Bapa Muda dan Sarah A Alberthus

foto dokumentasi keluarga Bapa Muda
Pasangan Bapa Muda dan Sarah Albertus

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

MENGAJAR dan mendidik anak akan dilakukan oleh setiap orangtua dengan harapan anak-anak akan tumbuh dan berkembang menjadi orang-orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat serta memiliki iman yang teguh.
Ini pula yang yang dilakukan pasangan Sarah A Albertus dan Bapa Muda.

Ibu Sarah selalu mengajarkan buah hatinya agar memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Sama seperti yang dimaksudkan adalah menempatkan anak untuk selalu memiliki harga diri.

Dengan menempatkan anak memiliki harga diri, membuat anak menghargai dan memahami orang lain di mana pun ia berada.

Sarah yang saat ini menjabat Kepala Bidang Layanan dan Pelestarian Bahan Pustaka Badan Perpustakaan Daerah Propinsi NTT mengatakan bahwa dalam mendidik anak, dia menempatkan anak sebagai teman atau sahabat.

Menikah dengan Bapa Muda pada tahun 1986, pasangan ini sudah dikaruniai tiga anak, si sulung, Quardestin Muda, lahir di Kupang, 14 Desember 1986 dan sudah tamat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Putra keduanya, Winerist Muda, lahir di Kupang, 19 September 1988, saat ini di Smester III Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Satya Wacana Sala Tiga. Sedangkan bungsu, Novriandy Muda sudah menyelesaikan Ujian Nasional (UN) di SMA Negeri 3 Kupang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (26/5/2009), Sarah mengemukakan beberapa konsep dalam mendidik anaknya.

Pertama, kehidupan adalah sebuah anugerah dan anugerah tersebut bermacam-macam. Untuk mendidik dan membesarkan anaknya menjadi mandiri dan sukses, sejak kecil ketiga anaknya dididik untuk selalu berusaha memahami orang lain seperti dirinya sendiri. Misalnya, bagaimana berhadapan dengan orang yang berkekurangan dan sebagainya.

Kedua, memberikan tempat kepada anak sebagai manusia atau menumbuhkan rasa percaya diri pada ketiga anaknya. Salah satu cara yang dilakukan pasangan ini adalah selalu menghargai apa yang diputuskan oleh anak. Jika anak tidak merasa dihargai, anak akan menentang.

Ketiga, keduanya selalu mengajarkan kepada anaknya tentang kesadaran untuk bersimpati pada orang lain.

Keempat, mengajarkan keseimbangan, mulai dari emosio, fisik, mental dan spiritual. Dikatakannya, pengelolaan diri yang baik akan menghasilkan anak- anak yang cerdas dan tahu menempatkan diri.

Kelima, keduanya juga selalu menanamkan rasa humor kepada anak-anaknya, dimana anak diajarkan untuk selalu berpikir positif. Menurutnya, anak tidak saja dididik untuk hanya tahu baca dan tulis, tetapi bagaimana menghormati, menghargai orang lain. Anak perlu diajarkan tentang bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan orang lain.

"Ada anak yang dibesarkan dengan kelimpahan sehingga selalu mengandalkan kelimpahan dan akhirnya tidak peduli dengan orang lain. Saya katakan kepada anak-anak saya bahwa ada yang lebih susah dari mereka, sehingga anak-anak tidak hidup dari kelimpahan orang tua tetapi bagaimana bersikap rendah hati di depan orang lain," katanya.

Hal lainnya yang diajarkan kepada anaknya adalah tanggung jawab dan selalu bermitra dengan orang lain, dimana anak melakukan sesuatu sesuai dengan keputusan yang dibuatnya dan bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya.

"Saya tidak mau anak selalu ditekan atau harus ikut apa yang dititahkan orang tua, akhirnya ketika tidak ada orang tua, mereka melakukan sesuatu yang kebablasan. Untuk itu, sekecil apapun pekerjaan yang mereka lakukan selalu disampaikan kepada orang tua dan mempertanggungjawabkanya," katanya.

Dikatakanya, konsep-konsep dan tips-tips di atas diterapkanya kepada anaknya sejak masih di SMP. Ia bersyukur karena anak-anaknya termasuk anak yang penurut dan apa yang diajarkan bisa dilakukan dengan baik.

Namun demikian, ia mengakui semuanya tidak berjalan mulus. Karena masing-masing anak memiliki karakter yang berbeda. Si sulung dan anak kedua termasuk anak yang bisa melaksanakan semua konsep dengan baik. Namun ia sempat kewalahan dengan si bungsu.

Dikatakanya, putra bungsunya dididik agak ekstra, namun ia bersyukur memasuki bangku SMA, tipikal anaknya yang selalu kritis mulai perlahan-lahan baik.

Dikatakannya, salah satu cara yang dilakukan adalah tidak selalu tegas, tetapi seperti main layang-layang, dimana melepas kemudian tetap diarahkan diikuti ke mana arahnya.

"Biasanya saya turuti semua kemauan, tetapi tetap dikendalikan sehingga tidak kebablasan. Yah, bagaimanapun peran saya sebagi ibu harus agak esktra di dalam membina rumah tangga," katanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda