Sr.Lucie Sumarni, CB

Foto Pos Kupang/Alfred Dama

Sr. Lucie Sumarni, CB


Bercerita
Tentang
Pengalaman


TATAPAN mata yang teduh dan selalu memberikan senyuman merupakan kesan pertama bertemu dengan Sr.Lucie Sumarni, CB. Di balik senyum dan keramahannya, wanita yang bernama lengkap Maria Ludwina Sumarni, merupakan sosok yang tegas dan keras untuk menggapai harapan dalam pengabdiannya. Menjalani hidup sebagai seorang guru dan seorang biarawati memang menutup ketabahan hati seorang Suster Maria. Suster yang kini menjadi Ketua Yayasan Swasti Sari (Yaswari) ini sudah 40 tahun hidup membiara pada 31 Januari 2009 lalu.
Berbagai persoalan telah dilewatinya dan diangapnya sebagai pengalaman. Setiap langkah dan karya menurutnya adalah sesuatu yang bermakna dalam hidupnya. Berbagai pengalaman hidupnya ia kisahkan kepada Pos Kupang yang menemuinya beberapa waktu lalu. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Suster Maria. Mengapa Anda memilih menjadi guru? Sebenarnya saya tidak senang jadi guru. Duku saya ingin masuk SMA supaya bisa melanjutkan ke sekolah pertambangan, karena saya senang di pertambangan. Tetapi, bapak angkat saya itu kepala sekolah, jadi ia menginginkan anaknya jadi guru saja, apalagi perempuan. Setelah tamat SMP, saya melanjutkan studi ke SGA (Sekolah Guru Atas). Saya tidak tertarik masuk SGA, tapi untuk menyenangkan orangtua, ya masuklah saya ke SGA. Sementara bapak saya maunya saya ke SGA negeri, tapi saya masuk ke SGA Stella Duce milik suster di Yogyakarta. Apakah tidak ada pertentangan bathin antara keinginan dan kehendak pribadi? Mungkin kami diajar saat kecil bagaimana kita mengalah untuk menang. Jadi, saya tidak berontak, saya lakoni dengan baik saja. Waktu di SGA itulah kembali muncul keinginan saya untuk masuk biara, karena sejak SMP saya sudah ingin masuk biara. Saat saya masuk SGA, orangtua minta saya kost, tidak boleh masuk asrama, karena mereka sudah baca keinginan saya untuk lari ke biara. Akhirnya setelah tiga bulan saya melihat nilai saya tidak bagus, saya mengumpulkan uang saku semua, saya bayarkan untuk masuk asrama. Itu tanpa sepengetahuan orangtua, tanpa izin. Akhirnya, saya masuk asrama, dan sata itu baru saya minta izin orangtua, saya mau masuk asrama. Dari SD sampai SMP saya selalu juara kelas, lalu SGA nilai saya anjlok, paling tinggi itu enam. Saya stres, saya masuk asrama. Ini karena tinggal di kost, ibu kost saya jualan makanan itu masih keluarga juga, kita membantu salah, tidak membantu juga salah jadi waktu belajar habis untuk membantu ibu kost ini. Setelah di asrama, apakah ada perubahan? Setelah masuk asrama nilai saya kembali normal. Terus tidak boleh pulang, jadi saya setiap tiga bulan baru pulang. Saat saya pulang ke rumah, saya bersihkan rumah karena di asrama biasa hidup teratur, lalu ibu saya melihat dan kasihlah saya uang asrama sampai selesai. Di asrama saya sempat menjadi ketua asrama selama 20 bulan. Ceritakan hingga Anda tertarik masuk biara? Saat saya sekolah di SGA Stella Duce Yogyakarta, saya tertarik dengan kehidupan para suster dan saat itu mulai tumbuh keinginan saya menjadi suster, tapi belum berani menyampaikan niat itu kepada orangtua. Setelah tamat, saya mengajar di SMP tempat saya pernah sekolah. Saya juga pernah disuruh bapak untuk melamar jadi PNS dan bapak sudah menghubungi Dinas P dan K untuk proses pengangkatan. Tapi saya tidak berniat masuk PNS, sementara ada suara yang tersamar didengar "Kapan kamu masuk biara". Pada tanggal 19 Maret 1966, saya menulis surat untuk bapak saya; " Bapak, saya tidak mau melamar jadi PNS, saya mau masuk suster". Seperti petir di siang bolong, bapak saya menolak niat saya itu . Tiga hari kemudian, saya sampaikan lagi niat saya setelah ibu saya ke sawah. Akhirnya, pada tanggal 22 Maret 1966 saya pergi tanpa pamit pada ibu saya dan berangkat ke asrama susteran CB Yogyakarta. Saya pamit ke bapak saya dan bapak berpesan "sekali pergi, tidak boleh pulang". Pada bulan Juli 1966, saya pulang untuk meminta izin dan restu orangtua, tapi tidak ada perubahan. Saya terus mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya bapak saya mengizinkan saya menjadi suster. Saya pamit, ibu saya berpesan; "kalau mendapat kesusahan jangan salahkan mama". Dalam buku biografi, Anda mengatakan tidak muda menjadi kepala sekolah. Kenapa? Ketika umur saya baru 23 tahun, saya sudah menjadi guru di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Waktu itu saya telah diperbolehkan mengikrarkan triprasetia (kaul) dan ditugaskan jadi guru di Tanjung Enim. Selama 10 bulan saya di sana. Suatu ketika, saya dipanggil dan ditanya; "kalau kamu mau melanjutkan studi mau ambil jurusan apa?" Saya ambil sejarah karena saya maniak sejarah, tapi tidak jadi. Akhirnya saya disuruh ke Jakarta, dan ditempatkan di TK/SD Tarakanita 3 Simpruk-Senayan, ya dekat kantor Surat Kabar Harian Kompas. Saya merupakan orang pilihan ke delapan karena orang pilihan pertama sampai ke tujuh tidak berani menjalankan tugas di situ. Waktu itu saya tidak tahu apa-apa. Di suruh masuk ke situ, ya masuk saja, baru masuk saja langsung didemo menolak saya oleh masyarakat situ. Pamflet-pamflet sudah tempal di jendela-jendela, di pagar di pastoran, di biara dikirimi surat bahwa masyarakat menolak tapi saya tetap masuk. Awalnya saya mau membuka sekolah itu tanggal 9 Januari, tapi tidak jadi dan mundur lagi, lalu masuk lagi, anak-anak tidak ada. Hari kelima saya bertugas di tempat itu, sekolah dibakar oleh pemuda yang tidak jelas statusnya. Anda masih muda saat itu, apa perasaannya? Saya tidak merasa salah, tapi saya harus menyelamatkan sekolah itu. Waktu itu saya berani menghadapi massa. Massa mengatakan sekolah ini ditolak dan harus dibakar, harus dihancurkan. Saya bilang, silakan tapi izinkan saya masuk untuk ambil tas dan dokumen saya. Ada yang bilang kami yang ambil, tapi saya bilang saya ambil sendiri. Saat saya keluar, saya dilempar pakai batu bata. Saya masih muda saat itu, jadi masih bisa mengelak batu yang dilempar massa tapi tangan saya yang menangkis batu itu terluka. Setelah saya ambil dokumen anak-anak, guru, saya turun tangga dan saya disiram dengan air kapur. Apa yang Anda antisipasi akan adanya peristiwa itu? Mestinya sekolah saya pulang jam satu, tapi saya bilang pada anak-anak pulang jam 11.00 Wita. Guru-guru TK/SD Tarakanita itu saya minta makan memang dan setelah itu baru pulang, karena guru-guru waktu itu juga pendatang semua. Saya sendiri tidak makan. Sudah begitu akhirnya, mereka pulang kami tinggal berdua dengan satu ibu guru. Tidak lama ada rombongan datang, saya tanya ke ibu itu, bu di belakang sekolah ada kuburan ya. Dijawab tidak ada suster, kok mereka mau apa ya. Tidak lama ada teriakan hancurkan Tarakanita, saya lari lompat pagar dan masih ada di dalam. Saya bersembunyi dalam satu ruang dan tunggu saja sampai kaca itu habis. Setelah kaca semua hancur saya keluar dan saya diminta mengamankan diri di rumah RT, tapi saya tidak mau. Sebenarnya saya sudah curiga, tapi saya waktu itu baru berumur 23 tahun, jadi tidak berpikir sejauh itu. Tapi dengan bekal saya pernah ikut leader ship, pernah ikut bersama- sama dengan PMKRI sehingga ada keberanian. Setelah kejadian itu, apa yang Anda alami? Saya di sekap di biara, tidak boleh keluar bahkan saya dikira gila. Kamarku dijaga oleh suster-suster. Saya mau makan pun diantar oleh suster itu. Nah, waktu itu saya bilang mau makan di ruang makan, tidak diizinkan karena saya dianggap gila. Saya melihat suster-suster yang lain menangis. Karena saya dalam situasi sulit bisa makan, orang pikir saya tidak waras, saya dikasih obat ovalium supaya tenang. Apakah Anda punya firasat sebelumnya? Iya, saya sepertinya sudah punya gambaran sebelumnya. Kejadian itu saya ingat hari Jumat tapi sehari sebelumnya atau pada Kamis siang itu saya merasa melihat ada ombak yang menggulung-gulung yang dasyat dan menakutkan. Itu bukan dalam mimpi tapi penglihatan saya pada siang hari. Terus saya keluar dan ketemu beberapa suster dan saya tanya, suster lihat ada apa di luar, dan saya bilang saya melihat ombak besar sekali. Saya dikasih tahu, tidak ada itu, kamu itu berkhayal, tapi kan yang merasakan hanya saya bukan orang lain. Kemudian saya minta izin, apakah saya boleh ke sekolah karena saya mau lihat sekolah sebentar. Sore itu saya masih ke sekolah karena meja bangku baru datang. Nah setelah kejadian bakar itu, meja bangku di susun dan dibakar tapi yang lain diambil oleh orang-orang itu, seperti penjarahan. Sesudah itu, satu tahun saya numpang di Tarakanita yang lain dan setelah setahun kemudian baru kembali lagi tapi dengan perjuangan yang luar biasa. Apa sikap pihak aparat keamanan? Setelah kasus kebakaran itu, saya dipanggil di Komdak DKI Jakarta (sekarang Polda Metro) diinterogasi, disekap di kamar yang begitu kecil dan gelap, seperti pengakuan dosa. Polisi di sebelah sana, saya di sini dengan batas kawat, jendelanya kawat, saya dibentak-bentak. Mungkin maksudnya untuk test mental. Saya bilang, pak boleh tanya dulu sebentar. "Ndak bisakah bapak itu tanya halus-halus, tidak usah bentak-bentak". Setelah itu dia halus-halus dan baik-baik dengan saya. Terus besoknya saya datang ke Komdak itu, diantar ke Kepala Komdak, saya diperlakukan baik, disuruh makan dan minum kopi, maka saya jadi kenal dengan banyak pejabat. Bagaimana kelanjutan Anda di sekolah itu? Tahun 1974, saya memberi ujian pertama SD dan sekolah saya juara di Jakarta Selatan. Sejak itu saya resmi diakui pemerintah sebagai kepala sekolah. Suster pernah tugas di Bengkulu. Bagaimana di sana? Waktu saya ke sana usia saya sudah 40 tahun, pengalaman sudah banyak, suka duka sudah banyak. Lalu saya mulai menata hidup saya, itu retret agung bagi saya. Karena saya bisa menikmati keindahan alam. Jadi, keindahan dalam mazmur itu bisa saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Rumahku di dekat pantai, jadi kalau pantai selatan bisa bayangkan seperti di Parang Tritis. Kalau di Timor seperti ombak yang besar di Kolbano, ombak berdebur seperti itu tempat tidur bergoyang-goyang lalu di kapela kacanya sampai berbunyi. Di situ saya bisa merasakan arus laut yang bisa menenggelamkan orang. Hutan-hutan dengan binatang buasnya. Pagi jam sembilan suara siamang, nanti sore siamang mengaung lagi. Itu bisa kita rasakan. Banyak ular besar di jalan. Orang di makan ular juga pernah saya lihat. Jadi saya bisa menikmati. Bagaimana Anda bisa ke Kupang? Kesasar.... (ha...ha...ha), saya sangat tidak tertarik dengan Kupang karena di sini angin kencang. Tahun 1979 saya mendarat pertama kali di Kupang. Waktu saya ditugaskan ke Lembata pertama kali, ini seloyor ini (tudung) hampir terbang karena angin. Saya mesti ikat, kalau tidak terbang, ya hilang. Pada suatu hari saya jalan di Bonipoi ke arah Katedral, ada pohon mangga, seloyorku kecantol di pohon mangga karena angin. Waktu saya jalan saya merasa kok kepala saya ringan, ada apa? Ternyata seloyor saya sudah terbang dan melambai-lambai di pohon mangga. Saya di Lembata tahun 1979 tidak lama saya tugas tiga bulan dan jadi kepala sekolah satu minggu. Saya pindah lagi ke Timor Timur. Di Timor Timur saya bertugas dua tahun, sakit dan kembali ke Jawa. Saya pindah ke Magelang selama delapan tahun, lalu ke Bengkulu selama empat tahun. Saya kembali ke Timor-Timur pada Juni 1993. Setelah tujuh tahun, baru saya ikut mengungsi ke Kupang. Setelah mengungsi ke Kupang. Keluarga saya menginginkan saya kembali ke Jawa, tapi tidak bisa karena saya datang ke Kupang bersama 1.614 orang guru dari 174 sekolah. Saya tidak punya niat meninggalkan mereka. Saya tidak bisa pulang ke Jawa karena saya pikir guru ini punya anak dan istri, mereka harus hidup dan mendapat pekerjaan dulu. Jadi saya hidup di sini dan buka meneruskan Yayasan Paulus. Setelah tujuh bulan, saya mendapat surat pindah ke Surabaya, Jawa Timur, tapi saat siap berangkat saya ditanya oleh Bapak Uskup, kalau tidak tetap di Kupang kecewa atau tidak, dan saya jawab tidak. Karena saya sudah tua, jadi mau pikir apa lagi. Dan, saya diberi tahu oleh Bapak Uskup untuk pimpin di sini, ya sampai hari ini. Anda ditunjuk menjadi Ketua Yaswari. Apa yang dilakukan? Saya mulai memimpin Yaswari sejak tahun 2000. Saya tidak tahu mulai dari mana bekerja. Tahun pertama saya lebih banyak mengamati, melihat dengan mengunjungi sekolah-sekolah di bawah naungan Yaswari. Di TTS ada 37 sekolah dan jarak yang berjauhan dengan kondisi jalan tebing dan berbatu. Banyak juga gedung sekolah yang tidak layak pakai. Saya mulai melakukan pembenahan keuangan, di mana semua pembayaran harus melalui satu pintu, yaitu bank. Langka ini berjalan baik dan kondisi keuangan mulai membaik. Untuk memajukan lembaga ini saya buat aturan, tapi didemo terus. Didemo karena buat aturan. Kalau tidak buat aturan, ada orang-orang yang merasa kecewa dan buat intimidasi, ya itu salah satu risiko perubahan. Setelah uang sekolah lewat bank, maka gaji guru-guru yayasan mulai naik. Sekarang Swastisari pelan-pelan merayap tapi pasti. Bagaiman dengan kesejahteraan para guru, terkait peningkatan mutu di lembaga ini? Kesejahteraan itu memang kami utamakan, sejauh yayasan itu mampu. Kalau kita lihat waktu baru masuk pertama di sini, guru kontrak gajinya hanya Rp 50 ribu, golongan III A gaji hanya Rp 125 ribu, sekarang sudah lebih dari Rp 1 Juta. Guru kontrak sudah sampai 650 ribu, di SoE ada Rp 500 ribu. Karena di SoE dana yang diperoleh dari sekolah-sekolah itu sangat minim. Jadi, masih disuport dari sini (Kupang) untuk SoE dan Alor. Lama-lama kita jadi setara dan kita bisa pindahkan guru dari Kupang ke SoE, dari SoE ke sini atau ke Alor. Juga memperhatikan guru-guru dari pedalaman yang memang berkualitas diusahakan dana agar bagaimana bisa sekolah lagi. (alfred dama) Buat Puisi DI sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Yayasan Swastisari (Yaswari) Keuskupan Agung Kupang, Sr.Lucie Sumarni selalu menyempatkan diri untuk menulis puisi. Puisi- puisi merupakan jeritan jiwa yang disalurkan dalam tulisan. Namun puisi-puisi tersebut tidak pernah dipublikasikan. "Semua puisi itu hanya untuk diri sendiri saja, buat juga biasa-biasa saja," tutur Suster Lucie. Beberapa puisi karya Sr.Lucie, antara lain yang pernah dimuat di Pos Kupang berjudul Aku Bimbang. Pusisi itu mengisahkan perjuangannya di Dili dalam bidang pendidikan, namun ia selalu dihadapi dengan kendala berbagai keterbatasan. Ada lagi puisi Tuhan itu Setia yang mengisahkan kesetiaan Tuhan pada diri Sr. Lucie. Bukan hanya puisi, setiap pengalaman pribadinya juga selalu diceritakan kembali dalam buku harian. Buku harian merupakan teman curahan hatinya untuk mengisi hari-hari panjang dalam kesibukannya. Sebagai guru, Sr.Lucie juga sangat prihatin dengan perilaku pelajar sekarang. Perkembangan media komunikasi yang begitu cepat tentu berpengaruh pada mental anak- anak sehingga mempengaruhi mental mereka. "Tetapi, kembali pada sekolah, bagaimana sekolah mampu memotivasi anak-anak dan figur guru itu mejadi teladan. Ini kadang- kadang kita juga terengah-engah. Karena biar bagaimanapun guru itu tidak bersemangat, guru itu tidak energik. Sebagai inovator itu kurang untuk anak-anak, juga tidak tertarik dan disepelekan oleh anak-anak," ujarnya.(alf)

Data Diri
* Nama :Maria Lidwina Sumarni
* Tempat Tanggal Lahir : Sleman 13 Juli 1946
* Pendidikan Lulus SR Tahun 1958
SMP Tahun 1962
SGA Tahun 1965
Sarjana Muda Tahun 1978
* Masuk biara 26 Juli 1966
*Guru SMP Emanuel Tanjung Enim 1966
* Kepala TK/SD Tarakanita III Tahun 1970-1976
* Kepala SMP St.Pius Lewoleba (3 bulan) 1979
*Ketua Yayasan St.Paulus Dili Tahun 1993-1999
*Ketua Pengurus Harian Yayasan Swastisari Keuskupan Agung Kupang
*Anggota Badan Akreditasi Sekolah Tahun 2003-2007
*Sekertaris Badan Akreditasi Propinsi NTT 2007-2012

Pos Kupang Minggu 31 Mei 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda