LIAR

Cerpen Elly Nuga

DIA dibilang hopeless. Dia disamaratakan dengan para rebellion. Dia dimeteraikan sebagai kawan yang terbuang dari kawanannya. Tapi dia sangat meresahkan, mencemaskan sekaligus menakutkan para penghojat dan lawannya. Mungkin dia tepat disebut sebagai seekor jangkrik yang mengaum begitu nyaring di tengah rimba yang maha luas.

Suaranya menggelegar dan selalu menyimpan kesan perlu ada yang harus diperhitungkan oleh para seterunya. Dia masih misterius. Tetapi, revolusi yang dia angkat sangat realistis dan sangat transparan, menjamah sanubari dan mendobrak akal sehat kita untuk sedapat mungkin mengatakan setuju dengannya.

Dia dicari tapi tak pernah ditemukan. Dia diundang tapi tidak pernah secara nyata menghadiran diri. Ini tidak berarti dia penakut. "Siapakah dia itu Kek?" tanya seorang bocah atas cerita sang kakek.

Pertanyaan ini rupanya harus membawa sang kakek kepada masa perjuangan yang sudah lama berakhir itu. Bisa dilihat ketaksanggupan kakek untuk menjawabi pertanyaan bocah mungil yamg haus sejarah itu. Dengan sedikit teratih-tatih si kakek tua angkat bicara.. "Dia adalah prajurit tanpa tanda jasa. Penuh energik dan selalu menunjukkan sikap patriotis yang tinggi.

Dia tidak bernama tetapi sangat dikenal. Dia tidak pernah membutuhkan nama karena namanya yang saat itu ada adalah pemberian manusia yang tidak pernah mencintainya dan tidak pernah mendengarkan permintaannya untuk dicintai sebagai anak manusia yang sungguh-sungguh manusia.

Dia juga tidak mengutuki hidup ini. Yang dia kutuk ialah para perampok kebahagiaan. Karena itulah ia menerima sejuta perlakuan sadis". Serentak kakek terhenti. Lalu air mata yang keluar dari mata yang sudah usang, tua dan keriput itu tumpah membasahi rambut bocah itu. "Mengapa menangis, Kek?" komentar bocah itu.

Sejenak situasi menjadi sunyi, sepi, sendiri. Sang bocah masih dalam tanya yang menantikan sebuah jawaban sedangkan si kakek masih dalam kebingungan bercampur duka dalam pengarungannya menentukan jawaban yang tepat untuk si bocah yang cukup lugu tapi haus informasi itu.

"Enrique, mari bantu aku membereskan meja kerja ayah," undang Sinta kakak bocah itu.
"Tidak bisa kak. Sekarang saya lagi sibuk. Saya mohon maaf karena tidak bisa membantu kakak. Nanti lain kali saja ya", balas Enrique dari kejauhan.
"Kalau begitu ntar kalau kamu sudah menyelesaikan tugasmu, tolong buang sampah-sampahnya saja, ya.............?," sambung Sinta.
"Ok, kak!" potong Enrique.

Si kakek masih belum bersuara juga. Tetapi Enrique belum cukup kecewa melihat tingkah kakek yang belum hidup itu. Sampai pada suatu saat ia harus mendesak dengan suara memelas yang cukup memaksa kakek agar segera menjalankan tugasnya sebagai pencerita dan pemberi jawaban yang baik. Tetapi sama saja desakan itu belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa akan datang suara dari si kakek.

Enrique hampir menunjukkan kebiasaanya (menangis) andai saja kakek tidak segara menjawabinya. Situasi yang hening kini berseri kembali. Enrique kembali menyendengkan telingannya yang masih jernih dan muda itu untuk mendengarkan kisah tadi. Namun kini ia harus bekerja ekstra untuk memahami kisah bersambung itu lantaran kakek sedang dalam keterpaksaan dan terbata-bata memulai kisah tersebut.

"Dia sungguh ksatria yang sejati. Syukur bahwa dunia ini masih memiliki orang seperti dia. Dia memang harus berhadapan dengan sekelompok musuh yang membenci keadilan yang terus dikoar-koarkannya itu." cerita itu berlanjut.

"Kala itu, 12 November. Langit di kota itu sedang malu untuk mengatakan bahwa mereka bisa ceria seperti hari kemarin. Hanya sejengkal saja yang masih setia dengan yang kemarin. Seolah-olah situasi ini mau menggambarkan akan adanya perang dua kubu. Satu kubu adalah dia itu dan yang lain ialah antagonisnya.

Di sana dengan akal busuknya dan di sini dengan cita-cita luhurnya. Oh....perang besar akan terjadi lagi. Mungkin bukan perang frontal tetapi yang pasti perang itu ada. Siapa yang akan menjadi tumbal semua orang tidak dapat merekanya. Mungkin hari ini akan menjadi hari bersejarah di mana perjuangan untuk sebuah keadilan akan dipernyaring lagi. Mungkin kisah Tibo, cs dan Munir akan hadir lagi. Sebuah kisah mempertahankan " kemanusiaan bagi seluruh bangsa manusia" kisah itu terhenti sejenak.

"Tiba-tiba saja di jalan protokol dia sudah berada di depan sebuah perarakan massa, memimpin mereka yang juga dengan garangnya menyuarakan satu nafas untuk penegakan keadilan. Massa itu berdesak-desakkan sambil menghujankan kata-kata pedas yang tentunya beralasan dan terarah kepada mereka yang pernah disebut sebagai `kera putih' dunia ini. Ya, mereka cukup liar untuk ini.

Tetapi sayang mereka terlalu terhanyut dan tenggelam dalam ketidaksadaran. Dia pun tidak sanggup menyadarkan mereka yang sudah sangat brutal itu. Kini dia hanya mengharapkan satu suara yang lain bisa membuat baru keadaan itu. Kelakuan layaknya binatang buas yang telah molor selama tiga jam lebih telah melumpuhkan semangat penuntut keadilan itu.
***
"Pak, ini bukan perjanjian dan peraturan kita. Massa anda dan nafsu mereka sangat massif menciptakan keonaran. Anda melanggar hukum. Anda bersalah. Lihat banyak orang yang tidak bersalah menderita perlakuan liar massa Anda. Masih inginkah Anda melanjutkan semuanya ini di kala kaum tak berdosa itu dibantai secara sadis oleh Anda dan massa Anda." komentar seorang petugas keamanan.

Kata `oleh Anda' amat menyerikan telinganya. Ia rebah ke tanah dan menangis. Dan baru kali itu ia menitikkan air mata untuk perjuangannya. Dia mungkin telah kalah. Ya, mungkin????????????????????????".

"Berdasarkan peristiwa 12 November itu, maka Anda dijatuhi hukuman mati, dieksekusi mati. Dan, sehubungan dengan itu usaha yang telah Anda jalankan atas nama keadilan itu dinyatakan berakhir bahkan itu dinilai sebagai usaha pemecahbelahan dan pengrusakan bangsa" demikian keputusan hakim kepadanya, Enrique.

"Dia dibunuh dengan timah panas yang tak pernah bisa berbicara bahwa orang yang ditembusinya itu adalah penyelamat dan pembawa damai bagi hidup ini" tambah si kakek kecewa.
***
"Beberapa tahun berlalu. Ternyata setelah ditelusuri secara saksama massa di 12 November itu adalah manusia boneka para `kera putih', yang juga licik seperti kancil dan licin seperti belut seperti mereka," kisah itu berlanjut.
"Ia pun pergi karena kelicikan. Sungguh malang nasibmu keadilan. Demi engkau nyawa telah menjadi taruhan yang takkan pernah berakhir," ungkap si kakek mengakhiri ceritanya.

Ketika tatapan kakek diarahnya kepada Enrique telah bersama mimpinya. Mungkin Enrique sedang bersama dia telah mati demi keadilan itu.
"Mungkin ia bisa menjadi seperti Engkau temanku," seru kakek yakin. End.

Anggota "Arung Sastra" Ledalero"


Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda