Penjahit Sepatu

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

SORE itu Lia dan Tasya sedang berjalan-jalan di kawasan pertokoan. Lia menemani sahabatnya Tasya membeli sepatu sekolah yang baru. Sepatunya yang lama sudah robek-robek sehingga tidak pantas untuk dipakai lagi. Karena itu mama memberinya uang untuk membeli sepatu baru. Tasya diberi kebebasan untuk memilih sendiri model yang disukainya asalkan sepatu tersebut berwarna hitam sesuai peraturan di sekolah.

Kedua sahabat itu keluar masuk toko untuk mencari model yang sesuai dengan selera Tasya serta uang yang dimilikinya. Sedang asyik keluar masuk toko, tiba-tiba terdengar ada yang memanggil, "Lia..... Lia...!"

Lia menengok ke arah asal suara yang memanggilnya. Ternyata bapaknya yang memanggil. Lelaki itu sedang menjahit sepatu di emperan sebuah toko. Lia cepat me-malingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengar panggilan itu. Dia takut Tasya sampai tahu kalau bapaknya adalah seorang penjahit sepatu.

Cepat digandengnya Tasya dan segera berlalu dari tempat itu.
"Siapa yang memanggilmu tadi?" tanya Tasya.
"Ah, ndak tahu. Mungkin ada orang yang namanya sama denganku," jawab Lia sekenanya. Dia tidak ingin Tasya tahu lebih jauh tentang orang yang memanggilnya itu.

****

Malam harinya ketika bapaknya tiba di rumah, Lia langsung memarahinya.

"Sudah berkali-kali aku memperingatkan bapak untuk tidak memanggilku saat aku sedang berjalan dengan teman-temanku. Tapi apa yang bapak lakukan tadi sore? Bapak hampir mempermalukan aku, marah Lia. "Tapi kamu kan anak bapak, masa bapak tidak boleh memanggilmu, nak?" tanya bapak. Dia tidak mengerti dengan sikap anaknya itu.

"Bapak baru boleh memanggil saya di tempat umum kalau bapak sudah beralih profesi dari penjahit sepatu menjadi direktur atau pengacara hebat seperti bapaknya Tasya itu. Selama bapak masih menjadi penjahit sepatu, jangan coba-coba mengulangi kesalahan tadi sore itu," tegas Lia.

"Apa yang salah dengan pekerjaan itu, nak? Bukankah dengan pekerjaan itu bapak menafkahi keluarga ini dan menyekolahkanmu?" jawab bapak sedih.

"Reputasi Lia sebagai anak yang cerdas dan cantik di sekolah akan turun kalau anak-anak di sekolah sampai tahu bahwa bapaknya adalah seorang penjahit sepatu. Lia akan malu!" Lia memarahi bapaknya.

****
"Oh, ya Lia, aku lupa memberitahukanmu. Jangan-jangan yang memanggilmu di pertokoan kemarin itu bapakmu," kata Tasya ketika bertemu Lia di kelas.

"Dari mana kamu tahu?" Lia balik bertanya.
"Aku sering menemani ibuku mencuci rambut di salon di pertokoan itu. Bapakmu sering memanggilku, karena tempat mangkalnya tidaklah jauh dari salon itu," kata Tasya.

"Tapi janji ya Tasya, kamu tidak memberitahukan hal ini kepada teman-teman yang lain. Aku takut mereka menghinaku," pinta Lia.

"Untuk apa takut? Justru kamu seharusnya berbangga akan profesi ayahmu itu dan berterima kasih kepada beliau. Dengan pekerjaannya sebagai penjahit sepatu beliau mampu membesarkan dan menyekolahkan kamu.

Hal yang harus kamu ketahui penjahit sepatu juga profesi mulia, tidak kalah mulianya dari direktur atau pengacara," jelas Tasya.

****

Malam hari ketika bapaknya tiba di rumah, Lia langsung memeluk, mencium dan meminta maaf kepada bapaknya. Dia menyesali kesombongannya selama ini. (*)


Pos Kupang Minggu 10 Mei 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda