Uang Mama Hilang

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

"AH mama, mana cukup uang dua ribu untuk jajan seharian di sekolah, protes Kris saat mamanya memberi uang jajan.
"Kamu kan sudah sarapan dari rumah, untuk apa uang jajan banyak-banyak? Lagi pula kamu ke sekolah untuk menuntut ilmu bukan untuk makan-makan," jawab Mama.


Tapi Mama janji kalau gaji Papamu naik, maka uang jajanmu akan Mama naikkan," janji Mama. Meskipun uang jajannya tidak seberapa banyak, namun setiap istirahat Kris selalu ke kantin. Kue apa saja yang disukainya pasti dilahap. Tidak peduli uangnya kurang. Dengan gampang dia mengelabui penjualnya.
"Terang saja, kekurangannya kalian catat saja pada buku hutang kalian. Kalau Papaku sudah gajian akan kulunasi semuanya," Kris membual.

Hingga suatu hari ketika Kris hendak berhutang, seorang penhual mencegahnya.
"Kali ini kamu tidak bisa berhutang lagu Kris. Hutangmu sudah cukup banyak untuk bulan ini. Jika digabung dari semua penjual, jumlah hutangmu tujuh puluh dua ribu. Kami harapkan besok sudah dilunasi semuanya. Kalau tidak, kami akan laporkan hal ini ke kepala sekolah," ancam si penjual.

***
Kris bingung, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar hutangnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah dia berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan uang. Ah.. ia mendapat akal. Sepulang belanja, Mama biasa menaruh dompetnya di atas kulkas. Kesempatan itu akan dipakainya untuk mengambil uang dari dompet itu.

Idenya itu langsung dipraktekkan Kris di sore harinya. Ternyata berhasil. Dia mengambil uang seratus ribu dari dompet mama tanpa diketahui siapapun. Uang itu langsung digunakan untuk membayar hutangnya di kantin keesokan harinya. Sedangkan sisanya dikantonginya. Dia kembali membual.

"Benar kan kataku? Sekarang Papaku sudah gajian, jadi aku membayar lunas hutang kalian. Bahkan masih aku kantongi pula sisanya," bualnya.

***
Malam harinya seusai makan Mama menemui Kris di meja belajarnya.
"Kris, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?" tanya Mama sambil menunjukkan sejumlah uang kepada Kris. "Uang ini Mama temukan saat hendak mencuci celana seragammu. Bersamaan dengan itu uang di dompet Mama hilang seratus ribu.
Bukti ini menunjukkan bahwa kamulah yang mengambil uang di dompet Mama," tuduh Mama. Kris tidak dapat berkutik.
"Betul, Ma. Kris yang mengambil uang itu," Kris mengaku.
"Untuk apa kamu mengambil uang sebanyak itu?" selidik Mama.

"Untuk membayar hutang di kantin, Ma. Hutang Kris seluruhnya tujuh puluh dua ribu," jawab Kris.
"Jadi uang jajan yang Mama berikan itu tidak cukup dan kamu harus berhutang lagi?" Mama tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Uang jajan dari Mama Kris habiskan saat istirahat pertama, bahkan itupun tidak cukup dan harus berhutang. Pada istirahat kedua berhutang lagi," tutur Kris.
Mama menjadi marah mendengar jawaban itu.
"Dasar anak rakus. Berarti kamu ke sekolah itu hanya untuk makan, bukan untuk menuntut ilmu. Anak seperti kamu harus diberi pelajaran. Mulai besok kamu sarapan yang banyak karena Mama tidak akan memberikan uang jajan untukmu. Uang jajanmu dipotong untuk membayar kembali uang Mama yang kamu ambil. Jika sudah lunas, baru Mama berikan uang jajamu lagi," tegas Mama.

Mendengar itu Kris tidak dapat berbuat banak selain menyesali kerakusannya selama ini.. (*)


Pos Kupang Minggu 14 Juni 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda