Negeri Kita di Ambang Kehancuran Lingkungan


POS KUPANG/APOLONIA DHIU
SEMINAR--Para peserta saat menghadiri seminar sehari memperingati Hari Lingkungan Hidup yang digelar KMK FKM Undana, Sabtu (6/6/2009)


Dari Seminar Sehari memperingati Hari Lingkungan Hidup

Oleh Vinsen Making
KMK FKM Undana

LINGKUNGAN adalah tempat di mana manusia hidup dan berinteraksi dengan sesamanya. Lingkungan menjadi hal yang penting mengingat ia menjadi medium terjadinya interaksi di antara makhluk hidup. Sadar atau tidak lingkungan kita terus berubah dari waktu ke waktu. Dampak perubahan lingkungan ini sangat jelas mempengaruhi seluruh kehidupan di biosfer ini.

Dewasa ini seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa kita sadari tengah membawa begitu banyak masalah pada lingkungan. Di satu sisi kita berupaya semaksimal mungkin untuk memanfaatkan lingkungan melalui ekslorasi dan ekspoitasi. Namun di sisi lain tindakan ini membawa dampak buruk bagi lingkungan. Berbagai kerusakan lingkungan yang sudah dan tengah terjadi saat ini mengisyratkan suatu pertanda bahwa kita harus terus waspada dan berefleksi serta berbenah diri.

Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang berat dalam permasalahan lingkungan. Terjadinya banjir, tanah longsor, gagal panen, tingginya angka penyakit menular merupakan bagian dari dampak tersebut. Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu bagian dari wilayah Indosesia juga mengalami hal serupa.

Bencana gempa bumi yang disusul tsunami yang melanda wilayah Flores pada Desember 1992, bencana banjir di wilayah Timor barat pada tahun 2000, bencana gempa bumi di alor 2002, banjir dan tanah longsor di Manggarai dan wilayah Timor, serta pergeseran kerak bumi di wilaya kecamatan Fatuleu kabupaten Kupang saat ini, adalah bagian dari isyarat tersebut.

Berdasarkan fenomena ini, Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St. Thomas Aquinas FKM Undana, menggelar seminar sehari bertajuk "Bersama Selamatkan NTT dari Perubahan Iklim" pada Sabtu, (6/6/2009). Acara ini dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya, sekaligus sebagai pembicara utama.

Dalam materinya yang bertopik "Peran Pemerintah dalam Menanggulangi Masalah Kesehatan Lingkungan di NTT", Lebu Raya memaparkan berbagai permasalahan global yang tengah mendera wajah NTT. Berbagai permasalahan tersebut antara lain iklim/suhu dan perubahan cuaca yang tidak menentu sebagai akibat pemanasan global, rendahnya curah hujan dan tidak merata (jumlah curah hujan : 3 - 4 bulan), lahan tidak produktif yang masih banyak, 2/3 wilayah NTT merupakan daerah yang curam dan terjal, kerusakan lingkungan dan pencemaran di sekitar daerah tangkapan air, daerah rawan bencana alam sehingga menimbulkan kerugian fisik maupun psikis, rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan dan penghijauan (perilaku negatif), kebiasan untuk membakar hutan yang masih tinggi dan emisi kendaraan bermotor.

Selain itu, Lebu Raya juga menjelaskan pemerintah propinsi telah berusaha untuk menanggulangi berbagai dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim yang ada. "Berbagai kerja sama telah dilakukan dengan berbagai pihak untuk menanggulangi gejolak alam ini. Selama ini kita masih berjalan dalam koridor yang ada".

Melihat letak geografis dan topografi dari NTT, Lebu Raya mengimbau supaya seluruh warga masyarakat lebih giat lagi menanam berbagai tanaman di kebun dan pekarangan masing-masing. Sebab selain mengurangi efek pemanasan global, tanaman tersebut dapat memberikan keuntungan sosial dan ekonomi lainnya.

Di akhir materinya Lebu Raya menyatakan komitmenya untuk memperjuangkan NTT menjadi propinsi kepulauan. "Apabila kita nantinya telah menjadi propinsi kepulauan, saya yakin segala permasalahan yang kini tengah kita hadapi, termasuk keresahan kita terhadap perubahan iklim dan lingkungan, dapat kita minimalisir".

Seminar yang dipandu langsung oleh Dekan FKM Undana Ir. Gustaf Oematan M.Si, berlangsung amat menarik. Selain Gubernur NTT, tampil juga pembicara lainnya Apolonaris S. Geru, SP,M.Si, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Lasiana-Kupang, dengan materi "Masalah perubahan Iklim", dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, dengan materi "Potensi Perubahan Iklim Terhadap Masalah Kesehatan Masyarakat" serta Bung Toni dari perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WAHLI), dengan materi "Masalah Perubahan Iklim Pada Skala Global dan Lokal".

Dalam materinya, Bung Toni dengan tegas menyoroti eksploitasi berbagai hasil bumi yang merupakan penyebab utama kerusakan lingkungan. "Bagaimana pun juga segala macam jenis pertambangan akan memberikan dampak yang negatif bagi lingkungan. Dan WAHLI terus bersuara menentang pengeksploitasian yang tidak bertanggung jawab tersebut".

Toni juga memaparkan berbagai fakta tentang bagaimana lingkungan NTT pada beberapa ratus tahun yang silam. "NTT, pada zaman dulu tidak kering seperti saat ini. Daerah kita dulunya adalah kawasan hutan hujan tropis. Hutan cendana kita ada di hampir semua pulau di NTT, antara lain Solor, Sumba, dan pulau Timor. Namun karena terjadi pembabatan besar-besaran oleh kaum penjajah (Spanyol dan Portugis), maka jadilah kita seperti ini," tutur pria asal Jawa ini. (*)


Pos Kupang Minggu 14 Juni 2009, halaman 14 Mei 2009

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda