Eduardus

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

EDUARDUS Mbete, Hendrikus Kia Walen, Fransiskus Tadon Kerans, Daniel Daen... Ada apa gerangan dengan kalian? Benarkah kalian pelaku pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen? Benarkah kalian terlibat dalam cinta segitiganya Antasari,
Nasrudin, dan Rani Juliani?

Benarkah, kasus Antasari sudah sudah melebar ke persoalan politik tingkat tinggi untuk menghentikan sepak terjang Antasari dalam Komisi Pemberantasan Korupsi? Kalian dibayar berapa? Tiga miliyard? Sudah dapat panjar lima ratus juta? Aduh, saudara-saudaraku... menyakitkan benar nasibmu ya..." mata Nona Mia berkaca-kaca memikirkan nasib pahir Eduardus yang terkenal dengan nama Edo dan kawan-kawannya itu.

"Ketinggalan kereta kamu! Sudah berlalu tiga minggu. Kenapa kamu sedihmu tidak selesai sudah? Memangnya Edo dkk itu apanya kamu?" Jaki tertawa sinis. "Biar saja mereka bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Mereka yang dapat uang. Kenapa kamu yang harus sedih?"

"Siapa suruh datang Jakarta?" Rara langsung nyambung. Orang lagi pikir capres cawapres, lagi kali bagi tambah kurang mau pilih SBY, JK, atau Mega? Ha ha ha kamu malah pikir Edo dkk."
"Aku merasa tambah terluka, tambah menderita, ikut terpenjara bersama mereka!" Nona Mia berkata sejujur-jujurnya.

"Aku malu, tidak sanggup mengangkat wajahku di hadapan temanku!"
"Wah, Nona Mia menangis? Mahal air matamu! Jangan buang untuk hal-hal yang tidak penting, tidak perlu! Itu bukan urusan kita," Jaki mencoba menghibur.
"Itu urusannya. Siapa suruh datang Jakarta? Sendiri susah sendiri rasa!"

"Sudahlah! Lebih baik pikir presiden. Kamu mau saya jadi tim sukses SBY? Tim sukses Mega saja! Lebih keren. Atau boleh juga jadi tim suksesnya JK. Ambil kesempatan dalam kesempitan. Siapa tahu calon kita yang menang, masa depan kita ikut gemilang bukan...Urusan Edo, Hendrik, Frans, dan Daniel biar saja jadi urusan polisi... Mereka bukan siapa-siapanya kita.

Apa kamu ada hubungan saudara? Keluarga? Famili? Tutup mata saja, biar badai berlalu. Toh mereka bukan siapa-siapanya kita. Buat apa pikir susah? Kasiaaaaaan..."
***
Benza tersinggung bukan maen mengetahui pikiran dan sikap Rara dan Jaki soal Edo dkk. Menurutnya sungguh keterlaluan, jika dua kawannya itu merasa nyaman, aman, tidak peduli, tidak prihatin, malas tahu dengan apa yang terjadi dengan Edo dkk.

Menurut Benza, dua sahabatnya itu sungguh-sungguh tidak punya perasaan.
"Mereka orang kita. Satu tubuh sebagai sebuah keluarga besar. Sebagai satu tubuh, kalau kaki terantuk, bagian tubuh lainnya ikut sakit bukan? Kalau mata buta, telingan tuli, bisu, bukankah bagian tubuh lainnya juga ikut prihatin?"
"Itu urusan mereka!" Rara setengah berteriak.

"Urusan kita juga!" Potong Benza.
"Mereka orang kita," sambung Nona Mia. "Sebagai orang kita, bukankah kita pun mesti ikut prihatin? Mengapa orang kita jadi tenar karena menghilangkan nyawa orang lain? Mengapa tenar karena debt colector, satpam dan menjadi pembunuh bayaran?" Nona Mia berkata sungguh-sungguh.

"Ah, bukan urusanku!" Jaki tidak peduli.
"Bukan urusanmu?" Benza tidak percaya.
"Ya!" Jaki mengangkat wajahnya. "Urusanku adalah tim sukses caleg, pilkada, suksesi presiden. Keren dong! Dapat nama dapat duit... Apa urusanmu?"

"Aku tidak peduli dan tidak mau peduli!"
"Tidak peduli? Benarkah kalian berdua tidak peduli? Kalian benar-benar keterlaluan. Sudah terlalu, kalau sebagai sesama orang kita kamu tidak ikut prihatin atas apa yang sudah terjadi... Aduh, betapa malunya..." Benza tertunduk.

"Silahkan malu sendiri..." Jaki tidak mau tahu.
"Terus kamu mau apa? Mau jadi pengacara, membela, dan berjuang untuk mereka? Silahkan saja!"
***
"Benza geleng-geleng kepala melihat kedua temannya. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kita sudah kehilangan rasa kebersamaan sebagai sebuah keluarga besar... Bayangkan! Rasa prihatinpun kalian tak punya..." Benza berusaha menjelaskan.
"Memang gue pikirin!" Rara dan Jaki melenggang pergi.

"Mereka orang kita!" Teriak Nona Mia.
"Lebih baik gue pikirin nasib SBY, JK, dan Mega!" Rara dan Jaki menjauh.
Tinggallah Nona Mia dan Benza terpekur memikirkan nasib Edo dkk. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 1

1 komentar:

CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG

Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.

Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.

Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.

Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.

sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

1 Juni 2009 19.23  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda