Ronaldo

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

GURU bidang studi tidak masuk pagi itu. Akibatnya kelas menjadi sangat gaduh. Kegaduhan itu terhenti seketika saat Bapak Kepala Sekolah muncul dari balik pintu. Dia menggandeng seorag anak laki-laki berperawakan sedang, berkulit terang, namun berambut keriting.

"Anak-anak,hari ini kamu mendapat seorang teman baru. Namanya Christiano Ronaldo, tetapi dia biasa dipanggil Ronaldo. Dia dan keluarganya dulu tinggal di Poso, Sulawesi tengah.

Namun karena terjadi kerusuhan di sana, maka mereka memutuskan untuk pindah ke daerah kita ini, yang juga merupakan kampung asal bapaknya. Sedangkan mamanya orang Toraja," jelas bapak kepala sekolah. Setelah acara perkenalan diapun pamit untuk kembali ke ruangannya.

"Huh, berani benar kamu memakai nama Chriatiano Ronakdo. Apa dengan kakimu yang pincang itu, kam bisa bermain sepak bola sehebat dia ?" tanya Juan sinis. Juan merasa gusar. Dirinya saja yang merupakan striker handal di sekolah itu tidak berani menyandang nama itu.
"Tidak ada gunanya kamu menghina dia, Juan. Nanti saja pada pertandingan antar kelas nanti kita buktikan apakah dia bisa bermain sepak bola atau hanya menyan-dang nama besar itu saja," ujar Mario yang merasa simpati pada Ronaldo.

***
Pada pertandingan antar kelas Ronaldo ikut bermain membelas kelasnya. Lawan mereka di babak awal adalah kelas yang selama ini sering masuk final. Karena itu Ronaldo benar-benar berkonsentrasi bermain, agar kelasnya bisa memenangkan pertandingan tersebut untuk dapat lolos ke babak berikutnya. Namun hal itu tidak ber-laku bagi Juan.

Dia hanya ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia lebih hebat dari Ronaldo. Tujuannya hanya satu menciptakan gol lebih dahulu dari Ronaldo.
Ambisi yang membebani membuat permainan Juan menjadi sangat kaku. Semua umpan matang yang diberikan kepadanya menjadi sia-sia karena tendangannya selalu melenceng keluar gawang.

Karena semua pemain mereka turut mrmbantu menyerang, maka pertahanan menjadi lemah. Hal itu dimanfaatkan pemain lawan sehing-ga gawang mereka lebih dahulu kebobolan.

Melihar situasi tidak menguntungkan, Ronaldo mengambil alih penyerangan. Umpan tidak lagi diarahkan Mario kepada Jua n, namun kini diarahkan kepada Ronaldo yang berani masuk dan mengobrak-abrik pertahanan lawan. Dengan kecepatan berlari yang melamapaui kecepatan pemain belakang lawan, Ronaldo menyambar umpan matang Mario di mulut gawang dan berhasil menjebol gawang lawan.

Kedudukan me-jadi imbang. Teman-temannya di pinggir lapangan pun bersorak kegirangan.
Meski kini mendapat penjagaan ketat dari pemain belakang lawan, namun hal itu tidak membuat Ronaldo kehilangan akal. Kerja sama yang dilakukannya dengan Mario membuat pemain belakang lawan kewalahan.

Kali ini sebuah umpan lambung dari Mario ke arah gawang. Ronaldo yang lebih dulu mencapai bola lengsung menan-duknya ke sudut gawang membuat kiper mati langkah dan gol. Kini kelasnya berbalik memimpin.

Teman-temannya langsung memanggul dan mengelu-elukan Ronaldo ketika permainan usai. Juan hanya menatapnya dari jauh dengan wajah sendu.
"Nah, terbuktikan? Ronaldo yang pincang itu bisa bermain sepak bola. Maka-nya jangan menghina orang cacat !" kata Mario. Juan hanya tertunduk. *


Pos Kupang Minggu 21 Juni 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda