FOTO ISTIMEWA Allan Modjo
bersama istri dan anak-anaknya.


Sekolahkan

Anak di

Pendidikan

Kejuruan


BANYAK orangtua ingin menyekolahkan anaknya di pendidikan menengah umum (SMU) dengan tujuan melanjutkan anak ke pendidikan tinggi. Namun, Allan Damianus Modjo dan Hallena Sophia Patricia Seda-Modjo, tidak berpikiran demikian. Pasangan yang menikah tahun 1992 ini hanya ingin anak-anak mereka menempuh pendidikan di sekolah kejuruan.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kota Kupang, ini ingin memberikan dasar pada anak-anaknya sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki mereka.

Pasangan ini memiliki empat anak, Reynaldo Modjo (sulung), lahir di Kupang, 1 Maret 1993, saat ini kelas 1 SMK Negeri 1 Kupang, jurusan akuntansi. Putra keduanya, Ken Yohanes Maxwell Modjo, lahir di Kupang, 6 Oktober 1996, saat ini kelas 1 SMP Katolik Giovanni Kupang, anak ketiga, Dave Smith B Antonio Modjo, lahir di Kupang, 17 Februari 2003, saat ini masih di TK dan si bungsu, Jedi Claudya Modjo, yang baru lahir, 8 Mei 2009.

Menurut Allan, sebagai orang yang bergelut di bidang pendidikan tentunya tahu betul arah dan pendidikan saat ini. Untuk itu, ia lebih memilih untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah kejuruan karena di sana anak-anaknya tidak saja belajar teori tetapi dibekali dengan keterampilan dan kompetensi (life skill) untuk terjun ke dunia kerja. "Yah, sekarang kita senang karena masih ada jabatan, tetapi suatu saat kalau kita tidak lagi diberi tugas ini bagaimana menyekolahkan anak.

Siapa tahu saya tidak sanggup lagi, yah minimal mereka sudah memiliki keterampilan dan kecakapan tersendiri sebagai bekal bagi masa depanya," kata pria yang pernah menjadi guru bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Kupang ini.

Pria asal Sabu yang sudah malang melintang ke Australia ini mengatakan, di era globalisasi yang penuh dengan kemajuan dan tantangan, anak perlu disiapkan secara matang untuk berkompetensi.

Allan mengatakan, anaknya punya cita-cita untuk masuk ke sekolah akuntansi negara. Karean itu, ia membekali anaknya dengan masuk ke sekolah kejuruan. Namun demikian, lanjutnya, sebagai penganut otonomi bebas, ia memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada anaknya untuk menentukan masa depanya. Dikatakanya, kebebasan yang diberikan tetap diawasi keduanya dan memberikan arahan-arahan agar anaknya tidak menggunakan kebebasan tersebut sebagai kebebasan yang kebablasan.

Refreshing
Bagi lulusan Program Studi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang ini, kesibukan ia bersama istrinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) seringkali membuat anak-anaknya merasa tidak diperhatikan. Namun demikian, pasangan selalu menyempatkan waktu di ahkhir minggu untuk melakukan refreshing. Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga sehingga keduanya mengisinya dengan kebersamaan di rumah dengan anak-anaknya.

Dan, hobinya yang suka jalan-jalan, membuatnya terinspirasi untuk membawa anaknya mengelilingi Flores tahun ini. Menurutnya, refresing bersama anak di alam bebas, memberikan motivasi dan pemahaman kepada anaknya untuk tahu bahwa begitu besar keindahan alam ciptaan Tuhan.

"Kebetulan dulu sebelum menjadi PNS, saya adalah pemandu wisata yang suka mengantar turis hampir ke seluruh Indonesia. Bahkan saya sering ke Australia. Makanya, hobi ini saya terapkan kepada anak-anak," kataAllan yang mengawali kariernya sebagi guru di SMPN 1 Lobalain Ba'a, Kabupaten Rote Ndao.

Dikatakannya, pengalaman dirinya yang pernah ke luar negeri membuatnya mengadopsi cara-cara mendidik anak di sana untuk diterapkan kepada anak-anaknya. Ia memberikan kebebasan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi anaknya- anaknya. "Saya ini orang pendidikan, sehingga saya tahu persis arah pendidikan di masa mendatang. Makanya saat ini saya arahkan anak ke sekolah kejuruan, dan kebetulan anak saya juga menyukainya," ujarnya.

Menurut dia, dua anaknya yang sudah memasuki masa remaja memang perlu diproteksi. Namun, ia bersyukur karena sejauh ini anak-anaknya selalu menuruti apak kata orangtua. Dikatakanya, mendidik tiga anak laki-laki yang sudah mulai besar memang pusing dan sulit, tetapi keduanya tetap mengarahkan sesuai dengan normatif yang berlaku.

Hadiah Ulang Tahun
Dalam keluarga ini juga sudah dibiasakan saling memberikan hadia pada yang berulang tahun. Baginya kebiasaan ini dilakukan agar anak saling mengasihi dan menghargai sesamanya. Selain itu, ia juga membuat tradisi untuk memberikan hadiah di akhir tahun yakni 31 Desember.

"Setiap hari anak-anak ini diberi uang jajan. Biasanya kami arahkan untuk ditabung. Dan, akhir tahun biasanya tabungan mereka dilipatgandakan menjadi tiga kali dari tabungan mereka. Jadi anak-anak berlomba-lomba untuk menabung. Yah ini kami lakukan agar anak-anak gemar menabung," ujarnya.

Allan mengatakan, walau keduanya memiliki fasilitas kendaraan, namun anaknya tidak dibiasakan untuk mengantar jemput. Ia menyatakan, anak-anaknya dibiasakan untuk mandiri dengan melatih anak sendiri ke sekolah dengan fasilitas kendaraan umum. (nia)


Pos Kupang Minggu 7 Juni 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda