Antara Ada dan Tiada

Cerpen Yayang Sutomo

KAKI mungilnya melangkah tak berirama menapaki jalan setapak di kaki bukit pagi itu. Kadang cepat, kadang lambat. Langkahnya terlihat cepat apabila jalanan menurun, sebaliknya langkahnya akan terseok-seok dan lambat jika jalanan mendaki mengitari pinggang bukit. Tak ada pilhan, sebab jalan itu merupakan satu-satunya jalan menuju desanya yang berada di balik deretan bukit-bukit tersebut. Desa yang terpencil namun aman dan tentram tempat ia menghabiskan masa kecilnya.

Matahari baru saja menyembul keluar ketika langkahnya telah menempuh setengah dari perjalanannya. Sinarnya yang keemasan tersenyum mengucapkan selamat pagi. Kicauan burung bersahutan menyambut datangnya sang surya.

Desauan angin, gemulai dedaunan, aroma kembang kopi yang mulai bermekaran, gemercik air bening mengalir menuruni punggung bukit menciptakan syair-syair indah dan bermadah mengagungkan Sang Penciptanya. Kakinya terus melangkah dan sesekali tangannya menghapus keringat di dahi dan wajah putihnya.

Setelah kira-kira satu jam perjalanan tanpa berhenti, di kejauhan terlihatlah sekumpulan rumah-rumah penduduk. Diangkat wajahnya, menatap jauh ke depan, membayangkan kampung halamannya yang telah bertahun- tahun ditinggalkannya. Adakah perubahan? Berbagai pertanyaaan bermukim di benaknya. "Aku hampir sampai," gumamnya sambil mempercepat langkahnya.

"Suster sendirian?," sebuah suara menegurnya ketika dirinya tiba di gerbang desa. Dia mengangguk sambil tersenyum. Desanya kini telah berubah. Setiap rumah dibatasi oleh pagar bambu bercat putih, sedangkan konstruksi bangunan rumahnya terbuat dari kayu. Di depan rumah-rumah tersebut dipenuhi dengan tanaman bunga dan sayur-sayuran. Berbeda dengan tanaman yang berada di sepanjang jalan menuju desanya, di penuhi oleh kopi dan vanili.

Semua keluarga datang dan berkumpul untuk menyambut kedatangannya.Berbagai cerita dan pengalaman selama di susteran terlontar dari bibir mungilnya. Canda tawa, senda gurau, menghiasi suasana keluarga besar yang sedang berkumpul pagi itu. Ada rasa haru dan bangga bersemayam di hati mereka sebab dialah satu-satunya suster yang berasal dari kampung mereka.

"Suster, mudika kampung ini mendapat tanggungan koor untuk hari Kamis Putih di paroki minggu ini," kata salah seorang sepupunya memberikan informasi.
"Bagus itu. Nanti saya bantu. Tolong beritahu kalau kalian sedang latihan," jawabnya antusias.
***
Misa Kamis Putih berjalan dengan khidmat. Puji-pujian yang dilantunkan menoreh setiap hati mengingat detik-detik terakhir Sang Penebus hendak menjalani kesengsaraan demi cintaNya kepada umat manusia. Ia merelakan dan merendahkan diriNya untuk melayani yang ditandai dengan pembasuhan kaki murid-muridNya.

Anggota paduan suara yang bermadah bersama umatNya memuji dan menyembah akan karyaNya. Di pojok ruangan, di deretan kursi anggota koor paling depan, di dekat pianis, suster Felisia berlutut dan berdoa.

Air matanya mengalir, mengingat kasihNya dan menyerahkan hidupnya menjawab panggilanNya. Perjalanan kehidupannya untuk menjadi seorang suster dirasakan belum sebanding dengan apa yang telah dijalani dan dialami oleh Kristus. Hatinya semakin trenyuh dan tak henti-hentinya dia bersyukur.

Jumad Agung merupakan bentuk kasihNya yang tak terhingga. Atensi Allah terbesar bagi dunia. AnugerahNya tercurah demi keselamatan umatNya. Viadolorosa, jalan kesengsaraan yang dialamiNya adalah bukti nyata ketaatanNya pada bapaNya.

Suster Felisia pun melakukan jalan salib dengan khusuk. Dia ingin mengenang dan turut merasakan serta mengambil bagian dalam setiap peristiwa sengsara Yesus menuju Kalvari. Isak tangisnya tak terbendung. Hidupnya kini hanyalah milikNya.

"Bapa, kupersembahkan tubuhku sebagai persembahan yang hidup. Tulus dan yang berkenan padaMu sebagai ibadah yang sejati," senandung jiwanya kepada Sang Khalik. Disetiap perhentian, suster Felisia tak henti-hentinya merenungkan dan mensyukuri anugerahNya.
***
Perayaan Minggu paskah dihadiri oleh ribuan umat yang berasal dari stasi-stasi. Gedung gereja di Paroki Sita penuh sesak. Tenda-tenda dan kursi-kursi ekstra disiapkan oleh panitia. Diantara ribuan umat, suster Felisia duduk bersama-sama mudika (pemuda/i katolik) dari kampungnya. Mengenakan baju dan kerudung putih, ia terlihat polos dan cantik.

Matanya bening disertai alis yang tebal dan rapi hingga tak perlu dicukur atau dipoles pensil alis. Bibirnya tipis kemerah-merahan walau tanpa lipstik. Tubuhnya mungil dan ideal, sangat pas `tuk menjadi sekretaris. Setiap kali orang bertanya mengapa ia mau menjadi seorang suster, jawabannya selalu sama yakni dia mau memberikan yang terbaik bagi Tuhan sambil tersenyum. Misa kudus pagi itu dipenuhi dengan sukacita besar. Kristus telah bangkit. Ia menang atas maut. Kemenangan iman yang memerdekaakan umatNya dari belenggu dosa dan api neraka. Sorak sorai terdengar menggema dan menggetarkan tembok di gereja tersebut. Puji-pujian membahana, seluruh umat bermazmur bagi Dia yang hidup.


Misa paskah telah usai. Umat satu per satu kembali ke kediaman mereka masing-masing. Dengan wajah cerah suster Felisia pun meninggalkan paroki yang sebenarnya menyimpan banyak kenangan tersendiri bagi dirinya. Ketika dirinya berada di depan pintu bagian kanan gereja tersebut, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

"Suster Anas," suara itu sudah lama tak terdengar namun sangat lekat dihatinya. Dia menoleh. "Kak Yansen?," terbelalak matanya tak percaya. "Jadi Kakak sekarang....
"Yah, saya sekarang telah menjadi pastor pembantu di paroki ini. Baru tiba tadi malam dari Ruteng. Maafkan saya Anas! Bertahun-tahun lamanya saya berdoa agar bisa bertemu denganmu supaya saya bisa mengungkapkan rasa bersalah saya karena telah meninggalkanmu tanpa sepatah kata perpisahan."

"Tak ada yang perlu dimaafkan. Saya pun melakukan hal yang sama. Berdoa dan berharap agar dapat bertemu kakak untuk sebuah kata maaf. Sejak pesta perpisahan sekolah malam itu, saya telah mengambil keputusan untuk masuk biara. Tak sempat memberitahu karena kakak sudah pulang dan hari-hari berikutnya juga tak terdengar kabar tentang kakak lagi. Kak,..ee.maaf.. pastor, Anas kini telah tiada, yang ada adalah suster Felisia, SSps., nama yang diberikan oleh kongregasi." Suaranya terdengar tegar.

"Terima kasih Suster untuk penjelasannya. Saya pun mengambil keputusan masuk biara setelah perpisahan itu. Kita akan selalu bersama dan saling mengingat lewat doa-doa kita,"serak suara pastor berkata-kata.

Matahari mulai tinggi. Belum benar-benar di atas ubun-ubun kepala namun sinarnya terasa perih membakar kulit. Meski demikian, warnanya yang keemasan tak mampu mengusik keberadaan dua insan yang pernah dirundung asmara bertahun-tahun yang lalu. Di sebuah bangku kayu, di bawah pohon angsana, di samping gereja, keduanya duduk bercerita tentang masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Kenangan-kenangan manis yang pernah terukir kini satu-persatu tergambar di benak mereka. Namun cinta mereka seolah berada diantara ada dan tiada sebab cinta kepadaNya kini lebih dominan ada diantara mereka. Keduanya menyadari bahwa diri mereka kini bukan lagi milik mereka namun milikNya.

" Pastor, biarlah kita menyerahkan masa lalu kita pada kerahiman Allah, masa sekarang ke dalam tangan pengasihan dan kekuatanNya dan masa depan kepada rencana dan anugerahNya,"kata suster setengah suara.

" Benar, suster! Hal inilah yang membuat saya bertahan dan mampu melewati masa-masa sukar dalam perjalanan saya menjadi imam. Terima kasih!Anas kecilku tak pernah berubah. Saya bahagia kamu masih menyimpan secuil cinta untuk saya namun saya lebih bahagia kalau kamu mencintai Dia melebihi apapun termasuk saya seperti yang sudah saya lakukan bagiNya,"balas pastor.

Sehelai daun angsana gugur perlahan, jatuh terselip di antara rerumputan. Warnanya kecoklatan pertanda kering, layu dan mati. Pandangan kedua insan tertuju kepada daun itu. Cinta mereka ibarat daun angsana yang luruh tergolek pasrah di atas rumput tersebut, namun tidak dengan cinta mereka kepadaNya. Antara ada dan tiada, cinta mereka abadi bersama cintaNya.*

Pos Kupang Minggu 7 Juni 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda