Perempuan Kerudung Ungu

Cerpen Ady Ampolo

UNTUK kedua kalinya aku bertemu dia. Tapi kali ini di tempat yang bagi ku tidak mungkin akan disambanginya. Aku tak pernah menyangka ia akan hadir di tempat ini. Mungkin ia sedang mengalami situasi batin yang galau sama seperti yang ku alami saat itu. Aku kalut dengan pikiran dan perasaan ku. Mau tinggalkan tugas atau kah tetap berprofesi sebagai kuli tinta.

Aku terjebak antara profesi dan tuntutan perut, antara kesetiaan terhadap tugas ataukah kemewahan, antara pendirian ku berjuang demi kebenaran ataukah tunduk di bawah kemunafikan. Bayang-bayang kelam kejadian beberapa bulan lalu masih tinggal dan membekas di dada ini.

Sore itu, akhir November, aku dalam perjalanan pulang dari rumah menuju tempat tugas. Senja hampir tenggelam. Hujan di akhir November masih turun lewat rinai-rinai yang mungkin sebentar lagi akan deras. Niatku sudah bulat. Aku harus mampir di Bitauni, tempat Bunda bertakhta.

Kebetulan, tempatnya tepat di jalan utama persis pada pertengahan daerah tugasku dan rumah. Tidak ada salahnya bila aku singgah sebentar di tempat itu. Biar di sana kutumpahkan seluruh isi hatiku, unek-unekku, kejengkelannku, kemarahanku, kecemasanku dan juga kerinduan serta kebahagiaanku.

Aku yakin Dia akan mendengarku, akan melihatku dan memberi ketenangan buatku. Aku juga yakin, dalam heningku pun Ia akan berbicara padaku. Tak ada tempat lain yang dapat ku datangi selain tempat ini. Aku yakin disini aku akan menemukan sebuah jawaban dari kepedihan di hati ini.

Memang tempat ini adalah tempat ziarah. Aku cuma seorang dari sekian ribu orang yang pernah menyambangi tempat ini. Memang tempat ini, Bitauni, menjadi simbol devosi orang-orang bumi Cendana. Ia bukan Lourdes, bukan Sendangsono. Disini pun terukir nama yang sama dari Ibu Ilahi Maria Siti Bitauni. Konon gua ini menjadi tempat persembunyian para serdadu semasa perang dulu.

Ku parkir GL Pro ku begitu sampai di tepi jalan yang berhadapan dengan tempat itu. Tempatnya tepat berada di samping kanan ku. Pohon-pohon yang rimbun menutupi seluruh kompleks itu. Bila ada yang baru datang di tempat ini pasti menganggap tempat ini hutan. Cuma papan nama yang terpampang besar di depan jalan yang bisa memberi petunjuk tempat apa itu bagi setiap pendatang baru.

" Nek... minta kunci gerbangnya ".
" Oh...sudah ada yang mengambilnya duluan ". Seorang nenek tua berujar dari dalam rumah.

Rupanya telah ada orang yang menyambangi tempat ini. Sudah sore. Pasti ada sekelompok orang yang punya ujud khusus yang telah mendahuluiku berada di atas bukit sana. Benar kata nenek tadi. Gerbang telah terbuka. Dengan langkah pasti kudaki puluhan anak tangga yang tersusun rapi menuju tempat utama. Hari semakin gelap saat aku makin dekat tempat itu.

Kata nenek tadi sudah ada yang mengambil kuncinya. Tentu telah ada orang di dalamnya. Tapi aku tidak mendengar suara-suara nyanyian ataupun suara-suara orang yang mendaraskan sesuatu. Kan kalau tempat seperti ini harus ada gaungnya. Suara-suara manusia yang dalam benakku ini tidak juga muncul.

Perlahan kubungkukkan badan memasuki mulut gua yang sangat rendah. Kesan angker dan sakral serentak hadir menyelimutiku.

Walau ini bukan pertama kalinya aku menyambangi tempat ini tapi aku selalu merasakan suasana yang berbeda bila telah menginjakkan kaki di tanah ini. Dulu, setiap kali perayaan paskah, kami sekeluarga selalu mengikuti prosesi Jumad Agung di tempat ini.

Bersama umat di bumi cendana kami akan memulai prosesi jalan salib dimulai dari pelataran, menyusur bukit ini dengan batu-batunya yang curam hingga akhirnya kami tiba di puncak bukit ini dimana di sana kami duduk bersimpuh di bawah salib. Di puncak bukit akan ada ratapan dari para wanita berpakaian daerah berkerudung kain ungu.

Dan...,sore ini aku berada di sini. Sendirian. Rasa cemas, takut, gelisah mulai menghantuiku. Ingin rasanya aku berbalik dan lari meninggalkan tempat ini. Tapi rasa kekalutan, pergulatan yang berkecamuk di dada ini memaksaku untuk tetap berada di tempat ini. "Aku harus menyambangi Bunda, menceritakan isi hati ku padanya"

Kulangkahkan kakiku perlahan. Masih tetap sunyi. Tidak terdengar suara-suara manusia. Cuma burung-burung walet yang terbang kian kemari menjemput malam. Sekejap terlihat sedikit cahaya menerangi lantai gua yang berlantai tanah ini. Rupanya cahaya ini berasal dari sisa-sisa lilin yang mungkin di bakar para peziarah siang tadi.

"Astaga...." Ternyata di depan ku ada seorang yang lagi khusuk berdoa. Dadaku berdegup kencang. Seorang perempuan. Berat rasanya kuangkat kaki ini tuk berlangkah lagi ke depan. "Siapa perempuan ini. Kok sendirian di tempat sakral ini"?
Keyakinan di hati ini berhasil mengusir jauh prasangka dan perasaan takut di hati ini. Setidak-tidaknya aku telah mempunyai seorang teman yang bersujud di kaki Bunda. Dengan tenang kunyalakan lilin yang tadi sempat ku beli di rumah penjaga. Hening.

Lima belas menit berlalu. Aku masih di depan Bunda. Aku tak mampu merangkai kata-kata yang pas untuk mengungkapkan isi hatiku. Aku tak mampu membahasakan apa yang sebenarnya ada di hatiku. Aku hanya larut dengan rosario yang kugenggam erat sedari menginjakkan kaki di tempat ini.

Segala niatku untuk bicara banyak di depan Bunda hilang seketika. Aku justru larut dalam hening bersama pijitan biji-biji rosario cendana ini. Segala niatku kuungkapkan lewat rosario yang sejak tadi setia menemaniku.

Aku yakin lewat rosario ini, apa yang tidak terbahasakan lewat mulutku sudah terungkap keluar dari hatiku. Dan aku yakin pula Bunda Pembantu Abadi pasti mendengar pintaku. Aku hanya mohon ini Bunda. "Kuatkan aku tuk bertahan di jalan ini".

Perempuan di sampingku belum beringsut dari tempatnya. Lututnya masih sanggup menahan tubuhnya, bertahan di bawah kaki Sang Bunda. Ia berkerudung ungu. Sepintas aku mencoba tuk mengetahui siapa dia.

Rasanya aku pernah mengenal dia. Tapi kapan aku bertemu dia dan persisnya dimana aku masih belum sanggup tuk mengingatnya. Perempuan berkerudung ungu masih tetap di tempatnya. Kerudung ungu yang dipakainya mengingatkanku akan simbol dalam agama ku.

Setiap kali menjelang menjelang paskah, dekorasi Gereja selalu bernuansa ungu. Lilin altar yang dipasang di altar berwarna ungu, kain latar altar berwarna ungu. Bahkan kasula pastor pun berwarna ungu.

Entah mengapa warna ini dipakai. Kata seorang temanku yang dulu pernah menjadi calon pastor, warna ungu melambangkan sikap penyesalan, sedih dan pertobatan yang mendalam.

Warna ungu sebenarnya merupakan simbol dari penyesalan yang mendalam, sebuah sikap bathin yang pasrah dari setiap orang yang memilih tuk mengenakannya.

Hari sudah malam Aku harus melanjutkan perjalanan. Kutelutkan kedua lutut ku menghormati Sang Bunda sebelum beranjak pulang dari tempat suci ini. Aku keluar dengan rasa penasaran tentang perempuan di samping ku tadi.

"Rasanya aku pernah kenal dia. Yah..dialah wanita yang pernah bercerita tentang suaminya yang tega meninggalkannya di saat-saat ia mengandung putri pertamanya. Dia yang pernah berkisah tentang putri satu-satunya yang terpaksa ditinggalkannya di panti asuhan. Dia yang berkisah tentang gemerlap dunia malam yang sedang dijalaninya.

Dia pula yang berkisah tentang senandung pilu hatinya lantaran menjadi cemoohan banyak orang, dicibir karena cara hidupnya. Ia yang terkadang menjadi barang pajangan di etalase rumah bordir. Ia yang yang bersaksi di acara seminar AIDS bulan lalu.

Ya...dialah yang diminta pihak penyelenggara seminar tuk bersaksi sebagai orang yang pernah mengalami kelam dan pahitnya kehidupan". Aku tak menyangka ia berada di tempat ini.

Senja telah lama tenggelam. Mudah-mudahan ia tenggelam bersama bayang-bayang masa lalu. Mungkinkah ini titik balik kehidupannya ? Suara GL Pro ku menderu perlahan menuju arah selatan....
Awal Maret 2009, St.Mikhael-Kupang


Pos Kupang Minggu 3 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda