Puisi-puisi Charles Rudolf Bria

Saat Tenggelam

Di tepi ladang aku meragu
saat ku kembali ke rumahmu
jejak dulu hilang lenyap sampai tak berbekas
dan aku tak lagi mengingatmu
sebagai wanita petani
karena suamimu lebih dulu

tenggelam sebagai petani
bau parfum kota membuatmu merontak
sampai rontok, harapanmu maju
berkalang kabut.
semua yang kau pikir
mati tepat di jantung kota,
dan kau merasa
tidak lagi seperti tuan kecil
di rumah daun itu
masihkah kau berpaling?
kembalilah ke sawahmu dulu.
susun lagi sayap-sayap patahmu
lalu tersenyumlah, saat anak-anakmu
berlari menari bersama layang-layang
di atas pematang yang pernah sepi
Pondok Bambu'08


Rumah Luka

sepotong senja di atas meja makan.
segaris wajah coklat tua
dari deretan dinding kusam.
tiba-tiba tendangan pertama
mario terlempar di sebuah jendela
senyap kulintang di kamar jingga.

tendangan kedua tepat di perutnya
mario jatuh di bibir ranjang.
dan di pintu keluar
dia berbagi lagi liku luka;
semua tentang rumah ini hanya rintihan
dan saat dia kembali, luka itu seperti abadi
selamanya
Ini rumah luka
sayapnya pernah patah di sini.
ini air mata mata air
tempat tidur cinta.
mario sudah kembali.
dan tak pernah akan kembali
selamanya ini rumah luka
Desember' 07


Pos Kupang Minggu 21 Juni 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda