Bukan Aku yang Menghamili Pacarku

Konsultasi Jendela Hati Bersama dr.Valens Sili Tupen, MKM

Dokter Valens Yth,
Salam sejahtera selalu buat pak dokter. Saya bernama Brama, berasal dari Flores. Saya seorang mahasiswa semester V di salah satu perguruan tinggi di Kupang. Sejak satu setengah tahun yang lalu saya mengenal Lin, seorang gadis asal Timor yang kebetulan bekerja sebagai pegawai kontrak di kampung saya di Flores.

Sebagai pegawai kontrak, Lin memperoleh gaji yang cukup banyak, sehingga dia pun sering mengirim saya uang. Kalau ada kesempatan cuti, Lin berusaha datang ke Kota Kupang untuk menemui saya di kost, tempat yang saya tinggal. Lin bahkan sudah memperkenalkan saya pada orangtuanya di Timor ini.

Kami berdua saling mencintai dan pernah berikrar untuk terus bersama sampai ke jenjang perkawinan kelak. Saat bertemu kami pun sering bermesraan. Kami tidak pernah melakukan hubungan seks, walaupun Lin pernah memintanya.

Dua bulan lalu saya mendapat kabar yang mengejutkan dari keluarga di Flores bahwa Lin sudah hamil besar. Saya disuruh pulang kampung oleh orangtua saya. Kepada Kepala Desa dan orang-orang di kampung, Lin tidak mau mengatakan nama orang yang menghamilinya.

Dia hanya menjawab bahwa suaminya sedang kuliah di Kupang. Saya sakit hati sekali dan benar-benar merasa dikhianati oleh Lin. Yang paling berat adalah Lin tidak terus terang siapa yang telah menghamilinya. Dokter, mohon bantuan, apa yang harus saya lakukan. Soalnya semua orang di kampung sudah tahu kalau Lin itu pacar saya, tapi sungguh, bukan saya yang bikin dia hamil. Atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Brama – Oesapa – Kupang.

Saudara Brama yang baik,
Salam kenal buat Anda di Oesapa. Surat Anda sempat membuat saya tertegun sejenak. Saya maklum bahwa Anda pasti dalam suasana hati yang galau, namun menyimak isi surat Anda, saya kira Anda perlu bersyukur karena Anda belum pernah melakukan hubungan seks dengan sang pacar.

Pada banyak kasus, pria sering terjebak dalam urusan cinta model ini. Kalau saja Anda pernah menyetujui ajakan Lin untuk melakukan hubungan seks, maka meskipun Anda berani bersumpah sekalipun tak ada orang yang mempercayai Anda, Anda langsung KO. Dalam hal cinta, faktor jarak memang bisa jadi momok, tapi bisa juga jadi penyelamat. Ada pepatah Jawa mengatakan Tresno Jalaran Soko Kulino”, orang akhirnya jatuh cinta karena selalu berdekatan. Dalam kasus ini rupanya Anda kalah jarak.

Ada orang lain yang lebih berani memanfaatkan kesempatan di saat Anda jauh dari Lin. Persoalan menjadi lain ketika Lin ternyata tidak mau mengatakan secara jelas siapa yang telah menghamilinya, bahkan secara tersamar justru mengarah kepada Anda yang sedang kuliah di Kupang. Saya mencoba mengurai, apa sebab Lin tidak segera berterus terang mengatakan siapa yang menghamilinya.

Pertama, Lin masih mencintai Anda dan dalam hati kecilnya berharap Anda akan menerimanya dalam keadaan apa pun, meskipun dia sudah hamil dengan orang lain. Namun menurut saya, kemungkinan untuk alasan ini kecil.

Kedua, Lin sedang melindungi orang yang telah menghamilinya, karena bila diungkapkannya maka keadaan akan menjadi lebih kacau. Ketiga, Lin mungkin telah keliru melakukan hubungan seks dengan orang yang tidak sepenuh hati dicintainya dan tidak ingin orang itu dijadikan suaminya.

Dan yang berikut, mungkin saja Lin memang sedang bingung menyebut siapa pria yang menghamilinya karena dia berhubungan seks tidak dengan satu orang saja. Saudara Brama, memang berat bagi Anda hanya berdiam diri di Kupang dan membiarkan opini orang di kampungmu berkembang ke arah Anda.

Anda perlu mengambil sikap untuk menunjukkan bahwa Anda tidak ikut terlibat memberikan andil terhadap kehamilan Lin, Anda harus menggunakan cara yang sopan, yang menunjukkan kedewasaan Anda. Kemarin mungkin Anda masih sangat marah kepada Lin, namun saya sarankan mulai saat ini jangan lagi Anda marah, justru ikut prihatin atas beban yang diderita Lin.

Tidak ringan. Bila ada liburan di akhir tengah tahun ini, pulanglah ke kampung dan bersama Bapak Kepala Desa, temui Lin secara langsung untuk mencari jalan keluar terbaik. Adalah hak Lin untuk memberitahukan atau tidak memberitahukan siapakah gerangan orang yang telah menghamilinya.

Namun adalah hak Anda juga untuk membersihkan diri dari opini masyarakat desa yang terlanjur telah salah terbentuk oleh kasus kehamilan Lin. Bila semua ini Anda lakukan secara gentleman, maka semua orang di kampungmu akan memberi rasa hormat dan bangga pada Anda.

Selanjutnya Anda harus segera kembali ke Kupang untuk menyelesaikan studi yang tinggal sedikit lagi itu, dan jangan lupa mengucapkan good bye buat Lin, karena dia sudah menjadi masa lalu Anda. Semoga Anda berhasil.
Salam, Dr. Valens Sili Tupen, MKM



Pos Kupang Minggu 14 Juni 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda