Manchester United vs Liverpool

Cerpen Aurel Maurice Nikmat

GILA!!! Benar-benar gila!!! Sekarang aku sudah berada di Stadion Old Trafford, salah satu stadion terbesar di kota Manchester itu. Aku mengambil tempat duduk di tribun utama yang dekat beberapa tingkat dari bangku Sir Alex Ferguson sang pelatih klub sepakbola MU.

Hanya beberapa menit saja ribuan bangku yang tadinya kosong sekarang menjadi penuh sesak, bahkan banyak penonton yang rela berdiri untuk menyaksikan pertarungan akbar dua klub terkuat malam ini.

Dag... dig... dug.... Jantungku mendadak berdebar-debar. Senang dan panik bercampur aduk dalam hatiku. Kini kulihat dua baris pemain MU dan Liverpool yang berjalan memasuki lapangan. HIDUP MU... HIDUP MU...,” spontan aku berteriak begitu tim jagoanku memasuki lapangan hijau.

Mereka tampil mengenakan kostum berwarna merah. Karena itulah, mereka diberi julukan The Red Devils. Para penonton yang lain juga seolah-olah tak mau kalah. Mereka juga bersorak dan bertepuk tangan membanggakan tim kesayangan mereka masing-masing. Sementara kedua tim itu mulai bersiap untuk bertanding. Saat-saat yang menegangkan akan segera dimulai.


Prrrriiiitttt.... Bunyi peluit panjang yang ditiup wasit pertanda dimulainya pertandingan. Untuk sementara, bola masih berada di pihak MU. Aku sudah bisa menebak siapakah yang akan menjadi pemenang malam ini.

Pasti MU, kataku dalam hati. Teriakanku semakin kencang, lebih lagi ketika CR7—demikian julukan bagi pemain idolaku Cristiano Ronaldo—menggiring bola. Kecepatan larinya sungguh luar biasa. Ditambah lagi gerakan yang gesit dan lincah ketika ia menghindar dari musuh.

Oh, tidak! Di hadapannya kini ada Fabio Aurelio, bek tengah Liverpool yang sangat kuat. Tapi kelihatannya CR7 tidak peduli. Ia terus menggiring bola dengan cepat.

Aurelio maju menghadang serangan CR7 namun dengan sedikit hentakan kaki ke kanan, dengan posisi bola tetap berada di kaki kirinya, bek tengah Liverpool itu berhasil dilewati. Dan sekarang duel antara CR7 dan kiper Liverpool, Pepe Reina. Kelihatannya hanya mereka berdua yang sedang bertanding.

Dengan sigap, CR7 menggiring bola ke gawang Liverpool. Begitu sampai di kotak penalti, CR7 mengayunkan kakinya lalu menendang bola ke arah gawang. Bola meluncur deras. Plakk. Nyaris gol! Tapi bola berhasil ditepis oleh Reina meskipun menyebabkannya terpental dan jatuh.

Liverpool yang merasa terancam akibat tendangan CR7 tadi, langsung menyusun serangan balik. Dengan formasi 4-2-3-1 Liverpool mampu menerobos benteng pertahanan MU. Steven Gerrard yang sedang membawa bola harus waspada terhadap Rio Ferdinand, bek tengah MU yang sudah siap menghadang serangan mereka.

Seet..seet, dengan tarian kaki yang indah Gerrard mampu melewati Ferdinand dengan mudah. Satu per satu pertahanan belakang MU mulai goyah. Gerrard mengambil posisi yang tepat untuk menembakkan bola. Gol...! Tendangan keras Steven Gerrard menjebol gawang MU yang dikawal Edwin Van Der Sar.

Kedudukan berubah menjadi 1-0. MU tak mau kalah. Mereka melancarkan serangan balik. Namun serangan balik MU mampu dipatahkan oleh pertahanan Liverpool. Satu lagi gol Gerrard bersarang di gawang MU. Ahhhh...!

Apakah MU akan kalah pada malam ini? Tanyaku dalam hati. MU membangun serangannya lagi. CR7 menggiring bola lalu menendang ke arah sudut gawang. Untuk kedua kalinya tendangan CR7 berhasil ditepis Reina.

MU yang sudah kewalahan dengan serangan Liverpool yang bertubi-tubi, mulai diserang lagi. Kali ini Liverpool sukses menyarangkan tiga gol ke gawang MU dengan mudah. Dua gol Torres dan satu gol lain dari Gerrard. Lima gol pada babak pertama menjadi ancaman bagi MU. Prrriiiiiittt. Babak pertama berakhir dengan skor 5-0.

Saatnya turun minum. Setelah itu para pemain kembali ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan. Peluit kembali dibunyikan. Babak kedua dimulai. Sorak-sorai penonton kembali membahana. MU yang pada babak pertama tampil buruk, kini tampil percaya diri. Untuk sementara terjadi perebutan bola.

Para pemain MU di garis depan berusaha untuk mempertahankan bola, sementara pemain belakang memperkokoh benteng pertahanan mereka.

Saat ini MU masih memegang kendali pertandingan. Para pemain MU tampak memperlihatkan kekompakkan dan kerjasama tim yang apik. Berbatov ber–one-two dengan CR7 dan menerapkan strategi yang telah direncanakan. Bola berpindah dengan dengan cepat dari kaki CR7 ke Berbatov, Berbatov ke Tevez dan terus begitu sampai mereka mampu menembus pertahanan Liverpool.

Liverpool yang tampil gemilang di babak pertama dibuat tak berdaya di babak kedua. CR7 menggiring bola menuju gawang lalu mengoper bola ke Tevez. Tevez menyambut bola dengan dadanya. Dengan seluruh kekuatan ia berlari sekencang mungkin lalu mengopernya lagi ke Rooney.

Rooney yang berada di sayap kanan, melambungkan bola menuju CR7. Dengan gesit ia melompat lalu menyundul bola. Gool... gool... gool...! Hidup MU...! Aku berteriak sangat keras, karena CR7 kebanggaanku mampu menjebol gawang Liverpool.

Satu gol yang disarangkan CR7 membuat MU semakin bersemangat. Pertandingan dilanjutkan kembali. MU masih saja menguasai bola. Namun tiba-tiba saja, sret... Torres melakukan sliding dan merebut bola dari kaki Rooney sehingga membuatnya terpental. Torres menggiring bola memasuki daerah pertahanan MU. Tapi sayang, Vidic mampu mematahkan aksi Torres.

Lagi-lagi bola dikuasai MU. CR7 meliukkan kaki melewati pemain Liverpool dan pada saat itu juga Aurelio datang menghadang. Kaki dan kaki pun beradu.

Ahhhhh.... Brukk. CR7 terjatuh dan menjerit kesakitan. CR7 tergolek lemah tak berdaya. Sepertinya, ia mengalami cedera yang sangat parah. Bersamaan dengan jatuhnya CR7, pekikkan suporter dari segala sisi memenuhi seluruh stadion. Aku juga spontan berteriak.

Di bench, sudah tak ada lagi pemain cadangan sebab banyak pemain MU yang mengalami cedera parah dan MU sudah melakukan pergantian pemain dua kali. Karna waktu sudah mendesak, Ferguson menunjuk ke arahku. Ia sudah sering melihat aku bermain bola di persimpangan jalan kota Manchester.

Akhirnya aku menggantikan CR7. Kemudian ia memberikan kostum kepadaku. Senang sekali hatiku karena bisa mengantikan CR7. Setelah ia memberikan beberapa instruksi kepadaku aku berjalan memasuki lapangan hijau. Semua penonton meneriaki aku. Aku semakin gugup. Takut.

Pertandingan kembali dilanjutkan. Sekarang waktu yang tersisa hanya sepuluh menit. Aku harus berusaha sekuat tenaga agar MU menang. Bola dengan cepat berpindah dari kaki ke kaki. Aku menerima suplai bola dari Rooney lalu menggiring dan menendangnya. Gool...Goool...” Aku berteriak dengan keras karena tendanganku berhasil merobek jala Reina.

Ternyata baru bermain tiga menit saja aku sudah mampu membuat gol. Ferguson pasti tak kecewa menggantikan CR7 denganku.

Para penonton semakin kencang meneriaki aku. Sekarang waktu yang tersisa tujuh menit lagi. Aku kembali ke posisiku. Bola dikuasai Liverpool. Gerrard berhasil melewati satu per satu pemain kami. Aku berusaha merebut bola darinya namun sia-sia. Gerrard dengan leluasa memasuki daerah penalti lalu menembakkan bola.

Tapi tendangannya mampu dihalau kiper kami. Kami semua berusaha menyerang lagi. Kemudian Tevez mendrible bola dan menendang ke arah gawang tapi sayang, tendanganya melenceng. Tapi kami tidak putus asa. Kami kembali melakukan serangan lagi ketika bola berhasil kami rebut. Teman-temanku mensuplai bola padaku. Untuk kedua kalinya aku menembakkan bola dan gol.

Teriakan para penonton semakin keras terdengar.
Suasana menjadi semakin semarak malam itu. Tinggal dua gol lagi kami bisa menyamakan kedudukan
Bola kembali diperebutkan. Liverpool benar-benar tertekan akibat serangan bertubi-tubi yang kami lancarkan. ayo kita serang! waktu kita sudah tidak cukup lagi” Perintahku pada mereka. Begitu bola berhasil ku rebut tanpa ragu-ragu aku langsung menendangnya. Goool....Goool...Goool..

Kini tinggal menambah satu gol lagi agar kedudukan menjadi seimbang. Tapi targetku kami harus menang. Beberapa detik saja bola kembali kami rebut. Dengan sedikit tarian Samba aku melewati satu per satu pemain Liverpool hingga sampai di depan gawang. Langsung saja kutendang.

Oh, bola tak bisa ku lihat. Ternyata aku salah menendang. Bola masih berada ditempatku tapi Reina sudah melompat lebih dahulu. Dengan cepat kutendang bola itu dan bola yang kutendang menggelinding pelan menuju gawang.....dan, Goool...goool...goool...Dasar bodoh kau Reina kamu bisa tertipu oleh aku sich?” Kataku mengejek Reina. Liverpool semakin geram. Aku berjalan menuju Reina lalu membalikkan jempolku.

Tentunya hal itu membuat ia sangat marah bahkan hampir saja terjadi kericuhan.

Dengan gol-gol tadi, kedudukan menjadi imbang 5-5. Ternyata usaha kami tak sia-sia. Di sudut lapangan, ku lihat Ferguson mengacungkan jempol padaku. Satu menit lagi pertandingan akan berakhir tapi bola belum bisa kami rebut. Liverpool terus menguasai bola. Aku memerintahkan para pemain belakang agar menghadang serangan mereka namun gagal.

Torres yang membawa bola tidak mendapat pengawalan yang berarti. Jantungku berdetak kencang pada saat tendangan Torres membentur mistar gawang. Waktu bergulir dengan cepat. Tinggal beberapa detik lagi pertandingan akan segera berakhir.

Aku segera merebut bola. Dapat. Tanpa pikir panjang aku langsung menendang bola dari tengah lapangan. Tendanganku keras sekali. Bola melesat menuju gawang bersamaan dengan itu alat penghitung waktu mundur berdetak. Seluruh penonton tampak tenang. Tiga...dua...sa..a

Goool...goool...goool...” Aku melompat kegirangan. Tuuu.... Bersamaan dengan itu aku berhasil menyarangkan gol. Pertandingan berakhir dengan skor 6-5. Gol pada menit terakhir itu membuat kami menang. Yel-yel dan teriakan penonton membanjiri seluruh stadion. Tiba-tiba semua penonton turun lalu berlari mengejarku. Dengan cepat aku mengambil langkah seribu. Tiba-tiba aku terjatuh. Kini mereka semua sudah mengerumuniku dan aku spontan berteriak Ahhhhh...”

Brukk Aku terjatuh dari tempat tidur dan tersadar dari mimpi.
Sial.Sial. Ternyata hanya mimpi.” Gerutuku. Tapi tak apa. Aku sudah sangat senang sekali bisa bermain bersama dengan MU, walaupun hanya dalam mimpi. Sementara itu aku berharap mimpi ini menjadi kenyataan. Tapi,kapan?

***
Komunitas Sastra Seminari Oepoi

Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda