Viktor Yermias Tiran, S.Sos,M.Si

FOTO DOK Keluarga
Viktor Yermias Tiran bersama keluarga

Bangun Komitmen Raih Perubahan


DILANTIK 25 Maret 2009 menjadi Wakil Bupati, Viktor Yermias Tiran, S.Sos, M.Si, mendampingi Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki, MS, Ph.D yang dipilih masyarakat untuk memimpin Kabupaten Kupang periode 2009 - 2014.
Menjadi Wakil Bupati Kupang, bagi Viktor, bukan sekadar mendapat pengakuan sosial. Lebih dari itu, sejak awal Viktor memiliki komitmen kuat bersama Bupati Titu Eki untuk membawa Kabupaten Kupang menuju suatu perubahan dengan berbagai program strategis.

Apa pun alasannya, Viktor akan tetap berusaha mewujudkan impiannya dengan berbagai program untuk meyakinkan masyarakat. Dia tahu, masyarakat dewasa ini tidak suka lagi dibujuk dengan janji-janji manis melalui visi-misinya. Mereka ingin bukti nyata yang diwujudkan melalui pembangunan. Simak pandangan dan sikap Viktor dalam wawancaranya dengan Pos Kupang.

Kenapa Anda mau menjadi orang nomor dua, sementara semua kebijakan ada pada orang nomor satu?
Menjadi orang nomor dua, awalnya sulit diterima oleh keluarga dan sahabat. Karena mereka beranggapan bahwa menjadi wakil itu sama halnya dengan ban reserf, jika dibutuhkan baru dimanfaatkan. Untuk menepis hal itu, melalui suatu pergumulan dan permenungan yang panjang, baru ditemukan suatu jawaban, bahwa kepercayaan yang diberikan itu tidak datang dua kali.


Karena itu saya bertekad akan membuktikan bahwa menjadi orang nomor dua bukan sebagai ban reserf, akan tetapi memiliki peran yang sama, bersama bupati menjalankan maksud dan tujuan yang sama untuk membangun Kabupaten Kupang yang bermartabat.

Menjadi orang nomor dua tidaklah mudah, tetapi berkat motivasi dari diri dan keluarga ketika diajak diskusi oleh Pak Ayub Titu Eki yang menjadi Bupati Kupang saat ini, beliau menginginkan orang muda untuk mendampinginya, untuk mewujudkan dan membawa perubahan di Kabupaten Kupang yang sangat lamban.

Nomor satu maupun nomor dua sama-sama memiliki pandangan dan tujuan yang sama untuk mewujudkan cita-cita yang luhur, membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara nomor satu dan nomor dua, karena semua akan direncanakan dan dikerjakan secara bersama-sama demi terwujudnya pembangunan. Kami memiliki komitmen yang sama, sehati, sesuara membangun masyarakat yang mandiri dan bermartabat.

Sebagai orang nomor dua, saya tetap konsisten mendukung bupati. Beliau sebagai pimpinan dan juga sebagai orangtua saya yang memiliki kebijakan. Kami akan tetap mempertahankan kebersamaan ini selama lima tahun memimpin Kabupaten Kupang.

Setelah dilantik, Anda selalu turun ke masyarakat. Apa yang Anda rasakan?
Ketika berada di tengah-tengah masyarakat, begitu banyak hal yang mereka keluhkan. Pembangunan infrastruktur sangat lamban dan tidak merata, perkembangan ekonomi pun dirasakan berjalan di tempat, tidak membawa perubahan yang signifikan di semua kecamatan. Masyarakat kita membutuhkan suatu perubahan yang komprehensif selama lima tahun kepemimpinan ini. Banyak kebijakan yang dirasakan masyarakat selama ini tidak semuanya memihak pada masyarakat kecil. Hal tersebut akan diputuskan dan memulai sesuatu program yang baru berdasarkan kebutuhan dan permintaan masyarakat. Sasaran program adalah membawa perubahan dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat dan menata wajah Kabupaten Kupang lebih baik dengan berbagai kebijakan yang memihak pada rakyat.

Ketika membuat suatu keputusan selalu didahului dengan mendiskusikan konsep tersebut bersama bupati sebagai atasan dan juga sebagai orangtua yang bijaksana. Menuangkan semua kebijakan dan program pembangunan dalam konteks pemeritahan, juga melibatkan unsur birokrasi sebagai mesin penggerak menjadi jembatan untuk memfasilitasi pemerintah dan masyarakat yang harus dipersiapkan secara baik jika tidak ingin program pembangunan ini sia-sia. Semua kebijakan yang diambil bupati juga selalu didiskusikan dan selalu membuka ruang untuk menerima masukan sebelum bertindak. Kami tidak mengenal istilah keputusan sepihak dan berpikir langsung berbuat, tetapi mempertimbangkan secara matang.

Setelah menjadi Wakil Bupati, Anda harus meninggalkan anak tunanetra yang diasuh selama ini. Bagaimana perasaan Anda?
Ketika menerima kepercayaan masyarakat menjadi Wakil Bupati Kupang, terjadi suatu gejolak dan peran batin yang sangat besar. Perasaan batin mengatakan, kasihan pada anak-anak tunanetra yang membutuhkan perlindungan. Bagaimana harus meninggalkan 70 anak tunanetra yang setiap hari selalu bersama- sama. Kami sangat dekat. Mereka saya anggap seperti keluarga sendiri yang harus dilindungi.

Di satu sisi, saya harus menjalankan amanah rakyat yang telah mempercayakan kami untuk mempimpin Kabupaten Kupang selama lima tahun ke depan untuk membalas kemenangan masyarakat dengan membangun perekonomian yang baik.

Masyarakat dan keluarga tetap menaruh harapan dan beban pada pundak kami agar selalu berhati-hati dalam bekerja sehingga dapat mewujudkan impian membawa perubahan bagi Kabupaten Kupang. Jika kita berhasil membangun Kabupaten Kupang selama lima tahun ke depan, maka itu akan dijadikan masyarakat sebagai keberhasilan mereka. Masyarakat menentukan sendiri apa yang harus dikerjakan pemerintah sesuai kebutuhan mereka.

Bagaimana Anda membangun kepercayaan diri untuk membangun Kabupaten Kupang?
Selama lima tahun dipercayakan oleh Gubernur NTT menjadi pengasuh tunanetra, masih jauh dari harapan. Masih banyak hal yang belum saya berbuat untuk mereka. Ada satu konsep yang masih menjadi pekerjaan rumah buat saya, yakni bagaimana mengupayakan agar ketika para tunanetra keluar dari panti asuhan, mereka bisa mendapat tempat dan hidup di tengah- tengah masyarakat. Minimal mereka harus diterima di masyarakat tanpa ada perbedaan status sosial.

Tanggung jawab sebagai pengasuh panti sangat berbeda dengan tugas dan tanggung jawab seorang wakil bupati. Apa komentar Anda?
Menjalankan roda pemerintahan tidak semudah seperti yang dibayangkan saat menjadi pengasuh panti asuhan. Sangat berbeda secara konseptual. Ketika membahas tentang konsep, tanggung jawab sebagai pengasuh panti asuhan sangat besar. Namun tanggung jawab sebagai wakil bupati dan menjadi orang nomor dua di daerah ini lebih berat dan sangat penting. Karena semua konsep harus diimplementasikan melalui berbagai kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh pimpinan SKPD hingga camat dan kepala desa/lurah.

Untuk golnya visi-misi yang ada, perlu dukungan dari birokrat yang mampu mendukung semua program yang dicanangkan untuk membangun masyarakat Kabupaten Kupang. Jika program kerja tidak didukung oleh birokrat, maka semua program akan gagal. Aparat harus mampu menerjemahkan semua kebijakan yang dibuat pimpinan dan melihat kembali kemampuan dari diri sendiri dengan risiko terjadi pembenahan struktur organisasi birokrat secara selektif.

Menurut Anda, konsep pembangunan seperti apa yang diharapkan masyarakat?
Pada awal kepemimpinan ini, kami tidak memiliki konsep yang spesifik. Kami memiliki beberapa konsep yang strategis yang merupakan gambaran kebutuhan masyarakat yang belum optimal, sehingga akan dilaksanakan secara serentak dan akan dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Masyarakat menginginkan pembangunan yang berdampak pada perubahan ekonomi kerakyatan yang bermuara pada kesejahteraan.

Hal yang paling mendasar adalah Kabupaten Kupang harus memiliki tata ruang yang bisa menggambarkan potensi sumber dan permasalahan yang ada bisa diatasi walau harus dengan intervensi. Dengan adanya tata ruang semua potensi dan permasalahan sudah terdeteksi sehingga program yang akan diluncurkan berdasarkan masalah yang dihadapi pada semua lapisan masyarakat. Membangun masyarakat Kabupaten Kupang harus dapat mengetahui dan memahami tipologi masyarakat dari masing-masing kecamatan. Tipologi masyarakat pesisir akan berbeda dengan masyarakat pedesaan yang berkebun secara berpindah-pindah.

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Kupang juga masih jauh dari harapan, karena kekurangan tenaga medis pada setiap kecamatan. Sarana dan prasarana kesehatan telah dibangun, namun tidak menyediakan tenaga medis. Juga mutu pendidikan masih rendah karena kekurangan tenaga pengajar. Bahkan ada sekolah hanya memiliki seorang tenaga pengajar. Ini semua akan dibenahi demi mewujudkan masyarakat yang mandiri dan bermartabat.(tomas duran)

Bersama Keluarga Kunjung Warga

KETIKA mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kupang, Viktor Yermias Tiran ditolak oleh kedua anaknya, Doni Alberto Tiran dan Lanny Tiran, yang mulai tumbuh dewasa. Saat ini keduanya duduk di bangku kuliah. Mereka sudah mengerti dan memiliki cara pandang berbeda terhadap pejabat.

Kedua anak Viktor melihat bahwa menjadi pejabat apa pun sering dimaki dan diancam ketika tidak disenangi oleh kelompok tertentu. Dony dan Lanny tidak mau ayah mereka dicerca dan dimaki. Namun berbagai alasan yang disampaikan kedua anaknya itu dapat dimentahkan setelah diajak diskusi bersama istrinya, Ny. Yulia Pasu-Tiran, seputar jabatan politis yang bakal dieban.

Setelah terpilih dan dilantik menjadi orang nomor dua mendamping Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, kata pria kelahiran Baun 4 Juli 1963 ini, keluarganya diajak untuk membaur dengan masyarakat ketika melakukan kunjungan ke desa-desa pada hari- hari libur atau hari Minggu.

Dari kunjungan tersebut, kata Viktor, keluarganya akhirnya bisa memahami dan menerima tugas dan tanggung jawab yang diembannya sebagai seorang pejabat negara yang ingin membawa perubahan di Kabupaten Kupang.

Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Bupati, Viktor selalu meluangkan waktu besama istri dan kedua anak mereka untuk berdiskusi bersama dan mengisi waktu liburan dengan acara keluarga. "Saya selalu memonitor dan mengawasi keberadaan kedua anak saya. Dan berada di mana saja istri dan kedua anak saya, Doni dan Lanny, selalu memberikan informasi," katanya. (mas)


Data Diri
-------------
Nama : Viktor Yermias Tiran, S.Sos.M.Si
TTL : Baun, Amarasi Barat, 4 Juli 1963
Istri : Yulia Pasu - Tiran
Pekerjaan : Guru SDI Oepura-Kupang
Anak : - Doni Albert Tiran
Mahasiswa, FISIP Undana
- Lanny Tiran
Mahasiswi Unwira - Kupang
Pendidikan : SD GMIT Baun (1976)
: SMPN Baun (1979)
: SMA Kristen Kupang (1983)
: Strata 1, Universitas Muhamadya-Kupang (1996)
: Strata 2, Universitas Muhamadya- Malang (2003)
Organisasi : Ketua 1, DPD Organda NTT (2004)
: Pengurus Kwarda Pramuka NTT (2006 - sekarang)
: Pengurus Fomi NTT (2006 - sekarang)
: Ketua Umum Soina NTT (2009)
: Pembina Pertina NTT
: Ketua Umum Forum Generasi Muda Timor di Kabupaten Kupang



Pos Kupang Minggu 21 Juni 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda