Drs. Frans Meak Parera

POS KUPANG/BENNY
DASMAN

FRANS Meak Parera ketika
diperkenalkan Gubernur NTT,
Drs. Frans Lebu Raya, kepada
para undangan yang menghadiri
acara penandatanganan MoU
pengelolaan Arena Fatululi
menjadi NTT Expo di Rumah
Jabatan Gubernur NTT,
Rabu (29/4/2009) malam.



Kupang Harus

Jadi 'Service City'


------------Pengantar Redaksi--------------------
Rabu (29/4/2009) malam. Ada tiga hajatan besar yang digelar di Rumah Jabatan Gubernur NTT. Salah satunya penandatanganan MoU antara Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dengan Direksi PT Alfa Beta Tapili-Kupang, Briando Pribadi Gotama, tentang Pengelolaan Arena Pameran Fatululi menjadi NTT Expo.

Di antara tamu undangan yang hadir, ada sosok fenomenal yang mendapat perhatian khusus dari Gubernur Frans Lebu Raya. Siapa dia? Drs. Frans Meak Parera, Sekretaris I Forum Usahawan Ekumene Indonesia (Funisia). Gubernur NTT sangat mengharapkan pikiran-pikiran cerdas dari Frans Meak sebagai masukan untuk pengelola NTT Expo agar mendesain 'menunya' secara profesional. Apa harapan Frans Meak dari NTT Expo? Berikut refleksinya ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, di Kupang, Kamis (30/4/2009) malam.

Waktu penandatanganan MoU NTT Expo, Anda diperkenalkan khusus oleh Gubernur NTT kepada tamu undangan lainnya. Tersirat harapan dari Gubernur NTT agar Anda membantu mendesain NTT Expo! (Apa maksudnya saya 'dikerjain' pak gubernur malam itu. Ha..ha..ha.). Saya mau tempat NTT Expo itu (Fatululi, Red) direposisi. Sangat tepat Pemprop NTT memercayakan pengelolaannya kepada PT Alfa Beta Tapili-Kupang. NTT Expo itu harus menjadi tempat pengembangan industri otomotif, agribisnis dan media. Ini salah satu cara untuk membangun brand/image baru terhadap Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Muaranya menjadikan Kupang sebagai Service City.

Ini adalah upaya pengembangan dan pembangunan Kupang sebagai kota layanan jasa-jasa dan pusat perdagangan domestik dan internasional yang terintegrasi, efektif, efisien, dan kompetitif. Dengan demikian sektor perdagangan menjadi sumber devisa utama bagi perekonomian Kupang dan NTT.

Untuk mewujudkan hal ini, selain mengefektifkan program NTT Expo, juga menekankan pembangunan Kupang pada bidang infrastruktur untuk mendukung kawasan ekonomi regional wilayah Kupang dengan mitra utamanya Darwin-Australia. Jadi semangat Service City adalah pelayanan. Menjadi kota jasa yang melayani. Hotel- hotel yang ada harus siap melayani dan memuaskan. Pengelola hotel dan para personelnya harus dilatih menjadi pelayan yang baik. Birokrasi pun harus menjadi pelayan yang baik.

NTT Expo harus mencitrakan posisi Kupang sangat strategis!
Dari posisinya, Kupang menjadi kawasan internasional. Dekat dengan Australia. Kupang, sebuah kota propinsi kepulauan yang memosisikannya juga sebagai kepulauan internasional. Merujuk pada predikat ini, Kota Kupang harus dibangun di atas sebuah pesona yang indah. Jadi, jangan main-main membangunnya. Sebab hal ini menyangkut harga diri. Kupang itu harga diri NTT.

Kupang menjadi Service City, potensi apa yang harus dikembangkan?
Di Kupang banyak perguruan tinggi. Fakta yang tak terbantahkan. Juga banyak media massa. Ada harian dan mingguan. Ini potensi yang harus dilirik dan dikembangkan. Jangan disia-siakan. Potensi itu apa? Kupang itu harus menjadi Creative City. Kota ini banyak dihuni para pekerja kreatif, pekerja yang berilmu pengetahuan. Banyak tradisi intelektual yang ditanam sejak dulu tidak tertanam dalam refleksi kota ini. Berarti terjadi salah urus.

Artinya, ilmu-ilmu terapan yang didapat tidak dapat diaplikasikan kepada masyarakat. Jangan pikir yang muluk-muluk. Misalnya, forum penulis akademi atau jurnalis. Dalam forum, para pekerja intelek ini bisa kreatif bagaimana membangun NTT dari visi mereka. Jadi, komunitas penulis akademis harus berkembang di NTT.

Hadirnya NTT Expo sebagai forum kreativitas masyarakat Kota Kupang dan NTT untuk mengembangkan potensinya? Pendapat Anda?
Saya lebih suka NTT Expo itu menjadi Kupang Fair. Kalau NTT Expo hanya terfokus pada teknologi. Sedangkan Kupang Fair memfokuskan pada pengembangan kreativitas atau industri kreativitas. Ini sangat potensial untuk dikembangkan di Kupang atau NTT. Pertanyaannya, kita mau bikin apa kalau Kupang ini menjadi pusat industri kreativitas. Saya sangka banyak yang kita bisa buat. Misalnya, teater, seni musik, dan sebagainya.

Apa muara dari industri kreativitas ini!
Lho, hanya satu. Membuka isolasi. Jangan pikir isolasi di NTT hanya soal fisik saja. Di NTT ini isolasi terbesar adalah isolasi kreativitas. Kita bisa menjalin kerja sama dengan Darwin. Sangat menarik bagi orang Australia untuk menjalin kerja sama bisnis. Konteksnya you punya apa, saya punya apa. Saling membutuhkan. Ini juga salah satu peran hadirnya NTT Expo ini. Kita bisa menggandeng Bank Dunia untuk mendapatkan dukungan dana. Bukan untuk minta-minta, tapi maksudnya jelas. Mengapa tidak.

Bisa kita lakukan dengan Bank Dunia. Soal industri kreativitas, saya juga punya obsesi, yaitu Kupang harus menjadi pusat ilmu bahasa, playground industry. Dengan cara ini kita menguasai dunia dalam waktu cepat. Misalnya, ada bisnis penerjemah, bahasa mandarin dan sebagainya. Kita di NTT bisa melakukan hal ini. Selain itu, kita di NTT bisa juga kelola lahan untuk pentas, syuting film dan sebagainya. Motifnya supaya orang Jakarta datang ke Kupang, datang ke NTT. Di Jakarta, lahan syuting film sangat sulit.

Bentuk landskapnya sudah lain. Tidak alami. Kalau kita buat di NTT tentu masih asli. Ini yang harus kita tangkap dan kreatif.

Peluang industri kreativitas lainnya?
Di NTT bisa dibangun sekolah atau akademi sinematografi. Dalam konteks ekonomi, industri-industri kesenian menempatkan anak didik selaku pangsa pasar potensial. Pendidikan apresiasi seni yang mereka kembangkan pun dalam rangka memperbesar volume pemasaran produk-produk seni yang dihasilkan.

Sinematografi pada dasarnya mengembangkan pendidikan apresiasi seni. Konsep muatan lokal dapat dimanfaatkan sebagai wadah pendidikan apresiasi seni. Sampai saat ini pendidikan apresiasi seni di sekolah belum ada. Kalaupun hal itu ada, masih tergolong kegiatan-kegiatan insidental atau sesaat dan tidak terprogram dalam pendidikan. Sekolah tetap melihat hal itu tidak fungsional dan kurang penting.

Di samping dimasukkan ke dalam muatan lokal, pendidikan kesenian biasanya dibawahi dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler (teater sekolah, sastra, musik). Dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun pendidikan kesenian belum dikembangkan secara maksimal. Hal itu lebih diarahkan sekadar sebagai tempat untuk menyalurkan hobi anak didik.

Sinematiografi masih tergolong langka. NTT harus menangkap peluang ini. Yang ditemukan, dan hal ini biasanya di kota-kota, hanyalah kursus-kursus musik, tari daerah dan melukis. Apresiasi atau penghargaan terhadap seni bermula dari pengertian-pengertian terhadap seni tersebut. Untuk memahami realitas-realitas multikultur itu, tidak dibutuhkan kemampuan melakoninya, tetapi di atas hal itu adalah pengetahuan-pengetahuan yang pada akhirnya tahu akan arti multikultur itu.

Di samping berupa materi teoritis, pendidikan apresiasi seni juga dapat memanfaatkan produk-produk seni yang telah ada (dalam film, dalam rekaman kaset, dan dalam video dokumenter). Seni etnik tenggelam di NTT, didominasi seni kemasan (musik pop yang semakin diterima sebagai musik nasional yang tersimpan dalam kaset, VCD, program-program televisi, film-film asing, dan lain-lain).

Untuk mengembangkan industri kreativitas, misalnya di bidang seni, tentu membutuhkan dukungan sarana dan prasarana seperti buku-buku. Apa konsep Anda sebagai 'mahluk' buku untuk mengisi pameran buku di NTT Expo?
Saya senang ditokohkan oleh Pos Kupang sebagai 'mahluk' buku. Saya sebagai Sekjen Dewan Buku Nasional akan membuka jaringan Dewan Buku sampai di Kupang. Misinya, membangun infrastruktur agar masyarakat NTT gemar membaca buku.

Juga membangun sistem distribusi buku, misalnya buku grafis dan elektronik dan buku-buku lainnya secara merata sampai ke desa-desa. Bahkan sampai ke Maluku, Irian dan Timor Leste. Dan, pengelola NTT Expo harus masuk dalam jaringan ini. Di NTT, toko buku harus banyak dibangun, sekolah cukup, sudah banyak. Kalau banyak toko buku, konsekwensinya harus ada taman bacaan. Kalau ada taman bacaan berarti buku baru selalu tersedia. Supaya ada buku baru harus ada penulis.

Melalui NTT Expo nanti saya berniat mengembangkan komunitas penulis akademis di Kupang. Untuk NTT Expo, saya berniat menjadikannya sebagai Book Fair dan Book Centre. Tujuannya untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di NTT. Selain Book Fair, pengelola NTT Expo harus menjadi penggerak toko buku mobile, toko buku voluntir sampai ke desa-desa. Dengan demikian di desa ada perpustakaan mini. Untuk mendukung obsesi ini, saya akan mengajak 50-100 penerbit untuk mengisi pameran buku di NTT Expo yang dilakukan secara periodik.

Menghadirkan Bank Dunia mencitrakan posisi Kupang semakin penting!
Ya, ada konsekwensinya. Kupang harus menjadi pelabuhan samudera, sebagai pintu keluar di kawasan Asia Pasifik. Jadi, kita butuh sarana untuk menjual Kupang jika kita lekatkan predikat ini. Antara lain menggalakkan NTT Expo sebagai bagian dari perencanaan dunia.

Jadi, jangan main-main, NTT Expo ini kalau di-manage dengan baik menjadi bagian dari kegiatan internasional, dunia. Setidak-tidaknya menurut versi kita. Makanya Bank Dunia harus terlibat. Kita harus buat bagaimana caranya Bank Dunia terlibat dalam pekerjaan ini, khususnya soal dana.

Predikat Pelabuhan Samudera bisa menjadikan Kupang sebagai gudang komoditi!
Betul itu. Misi dari predikat Kupang sebagai pelabuhan samudera itu agar seluruh komoditi perdagangan terkonsentrasi di Kupang. Kupang harus menjadi gudang. Misalnya, pengolahan agribisnis yang dilakukan di Flores semuanya diarahkan ke Kupang.

Demikian pun Pulau Timor dan Sumba sebagai kawasan ternak. Gudang dari semua ini harus di Kupang. Ini harus dijawab bagi pengembangan kawasan industri Bolok ke depan. Porosnya Kupang-Darwin-Kupang-Menado. Mudah-mudahan lobi dengan Bank Dunia bisa kita lakukan untuk mendapatkan bantuan untuk menyukseskan pekerjaan besar ini. Dengan cara ini kita dapat mengubah wajah NTT. Dengan demikian Kupang menjadi service city dan creative city.

Posisi Kupang sebagai pelabuhan samudera menempatkan Darwin sebagai mitra dagang utama! Pendapat Anda?
Ya, masa depan NTT itu ada di Darwin. Selain karena kedekatan, kita di NTT bisa melakukan kebebasan berusaha. Dengan demikian kita dapat bersaing di kancah global asalkan kita punya jurus, punya kiat, harus punya semuanya. Jangan paksa diri ke Singapura. Mengapa tidak bemitra dengan kawasan terdekat. Ya, otonomi daerah itu seperti ini. Kita bisa menentukan mitra bisnis yang tepat.

Media NTT Expo berperan besar mencitrakan Kupang sebagai Pelabuhan Samudera!
Ya, kampanyenya melalui NTT Expo atau Kupang Fair. Melalui NTT Expo, kita harus bisa mengontrol harga komoditi. Ini salah satu perannya. Karenanya NTT Expo harus dilengkapi dengan teknologi informasi (IT) untuk membantu masyarakat agar mendapatkan informasi terkini perihal harga komoditi di pasaran. Lembaga koperasi harus digandeng untuk bermitra, semangat wirausahanya harus dibenahi. Ini wadah kerja sama dengan NTT Expo.

Misalnya, Darwin butuh paronisasi peternakan, kita perkuat koperasi peternakan. Bisa juga untuk bidang lainnya. Singkatnya, melalui NTT Expo penggunaan dan harga komoditi ekspor dari NTT harus bisa dilacak. Jadi, penting adanya kontrol harga. Distribusi juga harus diawasi agar masyarakat tidak dirugikan. Kita juga harus cari industri mana yang menjadi primadona di NTT. Ini penting supaya kita jangan didikte oleh pasar.

Kita harus bisa bersaing. Intinya, memperjuangkan apa yang dibutuhkan masyarakat. Ini utama. Soal profit tentu berjalan dengan sendirinya kalau masyarakat percaya produk kita. Ini kredibilitas usaha, inti dari usaha. Kita juga harus bisa prediksikan keuntungan, tapi bukan itu yang utama.

Terimplisit dari penjelasan Anda, melalui NTT Expo, Kupang harus menjadi Information City!
Itu benar. Jadi, Kupang harus menjadi pusat informasi, Information City. Misalnya, seperti yang saya jelaskan tadi, melalui NTT Expo masyarakat Kupang dan NTT umumnya mendapatkan informasi akurat tentang perkembangan harga-harga komoditi di pasaran.

Atau informasi tentang peningkatan keterampilan seperti kursus-kursus keterampilan. Atau informasi apa saja. Semua ini ada konsekwensinya seperti kelengkapan berbagai fasilitas, misalnya radio komunikasi, jaringan komputer, operation room dan sebagainya. Jadi, wartawan pun bisa mengakses informasi itu dari NTT Expo.

Informasi-informasi yang disediakan juga diharapkan berguna bagi mahasiswa melalui penyediaan buku referensi tentang pembangunan, lingkungan, ekonomi, kemiskinan, energi, bahkan tentang korupsi. Buku-buku dan informasi sering dimanfaatkan mahasiswa untuk membuat skripsi, juga bagi dosen untuk referensi mata kuliah.

Mitra NTT Expo dengan koperasi sangat tepat. Apalagi saat ini Pemerintah Propinsi NTT menjadikan Flobamora sebagai propinsi koperasi!
Koperasi jangan besar di kampung saja. Perannya harus mendunia. Jika koperasi maju, kita pasti bisa bersaing dalam memasarkan produk atau komoditi. Saya minta usahawan-usahawan muda di NTT harus berperan membangun koperasi.

Melirik komoditi apa yang bisa dikembangkan, dipasarkan. Jangan melulu simpan pinjam. Cari yang monumental. Bila perlu usahawan-usahawan muda di NTT harus tergabung dalam wadah Funisia (Forum Usahawan Ekumene Indonesia). Wadah ini sangat mendukung koperasi. Misalnya, dengan membentuk konsorsium semacam leadership coorporation. Jadi, kita harus kompak untuk memenangkan pertandingan bisnis.

Menurut pandangan Anda, bagaimana profil usahawan di NTT saat ini!
Selama ini usaha mereka hanya terfokus pada bisnis keras seperti otomotif, agribnisnis dan media. Industri kreatif belum banyak dilirik, padahal sangat potensial untuk dikembangkan. Kalau kita fokus pada industri ini, pasti berhasil. Ingat, dari 1.000 lagu-lagu cilik pengantar tidur di dunia, salah satunya berasal dari NTT (Bajawa). Ini membanggakan.

Mengapa lahan ini tidak dilirik. Saya minta usahawan muda di NTT memanfaatkan NTT Expo untuk mengembangkan industri kreatif. Misalnya, buka kursus teater, MC, kursus gitar, viol, kursus bahasa Inggris, pelatihan-pelatihan keterampilan, grafika, desain, tataboga dan sebagainya. Juga mengembangkan konser. Semua ini harus jadi andalan industri kreatif. Jadi, semua aktivitas ini harus ada di Fatululi sehingga hidup sepanjang hari, waktu.

Saya harapkan NTT Expo ini harus ada kaitannya juga dengan musik. Musik di NTT harus menjadi garam dan terang yang menghidupkan. Gereja juga harus berperan mengembangkannya. Jadi, harus ada konsentrasi usaha. Ini pekerjaan rumah untuk usahawan-usahawan muda NTT.

Tentang Funisia, bisa dijelaskan seperti apa refleksinya!
Ini organisasi profesi usahawan. Bersifat umum tetapi juga eksklusif, terbatas karena terikat kondisi fungsional tertentu. Semangat dasar dalam membangun Funisia di tengah kehidupan masyarakat di masa yang akan datang mengambil model dinamika sebuah organisme, yang berarti sebuah tubuh yang bersifat dinamis dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

Funisia menggabungkan diri dalam gerakan spiritual yang sudah dirintis oleh kelompok usahawan Indonesia selama ini dalam menanggapi tantangan besar yang semakin memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat yang berasal dari sumber-sumber sekularisme dalam proses globalisasi.

Tujuannya?
Pertama, mengembangkan spiritualitas usahawan kristiani di Indonesia. Kedua, mengembangkan komunikasi dan penukaran informasi antarusahawan kristiani Indonesia. Ketiga, mengembangkan komunikasi dan penukaran informasi dengan usahawan kristiani di dunia dan kalangan usahawan kristiani dalam negeri. Keempat, mengembangkan etika bisnis yang sesuai dengan tuntutan cinta kasih kristiani di dalam perusahaan masing-masing di Indonesia agar berfungsi sebagai garam dan terang bagi dunia bisnis di Indonesia pada khususnya dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Lagi, soal NTT Expo. Pengelola, PT Alfa Beta Tapili, bertekad mendesain NTT Expo secara profesional. Tak hanya menata fisik berupa gedung yang bagus, tetapi juga 'menunya'!
Ya, supaya berhasil harus ada tekad. Kalau NTT Expo ini sudah berjalan sesuai harapan, maka sudah sepantasnya pemerintah memberikan REWARD atau penghargaan kepada para penggagas dan pengelola NTT Expo. Mengapa harus ada reward? Karena NTT Expo akan menjadi cikal bakal perubahan struktur ekonomi dan kebutuhan masyarakat banyak, khususnya untuk Kota Kupang. *

Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda