Mati Gaya” Karena Sering Dikritik Pacar

Dokter Valens Yth,

Salam sejahtera Pak Doker. Saya Mindy, gadis Sikka yang saat ini sedang menuntut ilmu di Kota Kupang. Selain aktif kuliah, saya juga senang ikut kegiatan kelompok pemuda di kelurahan tempat saya tinggal.

Di sanalah saya mengenal Aldi, pemuda lajang yang bekerja sambil kuliah. Aldi adalah seorang pria ganteng yang memang menghanyutkan pikiran saya ke arah angan-angan yang indah-indah. Dia orangnya sangat mandiri, sehingga kadang menjadi tempat curahan hati. Sebenarnya saya belum berpacaran resmi dengan Aldi, namun saya sangat mengaguminya.

Banyak teman berpikir bahwa saya sering dekat dengan Aldi berarti saya sudah menjadi pacarnya. Namun dari sudut pandang saya Aldi itu sulit mengerti perasaan orang lain.

Kepada saya Aldi tak pernah menyatakan perasaan cintanya secara terus terang. Bahkan bila saya mengajukan suatu keluhan sekadar untuk mendapatkan perhatiannnya dia bahkan sering balik mengeritik dan menganggap saya lemah.

Perempuan itu makluk yang lemah 'kan, dokter? Bila penampilan saya agak beda dari biasa, dia tak segan- segan memberikan kritikan yang kadang-kadang membuat saya mati gaya. Karena kesal, saya pernah coba membalas mengeritiknya secara tajam, tapi Aldi mampu memberikan argumentasi yang membuat dia benar saja.

Kadang saya membuat sesuatu yang menurut saya baik dan pas, tetapi ketika dilihat Aldi pasti ada saja kritikan yang tak menyenangkan. Kadang-kadang saya berpikir lebih baik saya katakan cinta lebih dulu tapi melihat Aldi suka memberikan kritik yang tak enak di dengar maka saya jadi enggan dan ragu.

Tapi kalau menunggu sampai dia katakan cintanya pada saya, ah kapan?. Akhirnya kebetulan saya juga langganan koran Pos Kupang, saya tulis surat ini buat Dokter Valens. Pertanyaan saya begini:
1) Bagaimana cara melunakkan orang yang suka mengeritik (suka beri kritik tanpa diminta)?
2) Bagaimana berbuat agar bisa tetap bertahan walaupun si dia (Aldi) sering kritik?
3) Nah, dari kasus saya ini apakah saya boleh berharap banyak bahwa Aldi bisa mencintai saya. 4) Apa mungkin saya bisa pacaran atau menjalin cinta dengan Aldi yang senangnya kritik dan kritik? Saya sangat membutuhkan saran dokter untuk melangkah. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Salam, Mindy, Oepura


Saudari Mindy yang Baik,
Salam balik dari kami di Pos Kupang. Dari nada surat Anda rupanya saat ini Anda berada pada suatu hubungan persahabatan yang menuntut Anda untuk banyak berkorban (perasaan).

Kira-kira empat puluh tahun yang lalu, Willian Schult (AS), membuat penelitian mengenai orang-orang yang bisa hidup rukun, bahu-membahu dalam kurun waktu yang lama dengan konflik yang sedikit mungkin.

Dia akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa kerukunan, dalam arti kata hidup bersama dan dapat saling bergaul dengan baik tanpa harus banyak berkorban ditentukan oleh kecocokan yang sifatnya alamiah”.

Dengan demikian, yang diharapkan dalam hidup ini adalah memiliki banyak teman yang tidak terlalu memberi beban, yaitu orang-orang yang secara alami Anda bisa merasa cocok.

Aldi, seperti dalam surat Anda, tampaknya termasuk seorang yang bertipe pengritik (tukang kritik). Seorang profesor dari Universitas Seattle Pasific, AS, bernama Dr. Les Parrott III mengemukakan bahwa seorang pengritik biasanya memiliki suatu detektor bawaan yang negatif dimana suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain.

Masih ada beberapa sifat lain yang menandai seorang pengritik adalah perfeksionis (segala sesuatu musti sempurna), suka memerintah, suka menyalahkan, haus kekuasaan, angkuh, melelahkan. Dia berpengetahuan luas tapi rewel. Bagi pengritik yang bersifat perfeksionis ini memang melukai hampir setiap hubungan yang mereka miliki.

Tolok ukurnya yang tinggi itu merupakan jalan yang pasti menuju kepada kehancuran hubungan dengan orang lain. Dia dapat mengomel panjang lebar hanya oleh sedikit noda yang kena di baju.

Selain suka memerintah dan suka menyalahkan pengritik bisa mendapatkan kekuasaan melalui kritik dengan membangun cara bersikap lebih unggul dan menggunakan kesempatan untuk membangkitkan keraguan dalam diri orang lain.

Pengritik umumnya sombong, bergaya seperti ahli yang paling pintar hampir dalam segala hal. Memang melelahkan menghadapi orang seperti Aldi-mu yang tukang kritik itu. Dalam benak orang-orang tukang kritik seringkali mereka berpikir bahwa kritik mereka itu berguna.

Mereka merasa terdorong oleh keinginan untuk menyelesaikan masalah, tapi sering bikin masalah baru. Banyak pengritik sebetulnya telah dibentuk lingkungan dan masa kecilnya sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang rewel yang suka mengritik.


Tentang bagaimana mengatasi orang model Aldi (pengritik), Parrott dalam bukunya High Maintenance Relationship, mengatakan, sulit untuk kita mau tetap bersifat obyektif terhadap pengritik.

Kadang-kadang kita merasa mereka itu laksana jarum di pabrik balon. Namun, pada saat yang sama beberapa pengritik juga bisa memberikan saran yang bermanfaat. Jadi cara yang tepat untuk menghadapi Aldi adalah dengan belajar memisahkan antara baik dan buruk dari hasil kritikannya.

Yang perlu Anda lakukan pertama adalah mengakui bahwa Aldi itu dasarnya adalah seorang tukang kritik. Karena, secara tidak sengaja kita juga sering mengeluarkan pendapat mengenai perbuatan dan perkataan orang lain.

Dengan mengakui dalam hati bahwa Aldi itu seorang pengritik maka bisa membantu Anda untuk melangkah lebih jauh dengan mencoba menjalani kehidupan yang terbiasa dengan karakter Aldi.

Cara lain lagi yakni oleh banyak ahli jiwa menyebutnya ketulian ibu” pada anak-anak yaitu sifat anak – anak yang pura-pura tidak mendengar perintah ibu, karena jauh di seberang sana ada terdengar bunyi bel penjual es krim. Bisa juga Anda gunakan istilah masuk telinga kiri keluar, telinga kanan”.

Apapun yang diomeli Aldi anggap angin lalu saja. Tetapi yang lebih positif adalah seperti yang dikatakan E. Stanley Jones, yaitu Anda perlu menganggap dia (Aldi) sebagai penjaga tanpa bayaran bagi diri Anda (karena dia selalu memperhatikan dan mengkritik Anda).

Terakhir, saya ingin katakan bahwa apabila Anda terbiasa dengan kritiknya Aldi dan Anda bisa menerima itu tanpa beban dalam hati maka kemungkinan untuk bisa berpacaran dengan Aldi semakin terbuka lebar. Yang merasakan adalah Anda sendiiri………..!
Semoga sukses.
Salam, dr. Valens sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu, 17 Mei 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda