Bakar Sampah Bukan Solusi

FOTO istimewa
BAKAR SAMPAH -- Salah satu
contoh pengelolaan sampah
yang salah dengan cara
membakar. Gambar
diabil di Ruteng-Kabupaten
Manggarai.


JALAN tikungan di Kilometer (Km) 5 arah selatan Kota Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai menuju Reok menyisahkan tragedi yang memilukan. Tepat sebelah kiri ruas jalan itu ada tumpukan sampah. Bau sampah di tempat itu begitu menyengat hidung.

Lokasi dengan radius sekitar 100 meter persegi menjadi tempat pembuangan akhir sampah dari Ruteng. Dari beberapa titik tumpukan sampah asap terus mengepul. Asap meliuk ditiup sepoi angin. Asap beterbangan kemudian hilang ditelan angin. Kadang-kadang dari tumpukan sampah disertai nyala api.

Udara kurang sedap. Udara sudah terkontaminasi asap dari tumpukan sampah. Setiap orang melintasi wilayah itu harus menutup hidung.

Tarikan napas kita pun terkadang terhentak sejenak karena sengatan udara kurang bersahabat itu cukup kencang. Berbeda dengan para pejabat ketika melintasi wilayah itu pasti tidak terganggu.

Mereka tinggal menutup rapat kaca mobilnya dan menikmati segarnya udara ber-aircondition dalam mobil.
Asap terus mengepul tak pernah berhenti. Kondisi ini sangat beralasan karena tumpukan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) itu cukup banyak. Setiap hari selalu mendapat pasokan sampah dari Ruteng.

Pemandangan di TPA tersebut menjadi kontras. Di satu sisi bau tak sedap, di sisi lain menjadi tempat meraih secerca harapan bagi orang-orang tertentu.

Pemandangan, Selasa (14/4/2009) lalu, misalnya sangat jelas. Dua orang bapak membalut mulut dan hidung dengan masker ala kadarnya, sambil mengais di antara tumpukan sampah.

Sesekali berdiri tegak sambil membetulkan masker buatan itu karena bau udara yang sangat menyengat hidung. Keduanya mengumpulkan barang-barang bekas, kaleng-kaleng yang masih berguna.

Sesekali melepas lelah sambil isap rokok djitoe. Asap ditarik dalam-dalam. Pandangan kosong. Bola mata cekung seperti sedang memikul beban berat.

Meski tumpukan sampah itu menjadi ladang berkat bagi segelintir orang, namun yang pasti di tempat itu sudah menjadi pemandangan tak sedap, mengkhawatirkan.

Pencemaran lingkungan menjadi fakta yang tak terbantahkan. Namun perhatian dan kepedulian dari instansi teknis dan pemerintah setempat terhadap ancaman pencemaran lingkungan di tempat itu seolah-olah wajar.

Sampah yang ada di tempat itu memberi gambaran bahwa instansi terkait yang menangani persampahan dan lingkungan seolah hanya duduk berpangku tangan dan tidak peduli pada akibat yang ditimbulkan dari tumpukan sampah.

Sampai kapan ada perhatian terhadap kondisi yang mengkwatirkan hajat hidup orang banyak itu? Tentu masyarakat masih menunggu perhatian itu.

Yang jelas pencemaran akan terus melaju mengikuti arus waktu. Pencemaran udara dengan beragam dampak ikutannya, langsung maupun tidak langsung, tidak akan menunggu kapan pemerintah ada hati, kapan pemerintah ada kepedulian untuk mengurus persoalan sampah.

Cepat atau lambat menyikapi pencemaran lingkungan di KM 5 Ruteng itu, yang jelas kondisi TPA itu menjadi mazmur duka, nyanyian pilu. Tragedi salah urus sampah. Jika ada keterdesakan, orang-orang tertentu membakar tumpukan sampah itu.

Kebiasan membakar sampah tidak hanya di KM 5. Di beberapa titik dalam kota Ruteng, bahkan dalam kontainer pun sampah dibakar.

DPRD Manggarai sudah berulangkali menyuarakan kondisi sampah KM 5 itu. Bahkan merekomendasikan agar pemerintah segera merelokasi dan mencari tempat baru yang lebih layak sebagai TPA.

Teriakan Dewan di sidang paripurna cukup beralasan, selain lokasi itu tidak tampan, sistim pengelolaan pun tidak profesional. Hanya mengandalkan api. Sampah dibuang dan dibiarkan begitu saja. Tak jarang langsung disulut dengan api agar mengurangi aroma tak sedap. Sebab semakin besar tumpukan sampah, menambah lama bau busuk.

Kebiasaan itu bertahan hingga saat ini. Akibatnya seiring perjalanan waktu kondisi di KM 5 kian parah merana. Imbauan DPRD agar menyikapi kondisi KM 5 seperti pepatah anjing menggonggong kafila berlalu.

Dari sisi tempat TPA KM 5 sangat tidak ideal, bahkan menciptakan masalah baru. Lokasi tersebut dekat dengan sumber mata air. Jika hujan
sampah-sampah akan terbawa banjir. Lingkungan sekitar pun tercemar. Selain itu resapan air ke dalam tanah pun tercemar. Sampah dibakar bukan solusi, bahkan menambah masalah baru yakni pencemaran udara.

Belum lagi bahan kaca beling yang tidak terbakar entah kemana. Langkah yang harus dilakukan adalah pemilahan sampah-sampah, pengolahan dan mengatasi barang-barang yang mau didaur ulang. Sementara lokasi TPA yang disiapkan saat ini di Wae Ri'i disinyalir tidak memenuhi syarat. Lahan tidak memenuhi standar.

Padahal fasilitas sudah disiapkan. Sangat boleh jadi sarana yang menelan ratusan juta
itu akan mubasir. Sampah tetap tidak terurus.

Hanya Sementara
Kepala Kantor (Kakan) Pengendalian Dampak Lingkungan, Sensi Gatas, mengatakan lokasi TPA KM 5 masih digunakan. Lokasi itu dipakai hanya sementara sebelum TPA di Ting dimanfaatkan. Sementara Seksi Pengendalian dan Pengawasan, Hima Kasmir, menjelaskan, lokasi baru belum dimanfaatkan karena fasilitas belum lengkap.

Terutama jalan masuk dan beberapa sarana pendukung lainnya.
"Kita sudah ajukan permohonan dana Rp 700 juta untuk melengkapi fasilitas di Ting, namun belum diakomodir," katanya. Menurutnya jika TPA di Ting sudah dilengkapi fasilitas memadai, maka KM 5 segera ditinggalkan. (lyn)


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 14

1 komentar:

Membakar sampah (open burning) sangat meracuni kesehatan (kanker/ karsinogen) dan mengakibatkan bayi lahir cacat (kelainan mutasi genetik) dari efek Dioxin.
Dioxin bisa bertahan di tanah dan sumber air sampai belasan tahun.
Dioxin adalah polutan nomor 2 mematikan setelah radio aktif.

Nah, anda mau kena kanker dan keturunan anda cacat? Silahkan buktikan sendiri!

7 Mei 2010 18.30  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda