. Sementara itu orang-orang yang berada di pinggir jalan masih terus bersorak menyemangati kami berdua. Valentino Rossi meliuk- liukan badannya, menghindari kendaraan yang searah maupun dari lawan arah.

Aku tidak putus asa.”Ah... kenapa harus gentar? Ini kan lintasan liar kami?” aku sangat merasa optimis untuk menang. Aku kembali menancap gas dengan kecepatan tinggi membuntutinya dari belakang berusaha mencari celah untuk lewat. Kecepatan motorku memang tak sebanding dengan kecepatan motornya. Tapi bukan berarti aku harus menyerah begitu saja. Aku harus berusaha.

Kini kami melewati jalan di TDM menuju bundaran PU. Mendekati bundaran PU aku dengan cepat menurunkan gigi menyalip dari kanan melewati bagian pinggir badan jalan sampai melewati trotoar rendah yang mengelilingi bundaran tersebut. Aku nekat, walaupun resikonya sangat besar. Aku berhasil melewati dan mendahuluinya.

Kini kami melaju kembali menuju garis start. Rossi dengan tenang dan tatapan mata yang tajam kembali memburuku dari belakang. Kami sejajar, saling melewati. Mendekati tikungan ia menerobos masuk dari sebelah kiriku.”sial! lagi-lagi aku kecolongan”. Gerutuku. Aku berusaha untuk mengejarnya lagi.

Aku nekad menambah kecepatan motorku padahal lagi beberapa meter lagi ada tikungan. Aku mendekatinya dari belakang mencoba membuntutinya. Tapi sia-sia. Rossi membelok dengan sangat indah dan cepat. Tak ada celah bagiku. Tapi aku tak putus asa. Kukejar lagi dia dari belakang. Ia mengendarai motor dengan sangat profesional. Meliuk-liukkan motornya diantara kendaraan lain.

Ia seperti sedang menari dengan motornya diatas lintasan dengan sangat indah. Aku pun tak mau kalah. Mendekati Pertamina kami kembali sejajar. Kecepatan kami di atas angin tak kusangka MILAN bemo lampu 6 jurusan Oebufu menerobos keluar dari cabang dekat ASKES. Kami terkejut dan dengan cepat mengerem motor. Motor masih dalam keadaan kencang. Slep pun tak terhindari. Keadaan sekitar menjadi tenang seketika. Dan ..... iittttsssss slep motor kami menimbulkan bunyi yang membuat orang sekitar menahan napas seketika. ah..... ! untung saja”. Hei mau cari mati ya......?” aku meneriaki orang itu dan aku menjadi emosi.

Kini laju motor kami kembali meningkat. Rossi masih saja berada di depanku. Aku berusaha mengejar. Tapi apa daya. Kekuatan motornya melebihi kecepatan motorku. Aku hanya mampu mensejajarkan motorku dengannya. Itu pun dengan kekuatan penuh. Kini sulit bagiku untuk melewatinya.

Rossi sempat menoleh ke belakang menatapku. Aku menjadi semakin tertantang untuk memburunya mendekati Korem. Aku menambah kecepatan. Jarum speedometerku bergerak menuju angka 180. terpaan angin dari arah depan semakin besar. Aku sedikit lebih menunduk. Laju motorku menyamai laju motornya. Aku sedikit membanting badan ke kanan dan berusaha melewatinya. Aku mendahuluinya.

Aku berusaha agar tidak kecolongan lagi. Aku berhasil menjaga posisiku di tikungan depan Flobamora Mall. Kini tinggal satu tikungan lagi aku memasuki jalan El Tari. Rossi mendekatiku dari belakang. Aku berusaha untuk menghalanginya.

Rossi mencoba mendahuluiku dari kanan, ketika melewati Bank NTT. Aku meliukkan badan ke kanan. Aku berusaha menghalanginya. Tapi......dimana dia sekarang...? ternyata dengan cepat ia kembali ke arah kiri dan mendahuluiku. Dia duluan melakukan tikungan . arrrghhh !!! sial...! aku terjebak. Geruruku dalam hati. Memasuki jalan El Tari dengan trek yang lurus. Rosssi memimpin balapan. Aku tak berdaya mengejarnya.

Aku akui Rossi memang hebat, profesional dan memiliki strategi yang sangat bagus, dibanding aku yang hanya pembalap liar. Mendekati garis Finish Rossi disambut dengan meriah oleh para suporternya lalu aku menyusulnya dari belakang dengan selisih waktu 2 detik. Rossi memang pantas menang. Aku akui itu. Motor kami diparkir barsamaan di garis finish.

Kami berdua berjabatan tangan. Aku diberi selamat oleh manager Fiat Yamaha dan promotor Indonesia itu. Manager itu memuji kehebatanku, walaupun aku kalah tapi aku bisa menyelesaikan balapan dan masuk finish dengan selisih waktu 2 detik. Aku sangat senang. Satu yang dapat aku katakan bahwa aku bangga pada diriku sendiri karena dapat menantang Valentino Rossi untuk balapan. Aku merasa sangat senang.

Aku bisa bertemu langsung dengan idolaku bahkan mengajaknya untuk berduel. Aku hanya tersenyum pada mereka tanpa mengerti pembicaraan mereka. Aku teringat akan sebuah iklan di TV. Dahiku mengkerut memikirkan itu. ehmmm..... oh ya.....!!! aku tersenyum pada Rossi dan managernya serta berkata padanya Rossi, Numero Uno !” Mereka menatapku dan tertawa.

Sambil menepuk bahuku. Rossi membalas kata-kata ku tapi aku tak mengerti apa yang dikatakan. Aku hanya tersenyum padanya. Manager Fiat Yamaha menyampaikan sesuatu pada promotor Indonesia. Sepertinya penting. Raut wajahnya berubah serius, lalu tersenyum dan berbalik padaku. Di sampingku Valentino Rossi sedang dikerumuni para fans yang meminta tanda tangannya.

Tak lama promotor itu meminta perhatian kami semua ternyata ada hal penting yang ingin disampaikannya. Promotor itu memanggilku dan memberitahuku bahwa manager Fiat Yamaha memintaku untuk bergabung bersama. Badanku gemetar, darahku seakan berhenti mengalir. Lemas. Seakan tak percaya dengan apa yang baru kudengar hingga aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.
***
Sang surya mulai bangkit dari peraduannya dan sinarnya yang terang mulai menyelimuti bumi seakan mengisyaratkan kepada penghuni bumi untuk segera bergegas melakukan aktivitasnya masing-masing. Sinar mentari pagi memeng telah masuk melalui celah-celah ventilasi kamarku sehingga silaunya perih menusuk mataku. Ketika aku pertama kali membuka mataku tersadar dari mimpiku. Aku kaget dan segera bangun .

gila !!!” spontan aku berteriak. Teman kostku berlari menghampiriku. ada apa ?” pikiranku berputar-putar tak karuan. Kenapa Jef...?” aku memandang sekilas gambar- gambar di dinding kostku lalu tersenyum lebar. Aku tak memperdulikan keberadaannya di sampingku yang dari tadi mencemaskanku. Ahhh. Ternyata hanya mimpi.” Pekikku dalam hati. ada apa Jef ? Mimpi buruk ya?” Ah tidak”. Jawabku.

Aku tak mau mnceritakan padanya apa yang baru aku alami dalam mimpi tadi. Kau ini mengagetkan aku saja.aku pikir kau hilang ingatan karna benturan semalam.” Ahh. Kau bercanda saja. Aku tidak apa-apa” oh ya!!! kau tidak ke kampus ? sudah jam 6 lewat 30 menit.” Apa !!!!. wah, aku hampir terlambat.!” Aku bergegas menuju kamar mandi dengan raut wajah yang berseri.memikirkan mimpi malam tadi. Rasanya aku sangat bersemangat. kenapa kau senyum tadi ?’ jangan-jangan kau benar-benar sudah gila ? kau biasanya bercanda saja. Cepat siap-siap.hampir terlambat nih.”

Aku meneguk segelas teh dan berlari keluar kamar. Di luar Rian sudah menunggu di atas motornya. Kami lalu segera bergegas meninggalkan kost kami.

***
Untuk para pencinta MOTOR GP, dan Fans Valentino Rossi
Komunitas Sastra Seminari Oepoi


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda