Jubahku Lusuh

Cerpen Leonardus, BHK

JUBAHKU lusuh sementara waktu sedang menunjukkan siangnya. Langkahku, kubiarkan mennyusuri pelan-pelan koridor biara. Mataku melihat sebuah sosok berjalan diseberang dengan seseorang. Wanita itu tertawa riang bersama seseorang. Angin bertiup pelan menyisingkan jubah lusuhku. Mata ini terus memperhatikan, tangan mereka saling bergandeng tangan dan tangan yang lainnya saling menunjuk buku.

Senyumnya, aku iri dengan sebaris gigi yang nampak disaat bersamanya sedangkan ketika denganku hal itu tak terjadi. Wanita berkurudung itu terus membuat seseorang yang disampingnya tersenyum manis.

Senyum mereka terlalu mengembang hingga membuatku tak dapat tersenyum. Kupaksakan diri untuk terus berjalan namun bagaikan dipaku bumi sehingga kaki ini masih diam. Keadaan sekelilingku teramat sepi, tak ada seorangpun yang menyapaku. Senja pun datang dan..........

Wajah ini semakin lusuh, kepada sesosok wanita yang tak pernah mengerti aku. "Lagi ngapain?", tampak secuil dosa terpampang diwajahnya. Senyum itu agak mengembang, hampir sama disaat bersama pria itu, "Ngga lagi ngapa-ngapain, mang kenapa?", ucapku tanpa menoleh sedikitpun kepadanya. Wanita ini masih berdiri disamping tempatku duduk. Tubuhnya lebih kurus dariku, namun kulitnya lembut selembut sutera yang pernah kulihat.

Angin menerpa suasana diantara kami, diam membisu hanya itu yang terjadi diharinya bila bersamaku. Sudah kusisingkan lengan jubahku untuk membuatnya tetap tertawa, tapi yang terjadi hanya suasana hening yang kudapat. Mungkin, karena dia adalah pacar pertamaku yang benar-benar aku sukai.

Walaupun dihati ini masih menunjuk kepada sesuatu yang lain. Suasana saat bersamanya persis sekali seperti daun kering yang berguguran angin. Wajah kami sama-sama berlalu tanpa menoleh sedikitpun, sesekali kulirikkan mata ini.

"Boleh baca sms-nya?"
"Boleh"
Kubuka inbox di hp-nya, tak ada hal yang pribadi disana. Entah kenapa, wajahku meninggalkan senyum saat dia memperbolehkanku membaca sms-nya. "Mo pulang ngga?", tanyanya padaku sambil melihat wajahku "Iya"

"Pulang bareng ngga?" "Terserah", kulihat senyumnya tergores. Kemudian aku berpamitan dengan temannya itu lalu kami jalan beriringan. Tak membicarakan apapun, sepasang matanya sesekali bertabrakan mata denganku. Ririn, jauh lebih muda dariku. Jalannya dipelankan mengikuti langkahku.

Di koridor biara, angin bertiup pelan, sebaris frater duduk berjejer dipinggir lantai koridor. Tertawa mereka riang, "Ayo lagi ngapain?", teriak mereka menyapa kami. "Mau ngopi ngga?", tawar mereka sambil tertawa kecil. Ririn masih terus berjalan seperti tak menghiraukan. Tertawa mereka masih belum usai karena ulahku ini.

Ririn menunggu dengan tatapannya, entah ada perasaan apa yang hadir didiri. Angin berhembus sebagaimana mestinya, dia wanita pertama yang menunggu langkahku untuk menghampirinya, supaya tubuh ini sejajar dengan langkahnya. Walaupun perasaan ini tak kukenali tapi segores pulpen berbentuk senyum tergambar dihatiku.

Suasana biara sedang sedang sepi, satu-dua orang frater masih menempati kursi tua di koridor biara. Kami mempati sebuah bangku tua di pojok biara, tidak sengaja aku melihat wajahnya. Sesosok perlahan mendekatiku, aromanya sangat khas hingga aku mengetahui sesosok itu. Tubuhnya mendekati wajah pedihku, lagi-lagi wanita berkerudung itu berjalan dalam khayalku.

Seperti melihatnya untuk pertama kali dan untuk yang sekian kalinya, perasaan yang timbul sangatlah menyakitkan. Dia tak akan mengetahui perasaan yang kualami saat ini, hanya daun kering yang berguguran yang menyapaku dalam heningnya yang dapat memahami perasaanku.

Dia tak akan pernah mengetahui; saat duduk berduaan dengannya ada suara yang memanggilku, ketika benar-benar memperhatikannya isi hati ini terisi oleh sebuah panggilan suci. Saat memacarinya dulu, aku telah menemukan sesuatu yang luhur terlebih dahulu sebelum dia.

Ketika diteleponnya kukira itu dari seseorang yang selalu kuharapkan. Perasaan bersalah itu timbul kembali, aku sebenarnya tak pernah bilang kalau aku mau masuk biara kepada Ririn. Mungkin juga karena itu tawanya tak pernah lama saat disampingku.

Aku baru sadar bahwa aku selama ini telah jatuh cinta padanya namun aku juga telah menentukan pilihan hidupku.

Suatu hari disaat aku duduk berduaan dengan Ririn, dia menyapaku dan mengungkapkan lagi kejadian yang dulu pada saat kami bersama. Wajah ini menelungkup tak mau membalas senyumnya, tak ingin melihat wajah cantiknya. Namun usaha ini percuma, tak membuahkan hasil. Ririn dengan sikapnya seolah-olah menyetujui aku untuk menikmati masa lalu kami itu.

Kupandangi sebuah mawar yang tumbuh didepan kami itu dengan lekat seperti biasanya, seolah tak ada Ririn disampingku. Kisah itu terulang kembali disaat aku ingin benar-benar melupakannya. "Apa salahku"? Ririn memberi peluang, disaat aku ingin membayar kesalahan ini. Dia tak lagi menghiraukanku bahkan ketika kami bertatap muka. Entah dari mana datangnya, tinta pulpen itu menggores hatiku pedih.

Ada sesuatu yang menyapa nubariku terus menerus, memberi berjuta harapan yang sama sekali tak ada pada Ririn. Setiap kali disaat senja tiba, aku menunggu suara itu yang seharusnya niatku ini menunggu Ririn. Di sebuh bukit kering, di sanalah Ririn menyadari saat itu aku belum pulang. Matanya tetap memperhatikanku lalu,

"Mau pulang ngga?"
"Ngga, aku mau sendirian", ucapku datar tanpa menghiraukanny. Senyumku yang ragu, walau pahit aku tersenyum. Saat sosoknya hilang dari hadapan, sejenak aku berpikir "Ririn, seandainya kau benar-benar tahu sesuatu yang sedang aku nantikan sekarang. Apakah senyum dibibirmu itu masih terpajang?", kepala kutundukkan.

Seperti ini dan selalu seperti ini, ketika aku ingin sendirian. Ririn menuliskan kata berupa sms dihp-ku.
"Ketika hubungan kita penuh dengan liku,
kupakukan tangan pada seseorang.
Ketika Ririn tak bisa menemaniku duduk,
seseorang datang dengan maksud menggantikannya.
Ketika tubuh Ririn berlalu begitu saja disampingku,
tiba-tiba seseorang memberi senyumnya menyapaku.

Ketika kebetulan itu menjadi sebuah kebiasaan.
Pelan-pelan wajah itu menjadi suatu pembatas bagi kami, secara diam-diam.
Dia adalah Yesus"

Seseorang ingin aku menempati janji, suatu saat ketika itu kita akan bertemu lagi dan saat itu hatiku tak dipenuhi Ririn. Dan dalam diriku sendiri aku berkata "Bila memang perasaan ini ada hanya untuk sekedar membalas cinta Ririn yang dulu padaku. Walau menyakitkan biarlah aku tanggung, supaya aku dapat merasakan sesuatu yang selama ini Ririn tanggung diam-diam". Namun tetap saja aku seperti daun kering, hanya bisa bergerak ketika angin menggerakkanku. Dan aku ragu dengan sikap Ririn yang mulai dingin tak memedulikanku, dengan sikap Ririn yang seperti itu pelarianku menuju ke seseorang semakin menjadi suatu keharusan. Seseorang itu membentangkan tangan terhadapku. Lalu, ketika dua senyum menggores hatiku.

Ada perasaan aneh yang timbul dan aku tak bisa memastikannya.
Tiba-tiba seseorang itu tersenyum padaku, dalam senyumnya dia berkata "Bila perasaanmu tulus, hal yang menyakitkan itu tak akan pernah terjadi", kusibakkan rambut kebelakang. Mengartikan lebih dalam senyumnya, dia juga menyukai Ririn lebih dari yang aku punya.

Jendela disebelahku menghapuskan rintik dipipi. Mencurahkan tentang isi hatiku saat ini. Seperti inilah pandanganku kualihkan keluar jendela. Rerumputan hijau menari seakan menyambut kesedihan jiwaku.

Kisah yang menyenangkan ini membuat coretan berbentuk senyum tergambar banyak dihati, tak heran satu coretannya sangat menyakitkan jiwa. Sedikit demi sedikit aku menyadari, kisah kita hanya sebuah kesalah pahaman. Tak berakar dan tak berujung.

"Kamu sama saya jadian mau engga?"
"Siapa?"
"Hm..."
"S....apa?"
"Kamu sama saya...jadian?", matanya menatapku ketika itu. Namun aku hanya dia. Sekarang, mata itu masih berarti sama, namun sikapnya sudah berubah. Pernah sekali aku rasakan cinta itu tak hadir terhadapku. Aku kira karena terlalu sering ditatapnya, tapi ternyata alasan itu salah. Kisahku bertepuk sebelah tangan, selama ini hanya dia yang merasa sakit hati.

Ternyata itu hanya sebuah perasaanku saja. Ririn, bila perasaan itu masih terjaga, aku pasti akan menghubungimu. Bila memang ada yang lebih baik dariku, biarkanlah dia duduk. Jangan pernah mengharapkanku, jangan biarkan dia pergi sepertiku.
Suatu saat aku pasti akan mengatakannya. Koridor Biara sepi saat aku melewatinya dengan jubahku yang lusuh kulihat pintu biara dari jauh. Ada sebuah undangan suci disana, pelan-pelan tanpa ku sadari, aku telah berjalan mendekatinya dengan senyum menyinggung bibir walaupun seseorang masih mengikuti dalam jejak langkah kaki ini.

Seperti daun kering yang tertiup, bergerak mengikuti angin walau beberapa kerikil menyertai. Aku terus berjalan...*


Pos Kupang Minggu 21 Juni 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda