Dari Enoneten untuk Dunia



POS KUPANG/ALFRED DAMA
JAGA KELESTARIAN HUTAN -- Masyarakat Enoneten mendapat penjelasan dan motivasi dalam menjaga kelestarian hutan di wilayah itu dari Sekertaris Dinas Kehitanan Kabupaten TTS, Pit Fay.

POS KUPANG/ALFRED DAMA
HUTAN ENONETEN --Wilayah Hutan di Enoneten yang masih terjaga dengan baik hingga kini.


PEMANASAN global (global warming) yang ditandai dengan bencana banjir akibat curah hujan dengan inetensitas tinggi dalam waktu singkat, udara yang terasa sangat menyengat pada musim kemarau, debit air sungai yang makin kecil dan perubahan udara yang semakin ekstrim telah menyadarkan berbagai pihak.

Penyebab pemanasaan global tidak terlepas dari tindakan manusia seperti pembalakan hutan secara liar, pembukaan lahan pertanian dengan mengkonversi lahan hutan dan lainnya.

Gerakan menanam pohon pun dilakukan baik oleh pemerintah, perusahaan negara maupun swasta, siswa sekolah dan perguruan tinggi maupun masyarakat dan lainnya untuk mengembalikan vegetasi yang hilang tersebut. Berbagai gerakan tersebut selalu dalam satu semangat dan keinginan yakni menekan pemanasan global.

Adalah warga Desa Enoneten di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga Desa ini dengan setia menjaga dan melestarikan hutan yang diwariskan nenek moyang mereka. Warga di desa yang berjarak sekitar 17 Km dari Kota SoE ini dengan setia menjaga setiap jengkal hutan warisan leluhur.

Dalam hutan ini terdapat aneka tanaman di antaranya pohon mahoni, pohon kayu merah, aneka jenis tanaman perdu, pohon johar, pohon asam, gamelial, beringin dan aneka pohon lainnya.Rata-rata pohon ini tempat ini mencapai tinggi hingga 20 meter. Sinar matahari bahkan tidak sampai menembusi lebatnya hutan yang dirawat warga desa itu.

Dalam kawasan hutan ini juga hidup rusa, babi hutan, kus-kus dan berbagai jenis burung serta hewan lainnya
Desa Enoneten yang merupakan pemecahan dari Desa Mio ini memiliki luas 21 km persegi dan berpenduduk sekitar 1.585 jiwa atau 391 kk.
Untuk Anak Cucu
Kawasan hutan di Desa Enoneten ini masuk dalam kawasan hutan Bayafa seluas 1.896 hektar. Hutan ini telah diregister oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan Kabupaten TTS (Registrasi Tanah Kehutanan/RTK) 34. Dan, hutan yang masuk wilayah Desa Enoneten seluas 262 hektar atau dikenal dengan kawasan hutan Oeayo.

Menurut tokoh masyarakat dan juga Kepala Dusun Enoneten, Melkior Tse, kawasan hutan Oeayo merupakan kawasan yang telah dijaga secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Keteguhan hati untuk menjaga hutan ini menjadikan hutan ini tetap perawan hingga saat ini.

Sikap hormat pada nenek moyang diwujudkan melalui sikap mereka menjaga kelestarian dan kemurnian hutan itu.
Sejak tahun 2000, bersama Dinas Kehutanan, warga desa ini mulai menfaatkan lahan hutan dengan menanam kemiri. Menurut Melkior, saat menanam kemiri tahun 2001 dilakukan prosesi adat. Dalam prosesi itu, para orangtua yang menanam kemiri menerima pemberian anakan pohon kemiri dari anak-anak mereka untuk di tanam pada lubang yang sudah disediakan.

Makna dari proses itu adalah pohon kemiri yang ditanam tersebut bukan milik mereka melainkan milik anak dan cucu mereka. Nantinya pohon kemiri tersebut akan diwariskan ke anak dan cucu mereka.

Sekertaris Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten TTS, Pit Fay menjelaskan pesan dalam prosesi itu adalah setiap warga Enoneten harus menyadari bahwa hutan yang ada saat ini bukan milik mereka tetapi milik generasi yang akan datang. Para orangtua berkewajiban menjaga hutan tersebut yang nantinya akan diwariskan kepada anak-anak mereka.

"Cara ini supaya orangtua tahu bahwa mereka wajib menjaga hutan untuk anak-anak mereka. Hasilnya juga untuk anak-anak mereka," jelasnya.

Bagi anak-anak Enoneten yang nantinya dewasa juga berkewajiban menjaga hutan yang selanjutnya diwariskan lagi ke anak-anak mereka dan begitu seterusnya.

Kesadaran masyarakat Enoneten bukan saja menjaga hutan. Lahan pertanian mereka yang bisa mereka sebut dengan belukar juga dikonversi menjadi hutan kemiri. Sehingga lahan hutan yang ada terus melebar.

Bagi Melkior Tse dan masyarakat Enoneten, menjaga dan melindungi hutan diyakini hanya kewajiban yang harus dilaksanakan secara turun temurun. Mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka.

Bagi mereka, menanam dan menjaga kelestarian hutan bertujuan menjaga alam mereka agar tetap asli. Namun, tanpa disadari masyarakat Enoneten telah melakukan hal besar untuk dunia.

Masyarakat Enoneten telah menjaga bagian paru-paru bumi yang bisa menjaga keseimbangan alam. Mereka tidak tahu apa itu global warming. Bahkan mendengar istilah itupun tidak pernah. "Kita tidak tahu artinya pemanasan global, kami hanya jaga apa yang harus kami jaga," jelasnya.

Mereka tidak mengetahui bahwa belakan bumi yang lain sudah mengalami dampak akibat pemanasan global namun bereka berharap agar bencana itu tidak sampai ke desa mereka. Cara yang lakukan adalah terus menjaga dan melestarikan hutan peninggalan nenek moyang mereka.

Menurut Melkior, dengan menjaga hutan maka mereka bisa menjaga kelestarian sumber air di desa mereka, apalagi kini hutan sudah menjadi sumber pendapatan mereka dari pohon kemiri yang mereka tanam di hutan itu. "Kami tidak tahu hutan ini juga berguna untuk orang lain, tapi kita senang kalau ada guna hutan ini untuk banyak orang," jelasnya.

Apa yang telah dibuat oleh masyarakat Enoneten ini sepatutnya menjadi pelajaran bagi masyarakat lainnya. Dari tradisi dan kesetiaan menjaga hutan, mereka telah berbuat untuk tetap melestarikan hutan. Dan hutan Enoneten telah memberi kehidupan untuk dunia. (alfred dama)


Pos Kupang Minggu 21 Juni 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda