Etanol, Energi Alternatif untuk Rumah Tangga

FOTO-FOTO ISTIMEWA
KOMPOR ETANOL--Wanita India ini sedang memasak menggunakan kompor etanol. Bahan bakar etanol ini bisa menjadi pilihan pengganti minyak tanah.


BAHAN bakar fosil yang hingga kini masih dinikmati oleh manusia diperkirakan mulai habis pada tahun 2014. Hal tersebut mengemuka dalam seminar Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia (Kenmi) 2009 yang diadakan di Kampus Institut Teknologi Bandung, Maret 2009.


Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Lambok Hutasoit pada kesempatan itu mengatakan, jika tidak ada peningkatan cadangan minyak terbukti (proven) Indonesia hanya akan bisa mandiri energi (BBM) paling lama di 2014. "Bukannya ingin menakut-nakuti, tetapi untuk lebih menggugah kita di sini agar mulai bisa memikirkan penggunaan sumber energi alternatif," ucapnya.

Tim ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr. Ori Oktavianus mengatakan, berdasarakan sumber data penjualan BBM yang disam konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia mencapai 11 juta ton/tahun. Jumlah tersebut terdiri dari produksi dalam negeri mencapai 8,72 juta ton dan sisanya adalah impor sebanyak 2,28 juta ton impor.

Konsumsi minyak tanah untuk rumah tangga mencapai 11.233.237 kiloliter (Kl) dari total konsumsi 11.323.221 Kl. Sisanya, 90.984 Kl digunakan oleh sektor transportasi, industri dan pembangkit listrik. Hingga saat ini pemerintah masih memberikan subsidi untuk BBM, termasuk minyak tanah. Kebutuhan minyak tanah yang besar tersebut ikut memberi andil tingginya subsidi BBM secara nasional.

Harga pengadaan minyak tanah non subsidi Rp 5.000 per liter harus ditanggung oleh masyarakat dan dengan perkiraan kebutuhan masyarakat 11 juta kl maka biaya yang dikeluarkan adalah Rp 55 triliiun.

Saat ini pemerintah masih memberikan subsidi minyak tanah Rp 2.500 per liter sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 16 Tahun 2008, dimana subsidi minyak tanah Rp 2.500 per liter.

Berdasarkan aturan itu maka dapat dikalkulasikan jumlah kebutuhan konsumen rumah tangga terhadap minyak tanah mencapai 11 juta Kl dengan subsidi pemerintah Rp 2.500 per liter maka harga pengadaan minyak tanah mencapai Rp 27,5 triliun. Selebihnya merupakan subsidi pemerintah. Bisa dibayangkan, begitu banyak uang yang harus dikeluarkan negara untuk memberikan subsidi minyak tanah.

Subsidi ini oleh pemerintah tentu tidak berlaku selamanya. Keterbatasan persediaan minyak tanah, biaya produksi dan transportasi yang tinggi sangat memungkinkan pemerintah untuk menghapus subsidi ini. Dan masyarakat harus siap menerimanya.

Nah, etanol atau bioetanol merupakan salah satu pilihan sebagai sumber alternatif pengembangan sumber energi yang terbarukan. Wilayah NTT dengan tanaman rakyat seperti jagung, ubi kayu atau singkong, tebu, nira merupakan sumber-sumber bahan pembuatan etanol.

Pemanfaatan etanol di dunia juga bukan hal yang baru. Beberaopa negara bahkan sudah menggunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor, mesin-mesinn pabrik dan pembangkit listrik. Penggunaan etanol juga bisa diperuntukan bagi kompor ibu-ibu rumah tangga.

Berbagai ahli dan praktisi telah menemukan berbagai jenis kebutuhan energi pengganti minyak tanah namun tidak semua teknoloi tepat guna tersebut bisa dimanfaatkan para ibu rumah tangga.

Propinsi NTT sebenarnya memiliki banyak potensi untuk untuk pengembangan energi alternatif. Peneliti energi alternatif dari Universitas Nusa Cendana, Prijo Soetedjo mengatakan, bioenergi memang bukanlah alternatif terbaik bagi semua wilayah, baik karena keterbatasan lahan, daya dukung lahan maupun kompetisi penggunaannya untuk keperluan lain.

Pemanfaatan bioenergi harus diimbangi inovasi teknologi pengelolaanya yang sesuai dengan karakteristik lingkungan sosial-ekonomi, sosial-budaya, keterampilan, dan pengetahuan lokal yang dikenal sebagai tehnologi kerakyatan.

Menurutnya, sumber-sumber energi terbarukan di sektor pertanian - bioenergi (padi, jagung, ubikayu, kelapa, kelapa sawit, tebu, jarak, pagar, sagu serta kotoran ternak besar (kotoran sapi) menjadi salah satu alternatif. Sumber lainnya adalah angin, gas bumi dan matahari.

Beberaa model yang bisa dikembangkan antara yaitu

Kompor etanol:
Kompor jenis ini telah dikembangkan untuk kebutuhan rumah tangga di negara-negara Asia selatan antara lain india. Kompor ini memadukan bahan bakar alkohol dan air. Model ini pun cocok diterapkan untuk kebutuhan rumah tangga di NTT.

Kompor Foton:
Kompor ini juga menggunakan bahan bakar etanol namun lebih sederhana.

Briket dari Biomas Pertanian:
Bahan pembuatan briket ini terdiri dari alang-alang atau rumput atau jerami padi yang dibakar sampai hangus dan selanjutnya dibuat briket. Dengan bahan briket ini pun bisa digunakan untuk memasak.

Kompor Bahan Bakar Nabati
Kompor jenis ini juga memanfaatkan bahan bakar nabati. (alf)


Membuat Etanol Sendiri

MEMBUAT biofuel dalam hal ini etanol untuk mensubstitusi bahan bakar minyak, khususnya premium, tidak sesulit yang dibayangkan. Industri kecil skala rumahan pun bisa memproduksinya sendiri. Hanya butuh ketekunan. Lebih menguntungkan lagi, biofuel ini bisa digunakan untuk campuran premium 5-10 persen.

Bahan pembuatan etanol dari bahan organik di NTT tidaklah sulit. Bahan-bahan yang bisa dibuat etanol antara lain nira lontar, ubi kayu atau singkong, jagung, umbi-umbian dan nira tebu.

Erliana Ginting dan Titik Sundari dari Pascapanen dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, mengungkapkan tentang proses pembuatannya. Untuk pembuatan etanol berbahan ubi kayu, maka, ubi kayu atau singkong yang segar dikupas kulitnya, dicuci dan diparut.

Selanjutnya dilikuifikasi atau ditambahkan enzim amilase dan dipanaskan hingga suhu 90 derajat celsius selama 30 menit sambil terus diaduk.

Selanjutnya bubur ubi itu didinginkan dan tambahkan enzim glukoamilase (atau istilah lain disakarifikasi) dan dipanaskan lagi hingga suhu 60 derajat celsius selama dua jam. Selanjutnya pada suhu 32 derajat celsius, ditambahkan ragi, kemudian difermentasi pada suhu kamar selama 72 jam. Langkah selanjutnya adalah penyulingan dengan pemanasan minimum 80 derajat celsius. Jadilah etanol dengan kadar 96 persen.

Agar kadar etanol bisa naik sampai 99,5 persen dan bisa digunakan untuk substitusi premium, perlu didehidrasi dengan teknologi molecular sieve. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda