Chr Bambang Siatanto

FOTO IST
Bambang Siatanto

"Jangan Ada Voting"

SEHARI-hari ia mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Ada banyak trik dan taktik yang ia lakukan demi memajukan partai, terutama warga kabupaten penghasil jeruk keprok soe ini. Ia mengatakan bahwa hidup adalah sebuah pilihan.

Dan, pilihan itu tak boleh ragu-ragu. Harus tegas dan rela berkorban demi sesama. Hanya orang-orang berani saja yang mengambil risiko dari sebuah keputusan itu. Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan Chr Bambang Siatanto di SoE, belum lama ini.

Anda sebagai pengusaha, namun tertarik juga mengurus partai politik. Apa yang menjadi alasan Anda terjun ke dunia politik?

Sejak kecil saya termasuk anak nakal. Ketika dimarahi orangtua, saya selalu menghindar ke kampung, tempat ayah saya memelihara ternak. Selain bertemu dengan orang-orang kampung, saya berteman dengan penggembala sapi. Berteman bukan sekadar basa-basi. Saya belajar dari kepolosan dan keluguan mereka. Apa adanya. Di sanalah perasaan saya mulai tergugah. Yang saya lihat, dalam sehari mereka makan bukan tiga kali, tetapi cuma sekali dengan porsi yang banyak.

Dengan kenyataan itu apa yang terbersit di benak Anda?
Saya ingin orang-orang ini berubah. Kalau bisa dia makan tiap hari tiga kali, tetapi bukan sekadar makan untuk kenyang. Ada zat gizinya sehingga daya tahan tubuhnya kuat. Hal lain yang saya lihat, yakni pakaian mereka. Memang tiap hari mereka mandi tapi tetap memakai pakaian yang sama. Karena itu saya menginginkan ia dapat mengganti pakaian setiap kali mandi.

Agar cita-cita Anda tercapai, apa yang Anda lakukan?
Saya memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Saya memilih PDI Perjuangan sebagai kendaraan politik. Mengapa? Karena partai ini identik dengan orang-orang kecil. Orang- orang yang tinggal di desa-desa. Mereka yang jauh dari akses kemudahan. Saya masuk ke PDI Perjuangan tak punya kepentingan atau interest politik untuk mendapatkan kursi di Dewan. Tetapi, saya ingin menata organisasi itu agar selalu memberi perhatian pada orang-orang kecil ini. Baru-baru saat Pilkada di TTS, saya memilih paket Globe (Drs. Godlif Tobe-Piter Lobo). Tetapi karena paket Globe tak "tembus", saya memilih paket Medali (Ir. Paulus Mella, M.Si- Beny Litelnoni, S.H, ). Paket ini saya anggap mampu membawa aspirasi masyarakat. Saya berjuang pula untuk kemenangan paket Medali.

Apakah Anda tak risih dinilai tak konsisten pada pendirian? Awalnya Anda mendukung paket lain, di tengah jalan banting stir ke paket lain?
Saya berprinsip begini. Bila kita berjuang demi kepentingan bersama, maka tak menjadi soal. Terserah orang menilai. Saya jalan terus karena memang perjuangan kami di PDIP jelas. Lalu, saya kira, harus dilihat secara jerih. Partai kami mendukung paket Globe, namun karena kalah di putaran pertama, maka tak salah kami beralih ke paket yang kini berkuasa. Itu sah-sah saja.

Anda disebut-sebut banyak membantu masyarakat di desa-desa. Apakah benar?
Saat saya memimpin PDIP awal tahun 2000, saya membuat terobosan-terobosan. Salah satu hal yang fenomenal adalah membuka ruas jalan di salah satu desa di bagian selatan. Saya melihat masyarakat mengalami kesulitan dalam hal transportasi. Saya punya alat berat, mengapa saya tak berbuat sesuatu untuk mereka. Masyarakat memberikan apresiasi tinggi. Mereka bangga. Mereka sangat gembira. Sebagai pimpinan partai, saya berusaha untuk memberi sesuatu yang berharga. Pemerintah punya keterbatasan dan begitu banyak aspek yang harus ia lihat. Di sinilah sebenarnya kita melihat persoalan di lapangan dan harus bisa mengambil langkah terobosan. Kita memberi penguatan agar masyarakat bisa mandiri.

Bisa diceritakan suka duka memimpin partai?
Banyak. Banyak sekali. Sukanya melalui partai kita membantu orang-orang kecil. Dukanya saya mengalami banyak tantangan dan kritikan. Secara internal terutama di masa kepemimpinan awal, saya membenahi organisasi. Juga wakil kita yang duduk di kursi legislatif kurang mengikuti arah kebijakan partai. Secara eksternal, banyak yang menganggap kita tak bisa berbuat apa-apa. Saya terima semua kritikan itu di samping tetap berupaya. Hasilnya, ya tanyakan kepada masyarakat di kampung-kampung. Apa yang sudah dan sedang kita lakukan. Mereka tentu dengan senang hati menceritakan secara polos. Saya juga sempat putus asa karena mengalami begitu banyak tekanan. Saya maju kembali pada periode kepemimpin kedua, yakni 2005-2010. Pada periode ini saya kembali menegaskan kepada anggota partai, terutama mereka yang nanti duduk di kursi legislatif untuk tetap memperjuangkan kepentingan orang-orang kecil.

Apa yang Anda maknai dari tugas ini?
Ini merupakan panggilan. Makna panggilan itu ialah keberpihakan, kesehatian dan toleransi terhadap sesama yang tertindas dan tersandung. Itulah sejumlah alasan mendasar mengapa saya tertarik mengurus partai.

Bagaimana Anda membangun komunikasi dengan masyarakat di TTS dan sejauhmana komunikasi itu berlangsung?
Saya hanya mau mengatakan bahwa komunikasi adalah cara pendekatan. Saya tak mau bicara soal konsep di sini. Ini berangkat dari pemahaman dan pengalaman saya ketika berinteraksi sosial dengan masyarakat di kampung-kampung. Sejujurnya mereka itu butuh perhatian. Nah, kita perlu membangun komunikasi. Apa saja yang mereka butuhkan. Jika kita bisa membantu, mengapa tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengetahui apa yang dibutuhkan.

Dengan berkomunikasi, apa saja yang Anda tahu tentang mereka?
Banyak sekali. Mereka sering mendapat tekanan dari pihak-pihak tertentu. Belum atau tak tahu program-program dari pemerintah. Padahal sebagai ujung tombak di lapangan apa saja yang akan dan sudah dilakukan pemerintah harus mereka ketahui. Juga tentang berbagai bantuan seperti raskin, BLT dan lain sebagaimana. Banyak dari mereka tak tahu. Mudah-mudahan Pak Bupati, Paul Mella dan Pak Wakil, Beny Litelnoni mampu melakukan itu. Saya yakin keduanya bisa.

Anda cukup dikenal di TTS. Mengapa Anda tak bertarung merebut kursi legislatif?
Saya sudah katakan tadi bahwa kursi Dewan bukan target utama saya. Memang ada keinginan juga ke sana, namun untuk saat ini belum. Biarlah teman-teman saya berjuang di kursi Dewan. Dari luar saya memberi arahan dan petunjuk. Tapi jika teman- teman di Dewan tak bisa berjuang, saya siap menggantikan mereka. Alasan lain mengapa saya belum "melirik" kursi Dewan karena saya ini orang lapangan. Saya lebih senang duduk dengan orang-orang kecil di pinggir jalan, di tepi kali atau di ladang mereka untuk bercerita. Di sanalah saya mendengar keluh kesah mereka kemudian akan saya sampaikan kepada wakil kami yang duduk di kursi parlemen untuk memperjuangkannya. Lalu, teman-teman yang duduk di kursi Dewan periode lalu saya tak perlu perjuangkan mereka lagi untuk menjadi Dewan. Bila mereka berbuat baik untuk masyarakat kita tetap perjuangkan. Jika tidak ya, apa boleh buat. Kita beri kesempatan kepada kader yang lain. Kader yang kita harapkan memiliki komitmen bagi masyarakat. Kader yang dapat "mengamankan" kebijakan dan arah perjuangan partai.

Berapa target kursi PDIP TTS di kursi legislatif?
Saya tak bisa menargetkan berapa kursi karena begitu banyak partai politik yang ikut dalam pileg kali ini. Ada 38 parpol. Saya tak mau ada yang menang mutlak. Kursi itu perlu bagi-bagi. Maksudnya supaya tak ada istilah voting dalam pengambilan keputusan. Saya tak mau itu. Bahkan Ibu Mega juga mengatakan demikian. Jangan ada voting- voting karena yang pasti anggota mayoritas akan menang. Voting bukan karakter PDI Perjuangan. PDI Perjuangan menekankan pada aspek kebersamaan, duduk bersama dan urun rembuk. Semua pikiran kita "kawinkan" dan ambil jalan tengah supaya semua pihak merasa puas dan aspirasinya terwakilkan.

Anda dikenal keras dalam bersikap. Komentar Anda?
Saya memang orang keras. Tegas. Tapi di dunia politik kita harus bisa bermain yang elegan. Kita harus pilah. Yang mana kita keras dan mana kita lembut. Kalau maunya saya, daerah ini sudah maju. Walaupun banyak pihak melihat apa yang saya katakan jauh dari panggang api. Kalau daerah ini kita biarkan terus begini, kapan kita bisa maju. Mau maju, harus berani. Kita satukan langkah, pikiran dan yang lebih penting adalah membuat aksi lapangan. Banyak orang hanya bisa omong, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kita banyak lemah di sini. Karena itu butuh keberanian, butuh komitmen dari semua stakeholder. Kita jangan membayangkan hal-hal yang berat. Buatlah hal kecil tapi menyentuh langsung masyarakat.

Contohnya?
Pasar Inpres Kota SoE ini perlu dibenahi lagi. Berilah kesempatan yang proporsional kepada para petani dari sini. Coba Anda bayangkan. Ketika mereka membawa hasil pertanian jauh dari kampungnya, langsung dibeli dengan harga murah oleh papalele dan kemudian menjualnya dengan harga mahal. Saya mengerti bahwa itu hukum pasar. Tapi, menurut saya, pemerintah harus bisa membuat los khusus bagi mereka agar hasil pertaniannnya itu dapat memberikan income yang memadai. Hari-hari saya melihatnya. Dan, betapa saya terpukul melihatnya. Mereka membalik tanah, membeli bibit, pupuk, merawat hingga masa panen, tapi hasilnya cuma untuk membeli satu kilogram beras, minyak tanah dan gula pasir. Siklus para petani kita seperti itu. Kasihan... dari waktu ke waktu mereka tetap seperti itu. Siapa yang bisa membantunya kalau bukan kita. Saya juga berpikir mereka perlu ditempatkan secara khusus dan pemerintah jangan menarik karcis. Maksudnya supaya petani ini bisa menjual sendiri. Jadi ada proteksi dari pemerintah. Jangan hanya hukum pasar saja yang berlaku. Lalu pertanyaannya, kita semua hadir untuk membela siapa? Para petani kan?

Banyak caleg memberi janji-janji kepada masyarakat. Tanggapan Anda?

Saya hanya mau katakan bahwa itu pendidikan politik yang kurang baik. Kita mewariskan hal-hal yang tak patut. Atau yang lebih buruk adalah "membeli rakyat" dengan berbagai cara. Saya jamin, setelah ia terpilih, dia akan hilang. Ya, alasannya karena dia sudah membelinya. Tunggu nanti lima tahun lagi dia muncul dan kembali menipu masyararakat. Caleg seperti ini jangan dipilih. Saya memberi contoh, ada caleg yang mengatakan, kalau dia terpilih akan memasang listrik, memperhatikan para petani di desa-desa. Sedangkan selama lima tahun kemarin di Dewan ia tak pernah berbuat apa- apa. Apakah itu wakil rakyat yang baik? Menurut saya, kalau ada caleg yang memberi janji-janji kemudian terpilih, namun tak merealisasikan janjinya, maka sebaiknya masyarakat turun dalam jumlah banyak kemudian mempertanyakan di Dewan. Masyarakat harus berani menekan kembali Dewan. (paul burin)

--box--
Nama : Chr Bambang Siatanto
Lahir : SoE, TTS, 17 Desember 1959
Karier : Ketua DPC PDIP TTS periode 2000-2005, 2005-2010
Istri : Nyonya Lilly Maria Lay- Siatanto
Anak : Kenny Laurens Siatanto (mahasiswa semester IV), Jenny Anastasia Siatanto (SMA) dan Meggy Siatanto (SD).

Menemukan Ladang Pelayanan

DI ATAS meja kerjanya di lantai tiga rumah pribadinya, terdapat beberapa buku dan sejumlah media massa nasional dan lokal. Ada juga sejumlah majalah dan gambar Megawati kecil bersama Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

Foto hitam putih sang proklamator itu Bambang jadikan sebagai spirit kehidupan. Ajaran- ajaran Bung Karno ia cerna secara mendalam. Ajaran tentang marhaenisme dan kaum proletar inilah yang menjadi inspirasi baginya.

Sekadar gambaran. Marhaen adalah seorang petani kecil di Jawa Barat yang menjadi sumber inspirasi Bung Karno menelurkan "isme" ini ketika masih kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Bandung, kini Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pertemuan Bung Karno dengan Marhaen ini terjadi antara tahun 1922-1925. Di masa ini, Bung Karno dan Marhaen membangun komunikasi yang intens. Dan, pada akhirnya sang proklamator ini memahami jalan pikiran seorang Marhaen yang berdikari. Yang jelas Marhaen tak sama dengan Karl Marx, ahli hukum dan filsuf itu. Marhaen adalah simbol rakyat jelata yang merdeka dan mandiri, tak bergantung kepada siapapun.

Marhaen meninggal tahun 1943 dan dimakamkan di Kampung Cipagalo, Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat. Pikiran Marhaen inilah yang dikembangkan Bung Karno, termasuk Bambang Siatanto.
***
Lelaki ini memang gemar membaca. Membaca baginya tak pernah lepas. Apapun kesibukan, Bambang tetap meluangkan waktu untuk membaca, terutama mencermati isu yang tengah merebak.

Sebagai pimpinan partai, Bambang selalu mengikuti tren politik dari pusat, propinsi sampai ke daerah-daerah. "Jika kita rajin membaca, maka wawasan kita bertambah luas. Kita seakan menguasai dunia informasi," kata lelaki berbintang Sagitarius ini.
Ia juga bercita-cita agar masyarakat pun bisa mengakses informasi.

Tapi melihat kondisi ini bagai memetik bintang di langit. Sulit dijangkau. Listrik, jalan dan kehidupan ekonomi masih jauh dari "panggang api." Meski demikian semua ini merupakan perjuangan panjang. Bukan tak mungkin ketika semua orang sudah menikmati pendidikan dan mendapat pekerjaan yang layak, maka pikiran ini bisa menyata.

Di tengah keluarganya ia tegas dalam hal mendidik anak-anak. Tiga buah hatinya ia sudah tanamkan kemandirian. Salah satu contoh kata dia, setelah tamat sekolah dasar, anak-anak sudah disekolahkan di tanah Jawa. Inilah cara mengajarkan sikap tak bergantung pada orangtua.

Pendidikan kata dia, adalah modal yang tak pernah habis. Dengan menyiapkan anak- anak mereka bakal mandiri dalam segala aspek kehidupan. Dengan cara ini Bambang dan sang istri, Nyonya Lilly Maria Lay-Siatanto, mengatakan sebagai bentuk cintanya tak terbatas pada buah hati mereka.

Jiwa sosial pun ia punya. Suatu ketika, saluran air di Kali Noelmina ke areal persawahan Batu Putih, tersumbat oleh material dari sungai terbesar di daratan Timor itu. Karena keberpihakannya kuat pada para petani, ia mengerahkan seluruh alat berat untuk menguruk pasir yang menimbuni jalur air.

Para pemilik sawah terlihat gembira atas sikap karitatif Bambang ini. Ia tak meminta biaya. Padahal, bila dihitung secara ekonomis berapa biaya terutama mobilisasi alat dari SoE dan pengerukan timbunan pasir itu. Bagi Bambang inilah keterpanggilan hati. Jika seseorang tak tergerak hatinya, maka ia hidup seakan tak punya arti apa-apa.

Bagi lelaki ini, hidup yang singkat ini harus diisi dengan berbagai hal positif. "Kita harus bisa memotivasi diri. Melawan egoisme diri. Kita harus menoleh ke kiri dan kanan, atas dan bawah. Di sana sebenarnya kita temukan ladang pelayanan kepada sesama," katanya. (pol)


Pos Kupang Minggu 7 Juni 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda