Ritus Kibul Demi Kursi Keramat

Cerpen Wendly Jebatu

INI kisah tentang tuan-tuan berpakaian hitam yang duduk di istana malam pada kursi keramat serba guna yang empuk. Ceritranya seputar ritus yang dilewati sebelum sampai di istana malam dan duduk di kursi keramat. Iya tempat kursi keramat itu bertahta adalah istana malam karena semua orang di sana berwarna hitam seperti kelam pada malam. Awal ceritera biar aku ceriterakan situasi di perkampunganku yang dulu ramai dikunjungi tuan-tuan yang mau merebut duduk di kursi keramat itu.

Akhir-akhir ini, di sana ada duka, ada tangis dan derai air mata. Jalanan dipadati bocah-bocah dekil yang lapar mencari makanan dan derai air mata mereka pun membanjiri jalanan itu. Kampung yang dulu tenang kini diramaikan suara anak-anak yang menangis, menjerit minta sesuap nasi. Jeritannya yang pilu menyayat langit, menikam laut dan menampar gunung.

Banyak ibu yang terus berteriak karena anaknya menderita busung lapar. Tapi siapa yang mendengar? Kami mendengarnya tetapi kami hanya mampu menghibur dengan kata-kata kosong. Ya, namanya orang miskin menghibur orang miskin.

Ujung-ujungnya kami bersama mengangis pilu meratap nasib.
Tuan-tuan di istana malam sana yang dulu datang dan mengumbar janji sekarang seperti tak mempunyai telinga, atau tak mempunyai mata, mereka tuli, mereka rabun. Yang tampak cuma mulut yang berkomat-kamit dan gigi yang mengkilat seperti gigi serigala yang siap menerkam. Mereka ingkar janji dan mereka sudah tak gubris dengan orang-orang tua di perkampungan, yang sehari-hari ditulikan oleh suara tangisan anak-anak minta nasi barang sesuap.

Sekadar kisah tentang tuan-tuan itu yang pernah aku dengar dari papa dan pernah saya saksikan sendiri di kampung! Sebelum mereka duduk di kursi keramat itu ada ritus yang mesti dilewati yaitu ritus kunjung orang kampung. Saat kunjungan itu mereka berbuat sedemikian rupa sehingga orang di kampung menerima mereka seperti keluarga sendiri.

Kadang ada penerimaan secara adat. Kalau di kampungku pernah tua-tua mengangkat beberapa calon tuan menjadi anak tanah. Itu jarang terjadi tapi untuk para tuan itu mudah karena mereka datang dengan menunjukkan rasa perhatian, rasa senasib dengan orang kampung serta berjanji akan merubah nasib orang kampung. Pokoknya pembawaan mereka kala itu begitu mengesankan orang-orang kampung.

Aku pernah saksikan ada yang sampai menggendong bocah dekil yang sedang menangis, dia sendiri ikut menangis pula. Coba bayangkan! Mengharukan! Memang mereka hebat! Mereka jago menarik simpati orang-orang kampung! Orang-orang di kampungku saat itu tidak sadar bahwa semua yang mereka buat adalah ritus kibul. Ya, mungkin ini kata yang tepat buat aksi mereka menarik perhatian orang-orang kampung. Kunjungan mereka itu musiman.

Biasanya mereka datang ke kampung saat-saat mau merebut untuk duduk di kursi keramat yang konon ceriteranya serba guna. Bapa saya pernah bilang kursi yang mau direbut itu begitu empuk dan bisa kita gunakan buat apa saja. Selain duduk kita bisa tidur. Kursi itu memang bentuknya menarik dan sangat nyaman jika ditempati. Tapi satu keunggulan dari kursi keramat itu adalah siapa saja yang duduk di situ bisa melihat semua orang di seluruh negeri.

Kursi itu juga bisa membuat telinga bisa mendengar teriakan orang di seluruh negeri. Tapi itu kata papa! Aku tak tahu apa itu benar atau tidak.

Dan satu lagi yang membuat orang tertarik duduk di kursi keramat itu. Kursi itu ajaib. Kita buat apa saja bisa menghasilkan uang. Mau tidur ke! Mau ngelantur ke! Mau apa saja bisa dapat uang. Jangan heran kalau orang bilang kalau kursi itu berisi uang. Kata bapakku dulu untuk bisa ke sana ada caranya yaitu melalui jajak pendapat. Suara terbanyak dia bisa ke sana. Nah, untuk memperoleh banyak suara itulah mereka berjuang melewati ritus kibul itu.

Ritusnya selalu sama, paling kurang itu yang aku saksikan selama ini. Pertama mereka datang ke kampung meminta restu dari tua-tua walaupun sebelumnya tidak pernah saling kenal. Tiba-tiba saja mereka datang dengan rombongan. Duh orang kampung pasti bangga dikunjungi orang neces. Waktu datang minta restu mereka baru perkenalkan diri lalu usut keturunan lalu dihubung-hubungkan dengan keluarga di kampung dan akhirnya entah bagaimana hubungannya selalu disimpulkan kita keluarga.

Kita ada hubungan darah. Dan itu membuat orang kampung jatuh hati. Siapa sih yang tidak bangga kalau ada orang asing mengaku sebagai anggota keluarga baru dia itu orangnya cukup terpandanglah! Apalagi mereka biasanya ceritera seputar masalah di kampung serta berjanji untuk memperjuangkan nasib orang di kampung dan memecahkan masalah itu. Orang kampung tambah jatuh hati!

Setelah acara perkenalan selalu ada acara tukar pesan. Isinya selalu sama yaitu agar jangan saling melupakan. Orang kampung meminta agar tuan jangan lupa janjinya untuk memperbaiki nasib mereka dan tuan berpesan agar orang-orang di kampung jangan lupa mendukungnya agar dia bisa duduk di kursi keramat sehingga bisa mendengar suara mereka yang berteriak dari kampung.

Ada hal lain yang lebih aneh dari ritus kibul demi kursi keramat itu. Pernah di kampungku juga terjadi suatu hal yang tidak masuk di akal saya. Tuan-tuan yang mau merebut kursi keramat itu datang dan menyatakan turut belangsukawa atas meninggalnya orang-orang kampung biarpun orangnya sudah meninggal puluhan tahun sebelumnya.

Ini benar lo! Orang kampung terima uang lorang mata do disertai seng wae lu'u. Itu di kampungku. Coba bayangkan ini! Waktu itu tak ada orang tua yang sudah tau adat yang kaget. Mereka semua terkesan dan mata bercahaya antara rasa tak percaya, haru dan bangga. "Hari-hari gini ada orang asing yang datang dan menyatakan turut berduka cita walau tak ada yang meninggal hari itu dan tak ada ibu-ibu yang menyambut dengan ratap tangis!" Pikirku.

Orang kampung biasanya langsung terkesan dengan hal semacam ini. Ketika aku tanya ke papa, dia bilang, "mereka datang perkenalkan diri sekaligus mau menyatakan turut berduka cita atas anggota keluarga kita yang sudah meninggal termasuk nenekmu."

"Tapi pa kenapa baru sekarang? Kalau mereka keluarga kita mengapa dari dulu tidak datang? Nenek kan sudah meninggal saat saya bayi!" Bantahku. Tapi papa hanya tersenyum saja lalu meninggalkanku dan bergabung dengan tua-tua adat yang sedang menyambut keluarga baru kami itu.

Aku pun langsung diam walaupun tak mengerti dan duduk bengong waktu mereka bercengkerama begitu akrab.
Kala itu aku tak mengerti karena aku selalu dibilang masih kecil. Masih ingusan sehingga tak boleh ngomel banyak. Hanya papa yang selalu bilang bahwa suatu saat aku akan tahu dan mengerti maksud semua ritus itu.

Satu temanku pernah bertanya sama mamanya. Ma! Kok mereka melayat orang yang meninggal sejak dulu? Mengapa mereka tak menangis? Malah mereka tersenyum bahagia. Bagi-bagi foto, baju lagi?

Dendy pun mendapat jawaban berupa jeweran di telinga. "Anak kecil tau apa? Ini urusan orang tua." Kami pun terbahak-bahak menertawakan teman itu. Lalu lari dan bermain merayakan kegembiraan bersama orang kampung. Ritus kibul tidak sampai di situ. Ritus selanjutnya adalah ritus pemilihan semacam jajak pendapat tetapi tersembunyi. Sendiri-sendiri, orang-orang kampung masuk ruang kecil semacam toilet.

Aku yang masih kecil saat itu tak tahu mereka berbuat apa di sana. Aku kira waktu itu mereka mau buang air kecil. Hahahaha! Maf sedikit jorok. Kepada mereka diberikan beberapa lembaran yang cukup lebar dan menurut ceritera bapaku lembaran itu berisi nama dan foto para tuan yang merebut kursi kramat.

Dalam ruang sempit itu mereka menentukan mana tuan yang sudah berjanji banyak dan meyakinkan. Semua orang kampung mendapat giliran untuk masuk ruang sempit dan memilih jagoannya.

Saya ingat lagi tulisan pada satu gambar tuan yang bapa tempel di rumah.

"Jangan lupa anak dan saudaramu ini! Nanti aku akan datang lagi dan mengubah semua jeritan menjadi pekikan bahagia! Yang penting kamu dukung anak dan saudaramu ini agar bisa duduk di kursi keramat nan ajaib!"

Waktu saya tanya papa tentang bagaimana dukung si tuan yang mengaku saudara saya itu, papa hanya bilang "nanti waktu besar kamu tahu artinya". Tapi aku ngomel dan papa hanya bilang "nanti kamu lihat tanggal ini (sambil menunjuk di kalender yang dibagikan salah seorang tuan dulu).


Nanti semua orang berkumpul di salah satu tempat dan namanya dipanggil. Lalu satu persatu setiap orang masuk ke ruang kecil seperti toilet dan di sana kita dukung kakakmu itu (sambil menunjuk foto si tuan).

"Cara dukungnya gimana pa?" Tanyaku tak puas.
"Oh, itu nanti waktu kamu tua baru tahu," jawab papa sambil berdiri dan pergi. Ketika tanggal yang ditunjuk papa sudah tiba dan semua orang berkumpul di halaman rumah pak tua adat. Orang kampung dipanggil satu persatu lalu satu persatu-persatu pula mereka masuk ruang kecil itu.

"Kamu lihat gambar itu? Tanya papaku sambil menunjuk sebuah gambar di pintu masuk. Aku mengangguk saja.
Lihat paku yang tertancap itu? Aku mengangguk lagi.
Begitulah cara mendukung kakakmu yang datang di rumah kemarin.

Aku pun mengangguk lagi dan baru mengerti. Fotonya ditusuk saja! Kalau begitu aku bisa dong pa?
"Kamu masih kecil," jawab papa sambil masuk ke ruang kecil karena namanya dipanggil. Senja harinya mereka tetap berkumpul menunggu informasi entahkah anak dan saudara mereka bisa masuk di istana malam dan duduk di kursi keramat. Semuanya menunggu dan hasilnya baik.

Anak mereka bisa duduk di sana karena mendapat banyak dukungan.
Dan orang kampung itu pun tersenyum bahagia dan bangga. "Akhirnya dukungan kita tak sia-sia." Kata mereka satu sama lain. Ibu-ibu menggendong anak-anaknya dan menangis haru dengan keyakinan bahwa sebentar lagi anak-anak mereka tak lagi menjerit meminta nasi sesuap. Pak tua adat memanggil semua warga kampung dan mengumumkan bahwa sebelum pergi anak mereka yang kini dipastikan duduk di kursi keramat akan datang lagi.

Dia mengajak warga adatnya untuk tetap menunggu.
Memang setelah terpilih tuan yang berhasil sempat datang. Dan lagi-lagi ia disambut dengan sorak sorai yang dilanjutkan perayaan syukur. Tapi waktu itu dia tidak lagi selantang dulu. Dia cuma mengucapkan terima kasih atas dukungannya dan dia menghibur orang-orang kampung dengan janji yang sama.

Setelah lewat begitu lama, janji itu tak pernah muncul. Anak tanah itu tak tahu kabarnya. Hanya nasib mereka tak pernah berubah, anak-anak lapar nan dekil itu masih berteriak minta nasi sesuap saja tapi sebutir remah pun tak dapat.

Tuan itu yang dulu menyebut diri anak dan diangkat oleh orang kampung anak tanah semakin betah duduk di kursi keramat. Ia tersenyum karena bisa melewat ritus kibul dengan bagus. Orang baru sadar bahwa mereka telah dikibuli. Di rumah papa mengeluh karena sudah dikibuli. Mama berceletuk "Berarti semua yang kita buat selama ini hanya ritus? Karena hampir tiap musim kita buat yang sama." "Iya ma, itu semua ritus kibul demi kursi keramat! Celetukku. Papa pun tersenyum.
Niceplace, 30 April 2009


Pos Kupang Minggu 10 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda