POS KUPANG/ALFRED DAMA
Brigjen (Pol) Drs. Antonius
Bambang Suedi, MM,MH


Bertugas

Dengan

Berjalan

Kaki

SUDAH
setahun Brigjen Polisi Drs. Antonius Bambang Suedi, MM,MH menjalankan tugas sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak dilantik 14 Mei 2008 lalu. Bagi pria bertubuh tinggi tegap ini, selama bertugas di NTT yang panas dan gersang bukan hal asing karena masa muda pria yang suka menyanyi ditempah di bumi Papua. Di balik sikapnya yang tegas dan penuh disiplin, siapa menyangka kalau ayah dua putri ini juga seorang pencinta musik. Sejak masa muda, ia sudah tergabung dalam dalam kelompok musik. Bahkan, Bambang juga adalah anak band ketika masih remaja.

Sosok Bambang Suedi selalu ramah dengan siapapun tanpa melihat latar belakang masyarakat tersebut. Bagaimana pengalamannya dalam menumpas OPM (Organisasi Papua Mereka) di Irian Jaya (kini Papua) hingga salah seorang putrinya nyaris dibawah kabur anggota OPM serta tips menjaga kesehatannya agar tetap sehat. Ikut perbincangan dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu.

Sudah setahun Anda menjabat Kapolda NTT. Daerah ini adalah wilayah berbatasan dengan negara Timor Leste dan Australia, bagaimana kesan Anda bertugas di daerah perbatasan ?
Bagi saya, bertugas di NTT, sebagai daerah yang berbatasan dengan negara asing merupakan hal yang biasa-biasa saja, karena sejak saya masuk menjadi anggota kepolisian, saya pernah ditugaskan ke daerah perbatasan di Papua. Bahkan, saya pernah bertugas di pedalaman Papua, di Sota, wilayah perbatasan Republik Indonesia (RI) dan Papua New Guinea (PNG) -- di selatan Irian Jaya, dekat Merauke -- selama kurang lebih tujuh tahun. Saya selalu menjadi inspektur upacara di daerah pedalaman perbatasan Papua. Kondisi perbatasan Papua, jauh lebih parah dari kondisi perbatasan di NTT. Selama di Papua saya sering pergi bertugas ke daerah pedalaman dengan berjalan kaki berminggu-minggu.

Artinya karier Anda di kepolisian lebih banyak di daerah perbatasan ? Sejak saya tamat dari AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Kepolisian) -- saat ini Akpol --, saya langsung ditugaskan di Papua. Selama 10 tahun dan ditugaskan di Brimob untuk pengamanan wilayah perbatasan.

Melaksanakan tugas di Papua, tentunya sangat rawan karena kelompok separatis selalu melakukan aksi penyerangan ? Pasukan Brimob yang saya pimpin kala itu, selalu kontak senjata dengan anggota OPM. Pada Tahun 1979 pasukan Brimob yang saya pimpin sempat melakukan kontak senjata selama beberapa jam di hutan. Bahkan tahun 2001 tatkala insiden Abepura diserang, saya dengan kekuatan dua peleton sempat mengejar para pelaku penyerangan hingga ke hutan. Bahkan pasukan yang saya pimpin berhasil melakukan penangkapan terhadap Marten Tabu, salah seorang pimpinan OPM. Kesuksesan itu membuat sepuluh anggota pasukan yang saya pimpin itu mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

Tentunya ada risiko yang Anda harus hadapi, baik keselamatan diri dan keselamatan keluarga bapak ? Saya memang menikah Tahun 1980 menikah. Beberapa tahun kemudia saya bawah istri dan anak-anak saya ke daerah tugas saya di Papua yang saat itu sering terjadi aksi penyerangan OPM. Anak pertama saya, itu nyaris dibawah gerombolan OPM, kalau tidak dingatkan oleh baby sisternya yang putra daerah. Tiga hari setelah anak dan istri saya berangkat dari Abepura, pos penjagaan kami diserang OPM.

Pengalaman apa yang mengesankan selama Anda bertugas di Papua ? Suatu ketika saya pernah masuk ke dalam hutan lebat dalam situasi yang gelap pukul 01.00 dini hari, untuk mengambil seorang anggota OPM yang lepas dari tahanan. Saya dapatkan lengkap dengan senjatanya. Saya khawatir kala itu, akan dijadikan sebagai sasaran pembunuhan oleh OPM. Atas keberhasilan itu saya dipromosikan untuk mengikuti PTIK (Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian).

Tidak pernah diancam ya...oleh anggota OPM, padahal begitu banyak anggota OPM yang Anda ciduk saat bertugas. Tidak ada reaksi dari anggota OPM lainnya? Begini ya...gerakan OPM di Papua pada tahun 1979-1983 tidak sama dengan aksi separatis di Aceh. Kala itu pengetahuan anggota OPM di Papua sangat terbatas dan mudah kita dekati. Tidak untuk kondisi saat ini, karena pengetahuan mereka sudah semakin memadai.

Mengapa harus memilih menjadi anggota kepolisian ? Ya...ah...(sambil menarik pafas dalam-dalam), begini ya..semula cita-cita saya ingin masuk menjadi anggota TNI Angkatan Udara, tetapi tidak direstui ibu saya. Saya lalu ingin masuk TNI-AD, tetapi ayah saya anggota TNI AD, sebagai anggota Paspampres waktu itu. Lalu saya berpikir masuk kepolisian saja.
Kehidupan kami saat kami kecil dulu sangat susah, sekalipun ayah saya adalah anggota TNI AD. Makan saja susah. Mau sekolah saja hampir tidak mampu. Lalu saya mengikuti tes usai menamatkan pendidikan SMA. Ternyata saya diterima menjadi anggota Kepolisian dan ditempatkan di Brimob. Ya sama saja, tugas Brimob sama seperti tentara. Bingung saya saat itu, karena saya ditugaskan di Brimob yang ketika itu memiliki banyak keterbatasan sarana baik senjata maupun sarana mobilitasnya, karena baru dilikuidasi. (Berkat keultennya dan terus mengasah keterampilanya selama di Brimob sehingga Brigjen Polisi Drs. Antonius Bambang Suedi, mampu mengantongi kemampuan Brevet seperti yang dimiliki anggota Brimob, Scuba Polri, dan Recon/Wabteror).

Dengan perjalanan karier Anda yang begitu beragam, apakah pernah membayangkan akan menjadi seorang jenderal ? Tidak pernah ada bayangan dalam pikiran saya, bahwa suatu ketika akan menjadi seorang jenderal. Saya hanya berpikir untuk bekerja saja. Saya memang bertekad, agar karier saya lebih dari ayah yang hanya berpangkat Mayor TNI-AD. Sudah cukuplah saya bekerja lebih dari orang tua. Semua yang saya miliki ini karena Tuhan yang memberikan jalan. Saya syukuri saja apa yang ada saat ini. Semua yang saya peroleh saat ini melalui proses belajar dan berlatih.

Dalam usia di atas kepala lima kesehatan sangat penting. Bagaimana Anda menjaga pola makan sehingga tetap sehat ? Saya memang sangat memperhatikan pola makan. Orang tua seperti saya ini memang perlu menjaga pola makan. Kalau kita mau sehat jangan terlalu banyak makan. Makan boleh tetapi porsinya perlu dibatasi. Pengendalian makan itu sangat perlu. Kalau berlebihan jangan sampai mengidap penyakit degeneratif.
Makanan yang sangat saya suka adalah makanan asli daerah seperti ikan, ubi bakar seperti di Irian Jaya, jagung bose. Tidak suka makanan asing yang terbuat dari kaleng. Saya lebih banyak buah dan sayur-sayuran. Selain itu, dalam urusan olahraga yang membutuhkan energi banyak saya mulai batasi, saya lebih banyak berolahraga jalan kaki atau bermain golf.

Anda kelihatan selalu fit dalam menjalankan tugas, padahal tugas sangat padat. Apa yang membuat Anda seperti itu? Untuk mengisi kekosongan waktu senggang, saya memilih berolahraga tenis, bola voley. Kadang juga bermain golf.

Apa pernah ibu di rumah menyarankan agar Anda, jangan mengonsumsi makanan tertentu ? Malah saya yang mengingatkan ibu. Kalau saya sudah tahu menu makanan apa yang boleh saya makan. Saya sering sarankan ibu di rumah jangan terlalu banyak daging. Kalau makan ikan itu makanan kesukaan kami berdua. Makanan yang manis-manis juga saya batasi. Puji Tuhan, saya tidak ada sakit seperti gula, asam urat dan penyakit prostat. Semua itu karena pengendalian makan saja. Sejak saya berumur 30-an saya mulai membatasi makan-makanan yang jeroan, karena tidak bagus untuk kesehatan. Kalau mau sehat harus bisa kendalikan cara makan. Porsinya dikurangi. Dalam usia seperti saya ini, harus bisa mengendalikan makan sehingga bisa hidup tenang, tidur nyenyak dan tidak ada ganguan fisik untuk berobat kesana kemari.

Bagaimana Anda 'menularkan' pola hidup sehat seperti itu kepada anggota kepolisian di NTT ? Dalam kunjungan kerja ke Polres dan Polresta di NTT dan Polsek-Polsek, saya selalu memeriksa ruangan kerja para anggota termasuk lingkungan kantor. Jangan jauh-jauh di Polresta Kupang saja, sampah dibiarkan berserakan. Saya sangat prihatin sekali, kondisi lingkungan kantor banyak yang tidak terurus. Sampah dibiarkan berserakan. Bahkan anggota ada juga yang merokok di ruangan AC. Padahal itu sangat membahayakan kesehatan yang bersangkutan. Tidak mengherankan kalau ada anggota yang sakit. Bagaimana anggota bisa bekerja baik kalau lingkunganya kotor. Kondisi seperti itu hampir terjadi dimana-mana. Saya selalu menyarankan para anggota kepolisian agar tetap menjaga kesehatan secara maksimal. Kesehatan itu sangat mahal.

Dengan kompleksitas persoalan di Polda NTT, pernahkah Anda mengalami stres ? Kalau bebannya terlalu beban ya...pasti stres, tetapi urusan negara ini bukan kita tangani sendirian. Biasanya saya rapatkan secara bersama dengan para staf untuk membahas berbagai persoalan.

Artinya tidak membawa rasa stres ke rumah tangga? Oh...tidak. Semua persoalan di kantor saya selesaikan di kantor, seberat apapun. Saya tidak biasa membawa rasa stres di kantor ke rumah. Saya tidak ingin ada masalah di kantor lalu orang di rumah ikut menjadi korban. Tidak boleh terjadi seperti itu. Pengendalian diri itu sangat penting. Kalau bisa mengendalikan diri maka semua persoalan akan diselesaikan dengan baik.

Untuk tetap mengendalikan diri, apa yang Anda lakukan? Sebagai umat beriman, tentunya saya selalu berdoa dan minta petunjuk dari Tuhan. (benny jahang/alfred dama)


'Melewati Malam Dengan Nyanyi'

MENYANYI dan bermusik adalah hobi yang tidak bisa ditinggalkan oleh Brigjen Polisi Drs. Antonius Bambang Suedi, MM, MH. Masa muda Bambang selalu diisi dengan bermusik, ia juga pernah tergabung dalam band remaja dengan posisi gitaris. Bermusik dan bernyanyi seakan tidak lepas dalam keseharian sosok Bambang.

Bakat musiknya selalu dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan waktu, sekaligus untuk melepas kepenatannya usai menjalani tugasnya di kantor. Antonius Bambang Suedi, selalu melewati malam-malam indah bersama istrinya Ny.M.E.Ninik Rahayu, bernyanyi bersama.
Bermodalkan sebuah gitar keduanya larut dalam melantunkan lagu-lagu pop yang penuh kemesraan, seakan melakukan napak tilas pada masa-masa silam yang penuh kenangan indah.

"Kalau dulu sering live musik, tetapi di sini tidak mungkin, sehingga saya sering main musik sendiri di rumah. Hanya dengan gitar, saya bernyanyi bersama ibu dengan melantunkan lagu-lagu pop," kisah Brigjen Polisi Drs. Antonius Bambang Suedi, ketika ditemui Pos Kupang dua pekan lalu. Bakat seni yang dimiliki jenderal bintang satu ini, mulai mekar sejak kecil. Bermula sebagai anggota band bocah dengan peran sebagai gitaris.

Ternyata hobi dalam bidang seni itu terus terpelihara hingga pria kelahiran Tulung Agung, tanggal 27 Mei 1952, masuk menjadi personil anggota Band SMA Negeri 1 Tulung Agung dan SMA Budaya di Jakarta hingga masuk sebagai taruna Akpol, serta menjadi anggota band perwira di PTIK. Semasa menjadi Taruna Akpol, Bambang juga menjadi salah satu musisi korps calon perwira Polri tersebut.

Musik merupakan bakat yang ada sejak masa kanak-kanak Bambang, sehingga meski tidak belajar secara khusus namun bisa menguasai beberapa alat musik. "Tidak pernah saya ikut sekolah musik. Saya melihat orang bermain musik, lalu saya coba sendiri ternyata berhasil," kisahnya.

Sekalipun usianya terus bertambah, namun dunia musik tidak akan dilepasnya. Untuk mengisi kekosongan waktu luang, ayah dari M.G.W.Sri Ayu Irawati dan Dewi Lestari Utami Sari, selalu melewati waktu dengan memetik gitar sambil melantunkan lagu-lagu kesanganya, sekalipun jari-jaringannya tak lagi selincah ketika masih remaja dulu. "Memang tidak selincah dulu lagi, maklum sudah banyak zat kapur pada tangan ini," kata Antonius Bambang Suedi.

Kini, bukan lagi gitar yang selalu dimainkan oleh Bambang. Di usia paru baya saat ini, Bambang lebih banyak memainkan alat musik keyboard atau organ. "Sekarang kalau lagi di rumah biasanya saya main musik organ saja," jelasnya.

Begitu banyak prestasi yang telah diukir jenderal bintang satu lulusan pendidikan jenjang Sesko ABRI tahun 1990 dan lulusan S2 bidang manajemen 2001 yang dibuktikan adanya pengakuan negara karena dinilai berperstasi dibidang tugas Kepolisian seperti tanda penghargaan Satya Lencana bintang Bhayangkara Nararya serta sederetan tanda kehormatan lainya karena dianggap berprestasi dalam melaksanakan penugasan operasi kepolisian, baik dalam negeri maupun tugas mewakili negara untuk melaksanakan operasi PBB dalam misi Peace Keeping Untaets Ex Yugoslavia di Yugoslavia dan Bosnia tahun 1996-1997. (ben/alf)


Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda