IRT Dilatih Buat Pupuk Organik

POS KUPANG/FREDRIKUS
ROYANTO BAU

MEMBUAT PUPUK---
Para anggota
kelompok Sehati RT 24/RW 09
Kelurahan Naikoten 1 sedang
mengikuti latihan membuat pupuk
dan pestisida organik dari KPSE
Keuskupan Agung Kupang,
Sabtu (25/4/2009)
.


PARA Ibu Rumah Tangga (IRT) dan warga dari RT 24/RW 09 Kelurahan Naikoten I, Kupang yang tergabung dalam kelompok Sehati diajak keluar sedikit dari rutininas rumah tangga dan ekonomi.

Para mama-mama dan bapak-bapak yang berjumlah sekitar 50 orang ini diajak dan diajar untuk membuat pupuk dan pestisida organik. Kegiatan yang berlangsung di kediaman Luis Oematan di Jalan Jambu nomor 45, Sabtu (25/4/2009) ini merupakan kerja sama Kelompok Sehati dan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (KPSE) Keuskupan Agung Kupang (KAK).

Hadir dalam acara pembukaan pelatihan tersebut antara lain Vikaris Jendral Keuskupan Agung Kupang, Rm. Dan Afoan, Ketua komisi PSE KAK, Kanisius Kusi, dan tim dari PSE, para anggota Kelompok Sehati, Kelompok Tani Beringin dan warga sekitar serta mahasiswa dari Universitas Nusa Cendana dan Sekolah Tinggi Pastoral Kupang.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Lurah Naikoten 1 melalui kepala seksi pemerintahan, Elia C. Tiara, S.Stp.
Ketua Komisi PSE KAK, Kanisius Kusi, dalam sambutannya mengatakan, selama ini secara tidak sadar, kita telah turut merusak lingkungan dan kehidupan kita dengan mengonsunsi dan menggunakan barang-barang yang mengandung bahan kimia.

Untuk itu, dalam pelatihan selama sehari ini, para peserta akan diberi pemahaman dan dilatih bagaimana membuat pupuk organik (bokasih), pestisida pencegah hama dan pemberantas hama yang ramah lingkungan yang bahan-bahannya berupa bahan alami atau non kimia yang berada di sekitar kita.

"Pelatihan hari ini akan meliputi pembuatan pupuk organik (bokasih), pestisida untuk pencegahan hama dan penyakit tanaman, mikroorganisme untuk pembuatan pupuk atau efektive microorganismes (EM 4) dan EM 5 untuk pemberantasan hama dan penyakit tanaman, " kata Kusi.

Selaku pemerintah setempat, Tiara dalam sambutannya, memberikan apresiasi yang tinggi kepada kelompok penyelenggara dan KPSE KAK agar kegiatan positif seperti ini terus dilanjutkan demi perbaikan gisi dan ketahanan pangan rumah tangga juga untuk melestarikan lingkungan, serta berjanji akan memberi perhatian khusus terhadap perkembangan kelompok ini.

Ketua Kelompok Sehati, Asnad Oematan, Ev, yang ditemui usai kegiatan mengatakan mereka sangat senang bisa melakukan kegiatan ini guna melestarikan lingkungan dan menghasilkan produk pertanian non kimia.

Di samping itu, lanjutnya, bisa menambah keterampilan dan perluasan wawasan serta berharap kegiatan ini bisa bermamfaat bagi anggota dan warga sekitarnya.

Ia juga meminta agar pemerintah setempat bisa memperhatikan dan membantu kelompok ini sebab para anggota kelompok adalah mereka yang berasal dari kalangan ekonomi lemah.

"Anggota kelompok ini ada 18 orang ibu yang suaminya setiap hari rata-rata bekerja sebagai petani, penjual sayur dan tukang. Untuk itu, kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah khususnya Pemerintah Kota Kupang," kata Oematan dengan nada berharap.

Beberapa peserta yang mengikuti pelatihan ini, masing-masing Debora Loisa, Pace Ledo, dan Veronika H. Buku, mengatakan bahwa sangat berterimakasih pada pihak PSE KAK yang telah bersedia memberikan pelatihan ini dan semoga bisa bermanfaat serta menjadi sumber inspirasi bagi mereka untuk mencontohi hal tersebut. (gg)


Jangan Wariskan Air Mata

"JANGAN wariskan air mata kepada anak cucu tapi wariskanlah mata air bagi mereka." Itulah kata-kata awal dari Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (KPSE), Keuskupan Agung Kupang (KAK), Kanisius Kusi, ketika memberi sambutan pada acara pembukaan pelatihan pembuatan pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan, bertempat di rumah Ketua RT 24/RW 09, Jalan Jambu, Kelurahan Naikoten 1 Kupang, Sabtu, (25/4/2009).

Ungkapan itu setelah melihat perkembangan masa kini yang serba kimia dan serba instan, semakin menggerogoti kehidupan kita dan membahayakan kehidupan manuisa. Penyakit-penyakit aneh yang ada sekarang, menurutnya, merupakan akibat dari pola hidup yang setiap hari mengonsumsi barang-barang yang mengandung bahan kimia.

Dan, sudah saatnya kita back to nature agar umur kita panjang, terbebas dari penyakit aneh. Dan itu harus dimulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri dengan segala sumber daya yang ada pada kita.

Ia sangat mengapresiasi kegiatan ini karena kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan lingkungan dan berjanji akan terus mendampingi kelompok tersebut.
Dalam pelatihan yang dimulai pada pukul 09.40 Wita dan berakhir pukul 13.00 tersebut, tim pelatih dari PSE KAK yang berjumlah empat orang di antaranya Kanisius Kusi selaku ketua, Leonardus Yau, Silce Roring, dan Hendrikus Roring, memberikan latihan pembuatan pupuk organik (bokasih), pestisida untuk pencegahan hama dan penyakit tanaman, mikroorganisme untuk pembuatan pupuk atau efektive microorganismes (EM 4) dan EM 5 untuk pemberantasan hama dan penyakit tanaman.

Disaksikan Pos Kupang, pada pelatihan yang dipandu oleh salah satu staf PSE KAK Kupang tersebut, para ibu anggota kelompok sangat antusias. Mereka sangat bersemangat meskipun harus mencincang dedaunan, menghaluskan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat pupuk dan pestisida. Tak jarang bapak-bapak pun turut membantu proses itu. Sekitar pukul 13.00 Wita kegiatan ini berakhir yang tandai dengan santap siang bersama.

Wajah para ibu dan peserta yang mengikuti pelatihan tersebut tampak ceria meskipun mengeluarkan banyak energi. Mereka bangga bahwa meskipun dengan hal sederhana tapi sudah turut menyelamatkan lingkungan, sekalian menyelamatkan ekonomi keluarga. Ada secercah harapan untuk perbaikan di hari esok demi keluarga, dan anak cucu di masa mendatang. (gg)


Indonesia Lindungi Anak-anak Dari Polutan Organik

SETELAH menandatangi Konvensi Stockholm pada 2001, tentang penghapusan dan pengurangan polutan (bahan yang mengakibatkan polusi), organik yang persisten (POPs) pemerintah Indonesia berupaya melindungi anak-anak dari bahaya polutan organik tersebut.

Hasil konvensi yang menyepakati penghapusan dan pengurangan polutan organik yang persisten, pemerintah Indonesia mulai 6 Mei 2009 menyetujui ratifikasi konvensi internasional itu, kata Koordinator Indonesia Toxics-Free Network, Yuyun Ismawati, yang disampaikan melalui rilis yang diterima, Jumat (8/5/2009).

Legislatif telah menyetujui ratifikasi konvensi itu dan dokumen utamanya ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar dan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda. Momen ini awal janji dan komitmen semua pihak terutama pemerintah untuk memenuhi janji melindungi kesehatan masyarakat terutama anak-anak dari bahaya POPs dan untuk menjamin generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir mengatakan, polutan organik persisten ini masuk ke tubuh manusia melalui berbagai media yakni makanan, udara dan air. POPs pertama kali dipaparkan kepada anak-anak melalui ibunya saat dalam kandungan dan melalui Air susu ibu (ASI), sehingga kesehatan anak dan ibu sangat rentan terhadap polutan yang bersifat karsinogenik.

Secara teori POPs terdiri atas sembilan pestisida yakni aldrin, chlordane, DDT, dieldrin, endrin, heptachlor, hexachlorobenzene, mirex dan toxaphene dan satu dari POPs pestisida yaitu endusulfan telah dilarang di Indonesia sejak 2007.
Diratifikasi dan disusunnya dokumen rencana implementasi nasional penghapusan dan pengurangan POPs, para pemangku kepentingan di Indonesia harus benar-benar serius melakukan upaya nyata yang terkoordinasi.

Selain itu YLKI bersama lembaga swadaya kesehatan lainnya mendesak pemerintah Indonesia untuk membentuk Komite Nasional Bahan Berbahaya Beracun (B3) sebagaimana telah dimandatkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 tahun 2001.

Untuk merealisasikannya konvensi tersebut negara-negara berkembang dalam transisi ekonomi dapat mengajukan bantuan keuangan dari Global Environmental Facility (GEF) dan saat ini sebagaian besar negara di dunia ini sedang mengembangkan implementasi konvensi ini dengan merekomendasikan pemerintah untuk melibatkan partisipasi masyarakat.(ant)


Pos Kupang Minggu 10 Mei 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda