Hati Nurani

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda

GARUDA terbang kembali ke Kupang NTT setelah 21 tahun angkat roda dari bumi Flobamora. Tentu saja ini berita gembira. Tidak heran kalau Rara ikut terbang dari Denpasar dengan tiket seharga empat ratus sekian ribu rupiah. Senangnya bukan main-main. Kalau biasanya biaya Denpasar Kupang seputar satu juta rupiah, kini jadi separoh harga. Siapa yang tidak tertawa gembira.

"Ini benar-benar sesuai hati nuraniku," Rara bangga setengah mati. "Bagiku hati nurani sama dengan uang empat ratus delapan puluh ribu rupiah ha ha ha..." Begitulah Rara.

"Lumayan duitku hemat enam ratus ribu... Perjalanannya sangat menyenangkan sebab enam ratus ribu bisa kubelikan beberapa buah dasi, sebagai persiapan kalau sudah duduk di kursi nanti.


Buat pelantikan, buat rapat paripurna, buat acara-acara resmi lainnya. Terima kasih ya garuda!" Rara tersenyum puas. "Garuda tahu isi hatiku..."

"Jadi, bagimu hati nurani sama dengan naik pesawat?" Tanya Benza.

"Kalau aku, hati nurani sama dengan dasi melintang, baju safari, stelan jas lengkap, sepatu mengkilat, naik mobil turun mobil, naik pesawat turun pesawat, dan terutama nih, jadi punya status, dihormati di mana-mana ha ha ha.... kalau aku turun ke desa pasti aku akan disapa Bapak Rara yang kami hormati he he he... asyiknya itulah hati nurani untukku. Apa aku salah?"

"Kamu yakin?"
"Ya dong. Apalagi kalau bukan demikian?"

***
Lain halnya dengan Nona Mia. Rasa marah sekaligus kecewa masih saja meliputi hatinya. Meskipun dia telah berusaha menerima kenyataan kalah suara dalam pemilu. Tetapi masih saja dia melempar kesalahan pada orang lain, yang menurutnya tidak memilih sesuai hati nurani.

Karena itu dia selalu dukung segala bentuk demo protes hasil perhitungan suara. Apalagi demo soal serangan fajar yang dilakukan Rara yang disinyalir membagi-bagi uang pada saat-saat terakhir menjelang pemilu.

Rupanya kalimat 'memilih dengan hati nurani' sangat populer di kalangan masyarakat seputar pemilu untuk menentukan caleg 2009. Sayangnya, esensi makna dan nilai kalimat itu juga ikut-ikutan menjadi populer dalam arti pop, gampang-gampang saja, ukuran material, dan tanpa pendalaman.

Jauh dari makna dan nilai aslinya yaitu perasaan hati terdalam, murni, batin, yang telah mendapat cahaya Tuhan.
"Kalau mereka pilih sesuai hati nurani, mestinya mereka memilih aku!"

"Apa arti hati nurani menurutmu?" Tanya Benza.
"Hati nurani adalah pilih Nona Mia!"
"Ooooh jadi itukah hati nurani menurutmu?" Tanya Benza.
"Ya dong. Mau apa lagi?"

***
"Bagiku hati nurani sama dengan kebutuhan dasar untuk hidup yang gampang dilihat dengan mata kepala," kata Jaki membela diri setelah dia mengaku jujur sudah pilih Rara. "Aku dapat sembako, aku dapat uang bensin, aku dikasih uang rokok, yang penting aku pilih Rara.

Yang penting aku makan lontong dan opor ayam. Apa aku salah?"

"Jangan lupa sembako untukku sekali-sekali ya... opor ayam, tiket pesawat garuda," Jaki berkata lagi ketika Rara datang. "Sebab itulah hati nuraniku."

"Beres!" Jawab Rara
"Engkau benar-benar memahami hati nuraniku," demikian Jaki amat gembira. Menurut Jaki hal itu terjadi di mana-mana. Banyak sahabat kenalannya di kampung juga demikian. Susah diajak bicara soal hati nurani yang sebenarnya. Meskipun sudah dijelaskan lengkap dengan kriteria calon, calon yang memenuhi syarat, calon yang berintegritas, dan sejenisnya, tetap saja terlalu sulit diterjemahkan dalam kenyataan.

Bagi banyak temannya, lima puluh ribu itu lebih bermakna dari integritas, sembako lebih penting dari caleg yang kelak sanggup menjalani tupoksi DPR.
Tupoksi? Apa pula itu! Bagi Jaki bensin dan rokok jauh lebih penting dibandingkan dengan tupoksi. "Jenis makanan apa itu?

Apakah lebih enak dari lontong dan opor ayam?" Tanya Jaki yang yakin bahwa pilihannya jatuh pada Rara adalah keputusan terbaiknya sepanjang pemilu. "Yang penting lontong dan opor ayam!"

"Jadi, hati nurani menurutmu artinya makan lontong dan opor ayam?" Tanya Benza.

"Ya dong. Apalagi kalau bukan demikian! Terima kasih ya bensin, rokok, sembako, opor ayam dan lontong. Kalian benar-benar sesuai hati nuraniku."

***
Pengakuan Jaki, Rara, dan Nona Mia membuat Benza pusing tujuh keliling. Apa itu hati nurani? Apa itu kata hati? Matanya tertuju ke sebuah tivi swasta yang sedang menyiarkan berita Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009. Terpajang gambar wajah Ki Hajar Dewantara sedang tersenyum pilu...

"Bapak Ki Hajar Dewantara... Apa makna hati nurani menurutmu?" Tanya Benza. Hanya beberapa detik saja wajah yang tersenyum pilu itu keburu diganti sebuah iklan kontradiktif promosi pemasaran rokok jitu terkenal lengkap dengan kata-kata merokok merugikan kesehatan...
"Apakah itu hati nurani?" Benza bertambah-tambah pusing. *


Pos Kupang Minggu 3 Mei 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda