Manohara

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

DISKUSI soal Ambalat dan patok perbatasan Malaysia Indonesia yang terus digeser menjauh ke wilayah Indonesia oleh pihak keamanan Malaysia pun, dianggap remeh saja. Pada hal setiap tahun Malaysia selalu cari gara-gara soal perbatasan.

Ambisi mereka untuk memperluas wilayah teritorialnya masuk ke wilayah kita, benar-benar memancing emosi. Ini tidak dapat dibiarkan! Rasa nasionalisnya membara begitu tahu tahun ini Malaysia cari soal lagi, pindah patok perbatasan masuk sampai lebih dari seratus meter.

"Kita mesti singsingkan lengan baju untuk lawan tanah airnya Tengku Fakry Pangeran Kelantan itu! Demi Manohara!"

"Ya, Mari lawan Malaysia! Mereka sudah keterlaluan. Bayangkan, gadis cantik kita si Manohara diembat, lahan perbatasan diembat! Ayoh, perang! Kita daftar diri jadi suka relawan perang. Aku di barisan depan!"
"Rela mati demi tanah air!"
"Aku juga rela mati demi Manohara!"
***
Bagi Rara yang penting Manohara. Seluruh bagian dinding kamarnya terpampang wajah cantik dan jelita Manohara Odelia Pinot! Bahkan di loteng kamarnya pun wajah Manohara senantiasa tersenyum. Juga lantai kamarnya, semuanya bergambar Manohara. Singkat kata, kalau dia terbaring, maka toleh kiri kanan, muka belakang, atas bawah, semuanya Manohara.

Rupanya dia lagi hobi Manohara, sehingga apa pun dalam aktivitas hidupnya belakangan ini, selalu ditempelkan dengan Manohara.

"Seandainya aku jadi Pangeran Kelantan, tak akan mungkin kusia-siakan Manohara. Gadis muda belia nan cantik jelita kenapa dicampakkan? Pokoknya akan aku bela mati-matian demi cintaku pada Mano..." Katanya.

"Seandainya aku jadi pangeran Indonesia, tak akan mungkin kusia-siakan Manoharaku. Patok batas akan kupindahkan kembali sampai jauh-jauh ke wilayahnya Fakry. Siap perang demi membela negara! Terutama siap perang untuk Manohara"

"Siap perang bela Manohara!" Jaki dan Rara saling menempelkan telapak tangan kiri kanan sambil berteriak keras, Yeeeeess!
***
Kasihan! Komentar Nona Mia, setelah melihat tingkah laku Jaki dan Rara yang memalukan menurutnya. "Mau jadi pahlawan kesiangan ya? He he he," komentar Nona Mia. Bertanya dirilah! Manohara anak bawang belum genap lima belas tahun sudah dibiarkan dibawa plesir kemana-mana oleh laki-laki kaya raya dari tanah seberang. Sendirian di hotel-hotel, dibiarkan ibu kandungnya.

Anak bawang yang baru akan genap enam belas tahun itu selanjutnya "dipaksa" menikah karena kegadisannya sudah direnggut Sang Pangeran. "Sang Pangeran mau bertanggung jawab. Karena itulah saya sebagai ibunya mengijinkannya menikah," demikian kata Daysi ibunda Manohara.

Anak yang baru saja berusaia 17 tahun pada Februari 2009 lalu itu pun disinyalir menderita KDRT oleh suaminya sendiri. Kasihan! Baru terlepas dari kungkungan istana, langsung terbang tinggi dari satu televisi ke televisi lain dari satu media ke media lain, wawancara sana-sini, obral penderitaan.

Lupa bahwa harus visum, lupa untuk tenangkan diri dan menjalani proses pengembalian kesejatiannya. "Pikir baik-baik! Kalau memang harus dibela, apa yang mesti dibela? Kalau kamu sampai rela mati demi Manohara, apa argumentasinya?" Tanya Nona Mia pada Rara yang begitu berapi-api gila pada Manohara.

"Sebagai warga negara Indonesia kita harus membela Manohara soalnya," Rara membela diri. "Ini demi keindonesiaan kita yang tersia-sia...Bukankah Manohara itu pantasnya mendapat suami yang baik hati seperti aku... Dia masih di bawah umur! Seharusnya Indonesia menjaga harga dirinya..."

"Tetapi Manohara lebih pantas dengan aku bukan kamu!" Protes Jaki. "Manohara pantas untuk laki-laki berduit bagai pangeran, akulah orangnya!" Jaki dan Rara saling tonjok memperebutkan Manohara.
"Demi martabat Indonesia bukan?"

***
"Ya, seharusnya... Tetapi di depan hidung kita sendiri pun pernikahan di bawah umur terjadi... Kita sendiri yang maaf, jual anak kita! Jadi menurut hematku, sebaiknya kita segera mengambil tindakan introspektif, benah ke dalam sehingga menjadi bangsa yang benar-benar menjaga martabat dirinya," kata Benza mengamini pikiran Nona Mia.

"Manohara mestinya ada di bangku sekolah, bukan di pangku pangeran! Presentasi di depan ruang kelas ruang kuliah bukan ruang infotaiment," sambung Nona Mia.

"Begitu pula soal perbatasan! Buat patokan permanen agar tidak mudah dipindahkan. Ambil tindakan antipatif! Jangan tunggu kebakaran baru mencari air pemadam!"
"Oh, Manohara..." Rara sama sekali tidak menggubris kata-kata Benza.

"I love you Mano..." sambung Jaki.
Jaki dan Rara sudah jadi tuna rungu. *

Pos Kupang Minggu 7 Juni 2009, halaman 1

1 komentar:

Yang pertama tentunya apresiasi yang setinggi-tingginya buat teman-teman di jurnalis NTT,karena tak pernah mengalihkan perhatian dari ragam macam issue nasional Indonesia saat ini.Untuk itu kita sepakat bahwa,saat ini kita tidak terkungkung dalam sebuah identitas tunggal "NTT",tapi juga percaya diri berbicara sebagai orang Indonesia.Saya sendiri cenderung mengamini kisah tragis hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai bukti bahwa sebenarnya Indonesia "our country"bukanlah negara besar,minimal dalam beberapa pokok persoalan yang meningkatkan tensi konflik antar dua negara ini.Apalah Indonesia,sehingga tidak patut disegani...!!!Menurut saya...titik awal dari semua tragedi yang mengundang ratap miris kita saat ini..bersumber dari dalam Negeri kita tercinta.Kenapa dan kenapa..???Apa salah kita "pemerintah/aparatus negara" sehingga dalam tatanan hubungan luar negeri sering dilecehkan...???Intinya...dianamika yang berkembang saat ini...tidak lain hanyalah sekumpulan otokritik,,,terhadap penyelenggara Negri kita tercinta saat ini..!!Malaysia tidak salah.!!!

15 Juni 2009 23.37  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda