Dra. Maria Patricia Sumarni, MM

Foto ISTIMEWA
Dra. Maria Patricia Sumarni, MM


Gemakan NTT di Tingkat Nasional


- Pengantar Redaksi-
Agenda besar menanti di depan mata. Jambore 1.000 PTK-PNF. Pentas karya nyata dan porseni. Ajang penghargaan bagi PTK-PNF berprestasi. Secara nasional, jambore ini, telah dilaksanakan selama dua tahun berturut-turut. Pertama, di Semarang. Kedua, di Yogyakarta. Persiapannya menguras waktu dan tenaga. Khususnya menyeleksi peserta dari tingkat kabupaten/kota untuk bertarung di tingkat propinsi.

Peserta terpilih akan diikutsertakan dalam even serupa di tingkat nasional sebagai duta propinsi. Propinsi NTT telah mengikutsertakan kontingennya selama dua tahun berturut-turut. Tahun ini sedang dipersiapkan pelaksanaan jambore tingkat propinsi yang diagendakan akhir Juli 2009. Penyelenggaranya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (PPNFI) pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT bekerja sama dengan Bidang Pendidikan Luar Sekolah Dinas PPO NTT. Bagaimana persiapan UPT PPNFI menyambut even bergengsi ini? Simak wawancara wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, dengan Kepala UPT PPNFI, Dra. Maria Patricia Sumarni, MM, selaku penanggung jawab kegiatan, di Kupang, Jumat (12/6/2009). Berikut petikannya.


Misi dan semangat apa yang diusung sehingga Jambore PTK-PNF dilaksanakan setiap tahun!
Semangatnya untuk memberi perhatian lebih kepada PTK-PNF. Mengapa demikian? Karena PTK-PNF merupakan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan nonformal. Dengan berbagai latarbelakang, baik pendidikan maupun sosial, mereka memiliki tanggung jawab terhadap kualitas program pendidikan nonformal.


Berarti PTK-PNF itu bisa disebut sebagai guru atau pengelola pendidikan nonformal?
Justeru lebih dari itu. Sebenarnya ada dua klasifikasi yang mesti dipahami di sini, yakni pendidik dan tenaga kependidikan. Yang termasuk pendidik PNF adalah pamong belajar, tutor paket, pendidik PAUD, tutor KF, dan instruktur kursus. Sedangkan yang termasuk tenaga kependidikan adalah pengelola program, pustakawan, pengelola IT, penilik, TLD, laboran. Jadi, terhadap merekalah jambore ini dilaksanakan.

Materi apa saja yang dilombakan dalam ajang Jambore 1.000 PTK-PNF itu?
Ada empat mata lomba. Terbagi dalam beberapa kategori. Pertama, lomba karya nyata, diikuti oleh pengelola kursus, pengelola TBM, pamong belajar dan pengelola KBM. Kedua, lomba karya tulis, diikuti oleh tutor paket B, tutor keaksaraan fungsional (KF), penilik. Ketiga, olahraga diikuti oleh pendidik PAUD dan instruktur senam. Keempat, seni diikuti oleh instruktur tata rias, instruktur tata busana, instruktur bahasa Inggris, TLD dan pengelola IT. Kelima, paduan suara dan sajojo, diikuti oleh semua peserta.

Selama keikutsertaan Propinsi NTT pada ajang Jambore PTK-PNF, mata lomba apa saja yang mendulang emas!
Syukurlah ada satu mata lomba yang dua tahun berturut-turut NTT keluar sebagai pemenang, yakni lomba paduan suara. Sedangkan mata lomba lainnya seperti olahraga tradisional, tutor paket B, tutor KF, NTT pernah mendapat penghargaan meski tidak mendapat emas. Tapi dengan kemenangan itu, nama NTT masih bergema di tingkat nasional. Harapan kita, tahun ini, NTT bisa mengukir sejarah, nama tetap bergema di tingkat nasional, dengan mendulang emas lagi. Paling tidak di nomor paduan suara.


Bagaimana persiapan jambore untuk tahun 2009 ini!
Sejauh ini kami sudah melakukan koordinasi, terutama dengan Bidang Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi NTT. Ini penting dilakukan agar seluruh persiapan bisa secara bersama-sama diketahui. Kecuali itu, kami juga sudah melakukan sosialisasi ke kabupaten/kota pada akhir bulan Mei 2009. Sosialisasi ke kabupaten/kota dilakukan selain untuk menginformasikan jadwal serta tahapan kegiatannya, juga sosialisasi peran daerah dalam rangka menyukseskan kegiatan ini. Karena itu, secara bertahap daerah, dalam hal ini kabupaten/kota, sudah harus menyiapkan peserta PTK-PNF-nya untuk mengikuti seleksi tingkat propinsi bulan Juli 2009. Kalau tidak ada halangan, kita berharap akhir bulan Juli akan dilakukan training center (TC) selama dua minggu untuk persiapan perlombaan di tingkat nasional bulan Agustus di Yogyakarta.


Terlepas dari urusan Jambore PTK-PNF, sebenarnya apa saja tugas utama lembaga ini (UPT Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (PPNFI)?
UPT PPNFI ini memiliki berbagai tugas utama, antara lain, pertama, pengembangan dan ujicoba model program pendidikan nonformal. Kedua, melakukan pendataan, sehingga lembaga ini pada saatnya akan menjadi pusat data pendidikan nonformal. Khusus untuk pendataan, selain software kita di-update setiap tahun, juga tenaga secara bertahap dilatih dan dimagangkan. Ketiga, melakukan penyelenggaraan program pendidikan nonformal, seperti paket A, B, C; PAUD; life skill, sebagai program percontohan. Keempat, melaksanakan peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk ini, umumnya ditempuh melalui studi lanjut, pelatihan, kursus dan magang.

Untuk mendukung pelaksanaan program, UPT PPNFI didukung oleh tenaga- tenaga fungsional pamong belajar yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Sebanyak empat orang berpendidikan magister, 15 orang berpendidikan sarjana. Untuk memaksimalkan tugasnya, pamong belajar dikelompokkan ke dalam kelompok kerja (Pokja), yakni Pokja Kesetaraan, Pokja PAUD, Pokja Life Skill dan Pokja KF. Jadi, menurut hemat saya, tenaga cukup memadai, namun jumlahnya masih kurang. Kita masih membutuhkan minimal 11 orang, sehingga nantinya minimal berjumlah 30 orang.


Model pendidikan apa yang dikembangkan UPT-PPNFI?
Tugas dan fungsi pokok UPT PPNFI adalah melakukan pengamanan ujicoba model. Di tahun 2009 ini, melalui dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) I, PPNFI PPO akan melakukan lima judul model. Tujuannya agar meningkatkan kapasitas pembelajaran bagi kelompok masyarakat yang mengikuti pendidikan non formal dan pendidikan anak usia dini. Kelima model tersebut, antara lain, model yang berkaitan dengan kesetaraan (Paket A, B dan C) yang dilaksanakan di Kabupaten TTU, keaksaraan fungsional yang dilaksanakan di Kabupaten Belu, life skill, pendidikan anak usia dini (PAUD) dan diklat pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).


Bisa diceritakan sedikit mengenai apa yang sudah dilakukan selama ini!
Secara normatif kita telah melakukan tugas sesuai tupoksi. Di antaranya pengembangan dan ujicoba model, pendidikan dan latihan, pendataan, penyelenggaraan program percontohan, sosialisasi dan sebagainya. Namun selain itu, kita juga menjalin kerja sama dengan berbagai NGO (Non Goverment Organization) dan lembaga asing seperti ILO, Plan Indonesia dan KOICA.


Dalam bidang apa saja kerja sama yang dilakukan?
Dengan KIOCA, lembaga asing dari Korea, kerja sama yang dilakukan dalam bidang pembinaan anak usia dini. KOICA telah mengirimkan relawannya selama dua tahun di UPT-PPNFI menangani PAUD. Selain itu, juga dalam bidang IT. Hasilnya, kita dihibahkan 20 unit komputer untuk pelaksanaan kursus. Dengan ILO, kita menjalin kerja sama dalam bidang pemberdayaan anak usia sekolah. Fokusnya pada pelaksanaan identifikasi ke sekolah-sekolah berupa sosialisasi, baik di tingkat SD, SLTP, SMU maupun SMK.

Dan, kerja sama ini sudah berjalan hampir dua tahun. Sedangkan dengan Plan Indonesia, kami menjalin kerja sama dalam bidang pelayanan anak usia dini, melalui kelompok kerja sama yang kami namakan PIPAUD (Pusat Informasi dan Pengembangan Anak Usia Dini). Juga berupa sosialisasi mengenai kesehatan hak dan anak yang berkaitan dengan gender. Dengan adanya kegiatan dalam kerja sama ini, peserta atau masyarakat umumnya bisa memahami kesetaran gender dan pola pengasuhan anak. Sebab, kondisi yang dihadapi sekarang ini, banyak ibu-ibu yang sibuk dengan kerjanya, sehingga mereka menitipkan anaknya pada orang lain (pembantu).

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa masalah gender bukan hanya fokus pada kaum perempuan yang mengasuh anak, tetapi juga untuk kaum pria. Pemahaman yang sama juga disampaikan Plan Indonesia bahwa pola pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu tetapi juga ayah. Plan dan UPT-PPNFI juga mau memberikan pemahanan mengenai peran orangtua yang begitu penting untuk pola pengasuhan anak. Meskipun kita bekerja dan sesibuk apapun juga, kita harus meluangkan waktu untuk anak. Diharapkan agar masyarakat bisa memahami tentang regulasi yang berhubungan dengan dampak kekerasan anak.


Siapa saja yang menangani program-program tersebut, padahal tenaga sangat terbatas!
Kita berusaha memaksimalkan peran staf. Umumnya ditangani oleh pamong belajar. Makanya dalam berbagai kesempatan sering saya sampaikan bahwa 'rohnya' lembaga ini di pamong belajar.


Apa kiat ibu ke depan untuk memajukan UPT PPNFI!
Saya ingin agar lembaga ini benar-benar menjadi contoh bagi pengembangan pendidikan nonformal. Contoh dalam hal pendataan, contoh dalam hal pengembangan dan model-model yang dihasilkan, contoh dalam hal pelaksanaan berbagai Diklat PNF yang dilakukan. Serta contoh dalam pelaksanaan berbagai program PNF. Untuk mewujudkan semua itu, tentu saja perlu dukungan dan kerja sama semua pihak, baik pemerintah daerah, pusat maupun masyarakat. Juga rekan- rekan pers tentu saja kami mohon dukungan, terutama dalam upaya menyosialisasikan berbagai program yang dilaksanakan oleh UPT-PPNFI Dinas PPO NTT. *


Pos Kupang Minggu 14 Juni 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda