P o l w a n

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

"MAMA....! mama.....!" teriak Vivi dari kamarnya. Teriakan itu menandakan bahwa Vivi sudah bangun dan minta digendong mama. Mendengar pang-gilan itu, mama harus segera melepaskan apappun yang dikerjakannya dan secepat-nya menemui putrid bungsunya itu.

Terlambat sedikit saja, bisa berakibat fatal. Vivi akan ngambek dan tidak mau ke sekolah.
Dari kamarnya Vivi digendong mama menuju ke kamar mandi untuk dimandi-kan dan digosok giginya. Dari kamar mandi Vivi digendong lagi ke kamar tidurnya.

Di kamar itu Vivi dipakaikan seragam dan sepatu sekolah. Kemudia mama menggen-dong Vivi ke ruang makan. Vivi disuapi sarapan dan diminumkan susu. Selanjutnya mama menggendong Vivi ke ruang tamu menunggu mobil jemputan datang.

Melihat perilaku Vivi yang sangat manja itu kakaknya Yos sangat kesal. "Itu, dasar anak manja, pagi-pagi sudah merepotkan mama " tukas Yos.
"Terserah aku. Aku kan anak bungsu ," jawab Vivi ketus.
***
Suatu sore Mama kedatangan tamu. Tamu itu adalah Tanta Tin, sepupu mama, yang sekarang sudah menjadi anggota Polwan. Mama lalu memperkenalkan Yos dan Vivi kepada Tanta Tin.
"Si sulung ini namanya Yos. Dia sudah kelas empat. Cita-citanya ingin menjadi dokter, tanta ," kata mama sambil mengelus-elus rambut Yos.

"Nah yang bungsu ini, Vivi. Walaupun masih di TK tapi dia bercita-cita ingin menjadi Polwan seperti Tanta Tin ," ujar mama sambil memeluk Vivi.
"Tapi sangat manja dan sering tidak masuk sekolah, Tanta ," sela Yos.

"Wah, kalian berdua hebat. Tapi kalian harus tahu bahwa untuk mencapai cita-cita itu, terutama yang hendak menjadi Polwan, kalian harus mandiri dan disiplin. Mandiri artinya melakukan segala suatu sendiri.

Misalnya bangun pagi kita harus me-rapihkan tempat tidur sendiri, mandi, berpakaian dan sarapan, semuanya kita lakukan sendiri tanpa bantuan Mama atau Bapak ," tutur Tanta Tin.

"Disiplin itu apa, Tanta ?" kini giliran Vivi yang bertanya.
"Disiplin adalah kemampuan untuk mengendalikan diri agar dapat mentaati sesuatu yang telah ditetapkan. Misalnya, suatu pagi Vivi marah pada mama karena lupa menyeterika baju seragam.

Vivi harus dapat mengendalikan kemarahan itu dan tetap ke sekolah seperti biasa ," jelas Tanta Tin.
"Wah, berat juga ya menjadi Polwan itu, Tanta ?" Vivi mulai ragu.

"Tidak juga, jika hal itu sudah dilatih sejak kecil, kalian akan terbiasa ," jawab
Tanta Tin.
* * *
Mama heran pagi itu tidak terdengar lagi teriakan Vivi. Mama khawatir jangan-jangan putrinya itu sakit. Mama mencoba menengok Vivi di kamarnya. Alang-kah terkejutnya mama ketika didapatinya kamar itu kosong. Tampak bantal dan selimut sudah teratur rapih.

Mama tersenyum, rupanya Vivi hendak melaksanakan apa yang dikatakan Tanta Tin kemarin. Terdengar siraman air di kamar mandi. Itu pasti Vivi, teak mama.

Mama segera berlari ke dapur, membuat nasi goreng dan telur mata sapi kesukaan Vivi. Ketika Vivi selesai berpakaian dan hendak sarapan didapatinya makanan kesukaannya itu sudah tersaji di atas meja.
"Nasi goreng ini untuk Vivi, ya Ma ?" tanya Vivi.

"Ya, sarapan istimewa ini mama siapkan khusus untuk polwan mama, yang
sudah mandiri dan disiplin ," kata Mama sambil tertawa bahagia. (*)


Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda