Sepintas Tentang Orang Kemak di Belu

KABUPATEN Belu yang berada di bagian timur Pulau Timor menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Posisi kabupeten yang berbatasan dengan Negara Timor Leste ini menjadi perhatian dunia pada tahun 1999 ketika gelombang pengungsi warga Timur Timur memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Kabupaten Belu.

Hubungan antara orang Belu dan Timor Leste memiliki sejarah yang sangat panjang. Bahkan beberapa etnis di Belu berasal dari Timor Leste. Tidak heran bila hubungan kekerabatan antara orang Belu dan orang Timor Leste sangatlah kuat. Orang Belu terdiri dari etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan.

Kata Belu mengandung banyak makna. Menurut Paulinus Asa, seperti termuat dalam Buku Hasil Kajian Upacara Budaya Matekio/Tara Mete Suku Bey Leto, Kabupaten Belu yang diterbitkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Kupang, menyebutkan makna lahiriah dari istilah Belu adalah rasa kebersamaan, gotong royong antara dua orang yang terikat dalam ikatan kebersamaan atau ikatan "alinmaun" dalam rangka saling membantu, apabila salah satu pihak membutuhkan bantuan dan pertolongan.

Kata Belu yang mengandung makna batinia menggambarkan ikatan jalinan hubungan batin antara kedua pihak, baik yang terikat dalam hubungan "alinmaun" antara dua pihak yang terkait dalam "alinmaun" tersebut. Sementara Belu dalam arti rohania adalah mengungkapkan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Disebutkan juga, orang Belu selalu memberikan penghargaan kepada sesamanya, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Mengakrabkan diri dengan sesamanya pada hubungan antar pribadi, kelompok dan antar etnis dalam suasana keakraban melalui gotong royong, tradisi perkawinan dan ritual upacara adat yang bersifat sakral dan lain- lain.

Dengan demikian, istilah Belu (sahabat) berakar dari falsafah orang Belu yang terdiri dari etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan yang senantiasa menjalin hubungan persahabatan, gotong royong, kekerabatan, toleransi anatara mereka maupun dengan sama lainnya.

Kabupaten Belu merupakan suatu pemerintahan yang sejak dahulu hingga kini dihuni oleh mayoritas etnis Tetun, Bunaq, Kemak dan Dawan. Suku Tetun yang terdiri dari dua etnis, yakni orang Tetun yang disebut Tetun Tasifeto yang berdomisili di Belu bagian Utara, terutama berada di Kecamatan Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur dan etnis Tetun yang sering disebut Tasimane orang Fehan adalah mereka yang mendiami seluru wilayah Belu bagian Selatan.

Suku Bunaq yang sering disebut orang Marae mendiami Belu bagian utara, terutama di wilayah Kecamatan Lamaknen dan sebagian kecil berdomisili di Kecamatan Kobalima. Suku Kemak yang disebut juga orang Atmas atau Atamas Ema berdomisili menyebar di sebagian Belu bagian utara yang dinilai memiliki beberapa unsur sistem budaya yang sedikit relatif beda dengan Suku Tetun dan Bunaq serta Suku Dawan yang berdomisili di bagian sebagian Kecamatan Sasita Mean (Namlea).

Mengenal Orang Kemak
Suku Kemak yang mendiami Belu menamakan dirinya Atma Ema yang berarti orang. Etnis ini memiliki bahasa asli kemak yang dikenal dengan To'u Ema, To'ek Ema atau Dale Ema.

Menurut Paulus Asa, berdasarkan wawancara dengan sejumlah Makoan di Belu seperti ditulis dalam buku Belu Dahulu dan Sekarang, menyebutkan orang Kemak berasal dari wilayah Timor Timur, yakni dari kabupaten/distrik Ermera (Hatulia dan Lete Foho) dan Kabupaten Bobonaro (Atabae dan Kailaku).

Setelah perang Lakmaras pada tahun 1911 melawan Portugis, yakni mulai tahun 1912- 1916 orang Kemak bermigrasi ke wilayah Timor Barat yang masih dalam wilayah jajahan Hindia Belanda. Orang-orang bersama anak dan istri ini membawa serta hewan piaraan seperti sapi, kerbau dan harta pusaka berupa uang perak, emas dan benda-benda pusaka lainnya. Perpindahan besar-besaran ini setalah basis pertahanan mereka dihancurkan dan dibakar habis oleh musu.

Di tempat baru, mereka tetap mempertahankan bahasa asli dan lembaga adat serta perannya dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya walaupun telah dan sudah membaur dengan penduduk setempat melalui kawain-mawin.

Dalam Registrasi ADM, Parera tahun 1964 menyebutkan, etnis Kemak yang bermigrasi dari Timor Portugis menempati wilayah di Kabupaten Belu, yakni di Fatukmetan sekitar empat kilometer sebelah timur Teluk Atapupu merupakan mereka yang berasal dari Kutubaba. Mereka kemudian membentuk ketemukungan di tempat itu. Selain itu ada pula yang mendiami Wehor atau antara Atambua dan Atapupu yaitu mereka yang berasal dari Sanirin dan membentuk lima ketumukan. Ada pula di Tenubot atau sekitar dua kilometer arah utara pinggiran Kota Atambua. Kelompok ini berasal dari Diruhati, Leimea dan Atabae dengan membentuk lima ketemukan besar (kini disebut RW) yang masing-masing di ketuai oleh satu orang suku Kemak.

Suku Kemak juga mendiami Sadi atau sekitar delapan kilometer sebelah timur Pantai Atapupu. Kelompok ini berasal dari Leolima, Leohidu dan Atabae. Ada juga yang mendiami Lemak Sanalulu Kecamatan Lamaknen yang berasal dari Sanirin yang tergabung dalam lima ketemukungan. Orang-orang Kemak lainnya tersebar di Kenaian Tohe dan Maumutin yang sudah tercampur dan berdampingan dalam kehidupan sosial dan ekonomi dengan etnis Tetun dan Marae serta setnis lainnya.

Dr.Ormelin mencatat bahwa orang-orang Kemak mendiami sekitar 20 kampung di daerah perbatasan Belu bagian utara dengan Timor Leste. Mereka dianggap sebagai sisa dari penduduk Timor Timur yang lebih tua dan secara antropologis, mereka masih mempunyai hubungan dekat dengan orang Marae dan bahasa serta budayanya mirip dengan orang Bunaq.

Keberadaan Suku Kemak Diru Hote di Belu meru pengugsi asal Diru Hati-Nalo Tete di Sub District Hatulia-District Ermera, Timor Leste. Pengungsi ini merupakan akibat perang Funu Manufahi (1911). Dalam pengungsian tersebut Korel (raja) Diru Hati Don Fransisco Xavier de Martins Nai Leto membawa 22.000 rakyatnya menuju Belu pada tahun 1912. Saat itu Belu merupakan bagian dari wilayah jajahan Hindia Belanda.

Korel dan rakyatnya diizinkan Belanda untuk menetap di Tohe-Haikesak. Setelah tiga tahun menetap di wilayah itu, Belanda memindahkan Korel bersama rakyatnya ke daerah Dila Lara dan Kuneru (sekarang Kelurahan Manumutin). Setelah menetap di Dira Lara dan Kuneru, Korel tetap menjalankan adat istiadat sebagai raja.

Orang Kemak memiliki unsur tradisi adat yang sedikit berbeda dengan suku-suku lain di Belu. Perbedaan ini terlihat pada pesta kenduri atau upacara adat tentang arwah atau leluhur yang telah meninggal pada puluhan tahun lalu.(*/alf)

Pos Kupang Minggu 17 Mei 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda