Senja di Taman Langit

Cerpen Vinsen Making

ANGIN senja berhembus perlahan, membawa butir-butir gerimis bertebaran di antara dedaunan kamboja. Biasan mega yang kuning, mencuat di ufuk barat membuat terpesona tiap mata yang memandangnya. Kerdip lampu-lampu jalan dan juga lampu sorotan kendaraan bermotor menambah gemerlap nuansa senja itu. Di atas tembok yang dibangun di halaman parkir rumah jabatan walikota kupang, berjejer beberapa anak muda yang saling berpasangan.

Sepasang di antaranya adalah Lya dan Angky. "Lya, apa yang paling engkau sukai dalam hidup ini?" Lya melempar pandangannya ke arah langit yang sudah semakin gelap. "Yang paling Lya sukai adalah menikmati suasana malam dengan ribuan bintang di langit, sembari mendengarkan debur ombak di pantai". Angky tersenyum dengan berat. "kalau ka sendiri bagaimana?" Angky menarik nafas dalam-dalam, lantas dengan pelan ia berujar "Ka paling senang kalau lihat Lya tersenyum". Lya menjadi salah tingkah. Wajahnya yang bulat memerah seketika.

Dengan sedikit tersipu Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Angky. Kini giliran Angky yang salah tingkah. Mengapa tidak. Gadis yang kini duduk di sisinya adalah orang yang belum terlalu dikenalnya. Mereka baru kenalan tiga hari yang lalu.

Dalam hatinya bertanya, mengapa gadis ini nekad melakukan adegan ini? Bukankah hal ini hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah jadian? "Lya,... jujur... Saya baru mengenalmu tiga hari yang lalu. Lantas kenapa kita bisa akrab seperti ini?" Lya menarik kembali kepalanya. Dan dengan sedikit menyembuyikan rasa malunya ia bergeser seperempat jengkal menjauh dari Angky.

"Sory Ka,.. Be terbawa dengan suasana senja ini...". Angky menatap lekat pada wajah Lya. Ia berusaha membaca apa yang ada dalam pikiran gadis yang baru dikenalnya itu. Ada suatu getaran menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya, menyengat seperti sengatan listrik bertegangan rendah. Angky tak mampu lagi menahan gejolak rasa yang ada dalam dadanya, sejak pandangan pertamanya.

"Lya,.. walau baru mengenalmu tiga hari yang lalu, namun rasanya Aku sudah berada seribu tahun di sisimu. Jujur aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama". Wajah Lya merah padam.

Ia gemetar seperti sedang terkena demam. Apakah aku tengah bermimpi? Guman Lya dalam batinnya. Mengapa tidak, Angky adalah cowok idamannya sejak dua tahun silam. Sosok yang satu ini selalu memberikan arti tersendiri dalam hidupnya. Angky adalah sosok pria yang tenang, kalem dan berwibawa.

Lya mengenalnya pertama kali saat Angky membawakan materi dalam acara penerimaan anggota baru di sebuah organisasi kemahasiswaan. Di mana saat itu Lya adalah salah satu pesertanya. "Ka, ini adalah saat yang Be nanti-nantikan sejak dulu. Ka memang baru mengenal Be tiga hari yang lalu. Tapi Be su kenal ka sudah sejak dua tahun lalu. Setiap kesempatan, Be berusaha merebut perhatian ka. Tapi ka slalu cuek dengan Be... Ka, Be tak bisa bilang apa-apa lagi...." Angky merapatkan duduknya. Melingkarkan lengannya ke bahu Lya dan dengan mesra mengecup kening gadis itu...

Secuil kenangan di taman langit, sedetik kisah kasih di atas hamparan cinta, menghasilkan sebongkah permata lasurit yang indahnya tak tertandingi. Perjalanan cinta keduanya menjadi buah bibir yang menghebohkan. Lya, terlahir dari kalangan atas alias konglomerat. Ayahnya adalah salah seorang pejabat tinggi di Kota Kupang.

Sedangkan Angky adalah orang biasa yang berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di pesisir kota karang. Angky sudah beberapa kali mendatangi rumah Lya, namun selalu saja ditolak oleh pihak keluarga Lya. Herannya, semakin sering ditolak, Angky semakin sering datang. Ia tak peduli dengan semua ocehan dan omelan dari orangtua Lya. Mengapa Angky begitu nekad melakukan hal itu? Inikah yang dinamakan cinta? Namun bukankah perkenalannya dengan Lya begitu singkat? Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?

Senja kembali bergeming pada pusaran kaki langit yang makin kelam. Peredaran waktu terasa begitu singkat untuk sebuah ceritera cinta. Taman langit kembali sunyi. Angky terpekur sendiri di tempat di mana beberapa hari lalu ia memproklamirkan cintanya pada kekasih jiwanya. Angannya kembali pada lekuk indah tubuh yang pernah dalam dekapan cintanya. Tak terasa air mata kelelakiannya mengucur dari pelupuknya.

Angky menangis. Sebuah tangis yang jujur dari jiwa seorang pejuang cinta yang hampir luluh oleh panasnya hawa asmara.
Ia berada pada tepi tebing antara cinta dan perjuangan. Antara hati nurani sosial dan individunya. Angin senja terus berhembus dari arah barat, menerbangkan sejuta aroma dari kericuhan kota karang yang semakin menggila.

Ada aroma harum melati cinta yang tengah bersemi, namun ada juga aroma tengik bangkai korupsi, kolusi dan nepotisme yang menyeruak dari gerombolan serigala penjilat uang rakyat. Kota kupang kota yang penuh dengan kasih dan cinta yang tulus, kini mulai tercemar dengan kebohongan dan kemunafikan. Para penguasa semakin kaya raya, sedangkan si jelata semakin merangkak dalam kemiskinan.

Baru pagi tadi Angky menembus blokade pertahanan di rumah milik kekasih jiwanya. Ia di disambut dengan hangat oleh penghuni rumah. Suatu sambutan yang sarat makna. Mengapa terjadi perubahan yang sangat drastis seperti ini? Jawabannya ada tersirat di dalam bisikan sang penguasa ke telinga Angky.

Penguasa itu tak lain adalah ayah kandung dari Lya. Apa yang dibisikan tersebut dan mengapa ada tangis seoarang Angky di taman langit di senja ini?

Lya, sosok gadis pujaan jiwanya kini berada dalam tawanan para penyamun. Untuk menyelamatkannya, ia harus mempertaruhkan perjuangannya. Menghentikan demonstrasi bertajuk pengusutan kasus KKN di tubuh sebuah instansi. Untuk meneruskan hubungannya dengan Lya, Angky diminta untuk menghentikan aksi demonstrasi pengusutan kasus KKN di salah satu instansi dimana ayah Lya berkecimpung. Maklum, Angky adalah pemimpin sebuah organisasi kepemudaan yang sangat getol menyuarakan keadilan dan kebenaran. Ia adalah sosok aktivis yang cukup disegani di kalangan elite politik, baik kota maupun propinsi dan bahkan pusat. Ia memiliki jaringan kerja sama yang rapi dan solid. Organisasi mereka bahkan memiliki relasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hari semakin gelap. Suasana di taman langit makin shyadu. Angky menoleh dengan berat pada sebuah bangunan megah yang berada tepat di belakangnya. Cahaya lampu yang terang benderang membuat rumah tersebut sangat anggun dipandang mata. Itulah Rumah Jabatan Walikota Kupang. Ingin rasanya Angky berlari mengadu pada beliau yang berada di dalam rumah tersebut.

Namun semangatnya kembali kendur saat melihat dua orang satpam berwajah garang yang menjaga gerbang rumah tersebut. Angky kembali tertunduk lesu sembari menyeka butir bening yang masih menempel di pipinya. "Aku harus memilih...yah,.. aku harus memilih..." demikian guman Angky dalam diam. Tiba-tiba sebuah kijang berplat merah berhenti tepat di depannya. Salah satu pintu belakangnya terbuka. Seorang gadis cantik keluar dari sana dan berlari menuju ke arah Angky.

Spontan Angky berlari menyambutnya. Ia adalah sang tawanan yang tengah membutuhkan uluran tangan hati dari Angky. "Lya.." bisik Angky. Keduanya berpelukan amat erat. Seolah melepaskan dahaga kerinduan yang selama ini tak terpuaskan. "Be sayang, Ka.." bisik Lya pada kuping Angky. Angky diam tanpa kata. Pikirannya masih mengambang di taman langit. Pada laksar langit yang bersenjatakan bintang gemintang untuk menegakan keadilan dan kebenaran serta menciptakan kedamaian. Beberapa menit kemudian, keduanya masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan arena tersebut.

Keduanya pergi meninggalkan segalanya dan masuk ke dalam sarang penyamun. Begitu mudahkah cinta mengalahkan perjuangan seorang aktivis dalam mengusut keadilan dan kebenaran? Tak ada yang mampu menjawab. Yang ada sekarang hanyalah gemerincing pedang para laksar langit yang tengah berperang melawan tentara kegelapan di sebuah taman yang bernama Taman Langit...

* Buatmu para aktivis yang tengah sekarat antara cinta dan idealisme


Pos Kupang Minggu 14 Mei 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda