Ulfianty MD Laapen,
anak-anak dan suami


Manfaatkan Waktu Luang Bersama Anak

KESIBUKAN karena pekerjaan dan berbagai kegiatan lain di luar rumah membuat Ulfianty MD Laapen-Toelle dan Yulius Apollo Laapen harus memanfaatkan waktu luang dengan baik untuk bersama anak-anaknya.
Pertemuan dan kebersamaan, walau sebentar, tetapi diupayakan lebih berkualitas akan membawa dampak yang baik pula pada anak.

Hal ini dilakonkan pasangan suami-istri ini sebagai upaya mendidik dan bentuk curahan kasih sayang pada anak-anak mereka. Pasangan suami istri memiliki kesibukan yang banyak menyita waktu mereka. Ny. Ulfianty MD Laapen atau akrab disapa Ulfy sebagai guru administrasi perkantoran di SMK Negeri 6 Kupang.

Selain mengajar, Ulfy juga kuliah pasca sarjana bidang pendidikan di Undana Kupang. Sedangkan suaminya Yulius Apollo Laapen bekerja di Bank Indonesia (BI) Cabang Kupang.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Si sulung, lahir di Kupang, 30 Agustus 1992, saat ini duduk di kelas III Jurusan IPA SMA Negeri 1 Kupang. Putra keduanya, Gian Jumario Laapan, lahir di Kupang, 14 Juni 1997, saat ini kelas I SMP Katolik Giovanni dan si bungsu Calinka Prinses Laapan (tiga tahun).

Kepada Pos Kupang di sekolahnya, Ulfy, kelahiran Kupang, 10 Desember 1971 ini, mengatakan, saat ini dia dan suaminya sedang menghadapi krisis perkembangan yang dialami anak-anaknya. Anak-anak mulai memasuki masa remaja dan yang masih kecil.

Situasi dan perkembangan teknologi dan informasi serta komunikasi yang pesat di saat ini membuat orangtua harus waspada dalam membimbing, mendidik dan membesarkan anak.

Kota Kupang yang terkenal keras, juga membuat pasangan ini harus ekstra hati-hati. Namun demikian, keduanya yakni bisa melewati masa ini dengan baik.

Salah satu tips yang cukup ampuh yakni mendidik dengan pendekatan rohani. Keduanya yakin pendekatan rohani sangat mempengaruhi mental anak dan membuat anak lebih dewasa dalam menjalani kehidupan di luar rumah.

"Pendidikan rohani menjadi dasar bagi kami dalam membina dan mendidik anak sehingga dijauhkan dari pengaruh negatif di luar rumah. Kami yakin, hal ini bisa membantu. Makanya dari kecil anak-anak sudah dibiasakan ikut sekolah minggu dan saat ini si sulung kami biasakan untuk mengikuti berbagai kegiatan di gereja. Inilah hal-hal dasar yang kami lakukan untuk mengantisipasi gejolak masa remajanya," kata alumni Jurusan Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Undana Kupang tahun 1996 ini.

Menurutnya, kebiasaan lain yang juga dibuatnya di rumah adalah memanfaatkan saat teduh bersama keluarga, yakni malam hari menjelang tidur. Pasangan ini memanfaatkan saat teduh ini dengan melakukan berbagai permenungan dan sharing bersama.

Sesibuk apapun, ia harus menyempatkan diri untuk menanyakan proses kegiatan belajar di sekolah pada anak-anaknya. Misalnya, di sekolah anak-anaknya belajar apa, ada tugas atau tidak, ada kendala atau tidak dan sebagainya.

Dikatakannya, semua kebersamaan dengan anak dilakukan dengan memanfaatkan waktu seefektif mungkin. "Ya kalau pulang mengajar saya harus mempersiapkan diri lagi untuk pergi kuliah. Pulang pasti sudah malam. Sedangkan suami saya pulangnya sore.

Otomatis pertemuan kami dengan anak sangat kurang. Apalagi anak-anak juga ada kegiatan di sekolah dan ada les privat sore. Namun demikian, saya memanfaatkan waktu di malam hari yang sedikit itu untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Biar sedikit tetapi kalau dilakukan secara berkualitas pasti hasilnya baik. Dan, saya bersyukur anak-anak saya termasuk anak yang disiplin dan penurut," kata Ny. Ulfy.

Sementara itu, mengenai waktu belajar di rumah, keduanya tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk membuat jadwal ini dan itu. Sebab karakter anak- anaknya berbeda satu dengan yang lain. Si sulung memang bisa belajar secara disiplin dan tekun, tetapi putra keduanya tipe anak yang tidak mau terlalu tekun dalam hal belajar. Namun anak-anaknya termasuk anak yang pintar di sekolah. "Saya biarkan mereka untuk belajar sesuai dengan karakter masing-masing.

Tetapi tetap mengarahkan. Saya katakan kepada mereka kalau belajar adalah utama dan kegiatan lain hanyalah tambahan," katanya.

Ulfy juga mengaku harus memperhatikan kebiasaan anak-anaknya menggunakan internet. "Anak-anak saya sudah pintar mengoperasikan komputer dan mengakses internet. Nah, menghadapi hal-hal seperti ini tidak banyak yang saya buat kecuali mengontrol dan mengarahkan. Namun demikian semuanya adalah proses belajar.

Daripada mereka diam-diam pergi keluar dan melakukanya di luar, lebih baik di rumah kita bimbing mana yang boleh diakses dan mana yang tidak boleh," katanya.
Dikatakannya, sebagai guru dia berusaha tidak mau otoriter namun tetap fleksibel dalam memberikan pilihan kepada anak-anak. Yang penting, katanya, anak-anak bisa sukses. (nia)

Berikan Les Privat

PERKEMBANGAN dunia informasi dan teknologi yang begitu pesat saat ini membuat pasangan ini tidak mau gegabah. Selain mengikuti pendidikan formal di sekolah, keduanya juga memberikan les privat kepada anak- anaknya.

Misalnya mengikuti privat di Primagama, Super Math Pluss, English First untuk anak-anak sejak SD. Mengapa? Keduanya yakni kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan bekal masa depan bagi anaknya. Walau keduanya sanksi kalau kegiatan itu membawa manfaat saat ini, tetapi keduanya yakin ke depan semua kegiatan yang dilakukan anak saat masih dini bisa membawa pengaruh dan manfaat yang berarti.

Ia mencontohkan, ada orang yang saat kecilnya biasa- biasa saja tetapi ketika dewasa ia luar biasa. Sebaliknya ada orang yang saat kecil cerdas dan pintar tetapi ketika dewasa atau terjun ke masyarakat dia biasa-biasa saja. Terlepas dari semuanya itu, katanya, ia hanya ingin agar anak-anaknya bisa mampu bersaing di era yang penuh dengan persaingan saat ini.

"Perkembangan begitu pesat, kalau anak tidak dibekali dengan keterampilan di luar, bagaimana bisa bersaing," katanya.

Pendidikan formal di sekolah saja dengan menimba ilmu pengetahuan belum bisa mengcover semuanya. Untuk itu perlu ada pembekalan di luar agar anak bisa bersaing.

Apalagi, katanya, sistim pendidikan di Indonesia yang masih mengutamakan pembelajaran di kelas, tanpa ada keterampilan lain yang diberikan kepada anak. (nia)

Pos Kupang Minggu, 17 Mei 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda