Maaf, Cristo Rei Sedang Berdandan






Pos kupang/dion db putra

RENOVASI -- Sejumlah pengunjung asal Kupang termasuk Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si pose bersama dengan latar belakang Patung Cristo Rei yang sedang direnovasi, Selasa (19/5/2009).

istimewa
Patung Cristo Rei di Bukit Fatucama Dili dari berbagai sudut yang berbeda. Foto diambil dari http://ms-my.facebook.com/pages/Cristo-Rei-Dili.


NIAT para peziarah meraih kenangan indah di puncak Bukit Fatucama-Dili, Timor Leste siang itu, Selasa 19 Mei 2009 tidak kesampaian. Jauh datang dari Timor Barat untuk berdoa sekaligus menikmati keindahan Dili dari kaki Patung Cristo Rei (Kritus Raja) mesti diurungkan. Harap maklum, Cristo Rei Dili sedang berdandan sejak bulan April 2009. Tak boleh diganggu dulu selama beberapa bulan ke depan.

Alesio dan Grasella yang mendampingi para peziarah sudah memberi tahu sebelumnya. "Maaf sekali, Bapak Ibu tidak bisa mencapai kaki patung Cristo Rei karena sedang direnovasi. Kita tidak dizinkan mendaki ke puncak bukit," kata Alesio. Siang itu sejumlah pekerja sedang mengaso sejenak.

Pekerjaan yang sedang mereka tangani adalah memugar pagar dan anak tangga. Mereka melambaikan tangan kepada peziarah yang hanya diperkenankan berada di luar pagar.

Tak menyentuh Cristo Rei bukan alasan untuk mengabadikan kunjungan itu. Ramai-ramai mereka merekam diri menggunakan kamera foto dan video dengan latar belakang Cristo Rei di ketinggian bukit Fatucama. Kristus Raja Dunia yang sedang "dibalut" bambu dan kayu-kayu penyanggah.


Puncak bukit Fatucama merupakan tempat favorit setiap peziarah atau pengunjung Cristo Rei Dili. Setelah lelah mendaki 300 anak tangga dan 14 relief stasi jalan salib, puncak Fatucama melenyapkan letih dengan pemandangan indah ke Kota Dili. Pemandangan lapang dan luas. Ke kanan mata akan dimanja Pulau Atauro yang teguh kokoh di tengah Selat Ombai. Jika cuaca sedang cerah, ujung timur Pulau Alor pun tertangkap mata telanjang.

Cristo Rei juga indah dari balik jendela pesawat yang sedang manuver untuk landing di Bandara Internasional Nicolau Lobato (dulu Comoro). Penumpang akan melihat Cristo Rei dengan tangan terentang, menatap lurus ke jantung Kota Dili. Apa hendak dikata, sensasi keindahan tersebut tak sempat dinikmati peziarah asal Kupang dan Atambua yang berkunjung ke Dili pekan lalu.

Namun, mereka tak patut menyesal. Dili kini tidak cuma memiliki Patung Cristo Rei. Sejak tahun 2007 Dili memiliki obyek wisata religius yang tak kalah menarik yaitu patung Paus Johanes Paulus II yang tegak berdiri di bukit Tasitolu, Dili Barat.

Setelah berusia hampir 14 tahun, patung Cristo Rei setinggi 27 meter itu butuh renovasi karena mulai terkelupas diterpa hujan, angin dan panas matahari. Selain bersumber dari pemerintah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), dana renovasi adalah hasil sumbangan staf PBB dan para relawan di Timor Leste.
Cristo Rei Dili termasuk karya monumental. Di seluruh dunia ada empat patung sejenis yaitu Cristo Rei di Bukit Fatucama (27 meter), Cristo Rei Portugal (12,8 meter), Christ the Redeemer atau Kristus Penebus di Brasil (38 meter) dan Cristo de la Concordia di Bolivia (33 meter).

Patung Kristus Penebus di Taman Nasional Hutan Tijuca Gunung Corcovado, Brasil masih tercatat sebagai yang tertua usianya dan paling tinggi di dunia. Di Indonesia patung Yesus paling tinggi ada di Manado, Sulawesi Utara yaitu 30 meter. Patung itu merupakan bagian dari Monumen Yesus Memberkati yang diresmikan tahun 2007.

Kembali ke Cristo Rei Dili, pemugaran patung tembaga karya putra Indonesia asal Sukaraja-Bandung bernama Mochamad Syailillah alias Bolil itu menarik perhatian mengingat kontroversi pada masa pembuatannya hingga diresmikan tahun 1996. Pada tanggal 15 Oktober 1996 Presiden Soeharto bersama Uskup Diosis Dili, Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB dan Gubernur Timor Timur, Abilio Soares menyaksikan kemegahan patung ini dari udara menggunakan helikopter.

Cukup lama Patung Cristo Rei tidak terawat karena warga RDTL umumnya menganggap patung itu merupakan warisan Indonesia. Latar belakang politis pendirian patung itu membuat mereka enggan mengurusnya. Jika sekarang mereka mendandani Patung Cristo Rei, sesuatu telah berubah. Jika ke Dili jangan lupa ke Fatucama. Jangan lupa menatap teduhnya tatapan mata Cristo Rei! (dion db putra)


Antara Tasitolu dan Maumere
DI bukit Tasitolu, Dili Barat ada jejak Paus Johanes Paulus II yang kematiannya bulan April 2005 ditangisi dunia. Jejak Bapa Suci di sana telah diabadikan dengan elok oleh pemerintah dan masyarakat Timor Leste.

Tasitolu yang dijejaki Paus Johanes Paulus II tanggal 12 Oktober 1989 kini merupakan lokasi favorit warga Dili dan rakyat Timor Leste. Siapa pun yang datang ke Dili selalu dianjurkan mampir ke Tasitolu. Menikmati keindahaan Dili dari sisi yang lain.Tentu tidak dalam konteks mengultuskan Johanes Paulus II.

Ketika menginjakkan kaki di puncak Bukit Tasitolu 20 Mei 2009, tiba-tiba saya teringat Gelora Samador-Maumere, Flores, satu di antara lima kota yang didatangi Paus Johanes Paulus II dalam lawatannya ke Indonesia tanggal 9-14 Oktober 1989.

Saya segera menemukan perbedaan antara Tasitolu dan Maumere. Dibanding Tasitolu, Gelora Samador sungguh terasa biasa saja. Padahal bobotnya sama, tempat Johanes Paulus II memimpin misa dan memberkati umatnya. Dan, di tempat itu pula Vatikan mencatat sejarah. Di Samador tiga tahun lalu, Uskup pertama Diosis Maumere, Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Pr ditahbiskan.

Di Sikka, satu-satunya jejak John Paul II yang terawat baik adalah kamar tidur dan tempat doa mendiang Bapa Suci di dalam rumah induk Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Saya terakhir berkunjung ke sana tahun 2006. Indah nian jika Gelora Samador dibentuk menjadi monumen rohani atau taman doa. Gelanggang olahraga atau stadion bisa dibangun baru di lokasi baru. Bukankah lahan kosong di Maumere masih terlalu luas untuk itu? (dion dbputra)


Mata Yesus
BERAPA biaya pembuatan patung Cristo Rei yang dimulai pada tahun 1995? Meskipun perlu diverifikasi lagi, data dari kliping koran dan majalah menunjuk angka sekitar Rp 5 miliar.

Presiden Soeharto kala itu menunjuk Direktur Garuda jadi pimpinan proyek termasuk cari modal. Garuda menyediakan dana Rp 1,1 miliar. Sisanya diperoleh dari sumbangan pengusaha dan sumber lain. Bahkan pada waktu itu pegawai negeri sipil (PNS) di Timor Timur wajib menyumbang berkisar antara Rp 1.000,00 hingga Rp 5.000,00 sesuai golongan pangkat mereka.

Patung dikerjakan di Sukaraja, Bandung oleh Mochamad Syailillah alias Bolil, sarjana lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bolil mengerjakan patung itu hampir setahun. Ia menyewa lapangan sepakbola kosong dan mengerahkan pekerja 30 orang. Lapis patung terbuat dari plat tembaga yang tingkat keroposnya rendah. Patung Cristo Rei Dili membutuhkan sekitar 300 lembar plat tembaga yang dilas dengan tehnik asetelin.

Menarik pengakuan Bolil yang seorang Muslim itu saat dia membuat prototipe patung Yesus dengan jubah dan tangan terbuka seperti hendak merangkul orang. Bolil dengan cermat mempelajari struktur wajah Yesus. Dia melihat ciri-ciri utama seperti janggut, kumis dan rambut lalu diintepretasikannya ke dalam patung.

Bolil menekankan pada sorotan mata Yesus agar terlihat teduh. Bagian bibir juga menjadi perhatiannya agar tampak santun. Dari berbagai referensi, dia melihat gambar Yesus jarang senyum.

Namun, ia ingin ekspresi wajah Yesus ramah dan penuh kasih sayang. Meskipun tidak mudah, Bolil akhirnya dapat menemukan profil yang cocok untuk membentuk wajah Yesus yang menampakkan kesederhanaan dan alami seperti kita lihat di Bukit Fatucama Dili sekarang.

Setelah patung tuntas dikerjakan, langkah berikut adalah membawanya ke Dili. Patung dibagi dalam beberapa potong dan setelah disusun sesuai bagian masing-masing ternyata membutuhkan tiga truk kontainer. Bolil dan timnya menyewa kapal laut untuk membawa tiga truk kontainer menuju Dili.

Setiba di Dili ada persoalan teknis. Di sana belum ada alat-alat berat untuk mengangkut potongan-potongan segmen patung. Apalagi tingkat kecuraman bukit cukup tinggi. Potongan segmen seberat 100 sampai 200 kilogram. Sedangkan tinggi bukit jika diambil tegak lurus dari pantai mencapai 100 meter.

Bolil tidak kehilangan akal. Ia menyewa ahli stelen atau konstruksi tangga dari bambu. Ia datangkan orang-orang itu dari Bandung. Tekniknya berhasil dan satu persatu potongan tembaga patung Cristo Rei bisa dinaikkan ke puncak bukit. Rekonstruksi patung di Fatucama menghabiskan waktu sekitar tiga bulan. (*)

Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda