Frans Rengka dan Yohana Y Derosari

Foto ist
Frans Rengka bersama keluarga

Berikan Kebebasan Pada Anak


MEMILIKI anak semata wayang atau anak tunggal bagi pasangan suami istri memang terkadang merepotkan. Para orangtua yang memiliki anak tunggal tentunya ingin memberikan perhatian penuh pada buah hati semata wayang tersebut. Perhatian yang berlebih inilah yang membuat anak terkadang menjadi manja dan sangat tergantung dengan kedua orangtuanya.

Tidak demikian dengan pasangan Frans Rengka dan Yohana Y Derosari. Pasangan yang menikah tahun 1991 ini tidak selalu mengikuti semua keinginan anak semata wayangnya. Padahal, keluarga ini tergolong mapan secara ekonomi.

Bagi keduanya, walau hanya satu anak, bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi. Keduanya tetap mengarahkan dan memberikan batasan-batasan kepada anaknya mengenai apa saja yang bisa dipenuhi dan mana yang belum bisa dipenuhi, sehingga bisa tumbuh dan berkembang hingga bisa mandiri suatu saat nanti. Namun, keduanya tetap memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan pilihan. Pasangan ini hanya memiliki satu anak, yakni Claudya Grace Yosefine Rengka, lahir di Jakarta, 20 Agustus 1992. Saat ini duduk di kelas II Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Giovanni Kupang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (22/5/2009), Frans yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang ini mengatakan, di rumah keduanya selalu mencoba memperlakukan anaknya sebagai teman atau sahabat. Dengan maksud, anak bisa bebas menceritakan pengalaman keseharianya dan menyampaikan semua keinginananya secara bebas.

Pengamat hukum yang menyelesaikan S1-nya di Fakultas Hukum Atmjaya Yogyakarta dan S2 di Universitas Indonesia (UI) namun tidak selesai dan melanjutkan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, mengatakan, kebebasan yang diberikan bukan berarti harus sebebas-bebasnya.

Menurutnya, kebebesan yang diberikan juga disertai dengan rambu-rambu dan arahan dari keduanya sehingga anaknya bisa melakukanya secara bertanggung jawab.
Dalam usia anaknya yang memasuki masa remaja harus benar-benar dikontrol dengan baik sehingga tidak kebablasan. Sehingga, jika anaknya keluar rumah baik ke sekolah maupun mengikuti kegiatan lainnya di luar rumah, pasangan ini selalu mengawasinya. Biasanya melalui handphone.

"Kalau dia mau keluar kami tanya mau ke mana dan jam berapa pulang. Kalau sudah lewat dari jam yang diinformasikan, kami akan kembali mengontak melalui handphone untuk mengetahui keberadanya. Biasanya dia selalu mempertanggungjawabkanya dengan memberikan alasan-alasan," kata pria yang pernah menjadi pengacara selama delapan tahun di Jakarta (1981-1987) ini.

Koordinator Asosiasi Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia Wilayah NTT ini mengatakan, sebagai orangtua wajib memberikan rambu-rambu apalagi anak perempuan. Dikatakanya, ia selalu memotivasi anaknya agar jangan sampai putus di tengah jalan.

Biasanya mamanya yang menyampaikan, karena wanita harus memiliki kemampuan dan pengetahuan serta keterampilan yang memadai. Dan, pendidikan merupakan salah satu faktor penting menyiapkan anak menjadi mandiri ke depannya. Untuk itu, katanya, keduanya menginginkan menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Masa remaja yang dialami anaknya saat ini memang masih labil, sehingga selain pendidikan formal di sekolah, ia juga merencanakan untuk memasukan anaknya ke kegiatan lain di luar jam belajar. Ia menuturkan, putrinya memiliki bakat musik dan musik yang disukai adalah gitar. Namun sejauh ini, kata Frans, keduanya belum bisa memasukan anaknya karena susah mendapatkan sanggar atau tempat kursus yang pas untuk musik gitar di Kupang.

"Saya amati, dia sangat cepat menghafal syair lagu, padahal suaranya tidak terlalu baik. Saya melihat sens musiknya sangat besar, tinggal saja sebagai orang tua bagaimana kami memfasilitasinya," kata pria yang mengenyam pendidikan doktor (S3) di Universitas Diponegoro dengan Disertasinya 'Pidana Politik' yang Dipromotori oleh Prof. Dr. Muladi.
Frans mengatakan, ia dan istrinya tidak memberikan jadwal belajar khusus bagi anaknya di rumah, tetapi memberikan motivasi bahwa belajar adalah yang utama sebelum memlakukan kegiatan lainnya. Dan untuk belajar baik harus dilakukan secara teratur. Yah, biasanya dia menolak.

"Dia tidak terlalu suka diatur, tetapi dia selalu memberikan butktinya. Mungkin memang karakternya seperti itu, tetapi dia mendengarkan apa yang kami sampaikan dan dia mempertanggungjawabkanya," kata pria asal Manggarai.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Seminari Kisol, Kecamatan Kota Komba ini mengatakan, anaknya termasuk tipe anak yang memiliki daya ingat yang kuat. Makanya, keduanya tidak mau memaksakan anak harus berbuat apa, tetapi selalu menyadarkanya agar ia selalu termotivasi bahwa pendidikan sangat penting bagi kehidupanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 24 Mei 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda