Dokter Valens Yth,
Selamat bertemu. Apha Khabhar dok, semoga sehat walafiat selalu bersama orang -orang Pos Kupang. Saya Rina 23 tahun, Pendidikan sarjanan muda dan sudah bekerja pada suatu perusahan swasta. Walaupun gaji atau upah yang saya peroleh tidak besar namun minimal saya tidak lagi bergantung pada orangtua untuk kebutuhan dasar saya.

Biasanya bila sudah pada keadaan mulai kearah madiri seperti ini, orangtua lantas memikirkan langkah hidup berikut adalah menikah. Tapi masalah yang muncul berikut adalah pada prinsip hidup pacar saya, Jhonny. Dia sudah bekerja pada satu instansi pemerintah, selama dua setengah tahun ini. Cuma saja dia selalu jawab, " kita boleh menikah kalau saya merasa sudah punya cukup modal untuk itu. Saya tidak mau bergantung terlalu banyak pada orangtua dan saudara.

Saya juga setuju tapi kapan kami bisa punya cukup modal. Dengan dasar pendidikan D3 yang dipegang Jhonny saya kuatir, terlalu lama menunggu. Jhonny adalah anak kedua dari lima bersaudara, sehingga menurut dia berat bagi ortunya mengurus pernikahan kami. Saya melihat Jhonny juga selain di kantor dia bekerja sambilan pada sore hari, dengan mengajar prifat pada sore hari. Saya hanya melihat dia terlalu memaksakan dirinya, dan kurang meluangkan waktu untuk kami berdua.

Paling-paling malam minggu kami bertemu, itupun kalau tidak ada kegiatan mengajar. Jadi saya kadang berpikir, apa sebenarnya yang dia kejar sebelum menikah ini. Karena bila kami sudah menikah, pasti kami bisa bergandengan tangan untuk membangun hidup kami berdua. Saya juga tahu honor mengajarnya kecil tapi dia begitu rajin dan mengabaikan waktunya untuk bertemu dengan saya.

Jangan-jangan nanti kami sudah nikah dia juga menganggap saya tidak penting dalam hidupnya. Dokter apakah ini gila kerja atau kerja gila. Pertanyaan saya yang lain adalah bagaimana sebaiknya saya menghadapi orang seperti Jhonny ini.
Merajuk, salah. Mau marah juga salah. Tapi dia mestinya perlu berpikir juga tentang saya, begitu. Dokter, Apakah saya boleh mengatakan bahwa Jhonny, me-nomor dua-kan saya, karena dia hanya selalu ingin kerja.

Kalau memang demikian apakah masih pantas Jhonny untuk saya ? Mohon
jawaban dokter, bila memang harus bersabar, saya akan menunggu, tapi bila itu tandanya, Jhonny kurang perhatian pada saya mungkin bukan dia yang cocok untuk saya. Atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam ....., Rina , Oebufu, Kupang.


Saudari Rina yang baik,
Selamat bertemu dan salam sejahtera buat Anda. Permasalahan yang Anda
alami sebagai mana Anda ceritakan dalam surat diatas, sangat menarik buat saya. Sekurang-kurangnya ada dua kalimat kunci untuk membuka pintu permasalah Anda tersebut.

Pertama, Anda butuh perhatian dari Jhonny. Kedua, Jhonny, butuh penghargaan dari Anda. Dalam sebuah buku yang berjudul "Men Are From Mars, Women Are From Venus, Dr. John Gray, menulis sebagai berikut:" Seperti juga para wanita yang sensitif pada perasaan ditolak ketika mereka tidak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan, para pria juga merasa sensitif pada perasaan kegagalan ketika wanita membicarakan tentang masalah yang dihadapinya. Pria ingin menjadi seorang jagoan.

Ketika sang wanita merasa kecewa atau tidak bahagia karena suatu hal, sang jagoan merasa gagal. Ketidak bahagiaan sang wanita menegaskan rasa takut pria yang terdalam yaitu bahwa dia tidaklah cukup berguna. (tersirat, betapa dia tidak mampu membuat wanita itu bahagia) Inilah yang menyebabkan pria terkadang sulit untuk mendengarkan.

" Bila Anda mencoba memahami tulisan John Gray diatas, maka wajar bila Anda tak sadar mengangguk perlahan terhadap kuatnya keinginan pacar Anda, Jhonny yang berusaha sekuat tenaganya, agar mampu memberi nilai mandiri pada rumah- tangga yang Anda bangun kelak.

Dia ingin agar ketika kalian bisa berada pada satu tempat yang sama yaitu rumah tangga baru, Anda akan bahagia, Anda tidak kesulitan hidup. Itulah nilai kebanggaan terbesar seorang pria. Pierre Mornell, seorang konsultan perkawinan dan psikiater, menulis dalam bukunya Passive Men, Wild Women, sebagai berikut : Bagi pria, menjadi seorang pahlawan, memenangkan hadiahnya adalah mendapatkan seseorang untuk dimenangkan. Seseorang yang dicintai dan bersamanya mereka berdua dapat membagai kesuksesan itu. Dia butuh seorang perempuan yang setelah semua kesulitan ini dilewati, memberi tepuk tangan yang tidak ada habisnya. Itulah yang membuat semua upaya berharga dan sempurna, bagi seorang pria."

Dan Jhonny-mu akan merasa bagai jagoan yang lulus
seandainya Anda menghargai apa yang dilakukannya. Sedikit spirit dan pujian dari Anda adalah obat yang amat mujarab untuk gairah hidupnya. Namun Jhonny rupanya kurang memandang lebih luas sehingga di pojok lain, dia lupa melihat bahwa wanitapun sangat ingin diperhatikan. Pada hal menurut Lucy Sanna dan Kathy Miller dalam buku How To Romance The Women You Love, menulis bahwa: kenyataannya, wanita tidak membutuhkan pria untuk menyelesaikan semua masalah mereka. Bila seorang pria terlalu cepat memecahkan masalahnya, itu mungkin akan menghilangkan nilai pentingnya masalah itu dan menyingkirkan perasaan sang wanita terhadap masalah tersebut. Kebanyakan wanita menginginkan para pria untuk memberi perhatian, mendengarkan, memahami dan menghargai situasi mereka.

Nah, Dengan demikian yang terjadi diantara Anda dan Jhonny adalah kalian berdua sedang duduk terpaku pada dunia alamiah Anda masing-masing. Jalan keluarnya adalah Pertama, Anda bisa membawa Koran Pos Kupang minggu ini kepada Jhonny dan membacanya bersama.. Dengan membacanya bersama, maka besok tidak adalagi istilah gila kerja dan kerja gila. Kedua, Anda jangan hanya menunggu Jhonny di rumah, sesekali datangi Jhonny ke tempat tinggalnya, walau cuma sebentar, namun itu memberi nilai bahwa kalian masih saling membutuhkan.
Dorong dia untuk bekerja namun sampaikan juga padanya bahwa kalianpun perlu waktu untuk hal yang romantis.

Dengan demikian tidak ada lagi kata marah dan merajuk apalagi merasa dinomorduakan. Baiklah, Saudari Rina, saya merasa sudah ada titik terang bagi jalan yang hendak Anda lalui, tinggal Anda berdua mau memperbesarkan nyalanya menjadi lampu atau mau emadamkannya. Semuanya terserah Anda. Semoga Anda bahagia..
Salam , dr. Valens Sili Tupen, MKM.

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 13 Lanjut...


adrianalimapregnant.com
Adriana Lima



BILA melihat penampilan para selebriti yang seolah tanpa cacat, pasti kita membayangkan perawatannya yang ribet dan mahal. Hal ini mungkin ada benarnya, namun ternyata tidak semuanya. Banyak di antara para model atau bintang TV tersebut yang menggunakan resep warisan ibu mereka untuk membuat kulit lebih mulus, atau gigi lebih putih. Nah, coba lihat apa saja resep rahasia mereka.

Toner Air Kelapa
Adriana Lima, model Victoria's Secret asal Brazil, juga punya resep murah-meriah untuk kulitnya yang kecoklatan. "Air kelapa!" serunya. "Sejak kecil ibu saya mengajarkan untuk mengambil air kelapa dan mencelupkan kapas ke dalamnya. Setelah itu taruh kapas di kulit, dan biarkan selama 5 menit. Itu hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk kulit!"


Permen Karet untuk Bersihkan Gigi Agar gigi putih Anda bebas dari noda, Anda bisa mengunyah permen karet. Itulah yang dilakukan oleh Mandy Moore, berkat saran dokter giginya, Dr. Kevin Sands. Kunyahlah permen karet tanpa gula segera setelah makan atau minum bahan makanan atau minuman yang bisa meninggalkan noda, seperti buah beri, red wine, kopi, atau teh. Jenis makanan atau minuman ini dapat mendorong air liur mengalir sebelum noda sempat mengendap. Keuntungan tambahannya, permen karet seperti xylitol telah terbukti dapat membantu mencegah kerusakan gigi.

Agar Wajah Tetap Berkilau Bedak harus menjadi sahabat terbaik kita di cuaca yang panas, demikian saran Sam Fine, makeup artist dan produser DVD The Basics of Beauty, untuk klien-kliennya: Jennifer Hudson, Tyra Banks, dan Vanessa Williams. Namun tahan jangan sampai berlebihan. "Tak perlu melawan kilauan yang muncul akibat cuaca panas - biarkan kilauan itu tetap bersinar," ujar Sam. Kening dan pipi cenderung lebih konsisten dalam menahan warna dan tekstur, jadi hindari penggunaan foundation dan bedak pada area tersebut, dan jaga agar tetap lembab.(kompas.com/people)


Riasan untuk Tampil Cantik Alami
SEGAR adalah kunci cantik musim panas. Tak perlu bedak tujuh lapis seperti mau pemotretan atau syuting film. Cukup tiga langkah saja untuk kegiatan sehari-hari sudah membuat riasan Anda terlihat menarik dan segar. Berikut langkah-langkahnya:
1. Ratakan warna kulit wajah. Noda hitam, kantung mata, juga warna kulit wajah tidak merata membuat wajah terlihat kusam dan tidak segar. Setiap wanita yang memiliki masalah dengan kulit, butuh alas bedak atau foundation cair ringan yang senada dengan warna kulit wajahnya. Digunakan untuk menutupi kekurangan pada wajah. Untuk membuatnya lebih terlihat natural, disarankan untuk mencampurnya dengan pelembap wajah dengan perbandingan 1:1, lalu oleskan pada wajah. Jangan terlalu tebal, pastikan warnanya senada agar tak terlihat seperti topeng.
2. Berikan warna cerah. Untuk tampilan yang menyegarkan, bisa gunakan warna pink muda-peach untuk kulit yang putih, sementara untuk kulit sedikit gelap, gunakan warna pink yang sedikit kecoklatan atau oranye.
3. Bibir terawat akan menambah tampilan cantik wajah. Agar terlihat makin merekah, awali pemakaian lipstik dengan pelembap bibir, lalu timpa dengan lipstik berwarna cerah, seperti merah muda mawar.(kompas.com/health.com)


Cara Membuat Bibir Kembali Penuh

SAAT usia mulai memasuki 40 tahun, bibir kehilangan daya tariknya. Tapi bagi Bobbi Brown, yang merupakan pemilik bisnis kosmetik ternama, bibir yang tidak lagi terlihat penuh bukan masalah karena ada cara cepat untuk membuatnya terlihat penuh kembali. Caranya mudah sekali:
1. Bentuklah shading bibir yang halus atau medium dengan menggunakan lipstik atau gloss. Ini akan mempertegas bentuk bibir.
2. Pilih warna yang shiny karena efek terang akan menciptakan sensasi berisi pada shading bibir yang sudah dibuat sebelumnya.
3. Bentuk garis bibir, sedikit melebihi garis aslinya dengan menggunakan warna yang lebih gelap dari warna lisptik.
Brown juga mengingatkan untuk tidak berlebihan "menggemukkan" bibir. "Ini justru akan menghapuskan daya tarik dari bibir kita, jadi bentuklah dengan indah," paparnya.(kompas.com)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 13 Lanjut...

ISTIMEWA
Nuraini HS Wahid bersama kedua anaknya


MENDIDIK dengan hati dan selalu terbuka dengan anak adalah salah satu cara Nurainih HS Wahid membesarkan anak-anaknya. Alumni program Magister Manajemen Universitas Widya Gama Malang tahun 2007 ini, meski tidak menikah, namun ia memilih untuk membesarkan dua anak dari adiknya.

Alhasil, upaya dan kerja keras serta kerendahan hatinya sebagai seorang ibu, ia berhasil membesarkan kedua anaknya, yakni Andini Rizky, kelahiran Kupang, 13 Desember 1989, saat ini duduk di bangku smester IV, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan Aida, kelahiran Kupang, 9 Nopember 1987, saat sudah mendaftar di Universitas PGRI NTT.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2009), Nuranini yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri Kupang ini, mengatakan, sebagai ibu yang tidak menikah dan memilih membesarkan anak dari adiknya, itu tidak membuatnya repot. Segala sesuatu dilakukannya dengan penuh syukur dan tawakal kepada Tuhan.

Dikisahkannya, ia adalah putri sulung dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal saat dirinya masih di kelas III SMP. Melihat, ibunya harus bekerja seorang diri untuk membesarkan ketiga adiknya, Nurainih berusaha untuk membantu mamanya. Dan saat di SMA dia sudah bekerja sebagai karyawati di Hotel Carvita Kupang yang sat itu baru berdiri. Setelah menamatkan SMA, ia mengikuti seleksi dalam penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan lulus.

Ia memilih jurusan FKIP Biologi jenjang D3. Walau kuliah, ia tetap bekerja dan akhirnya ia pindah ke salah satu perusahaan pabrik pengolahan cendana di Kupang. Menyelesaikan kuliahnya di Undana tahun 1993, ia mengikuti seleksi penerimaan guru di kantor Departemen Agama Propinsi NTT dan diterima.

Selanjutnya, diaa diangkat pada tahun 1994 dan langsung ditempatkan di MTs Negeri Kupang. Ia bersyukur karena kerja kerasnya membuahkan hasil, dan ia bisa membantu mamanya menyekolahkan ketiga adiknya.

Saat ini, semua adiknya sudah bekerja. Tahun 1995, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 di Undana dan selesai tahun 1997. Ia juga aktif di berbagai organisasi sosial sejak SMA. Di SMA ia sudah aktif di Pramuka, remaja masjid dan tafayat. Sat ini ia aktif sebagai Ketua Majelis Taklim Kota Kupang, Koordinator P2KP BKM Trikora, Airmata Kupang. Selanjutnya, pada tahun 2005, ia dan kawan-kawannya mengikuti program S2 Widyagama Malang.

Dalam berbagai kesibukan, ia tetap berusaha untuk membagi waktu dengan kedua anak yang sudah dibesarkannya sejak kecil. Menurutnya, anak-anak inilah yang menjadi hiburan tersendiri baginya. Untuk itu, dalam mendidik dan membesarkan kedua anak angkatnya, ia tidak pernah melakukannya dengan emosional.

Menurutnya, mendidik anak harus dilakukan dengan senang hati. Jika ada yang salah selalu duduk bersama untuk berkomunikasi. Ia tidak pernah memarahi kedua anaknya secara bersamaan. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan yang dilakukan kedua anaknya, dia akan memanggil mereka dan berbicara di kamar.

Itu pun dilakukan sendiri-sendiri. Menurutnya, cara ini dilakukan agar anak-anak tidak dididik dengan kasar.
Ketika memasuki masa remaja, memang ada sedikit kewaspadaan yang dialaminya terhadap perkembangan kedua anaknya, namun ia selalu berbicara terbuka kepada anak-anak. "Ketika saya tahu kalau diantara mereka sudah ada yang punya pacar, saya panggil mereka dan minta mereka mendatangkan pacarnya. Di sinilah salah bisa berbicara terbuka dengan anak dan pacarnya. Saya katakan, pacaran silahkan saja, jemput ini itu untuk mengikuti kegiatan, silahkan. Tetapi, selalu saling menjaga.

Atas kepercayaan yang saya berikan, puji Tuhan sampai saat ini masih baik-baik saja," kata Nuraini.
Dikatakannya, memberikan kebebasan kepada anak- anaknya bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Dia selalu berusaha memberikan arahan dan pengertian kepada anaknya. Sehingga, sampai saat ini kedua anaknya walau bukan anak kandung sangat menghormati dan menyayanginya.

Soal keuangan, katanya, ia tidak pernah memanjakan kedua anaknya dengan uang, tetapi ketika ia gajian selalu memanfaatkan kesempatan untuk jalan-jalan ke toko atau mall. Selain itu, katanya, untuk membiasakan anaknya mandiri dengan membagi mereka tugas di rumah. Pekerjaan seperti mencuci, mengepel dan menyeterika atau memasak, dibagikan.

Jika si kakak sudah mengepel, maka sang adiklah yang memasak atau mencuci. Dikatakannya, hal ini dilakukan agar anak belajar bertanggung jawab dan mandiri saat sudah dewasa. (nia)


Jika si Kecil Kembung

KEMBUNG terjadi karena penumpukan gas di dalam perut. Akibatnya, perut membuncit, timbul rasa tak nyaman, bahkan rasa sakit di perut dan dada lantaran angin berlebih yang awalnya menumpuk di lambung akan bergerak ke dada dan ulu hati.

Penyebab kembung ada banyak, dari makanan, minuman, penyakit maag, masuk angin, dan lain-lain. Anak biasanya akan rewel, menangis keras, tidak dapat tidur, dan gelisah. Untuk mengetahui apakah benar si kecil mengalami kembung, Anda bisa mengetukkan dua jari secara perlahan dan lembut pada dinding perut anak. Dengarkanlah suaranya, jika nyaring dapat dipastikan perut anak kembung.


Penanganan:
1. Minta anak duduk, atau baringkan dia dalam posisi telungkup. Usap-usap atau tepuklah punggungnya agar mudah bersendawa, tanda gas yang ada di lambungnya keluar.
2. Beri pijatan pada tubuhnya, terutama di daerah perut, punggung, dan dada. Beberapa tepukan di bagian punggung juga sangat bermanfaat.
3. Balurkan penghangat di daerah perut, dada, dan punggung. Lakukan pijatan lembut.
4. Beri minuman hangat. Selain menghangatkan perut, minuman itu juga dapat memancing anak untuk sendawa atau kentut.
5. Minta anak makan secara perlahan. Makan terburu-buru akan memperbanyak jumlah gas yang tertelan bersama makanan.
6. Batasi minum melalui sedotan, atau dari botol yang mulutnya kecil.
7. Atur makanan yang masuk ke dalam tubuh. Jangan makan terlalu banyak karena akan memicu kembung.
8. Hindari makanan bergas seperti es susu, makanan pedas, es krim, soft drink, kacang-kacangan seperti kacang polong, buncis, dan lain-lain. Hindari juga memberikan aneka produk susu bagi anak yang mengalami intoleransi laktosa. Makanan lain yang perlu dipantang ialah makanan berserat, makanan berlemak, dan gorengan.
9. Selesai makan, minta anak untuk tidak banyak bergerak atau berbaring karena akan memperparah kondisi perut kembung.
10. Jika diperlukan, beri obat antikembung untuk membantu anak bersendawa atau kentut. Konsultasikan dulu dengan dokter si kecil.
11. Bawa ke dokter jika kembung disertai dengan kesulitan buang air besar, tidak bisa buang angin, mual, muntah, dan demam.(kompas.com)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 12 Lanjut...


ANTARA/LORENSIUS MOLAN
KONDISI TERAKHIR -- Inilah kondisi terakhir PT (Persero) Semen Kupang yang tidak lagi beroperasi sejak Maret 2008 akibat dililit utang. Satu-satunya industri semen di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diharapkan kembali mengepulkan asapnya untuk menunjang pembangunan di daerah ini.



PT (PERSERO) Semen Kupang, satu-satunya industri semen di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, sejak Maret 2008 lalu, asapnya tak lagi mengepul ke udara sebagai tanda bahwa pabrik itu sudah tak lagi berproduksi. Pabrik semen ini dibangun pada 22 Desember 1980 dan merupakan satu-satunya pabrik semen berskala kecil yang menggunakan tungku tegak di Indonesia.

Pabrik berkapasitas 120.000 ton per tahun itu, diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto (alm) pada 14 April 1984 untuk beroperasi secara komersial. Tujuan didirikannya pabrik semen tersebut, untuk melaksanakan dan menunjang kebijakan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya industri persemenan dan industri kimia dasar lainnya.

Pada 4 Januari 1991, status perusahaan tersebut dinyatakan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.4 Tahun 1991 perihal penyertaan modal negara ke dalam PT Semen Kupang dengan pengalihan saham PT Semen Gresik (Persero).

Pada awal berdirinya, PT Semen Kupang merupakan perusahaan patungan antara PT Semen Gresik (Persero), Bank Pembangunan Indonesia dan Pemerintah Daerah NTT melalui Perusahaan Daerah (PD) Flobamor.

Setelah berubah status menjadi BUMN, perusahaan ini terus meningkatkan kapasitas produksinya hingga 570.000 ton pada 1998 melalui optimalisasi kapasitas 'Cement Mill" dari 180.000 ton menjadi 270.000 ton, sampai didirikannya Pabrik Semen Kupang II dengan kapasitas 300.000 ton per tahun.

Namun, memasuki era 2000-an, pabrik tersebut sudah mulai mengalami pasang-surut, ibarat hidup enggan mati tak mau setelah pergantian direktur utama perusahaan itu, dari HM Sattar Taba kepada Abdul Madjid Nampira.

Karyawan perusahaan juga mulai panik, karena perusahaan tersebut dililit utang mencapai Rp30 miliar lebih, yang sebagian besarnya berasal dari PT Sewatama Jakarta sebagai perusahaan pemasok energi listrik ke pabrik tersebut. Karena tak sanggup melunasi utang sampai Rp25 miliar, PT Sewatama Jakarta memilih jalan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan PT Semen Kupang pada Maret 2008 lalu.

Para karyawan pun "dirumahkan" secara sepihak oleh manajemen, dengan alasan perusahaan tak sanggup lagi membayar upah karyawan.

Melihat situasi tersebut, Kementerian BUMN mencairkan dana sebesar Rp50 miliar dari APBN pada 2007 untuk menalangi utang-utang perusahaan serta memperbaiki manajemen yang terkesan amburadul itu. Namun, dana yang dikucurkan dari APBN itu tak jelas pemanfaatannya, sampai Dirut PT Semen Kupang, Abdul Madjid Nampira harus berusaha dengan aparat berwajib untuk mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan tersebut.

Ketika krisis keuangan terus menerpa industri semen tersebut, pihak manajemen berspekulasi akan menjual perusahaan itu kepada investor asing asal India.
Namun, skenario pihak manajemen itu hanya sebuah taktik belaka untuk menyenangi para karyawannya yang tengah gusar, karena tidak mendapatkan pengasong dari perusahaan yang "dirumahkan" secara sepihak itu.

Sejak Maret 2008, satu-satunya industri semen di NTT itu tak lagi beroperasi menyusul PHK yang dilakukan oleh PT Sewatama Jakarta, karena pihak perusahaan tak sanggup membayar utang sebesar Rp25 miliar dari penggunaan energi listrik itu.

Guangshou Berminat
Kini, sebuah perusahaan dari China, Guangshou Co.Ltd, berencana untuk mengambil alih pengelolaan PT (Persero) Semen Kupang yang sudah tidak beroperasi lagi sejak Maret 2008 lalu, akibat krisis keuangan dan manajemen itu.

"Saat ini perusahaan tersebut sedang melakukan negosiasi dengan Pemda NTT dan Bank Mandiri (pemegang saham mayoritas) guna menyelesaikan hutang-piutang pada bank tersebut," kata Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Harjokusumo setelah mengadakan pertemuan "Managing Director" Guangshou Group, Zhang Hui di Kupang, Selasa (21/7/2009).

Dalam pertemuan itu, Guangshou Co.Ltd bersedia untuk melunasi hutang pabrik di Bank Mandiri sebesar Rp400 miliar, sebelum membeli aset pabrik yang ditaksasi senilai sekitar Rp300 miliar itu. Perusahaan dari China itu menawarkan tiga opsi kepada pemerintah untuk mengambilalih pabrik semen tersebut, yakni mengambil alih seluruh aset, mengelola bersama pemerintah daerah dan meremajakan seluruh aset perusahaan.

"Pemerintah daerah menyetujui opsi pertama (mengambilalih seluruh aset), tetapi saham pemerintah daerah di PT Semen Kupang hanya sebesar 1,12 persen," katanya dan menambahkan, pemerintah daerah tidak mau asetnya hilang begitu saja meski hanya dalam bentuk hamparan lahan seluas 100 hektare," kata Partini.

Saham PT Bank Mandiri Tbk sebesar 35,39 persen, katanya, dipastikan hilang setelah perusahaan dari China itu melunasi hutang-hutangnya, sedangkan pemerintah pusat tetap memiliki saham 61,48 persen. "Setelah proses pengambilalihan selesai, baru dilakukan negosiasi ulang soal saham dan sistem bagi hasil dengan pemerintah," ujarnya.

Setelah PT Semen Kupang dinyatakan pailit, pabrik tersebut ditangani oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang ditunjuk oleh Kementerian BUMN. "Beberapa kali pabrik semen ditawarkan kepada sejumlah investor asing, tetapi terbentur pada persoalan hutang pabrik tersebut. Tetapi, kini perusahaan dari China itu mau melunasi semua utang pabrik di PT Bank Mandiri Tbk sebagai pemegang saham tersebut ," katanya.

Ia mengharapkan, jika pabrik semen Kupang kembali mengepulkan asapnya, seluruh tenaga di pabrik tersebut dapat dipekerjakan kembali sesuai keahliannya masing-masing. "Guangshou Co.Ltd menyepakati itu, namun mereka akan merekrut lagi tenaga kerja dua kali lipat dari tenaga kerja yang ada sebanyak 262 orang," katanya.(antara/lorensius molan)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 11 Lanjut...

Shinta

Cerpen Timo Jelahu

KAMPUNG pada senja itu. Shinta dengan gogong di punggungnya, memikat mata kami. Jhon temanku menghadiahkan kata-kata sumbang kepadanya. Aku juga berminat dan dari mulutku meluncurlah kata-kata aneh untuk Shinta. Shinta tertunduk malu, muka putih bersihnya memerah. Kenangan ini selalu mengusik hari-hariku di Dewata.

Sekian lama telah kutinggalkan kampung ini. Setamat sekolah dasar, paman membawaku pergi. Kini, aku kembali. Arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.15. Di ujung kampung, raut ayah menjemputku. Terbayang tubuhnya yang kekar dan tegap kini lapuk di perut bumi.


Yah ayah meninggal tiga tahun silam. Isak tangis mama dan sanak keluarga membuat air mataku tumpah ruah. Sebelum masuk rumah, bersama mama dan mereka semua aku melepas rindu dan kisah cinta almarhum di kediaman akhir dan abadinya yang tidak jauh dari rumah.

Di rumah, orang-orang kampung menyambutku dengan aneka raut. Dari pertanyaan-pertanyaan mereka, tampaknya mereka haus mendengar ceritera tentang kota. Dan aku berkisah tentang kota yang aku kenal dengan dibumbui sedikit joak. Aku tidak tahu bagaimana kesan dan rasa mereka tentang kota yang aku ceriterakan.

Ketika malam menjelang, satu persatu mereka pamit. Kini tinggal keponaan-keponaanku mengitari aku. Mereka begitu ceria menikmati masa kecilnya. Keceriaan mereka ini membangkitkan kenangan masa kecilku dulu. Serentak, aku merasa sepi. Dalam kesepian itu, bayangan Shinta hadir mengusikku. Tidak jauh dariku, bunda sibuk merapikan tikar anyamannya yang belum rampung.

Ma, Shinta sekarang di mana?” Aku melihat kerut yang ganjil terpancar dari raut mama. Setelah diam agak lama, bunda membuka mulutnya.

Nak, jangan ingat dia lagi!” Bunda menaruh tikarnya ke samping. Aku heran. Mungkinkah Shinta telah berada di tempat di mana sekarang ayah berada, demikian tanyaku dalam hati.

Sudah berapa tahun Shinta jadi gadis aneh, nak.” Gelap perlahan melilit bumi. Adikku sibuk menyalakan lampu gas. Keponaan-keponaanku kini berada di sekeliling lampu yang mulai memancarkan terang. Ia bukan Shinta yang dulu lagi.” Tampaknya bunda masih seperti dulu, bertele-tele dan lamban berbicara. Dulu, sebelum mama selesai dengan ceritanya, aku sudah beralih langkah ke tempat lain. Kali ini, aku coba bersabar.

Ma, sebenarnya ada apa dengan Shinta?”
Begini nak, Shinta sempat masuk SMP Golowatu. Entah kenapa, pada awal kelas tiga, Shinta lari dari asrama dan tidak mau sekolah lagi. Beberapa bulan kemudian keluarga anak wina dari Lengkas datang melamarnya. Sejak itu, Shinta menjadi gadis pendiam dan akhirnya pergi entah ke mana.” Bunda memasukkan sirih pinang ke dalam mulutnya.

Hampir setahun Shinta menghilang. Tunangannya dari Lengkas itu tidak sabar menunggunya dan akhirnya menikah dengan gadis lain.” Mama membuang air merah dari mulutnya di tempurung di sisi kirinya. Shinta kembali ke kampung dua minggu setelah bapamu meninggal.

Tidak seperti sebelumnya, kini Shinta tidak pernah diam dan orang-orang tak sanggup mencegahnya. Shinta mengutuki dirinya, mamanya, bapanya almarhum dan setiap orang yang mendekatinya. Terkadang Shinta memaki guru-guru dan teman-teman SMP-nya dulu.” Bunda menatap diriku. Aku tak sanggup, membalas tatapannya.

Banyak dukun coba menolong, tetapi tidak membawa hasil. Nana…, orang-orang di kampung yakin Shinta menjadi begitu karena menolak tungku salang.” Bunda kembali memasukkan sirih pinang ke dalam mulutnya. Nana, Shinta sering menyebut dan memanggil namamu.”
Aku terperanjat dan mengangarahkan bola mataku ke mata bunda.

Sekarang Shinta di mana?”
Dari kemarin aku tidak melihatnya.”
Malam kian buram.
Di pembaringan, lelah tak sanggup mengantar aku pada pulas. Shinta, telah jadi gadis gila. Demikian, kesimpulanku. Kesimpulan ini membuat diriku membolak- balik badan sepanjang malam.

Aku membuka mata. Cahaya pagi telah sampai di kamar. Dengan berat, aku beranjak dari pembaringan. Sebelum embun menguap, adikku mengajak aku ke kebun.

Belum terlalu jauh dari kampung, dua bola mataku berlabuh pada sosok tubuh yang mondar-mandir di pondok sebelah kiri jalan. Aku berusaha untuk mengenalinya. Rambutnya hitam, lebat, terurai bebas dan tampak tidak terawat. Kulitnya yang putih tampak indah ditimpa sinar pagi. Dengan tergesa, ia berlangkah ke arah kami.

Itu Shinta, kak.” Adikku berguman sangat pelan. Kakiku berat melangkah. Akupun diam di tempat. Shinta semakin dekat di hadapanku. Kira-kira tiga langkah di depanku, Shinta berhenti. Matanya menatap langsung ke dua bola mataku..

Nara, masih ingat Shinta?” Ingin aku memeluk dan mengecup keningnya. Kisah bunda semalam membuat kaki enggan beranjak.
Weta, aku selalu rindu ada bersamamu.” Kataku dengan gagap. Jeda cukup lama.

Nara, aku malu...” Shinta tampak ragu. Aku menoleh. Adikku tampak bingung. Kubiarkan ia pergi.
Aku membimbing Shinta ke pondok itu. Shinta menurutiku. Di luar pondok, sepasang kumbang bertengger ceria di tengah indahnya kembang-kembang yang mekar menyambut mentari. Di dalam pondok, aku dan Shinta duduk bersila di lantai bilah bambu yang melapuk.

Weta, di Denpasar aku selalu merindumu. Ingin sekali aku pulang, tetapi nasip tak mengijinkan. Setamat SMP, aku tinggal sendirian. Paman mengikuti istrinya ke Makasar. Mau tidak mau aku harus berjuang untuk bertahan hidup. Aku harus bagi waktu antara sekolah dan kerja.” Jeda cukup lama.

Syukurlah, kalau nara masih bisa sekolah.” Kata Shinta dengah lemah. Hening menyatukan kisah masa kecil kami berdua.

Entah apa yang melanda dadanya, tiba-tiba Shinta menangis tak tertahankan. Dengan cepat aku mengambil posisi sampingnya dan menyandarkan dia di dada. Aku membiarkan Shinta menangis sepuas-puasnya. Kubelai rambutnya. Jantungku berdebar begitu kencang.

Lama ia menangis. Kuusap mata dan pipinya dengan tangan. Merapikan rampbutnya yang acak. Lalu, aku menggenggam erat tangannya dan membantunya berdiri. Kugandeng tubuhnya dengan erat, menyatukannya dengan getaran di tubuhku, berlangkah menuju kampung. Sesampai di kampung, orang-orang memandang heran ke arah kami.

Kuabaikan tatapan mereka dan kami meneruskan langkah menuju rumah warisan almarhum, ayahku. (*)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 6 Lanjut...

Shinta

Cerpen Timo Jelahu

KAMPUNG pada senja itu. Shinta dengan gogong di punggungnya, memikat mata kami. Jhon temanku menghadiahkan kata-kata sumbang kepadanya. Aku juga berminat dan dari mulutku meluncurlah kata-kata aneh untuk Shinta. Shinta tertunduk malu, muka putih bersihnya memerah. Kenangan ini selalu mengusik hari-hariku di Dewata.

Sekian lama telah kutinggalkan kampung ini. Setamat sekolah dasar, paman membawaku pergi. Kini, aku kembali. Arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.15. Di ujung kampung, raut ayah menjemputku. Terbayang tubuhnya yang kekar dan tegap kini lapuk di perut bumi.


Yah ayah meninggal tiga tahun silam. Isak tangis mama dan sanak keluarga membuat air mataku tumpah ruah. Sebelum masuk rumah, bersama mama dan mereka semua aku melepas rindu dan kisah cinta almarhum di kediaman akhir dan abadinya yang tidak jauh dari rumah.

Di rumah, orang-orang kampung menyambutku dengan aneka raut. Dari pertanyaan-pertanyaan mereka, tampaknya mereka haus mendengar ceritera tentang kota. Dan aku berkisah tentang kota yang aku kenal dengan dibumbui sedikit joak. Aku tidak tahu bagaimana kesan dan rasa mereka tentang kota yang aku ceriterakan.

Ketika malam menjelang, satu persatu mereka pamit. Kini tinggal keponaan-keponaanku mengitari aku. Mereka begitu ceria menikmati masa kecilnya. Keceriaan mereka ini membangkitkan kenangan masa kecilku dulu. Serentak, aku merasa sepi. Dalam kesepian itu, bayangan Shinta hadir mengusikku. Tidak jauh dariku, bunda sibuk merapikan tikar anyamannya yang belum rampung.

Ma, Shinta sekarang di mana?” Aku melihat kerut yang ganjil terpancar dari raut mama. Setelah diam agak lama, bunda membuka mulutnya.

Nak, jangan ingat dia lagi!” Bunda menaruh tikarnya ke samping. Aku heran. Mungkinkah Shinta telah berada di tempat di mana sekarang ayah berada, demikian tanyaku dalam hati.

Sudah berapa tahun Shinta jadi gadis aneh, nak.” Gelap perlahan melilit bumi. Adikku sibuk menyalakan lampu gas. Keponaan-keponaanku kini berada di sekeliling lampu yang mulai memancarkan terang. Ia bukan Shinta yang dulu lagi.” Tampaknya bunda masih seperti dulu, bertele-tele dan lamban berbicara. Dulu, sebelum mama selesai dengan ceritanya, aku sudah beralih langkah ke tempat lain. Kali ini, aku coba bersabar.

Ma, sebenarnya ada apa dengan Shinta?”
Begini nak, Shinta sempat masuk SMP Golowatu. Entah kenapa, pada awal kelas tiga, Shinta lari dari asrama dan tidak mau sekolah lagi. Beberapa bulan kemudian keluarga anak wina dari Lengkas datang melamarnya. Sejak itu, Shinta menjadi gadis pendiam dan akhirnya pergi entah ke mana.” Bunda memasukkan sirih pinang ke dalam mulutnya.

Hampir setahun Shinta menghilang. Tunangannya dari Lengkas itu tidak sabar menunggunya dan akhirnya menikah dengan gadis lain.” Mama membuang air merah dari mulutnya di tempurung di sisi kirinya. Shinta kembali ke kampung dua minggu setelah bapamu meninggal.

Tidak seperti sebelumnya, kini Shinta tidak pernah diam dan orang-orang tak sanggup mencegahnya. Shinta mengutuki dirinya, mamanya, bapanya almarhum dan setiap orang yang mendekatinya. Terkadang Shinta memaki guru-guru dan teman-teman SMP-nya dulu.” Bunda menatap diriku. Aku tak sanggup, membalas tatapannya.

Banyak dukun coba menolong, tetapi tidak membawa hasil. Nana…, orang-orang di kampung yakin Shinta menjadi begitu karena menolak tungku salang.” Bunda kembali memasukkan sirih pinang ke dalam mulutnya. Nana, Shinta sering menyebut dan memanggil namamu.”
Aku terperanjat dan mengangarahkan bola mataku ke mata bunda.

Sekarang Shinta di mana?”
Dari kemarin aku tidak melihatnya.”
Malam kian buram.
Di pembaringan, lelah tak sanggup mengantar aku pada pulas. Shinta, telah jadi gadis gila. Demikian, kesimpulanku. Kesimpulan ini membuat diriku membolak- balik badan sepanjang malam.

Aku membuka mata. Cahaya pagi telah sampai di kamar. Dengan berat, aku beranjak dari pembaringan. Sebelum embun menguap, adikku mengajak aku ke kebun.

Belum terlalu jauh dari kampung, dua bola mataku berlabuh pada sosok tubuh yang mondar-mandir di pondok sebelah kiri jalan. Aku berusaha untuk mengenalinya. Rambutnya hitam, lebat, terurai bebas dan tampak tidak terawat. Kulitnya yang putih tampak indah ditimpa sinar pagi. Dengan tergesa, ia berlangkah ke arah kami.

Itu Shinta, kak.” Adikku berguman sangat pelan. Kakiku berat melangkah. Akupun diam di tempat. Shinta semakin dekat di hadapanku. Kira-kira tiga langkah di depanku, Shinta berhenti. Matanya menatap langsung ke dua bola mataku..

Nara, masih ingat Shinta?” Ingin aku memeluk dan mengecup keningnya. Kisah bunda semalam membuat kaki enggan beranjak.
Weta, aku selalu rindu ada bersamamu.” Kataku dengan gagap. Jeda cukup lama.

Nara, aku malu...” Shinta tampak ragu. Aku menoleh. Adikku tampak bingung. Kubiarkan ia pergi.
Aku membimbing Shinta ke pondok itu. Shinta menurutiku. Di luar pondok, sepasang kumbang bertengger ceria di tengah indahnya kembang-kembang yang mekar menyambut mentari. Di dalam pondok, aku dan Shinta duduk bersila di lantai bilah bambu yang melapuk.

Weta, di Denpasar aku selalu merindumu. Ingin sekali aku pulang, tetapi nasip tak mengijinkan. Setamat SMP, aku tinggal sendirian. Paman mengikuti istrinya ke Makasar. Mau tidak mau aku harus berjuang untuk bertahan hidup. Aku harus bagi waktu antara sekolah dan kerja.” Jeda cukup lama.

Syukurlah, kalau nara masih bisa sekolah.” Kata Shinta dengah lemah. Hening menyatukan kisah masa kecil kami berdua.

Entah apa yang melanda dadanya, tiba-tiba Shinta menangis tak tertahankan. Dengan cepat aku mengambil posisi sampingnya dan menyandarkan dia di dada. Aku membiarkan Shinta menangis sepuas-puasnya. Kubelai rambutnya. Jantungku berdebar begitu kencang.

Lama ia menangis. Kuusap mata dan pipinya dengan tangan. Merapikan rampbutnya yang acak. Lalu, aku menggenggam erat tangannya dan membantunya berdiri. Kugandeng tubuhnya dengan erat, menyatukannya dengan getaran di tubuhku, berlangkah menuju kampung. Sesampai di kampung, orang-orang memandang heran ke arah kami.

Kuabaikan tatapan mereka dan kami meneruskan langkah menuju rumah warisan almarhum, ayahku. (*)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 6 Lanjut...

Endeavour

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

BERITA tentang Endeavour dibaca ketika sedang menyaksikan teror bom Marriott dan Ritz Carlton Kuningan Jakarta. Ketika menyaksikan darah dan air mata berceceran secara mengenaskan di pusat Ibu kota Republik Indonesia.

Ketika usai berdiskusi soal etika politisi kita yang kehilangan metafora dalam berkomunikasi dan membangun relasi politik yang lebih mencerminkan harkat dan martabat bangsa yang konon sopan santun, ramah tamah, gotong royong, kekeluargaan, dan jujur adil ini.

***

Sebenarnya Endeavour menghibur hati. Pesawat ruang angkasa itu akhirnya meluncur dari Kennedy Space Centre di Cape Canaveral, Florida, Kamis 16 Juli 2009. Setelah menunggu sekian lama akhirnya Endeavour meluncur juga pada percobaan keenam. Ke mana dan untuk apa Endeavour mengorbit?

Ternyata pesawat ruang angkasa yang bertubuh bulat panjang dengan bagian depan seperti pinsil habis diruncing, dan bagian ekor sepintas mirip kepala senter ini melesat menuju Stasiun Ruang Angkasa Internasional dengan tujuan merampungkan pengerjaan laboratorium Kibo Jepang. Bangga benar bisa ikut menikmati kehebatan teknologi penerbangan yang begitu canggih yang dikerjakan oleh sesama manusia di belahan bumi tanah airnya Mikhael Jackson, the King of Pop.

Namun, dirinya tiba-tiba mengecil gara-gara teror Jakarta Jumat 17 Juli pagi hari. Ada apa dengan pertahanan keamanan negara yang hebat ini? Kalau pelakunya orang luar negeri,
pertanyaannya, ada apa dengan kita negara Indonesia? Begitu mudah disusupi? Begitu lemahnya? Kalau pelakunya orang kita sendiri, pertanyaannya, doktrin apakah yang begitu merasuk pikiran dan hati sehingga tega membenci dan melakukan teror bom di tanah air sendiri? Benza pusing tujuh keliling memikirkan ini.

***
"Benza! Aku mau ikut ke angkasa luar dengan Endeavour!" Rara tergesa-gesa menyampaikan keinginannya kepada Benza. "Kamu mau ikut? Ayo, kita ramai-ramai jadi astronout! Sekalian menjauhkan diri dari incaran bom!"

"Mau jadi astronout? Kamu mimpi atau mimpi?" Tanggapan Benza dingin-dingin saja. "Bertahun-tahun NASA persiapkan Endeavor dengan teknis yang supercermat dan supermodern. Siapkan astronout dengan planning dan program yang teruji dan diuji berkali-kali. Kamu buat rencana dalam satu hari!"

"Rencananya sudah masuk dalam sidang perubahan anggaran. Kalau kurang kita bisa pakai dana silpa! Ayo, kita berangkat!"
"Benar, NASA berharap misi Endeavour dapat membantu pemerintah Jepang untuk memiliki laboratorium ruang angkasa. Luar biasa, enam astronout Amerika dan seorang asal Canada dengan misi memasang platform bagi para astronout agar dapat melakukan eksperimen 350 km di atas permukaan bumi," Rara berapi-api.


"Kalau Endeavour bisa bantu Jepang, tentu saja sangat bisa bantu kita," demikian harapan Rara. "Siapa tahu kita bisa siapkan hotel buat menginap dan lapangan sepak bola buat pertandingan MU versus Indonesia All Stars di sana? Saya tidak mau ke Jakarta, saya takut ikut kena bom. Soalnya aku kan penggemar berat sepak bola. Saya pemenang undian sepak bola dan dapat tiket gratis nonton di Senayan. Bahkan saya juga dapat tiket nginap di Ritz di kamar 17 bersebelahan dengan kamar Ronney. Bayangkan! Tetapi apa daya Marriott dan Ritz dibom. Ini semua pasti gara-gara Jaki yang iri karena keberuntungan saya dapat tiket gratis dan nginap di internasional hotel. Bahkan mungkin saja Jaki punya target tertentu untuk menewaskan saya saat pertemuan dengan Ronney nanti. Tolonglah Benza! Bongkar dan tangkap Jaki. Bila perlu Jaki kita seret ke penjara karena merakit bom untuk menjatuhkan saya! Ini kesempatan emas untuk menjatuhkan Jaki sekaligus kesempatan untuk meyakinkan dunia olahraga bahwa sayalah perebut tiket gratis menuju Senayan demi MU dan Indonesia All Stars," Rara terlihat sangat emosional.

"Teman, sabarlah!" Kata Benza dengan tenang. "Pencinta olahraga sebaiknya pandai atur emosi biar tidak tampak emosional. Pencinta olahraga sebaiknya sportif sebagaimana prinsip olahraga. Pencinta olahraga sebaiknya tidak memancing di air keruh. Pencinta olahraga sebaiknya tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan."

"Sungguh-sungguh Benza! Lewat Marriott dan Ritz Jaki memang bertujuan menjatuhkan saya!"
"Kamu jangan main tuduh begitu. Malu kepada dunia olahraga!" Nona Mia menyambung. "Ngapain Jaki repot-repot bom Jakarta kalau hanya untuk menggagalkan kamu? Dia pasti datang ke kampung kita, apalagi dia tahu persis kamu tinggal di gang ini. Tentu gang kita inilah yang diteror bom!"

"Ini sungguh! Tolong usut ini!"
"Jangan memperlebar soal. Mari kita kembali ke lokus dan fokus!" Benza segera berlalu diikuti Nona Mia dan Rara di belakangnya.

***
"Mari kita ke Marriott dan Ritz Carlton." Tujuannya hanya satu memberi kesaksian tentang bencana bom yang terjadi tepat satu minggu setelah pemilu presiden. Sungguh memalukan! Marriott dan Ritz Indonesia telah menjadi saksi lemahnya kinerja intelijen kita.

"Mau lihat Marriott dan Ritz?" Jaki menghadang di tengah jalan. "Aku akan membawa kalian bertiga menyusul Endeavour. Kita bangun lapangan bola dan hotel di sana! Kita undang MU dan Indonesia All Stars bermain di sana!"

"Bukankah kamu otak dibalik teror bom itu?" Rara gugup setengah mati.


"Apa pun kenyataannya kita sama-ama Indonesia All Stars. Kalau pagi-pagi kita sudah maen tuduh, bagaimana bisa terbang menyusul Endeavour?" *

Pos Kupang Minggu 19 Juli 2009, halaman 1 Lanjut...

Pater Philipus Tule, SVD



POS KUPANG/ARIS NINU Pater Philipus Tule, SVD


Bangun Kerukunan di NTT Berbasis Rumah (Ziarah Imamat dan Komitmen Antropolog Philipus Tule, SVD Selama 25 Tahun)

PERJALANAN imamat Pater Philipus Tule, SVD diwarnai dengan berbagai karya nyata untuk sesama umat manusia. Sebagai anak manusia, Pater Philipus telah menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi seorang imam. Namun siapa sangka pria ini pernah bercita-cita menjadi seorang anggota TNI?

Sosok sang kakak yang menjadi anggota TNI AD yang bertugas di Kostrad menjadi inspirasi sosok Philipus muda untuk mengikuti jejang sang kakak. Namun di tengah-tengah harapan itu, ia harus memilih mengikuti panggilan Yang Kuasa.
Untuk mengenang perjalanan dan cita-cita Pater Philipus Tule, SVD, berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang.
Bagaimana masa kecil Anda, sehingga kini Anda menjadi seorang imam? Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga petani, sebagai seorang anak bungsu dari ke-6 anak. Ayah saya Wilhelmus Beke dan ibu saya Maria Muwa sering mengisahkan bahwa saudara sulungku bernama Tule telah meninggal semasa bayi dan belum sempat dibaptis. Saudariku yang kedua (alm Maria Bhoko) meninggal pada tahun 1961, di saat aku berada di kelas satu SDK Niodede dan saudariku yang ke-5 (Martha Sabha) meninggal 25 Januari 1985, beberapa bulan setelah saya ditahbiskan jadi imam. Sebagai putera bungsu yang dilahirkan pada saat ibu saya menderita sejenis penyakit yang akut, saya sangat dimanjakan oleh semua kakak. Pada masa kanak-kanak, saya senantiasa menyaksikan betapa ayah dan ibuku bekerja keras sebagai petani untuk menghidupi anak-anak serta mengongkosi kakak saya Archilaus Sabu yang belajar di Sekolah Guru Bawah (SGB) di Atambua (1957-1960) dan dilanjutkan di Sekolah Guru Atas (SGA) di Kota Kupang (1961). Sebelum memasuki usia sekolah, saya sering bermimpi bahwa kakak saya Archilaus akan menjadi seorang guru dan pendidik. Tapi pada akhir tahun 1958, kesulitan keuangan telah mengalihkan minatnya menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Apakah Anda juga tertarik menjadi seorang prajurit TNI? Ya. Saya sering bercita-cita menjadi seorang serdadu seperti dia. Cita-cita itu diperteguh ketika menyaksikan kakak berlibur untuk pertama kalinya pada tahun 1966 dengan pakaian seragam TNI Kostrad. Beberapa tahun kemudian, dia sering tampil dengan pakaian Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang lalu beralih nama menjadi Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassanda) dan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Namun, Tuhan berkehendak lain. Pengalaman masa kecil di SDK Niodede dengan beberapa guruku (Pius Aka, Vitus Goa, Benediktus Geju, Mikhael Goa, Elias Juma, dan Fransiskus Taa) telah mendekatkan saya pada Dia yang memanggil dan mengutusku. Tergabungnya saya dalam kelompok penyanyi "Koor Anak-Anak" bentukan P. Wilhelmus Lehmann, SVD (Pastor Paroki Hati Kudus Maunori masa itu), dan sering dipercayakan untuk menyanyi sebagai solis di gereja dengan berpakaian seragam jubah putih dan salib kayu terkalung di leher, telah memikat hatiku untuk menjadi imam dan misionaris. Menjadi anggota solis di samping altar dengan suara emas yang menyatukan gemuruh nyanyian umat dalam gereja telah menjadi pemacu untuk sekali kelak menjadi pemimpin umat di depan altar. Saya sering diacungi jempol oleh pastor parokiku dan umat karena suara emas itu dan terkadang diminta menjadi pelayan altar (ajuda) hingga saya berada di jenjang SMPK Setia Budi Maunori (1967-1969). Adakah pengalaman yang istimewa bagi Anda saat itu? Suatu pengalaman tak terlupakan adalah pada hari malam Paskah 1968 saya diminta bergabung dengan para siswa Seminari Mataloko, karena mereka hanya berjumlah 5 (lima) orang. Itulah awal mula kisah benih panggilan sebagai calon imam muncul dari kawasan seputar altar Tuhan, lewat madah dan pelayanan altar. Oleh karena itu, tergolong dalam kelompok panggilan terlambat, saya melamar untuk mengikuti test masuk Seminari Pius XII Kisol (Manggarai) pada pertengahan tahun 1969. Bagaimana dengan pendidikan Anda yang membawa Anda menjadi pastor? Pendidikan dasarku berawal di SDK Niodede pada tahun 1960, sebagai siswa angkatan kedua. Saya patut mencatat bahwa ada seorang tokoh bernama Pius Aka yang pernah membimbingku sebagai guru perdana untuk berkenalan dengan abjad dan angka-angka. Lalu disusul dengan guru-guru lain seperti Vitus Goa, Mikhael Goa, Elias Juma, Benediktus Geju dan Fransiskus Taa. Setelah tamat SDK Niodede pada tahun 1966, saya melanjutkan pendidikan ke SMPK Setia Budi Maunori. Setamat SMPK Setia Budi (1969), saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Pius XII Kisol (Manggarai). Pada tahun 1971 saya berpindah ke Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu, Mataloko dan dididik oleh para misionaris SVD dan para pendidik awam hingga tamat SMA pada bulan Desember 1974. Pada tanggal 2 Januari 1975, bersama teman-teman seangkatan dari Seminari Menengah Lalian, Hokeng, Kisol dan Mataloko, saya mengawali masa novisiat di Ledalero dengan retret pembukaan. Selanjutnya kami didampingi oleh Pater Magister Philipus Juang, SVD dan Sociusnya Pater Kalix Suban Hadjon, SVD dan Paulus Ngganggung, SVD. Setelah dua tahun menjalani masa novisiat dan yang pada tahun kedua kami memulai studi Filsafat, maka pada hari Sabtu, tanggal 8 Januari 1977 kami sebanyak 21 orang frater mengikrarkan kaul-kaul pertama dalam SVD di hadapan Pater Regional Markus Moa, SVD. Setelah pendidikan jenjang filsafat rampung dan meraih gelar Bachelor of Arts (BA) pada akhir tahun 1978, maka pada tanggal 9 Januari 1979, setelah membaharui kaul-kaul, saya bersama kedua teman kelasku (Paul Payong, Kobus Modho) berangkat ke tempat praktek di Manggarai dengan menumpang pesawat terbang Merpati dari kota Ende. Masa praktikum saya berlangsung selama dua setengah tahun di SMPK Tentang/Ndoso, di Manggarai Barat hingga pertengahan tahun 1981 dibawah bimbingan Pater Pius Repat, seorang Imam Fransiskan (OFM). Setelah kembali ke Ledalero pada pertengahan tahun 1981, saya melanjutkan perkuliahan teologi yang diselesaikan pada tahun 1983. Saya mengikrarkan kaul kekal pada hari Senin, tanggal 1 Agustus 1983, yang disusul dengan tahbisan diakonat pada hari Minggu, 16 Oktober 1983 di Ledalero oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, dan tahbisan imam pada tanggal 14 Juni 1984 di Wolosambi, Mauponggo oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD. Anda juga melanjutkan studi? Saya patut mencatat dengan tinta emas sebagai hal yang menggembirakan dalam kehidupan pribadiku, karena saya pernah mendapat kepercayaan dari serikat lewat pemberian kesempatan bagiku untuk belajar terus menerus. Pertama-tama adalah kesempatan studi lanjut pada tahun 1985 di bidang Islamologi di Pontifical Institute of Arabic and Islamic Studies (PISAI) di Roma, Italia. Gelar Licentiate (S-2) dapat diraih pada tahun 1988 bersama temanku Rm. Benediktus Daghi, Pr. Masih merupakan bagian dari program studi Islamologi itu, pada bulan Mei sampai Oktober 1987 saya sempat mengikuti Summer Course di Institute Oriental milik para misionaris Dominikan (Ordo Predicatorum) di Jln Masnah al-Tarabish, Cairo, Mesir. Di samping mendalami bahasa Arab, kesempatan yang indah dan tak terlupakan itu kumanfaatkan untuk berguru pada Prof. Dr. George Anawati, OP dalam menerjemahkan satu bab dari buku "Islam wa Usul al-Hukm" (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan), karya Dr. Ali Abd al-Raziq sambil meneliti serta membaca karya-karya lainnya di Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Cairo, demi mempersiapkan penulisan tesis S-2 tentang pandangan Ali Abd al-Raziq mengenai "Islam Din La Dawlah" (Islam adalah Agama dan bukan Pemerintahan). Tesisnya tentang Islam Din La Dawlah itulah yang menyebabkan sang Profesor di Universitas Al-Azhar itu dikucilkan dan dilarang mengajar karena dinilai ajarannya itu zandig (sesat). Pada tahun 1994 (bulan Mei) saya diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 di bidang antropologi di The Australian National University (ANU) Canberra, Australia hingga meraih gelar Ph.D pada tahun 2001 dengan tesis berjudul "Longing for the house of God, Dwelling in the house of the ancestors: Local Belief, Christianity and Islam Among the Keo of Central Flores" [Mendambakan Rumah Allah, Mendiami Rumah Leluhur: Kepercayaan Asli, Kekristenan dan Islam di Keo, Flores. Bagaimana dengan studi di negeri sendiri? Iya...dukungan para konfratres (Provinsial SVD Ende, teman-teman di Ledalero, Prof. Glinka di Universitas Airlangga, dan Prof. Piepke di Institut Anthropos Jerman, dll) sangat kurasakan. Prof. Glinka yang mantan guruku, saking begitu besar harapannya agar aku berkembang dalam bidang akademik sesuai spesialisasiku, malahan menyampaikan condolence (ikut berbelasungkawa bagaikan menyambut kematian) waktu mendengar dan bertemu dengan aku di Surabaya yang baru terpilih menjadi Rektor Ledalero pada bulan Juni 2002. Karya akademikmu akan mati, katanya. Ternyata aku tidak mati, karena setelah setahun bertugas sebagai rektor, Prof. Piepke meminta agar tesis doktoralku di The Australian National University bisa diterbitkan oleh Institut Anthropos. Saya menyetujui permintaan itu dan didukung oleh Provinsial SVD Ende (alm Pater Nikolaus Hayon). Saya sempat menjadi peneliti tamu (Visiting Fellow) di ANU pada pertengahan tahun 2003 selama 6 (enam) bulan untuk mempersiapkan naskah buku di bawah bimbingan Prof. James Fox. Bagaimana dengan karya misi? Dalam menghayati spiritualitas imamatku dalam kurun waktu 25 tahun, saya lebih banyak menjalani misi dialog profetis. Saya lebih banyak bergiat dalam membina relasi atau dialog dengan pelbagai pihak di luar biara. Patut dicatat dialog dengan Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Portugal, dengan beberapa LSM seperti Nusa Tenggara Association dari Canberra, Assistencia Medica Internacional (AMI) dari Portugal, dan Ford Foundation dari Amerika Serikat. Pada tahun 2005, mantan Presiden RI (Abdurrahman Wahid) sempat berkunjung dan menginap di Ledalero dalam rangka seminar dan peluncuran buku Tolak Bungkam karya tulis Pater Robert Mirsel, dkk. Pada 31 Mei - 2 Juni 2005, saya menyelenggarakan seminar internasional Portugal-Flores dengan tema: "From Cross-Cultural Heritages to Diversified Cooperation" (dari Warisan Silang Budaya Menuju Kerjasama Beragam) sambil menghadirkan Duta Besar RI untuk Portugal (Fransisco Lopez da Cruz) dan Dubes Portugal untuk RI (Santos Braga) bersama Direktur Jenderal Kementerian Budaya dan Pariwisata (Dr. Mukhlis PaEni). Salah satu buah dari seminar tersebut adalah berdirinya Sekretariat Bersama Dewan Kebudayaan Flores (DKF) yang berpusat di Ledalero dan secara aklamasi saya diangkat menjadi Sekretaris Eksekutifnya. Apa motto imamat Anda? Dalam kurun waktu 25 tahun (1984 - 2009) saya yakin dan sadar bahwa motto imamat dan motto hidupku telah memberi inspirasi dan meneguhkan saya dalam perjalanan panggilan religius misioner ini. "Kami telah menemukan Dia ..... " (Yoh. 1, 45), telah meluputkan aku dari aneka ancaman kegagalan dan bahaya kejatuhan, khususnya jatuh dalam cinta yang terbatas dan eksklusif saja dengan manusia tertentu. Dalam tataran manusiawi, saya yakin dan sadar bahwa perjumpaan dan kebersamaanku dengan orangtua (ayah dan bunda), kakak dan saudara/i kandungku, para guru dan pendidikku dalam semua jenjang pendidikan adalah "Perjumpaanku dengan Dia, yang disebut oleh Musa dan para Nabi yaitu Yesus". Mereka telah memberikan aku nafas kehidupan yang manusiawi, iman yang Katolik, harapan yang Teguh, Kasih yang tanpa pamrih. Mereka itu semua adalah representasi Yesus, sang Imam Agung sejati yang memasrahkan seluruh diriNya bagi karya penebusan dan penyelamatan semua umat manusia. Oleh karena itu, aku senantiasa terpanggil untuk mengabdikan seluruh hidup imamatku, segenap potensi diri dan bakatku demi pelayanan semua orang, tanpa kenal batas suku, agama, bangsa dan budaya. Apa komitmen dan dambaan Anda bagi masyarakat dan Pemerintah NTT? Sebagaimana tampak dalam pelbagai kegiatanku di persada NTT dan Indonesia yang sealur dengan bidang spesialisasi akademikku, saya sungguh bertekad untuk mengabdikan diriku juga bagi pembangunan masyarakat NTT yang maju dalam bidang rohani dan jasmani, tapi juga yang rukun dan damai. Dalam pelbagai seminar dan lokakarya serta lewat beberapa publikasi, saya bercita-cita bahwa pelbagai khasanah luhur dan nilai-nilai kebudayaan lokal NTT hendaknya bisa dipromosikan ke level nasional dan internasional sebagai medium pencipta damai dan kerukunan yang lintas agama dan budaya di tengah arus globalisasi yang terkadang cenderung terperangkap dalam ekstrim etnosentrisme (memutlakkan etnis dan kebudayaan sendiri) dan religiosentrisme (yang memutlakkan agama sendiri). Inilah dambaanku dari semua tokoh pemerintah dan agama di NTT. Bagaimana hubungan Anda dengan rekan-rekan Anda di Ledalero? Berkat kerja sama yang rapih dengan rekan-rekan di Ledalero dalam kurun 6 tahun (2002 - 2008), Ledalero telah tampil dan diapresiasi oleh dunia luar sebagai "matahari intelektual yang telah terbit dari timur", "Mazhab Ledalero telah bangkit dalam Filsafat dan Teologi Kontekstual" (bdk. resensi dan artikel di Harian Kompas menyambut buku-buku karya Ledalero: Membongkar Derita oleh Paul Budi, Allah Menggugat oleh Georg Kirchberger, Mengabdi Kebenaran oleh Ceunfin dan Felix Baghi, dan lain-lain). Tak disangka bahwa medan karya misiku selalu saja berkisar di bukit Ledalero sebagai guru dan pendidik para calon imam. Sesuai bidang keahlianku saya dipercayakan untuk mengasuh mata kuliah islamologi, antropologi, dan ilmu perbandingan agama, baik di STFK Ledalero, maupun di STF Wydia Sasana Malang, Unika Wydia Mandira Kupang dan STKIP Ruteng. Di samping memberikan kuliah, saya juga gemar melakukan penelitian di bidang agama dan kebudayaan serta mempublikasi beberapa artikel dalam koran lokal. Saya juga menerbitkan 20 judul artikel dan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun sebagai co-editor. Adakah pengalaman yang masih diingat? Beberapa pengalaman pahit patut diingat sebagai pelajaran bermakna. Antara lain gejolak dan tantangan pahit waktu menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) sebagai frater di Tentang, Manggarai Barat. Pada masa TOP itu (sejak 1979 - 1981) selama 2,5 (dua setengah) tahun saya menjalani beberapa kegiatan pastoral di paroki bersama Pastor pembimbingku Pius Repat OFM, sambil berkarya juga di SMPK Tentang/Ndoso sebagai bapak asrama dan guru bahasa Inggeris, agama dan kewarganegaraan. Di samping tugas itu, saya juga dipercayakan memegang dan mengelola keuangan Yayasan St. Fransiskus Ndoso. Tak disangka, terjadi pada rapat akhir tahun anggaran, ketahuan bahwa ada sejumlah uang hilang dari peti kas yayasan yang disimpan di kamar saya. Kekurangjelian sebagai bendahara dalam mengontrol balance keuangan setiap bulan, maka baru pada akhir tahun anggaran diketahui bahwa ada kehilangan uang tersebut. Maka perhatian banyak orang tertuju kepadaku sebagai yang menggunakan uang tersebut secara tidak bertanggung jawab, atau korupsi. Pengalaman kehilangan uang itu telah membangkitkan dalam benakku untuk meninggalkan SVD dan bekerja sebagai guru di Tentang untuk bisa membayar kembali uang itu. Juga saya berpikir untuk beralih menjadi seorang OFM. Namun, tak lama berselang bahwa seorang pencuri, yang mantan siswa SMPK Tentang tertangkap di kota Ruteng. Dia juga mengaku dalam pemeriksaan Polisi di Ruteng bahwa dia juga pernah mencuri uang di kamarku. Hal itu telah menenangkan batinku bahwa uang tersebut itu diambil pencuri. Apakah ada hambatan selama berkarya? Saya pernah dirongrongi penyakit pneumonia yang nyaris merenggut nyawaku. Pada tanggal 6 Juni 1999, di Australian Capital Territory of Canberra (Australia) saya diserang radang pneumonia yang menghantar saya terbaring tanpa daya di Royal Canberra Hospital selama sepekan. Serangan itu terjadi pada saat menjelang HUT imamatku yang ke-15 di rumah kos sahabatku David Kaluge dan Titin Kaluge. Saya dihantar dengan taksi oleh rekanku Pater Gregor Neonbasu dan sahabat-sahabat lain ke rumah sakit. Di sana saya diselamatkan oleh para dokter dan perawat. Di tengah saat kritis kehidupanku itu, aku mengerang menahan rasa sakit yang telah mencapai kulminasinya. Saat itu kuyakin bahwa maut akan menjemputkan. Aku hanya pasrah berdoa dalam iman dan harapan teguh: "Tuhan, jika memang kehendakmu biarlah aku dijemputMu agar tak lagi merasa sakit seperih ini. Tapi bila masih Kau beri kesempatan bagiku, izinkanlah aku menyelesaikan beberapa tugasku yang kurampungkan". Ternyata, Tuhan mendengarkan doaku. Apakah hubungan Anda baik-baik saja dengan rekan dalam komunitas? Saya pun tak luput dari pengalaman konflik dengan segelintir rekan di dalam komunitas. Fenomena konflik itu memang lumrah dialami di mana-mana. Namun, kurasa bahwa semua pengalaman konflik itu telah menjadi pelajaran yang mahal dalam kehidupan dan karyaku sebagai seorang imam yang berkarya di lembaga formasi dalam semangat dan prinsip kemitraan atau kolegialitas. Semuanya telah diselesaikan dengan baik dalam semangat konsultatif dan secara kolegial demi kebaikan lembaga dan demi kesejahteraan setiap pribadi yang berada dalam konflik kepentingan dan tanggung jawab. Optimisme dan kesabaran senantiasa memampukan saya untuk maju terus bersama banyak rekan yang mendukung dan berpikir positif tentang rencana dan karya pelayananku. Saya sungguh mengalami bahwa Allah hadir bersama orang yang saba, yang dalam bahasa Kitab Suci Quran dikatakan "Inna Allah ma'a al-Sabirin". Apa saran Anda untuk rekan bekerja seperti Anda tapi di lingkungan yang lain? Bagi rekan-rekan imam dan pendeta (baik di lingkungan Kristen maupun Islam) yang sedang berbakti di medan karya misi ataupun dakwah). Hendaknya senantiasa menumbuhkembangkan dan menghayati keseimbangan antara dimensi keimanan dan keilmuan. Tokoh agama yang handal hendaknya bertumbuh diatas basis keimanan dan spiritualitas yang kokoh dan inklusif serta keilmuan yang inovatif. Sebagai misal, bahwa kami dalam lingkup Serikat Sabda Allah (SVD) memiliki tradisi keilmuan anthropos (Anthropos tradition) yang telah dirintis oleh para pionir NTHROPOS (Wilhelm Schmidt, dkk). Hal itu tak lain daripada "budaya akademik" SVD yang akhirnya mendapat pengakuan internasional, khususnya dalam bidang keilmuan antropologi. Oleh karena itu, para imam SVD di medan karya pastoral perlu mengembangkan cinta dan respek akan kebudayaan dan agama-agama lain, termasuk agama-agama lokal; juga dengan minat dan kebiasaan untuk mencatat/menulis. Anda merayakan syukur imamat pada Hari Isra' dan Mi'raj? Saya memang menyadari bahwa pada hari ini (20 Juli 2009) adalah perayaan Isra' dan Mi'raj bagi sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat. Dalam suasana gembira dan haru, saya pun layak menitipkan salam sejahtera dan Selamat Berpesta Isra Mi'raj buat mereka sekalian. Dalam ziarah imamatku selama 25 tahun, saya pun merasakan dan mengalami kasih sayang dan dukungan dari banyak sanak kerabatku serta rekan-rekan ilmuwan yang muslim. Dalam pergumulan refleksi akademikku yang lama seputar perayaan Isra' dan Mi'raj, saya menemukan bahwa pesta itu kaya dengan nuansa dialog antaragama, dialog antara seorang perjaka Muhammad dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya sebagai Nabi, yang diutus untuk menyelesaikan pelbagai konflik dan permusuhan bukan dengan pedang dan darah, tapi dengan doa dan amal. Singkatnya, pesta Isra dan Mi'raj itu dapat kuteropong dari beberapa perspektif berikut. Dari perspektif iman Islam, peristiwa Isra' dan Mi'raj mengandung hikmah yang lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah. Dengan demikian, bertambahlah kekuatan batinnya ketika ia mengalami cobaan dan persekusi dari warga sesukunya Quraysh, ataupun musibah dan tantangan berat berupa kematian orang-orang yang sangat dikasihinya. Dengan pengalaman Isra' dan Mi'raj itu, beliau semakin berani memperjuangkan cita-cita luhur ke-Islaman (dan kedamaian) serta mengajak segenap insan memeluk Islam. Dari perspektif dialog antaragama, kita bisa menyimak dan memahami peristiwa ini lebih dari aspek pengalaman keagamaan. Terlepas dari kebenaran historis dan teologis sebagaimana diyakini oleh sanak kerabatku yang Muslim, saya sebagai Imam dan orang Kristen coba memahami peristiwa Isra` dan Mi'raj ini dalam alur visio apokaliptik seorang Nabi Allah yang bernama Muhammad (bdk. Q.53,13-14; Q.17,1-7; Q.70,1-3). Nabi Muhammad sedang mengalami tekanan persekusi dari orang sesukunya, Quraysh. Secara psikologis, khususnya psikologi keagamaan, sang Nabi tentu saja mendambakan keakraban atau kedekatan bahkan persatuan mesra dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya sebagai Nabi. Sedangkan dari perspektif literer, kisah Isra` dan Mi'raj dapat kupahami dan kuterima dalam relasinya dengan genus literer apokaliptik yang umum terdapat dalam lingkup dunia semitik. Genus literer serupa itu dijumpai pula dalam literatur biblis, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Oleh karena itulah, maka saya sangat berbahagia ketika mendapat berita bahwa sanak kerabatku yang di Kupang bersepakat merayakan syukuran perak imamatku ini pada hari pesta Isra' dan Mi'raj bersama sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat. Bagi sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat, kusampaikan "Selamat Merayakan Isra' dan Mi'raj. Mari kita saling mendoakan. Nusalli ba'duna bi-ba'din". (aris ninu)

Pos Kupang Minggu, 19 Juli 2009, halaman 3 Lanjut...


Foto ilustrasi/www.dimsum.its.ac.id

482.165 Jiwa Siap Tularkan Diare
Oleh Vinsen Making SKM
Mantan Ketua Umum Jaringan Mahasiswa Kesehatan Kota Kupang (JMK3)

JAMBAN adalah suatu hal sederhana yang sering dilupakan oleh orang. Karena keberadaanya yang paling sensitif, akhirnya orang enggan untuk membahasnya lebih jauh. Sadar atau tidak, budaya kita yang menganggap sepele hal sederhana ini telah, sedang dan akan terus memberikan kita hal negative yang memilukan. Pernahkan terlintas dalam benak kita tentang bahaya yang ditimbulkan akibat kita tidak memperhatikan hal yang satu ini? Tentu banyak dari kita, khususnya orang NTT belum menyadarinya secara penuh.


CLTS (Community Lead Total Sanitatian) dalam suatu surveinya terhadap keadaan jamban di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merincikan hal-hal berikut; Di Propinsi Nusa Tenggara Timur jumlah desa sebanyak 2.463 buah dan jumlah kelurahan sebanyak 299 buah, total jumlah desa dan kelurahan 2.762 buah. Sedangkan jumlah rumah tangga sebanyak 881.120 KK (4.185.774 jiwa)

Dari jumlah KK tersebut yang telah memiliki jamban dapat dirinci sebagai berikut;
Sebanyak 205.748 rumah tangga telah menggunakan jamban model leher angsa
Sebanyak 140.576 rumah tangga menggunakan jamban model plesengan

Dan rumah tangga menggunakan jamban cemplung mencapai 271.269 buah, dan selebinya yaitu jamban model lainnya sebanyak 67.034 buah. Sehingga total rumah tanga yang menggunakan jamban mencapai 648.627 buah (NTT dalam angka 2005). Ini menggambarkan rumah tangga yang masih BAB di sembarang tempat atau yang belum memiliki jamban sebanyak mencapai 96.393 kk. Bila diasumsikan satu kk terdiri dari lima jiwa, maka jumlah warga yang membuang hajat tidak pada tempatnya mencapai 482.165 jiwa atau 11,5 persen.

Dari data ini sudah jelas, berbagai kasus Diare, dan muntaber yang melanda NTT selama ini, penyebab dasarnya adalah orang Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat. Untuk Indonsia sendiri diperkirakan ribuan anak meninggal pertahunnya, akibat terserang penyakit akibat BAB di sembarang tempat (Konferensi Sanitasi Nasional 2007).

Sumber penyakit
Membuang hajat tidak pada tempatnya bisa menjadi sumber penyakit baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Diare merupakan penyakit terbesar yang diakibatkan oleh BAB sembarang tempat ini. Bayangkan tinja yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (Vibrio cholerae, Shigella sp, dan Escherichia coli) sering menjadi tempat kerumunan lalat. Lalat kemudian menghinggapi makanan dan atau minuman dengan membawa kuman patogen dari tinja terkontaminasi tadi.

Dengan demikian, diare pun tertular ke host yang mengkonsumsi makanan dan atau minuman tersebut. Selain itu, kebiasaan anak-anak bermain tanpa alas kaki dapat menularkan penyakit ini. Tanpa sadar jika kaki telanjang menginjak kotoran yang telah terkontaminasi bakteri ini maka dengan sendirinya patogen itu akan masuk melalui pori-pori dan selanjutnya menginfeksi host (orang tersebut).

Jika host yang terinfeksi juga membuang tinja di sembarang tempat maka penularan berikutnya dapat terjadi lagi. Perlu diingat bahwa, penyebaran penyakit lewat tinja atau kotoran manusia ini terjadi sangat cepat dan dalam jangkauan wilaya yang cukup luas sebab penyebaran dapat lewat perantara manusia (host), binatang (lalat dan sejenisnya), angin, air, dan kontaminasi secara langsung.

Dari data diatas tadi, di NTT sendiri ada sekitar 482.165 jiwa yang BAB di sembarang tempat. Dapat dibayangkan saja betapa besar ledakan penularan yang terjadi. Dari 482.165 jiwa ini apabila menularkan masing - masing hanya satu orang saja angkanya sudah bertambah dua kali lipat, apalagi jika satu orang menularkan pada lebih dari satu orang, maka jumlahnya bisa berlipat ganda lagi.
Bagi beberapa daerah di NTT kebiasaan membuang hajat di tempat terbuka adalah hal yang wajar. Jadi tidak heran kalau hampir setiap saat ada saja korban diare dari daerah-daerah tersebut.

Mengapa BAB tidak pad tempatnya?
Sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang BAB di sembarangan tempat, yaitu pertama, kekurangtahuan tentang kesehatan. Kedua, merasa nyaman dan aman karena sudah dilakukan bertahun-tahun (turun temurun) tidak terkena penyakit. Ketiga, dan masih mendukung yaitu bisa BAB di kali dan pantai atau di lahan pekarangan karena masih luas.

Keempat, masih beranggapan bahwa untuk membuat jamban diperlukan biaya yang mahal. Kelima, tidak ada sanksi.
Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan suatu terobosan yang baru dan inovatif, sebagaimana yang telah dilakukan oleh CLTS (Community Lead Total Sanitatian). Bagaimana menggugah masyarakat supaya mengubah pola Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat (open defecation) ke tempat yang berkonsentrasi (jamban).

Yang Perlu Dilakukan Mayarakat
Hal-hal berikut ini perlu ditanamkan dalam diri masyarakat, bahwa :
(1) gampang terkena penyakit yang disebarkan lewat lalat, udara, air bahkan lewat tangan,
(2i) rasa malu dilihat orang lain,
(3) rentan terhadap serangan binatang buas,
(4) merugikan orang lain. Hal ini bertentangan dengan adat ketimuran kita.

Serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengajak masyarakat membandingkan dengan desa lain yang kondisinya lebih jelek (tidak mampu), namun bisa membangun jamban keluarga tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian masyarakat di desa tersebut terpicu untuk segera memiliki jamban sederhana, memenuhi aturan kesehatan.

Menurut Ehlers dan Steel, ada beberapa persyaratan jamban yang sehat, dua di antaranya yaitu, pertama, kotoran tidak boleh terbuka sehingga menjadi tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya, kedua, jamban harus terlindung dari penglihatan orang lain.

Benar bahwa kesehatan itu adalah segalanya, tanpa kesehatan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, mari kita satukan tekad dalam satu perjuangan menekan angka kesakitan dengan membudayakan Buang Air Besar (BAB) pada tempatnya. Sebab sebenarnya, dengan BAB disembarang tempat kita dapat membunuh diri sendiri dan juga orang lain.(*)

Pos Kupang Minggu 18 Juli 2009, halaman 14 Lanjut...

Dokter Valens Yth,

Damai sejahtera buat pak dokter dan kru Pos Kupang.
Saya Yonas 24 tahun, saya lebih merasa sebagai orang Kupang, meskipun kedua orangtuaku bukan asli dari kota ini, namun mereka sudah lama kerja di sini, dan sayapun lahir dan dibesarkan di kota karang ini. Saat ini saya sudah tamat kuliah dan baru mulai bekerja sebagai guru pada salah satu sekolah lanjutan tingkat pertama.

Karena sudah bekerja itulah maka keluarga saya (ortu dan saudara/i) sering menggoda dan bertanya kapan jadinya nikah dengan Merry. Dia yang disebut terakhir ini sudah berpacaran dengan saya selama dua setengah tahun. Merry berasal dari daerah asal orangtua saya. Dia gadis langsing penuh pesona, yang hadir dengan kesederhanaan yang memikat hati. Di kampus Merry amat pintar sehingga sering jadi rebutan mahasiswa.

Saya, walaupun tidak sekampus dengannya tapi merasa lebih beruntung menggaet Merry karena dia teman dekat adik saya Alice. Apalagi ada hubungan daerah asal maka saya mempunyai kemungkinan lebih besar. Ya.. Jadilah dia pacar saya. Tapi dokter, saya agak kuatir dan menjadi ragu karena keluarga besar dari kampung orangtua saya justru tidak setuju. Mereka katakan keluarga Merry (orangtua dan saudaranya) keturunan TBC. Merrypun kelak sakit TBC, begitu kata mereka. Mendengar berita itu saya awalnya tidak percaya. Toh, Merry kelihatan sehat-sehat saja. Cuma memang akhir akhir ini, saat musim kering tiba Merry sering Flu dan batuk-batuk.

Saya kadang terpengaruh juga. Jangan - jangan berita dari kampung itu memang benar. Dokter, Pada kesempatan ini saya ingin menanyakan beberapa hal sehungan dengan kekuatiran saya itu. Apakah Merry yang sering batuk pilek itu merupakan tanda dari penyakit TBC.

Apakah seandainya benar orangtuanya sakit TBC berarti diturunkan juga kepada Merry?.

Bagaimana caranya untuk tahu apakah Merry sakit TBC atau tidak ? Bagaimana menanyakan hal ini pada Merry?

Dokter, saya mencintai Merry tapi kalau dia menderita penyakit TBC, apakah saya putuskan saja hubungan kami?

Saya tidak tahu bagaimana mengatakan alasannya. Saya juga tidak ingin menyakiti hatinya. Ah, serba sulit rasanya. Mohon dokter bantu saya. Saran dokter pasti sangat berarti buat saya. Akhirnya semoga dokter mau membalas surat saya ini.
Salam Yonas - Kupang.


Saudara Yonas yang baik,
Salam jumpa buat Anda. Saat ini kota Kupang sudah jauh lebih maju dan semarak. Anda nampaknya sudah makin cinta dengan kota Kupang; itu bagus. Namun yang paling bagus adalah berperilaku benar sebagai orang kota, yang selain taat aturan (hukum), Anda harus lebih mampu melaksanakan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) dibanding orang dari desa.

Cara Anda mewaspadai penyakit yang mungkin diderita oleh pacar Anda Merry, ada benarnya. Namun dari surat Anda, saya mengetahui bahwa Anda belum paham betul soal penyakit yang Anda takuti itu. Selain Anda, masih banyak masyarakat kita yang belum paham. Hal yang dihadapi seharusnya berat (serius) dianggap enteng dan hal yang tidak serius (enteng) dimengerti sebagai hal yang sangat berat.

Untuk itu sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda sekaligus saya menjelaskan hal-hal penting menyangkut TBC (tuberculosis). Pertama-tama penyakit TBC bukanlah penyakit keturunan. Penyakit ini sering kena pada anggota keluarga yang sama karena mereka berada (terpapar) pada suatu lingkungan, tempat tinggal, rumah, yang kondisinya kurang bersih, dan banyak kuman TBCnya.

Kuman TBC berasal dari dahak penderita. Bila PHBSnya salah, sering buang dahak sembarangan di rumah yang berdebu, kuman bercampur dalam debu kering yang dihirup dan masuk dalam paru-paru penghuni rumah. Rumah berdebu yang tidak berjendela dan kurang dimasuki sinar matahari, sering menjadi tempat yang paling potensial untuk hidupnya kuman TBC berlama-lama.

Membuka jendela dan sinar matahari masuk rumah akan membunuh kuman TBC yang ada dalam rumah (PHBS lagi). Kuman TBC juga bisa berjangkit langsung lewat dahak yang terlontar saat batuk. Menjawab pertanyaan berikut tentang batuk pilek, bukan selalu merupakan gejala TBC. Perlu anda ketahui bahwa gejala umum TBC yaitu batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. Gejala lain yang sering dijumpai adalah: dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, napsu makan menurun, berat badan turun, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari satu bulan.

Nah bila orang yang mempunyai gejala seperti itu patut dicurigai (suspek) TBC. Dia harus diperiksa dahaknya ke Puskesmas atau Rumahsakit untuk memastikan ada atau tidak kuman TBC. Bila ada kuman TBC di dalam dahaknya berarti dia sakit TBC, tapi bila tidak ada kuman pada dahaknya berarti dia tidak berpenyakit TBC.

Anda mencintai Merry dan tidak ingin menyakiti hatinya. Bila demikian anda harus berbuat sesuatu untuk dia. Kalau dia sering batuk Anda bisa mengajaknya untuk memeriksakan dahaknya ke Rumah sakit atau puskesmas. Tentunya Anda menggunaka cara yang halus sehingga Merry tidak tersinggung bahkan bertambah cintanya karena perhatian Anda begitu besar padanya. Bila saat pemeriksaan ternyata ada kuman, Anda tak perlu kuatir karena saat ini sudah ada cara untuk mengobati penyakit TBC sampai sembuh tuntas.

Dengan meminum obat secara teratur selama enam bulan penderita bisa sembuh. Kepastian sembuh 90 persen. Yang paling penting buat Anda adalah manakala Anda mengantar Merry dan ternyata dahaknya tidak ada kuman TBC, Anda memperoleh kepastian untuk membantah rumor dari keluarga yang di kampung. Nah,. Ada atau tidak kuman TBC pada pemeriksaan tersebut, ternyata ada jalan keluar untuk membuat Merry mendapatkan kepastian kesehatannya dan mendapatkan kepastian cintanya.

Bila demikian apakah Anda masih berpikir untuk memutuskan hubungan dengan Merry yang secara nyata telah mempesona dan meluluh - lantakan hatimu. Anda yang harus menjawab karena Andalah yang mampu melihat dan meraba-rasakan "kembang" yang mekar dalam hati Merry dan hati Anda sendiri. Benarkah ada kuntum cinta yang terus tumbuh?.....semoga. Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM.


Pos Kupang Minggu 19 Juli 2009, halaman 13 Lanjut...


Foto ANTARA/Lorensius Molan
NELAYAN OESAPA--Inilah potret kehidupan para nelayan Oesapa Kupang yang sering menjadi target penangkapan patroli AL Australia jika mencari ikan dan biota laut lainnya di wilayah perairan sekitar Laut Timor dan Pulau Pasir (Ashmore Reef).


TANGGAL 30 April 2008, sulit bagi Sahring (39), seorang nelayan tradisional Indonesia asal Oesapa Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk melupakannya. Sekitar pukul 08.00 Wita, perahu Eka Sakti yang ditumpangi Sahring bersama beberapa orang rekan nelayannya, tiba di Laut Timor pada posisi 10,44 Lintang Selatan dan 125,42 Bujur Timur.

Perahu itu tidak lagi berlayar, karena macet mesinnya, setelah mereka berangkat dari perkampungan nelayan Oesapa Kupang pada 28 April 2008."Saat itu, kami sangat mengharapkan bantuan dari kapal nelayan lainnya yang biasa melintas di wilayah perairan Indonesia itu. Namun, tak disangka dan tak diduga, datanglah kapal patroli AL Australia menghampiri perahu kami yang tengah macet itu," katanya.

Saat itu, semua awak perahu diperintahkan untuk turun menuju kapal patroli AL Australia, meski masih berada di wilayah perairan Indonesia. "Sekitar pukul 13.00 Wita, kami disuguhkan makan siang. Selepas santap siang, kami menyaksikan langsung perahu kami dibakar oleh patroli AL Australia. Kisah itu sangat memilukan hati, karena perahu yang menjadi sumber pencari nafkah bagi keluarga, telah berakhir kisahnya," ujar Sahring dalam linangan air mata.

Tragedi yang dialaminya itu, ia ungkapkan saat pendeklarasian Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antra Lamor) di Pantai Oesapa Kupang, Senin (13/7/2009), yang merupakan basis nelayan tradisional Indonesia asal Sulawesi Selatan itu.

Mereka sudah lama hidup dan menetap di wilayah pesisir pantai Oesapa itu secara turun-temurun, dan lebih merasa sebagai orang Kupang ketimbang orang Bugis, Sulawesi Selatan.

Pembentukan aliansi tersebut, sebagai wadah untuk memayungi hak dan kepentingan nelayan tradisional asal Kupang dan Pulau Rote, NTT, jika bermasalah dengan pihak Australia ketika mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor dan wilayah perairan di sekitar Pulau Pasir (ashmore reef). "Ketika kami ditangkap dan dihukum serta perahu-perahu kami dibakar oleh keamanan laut Australia, tak ada pejabat satu pun di negari ini (Indonesia) yang membela kami. Mungkin aliansi ini dapat membantu kami dalam memperjuangkan hak dan kepentingan nelayan tradisional Indonesia di Laut Timor," kata H Mustafa Arsyad, Ketua Antra Lamor kepada ANTARA.

Seorang nelayan lainnya, Haji Hamitu, menambahkan pembentukan aliansi tersebut juga bermaksud untuk menjelaskan kepada pihak Australia soal faktor "ketradisionalan" nelayan Indonesia yang mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor secara turun-temurun.

Dalam pandangan Australia, yang disebut dengan nelayan tradisional adalah nelayan yang menggunakan perahu serta alat tangkap secara tradisional dalam mencari ikan dan biota laut lainnya di wilayah perairan sekitar Laut Timor dan Pulau Pasir (ashmore reef). "Pihak Australia menafsir sendiri kata tradisional itu dalam MoU 1974 kemudian secara sepihak melarang nelayan tradisional Indonesia untuk mencari ikan dan biota laut lainnya di wilayah perairan Laut Timor dan Pulau Pasir (ashmore reef) yang sudah dinyatakan sebagai cagar alam Australia itu," kata H Muhamad Guntur.

Kata tradisional dalam pemahaman mereka, ujar Guntur, adalah nelayan Indonesia yang secara turun-temurun mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor dan Pulau Pasir, bukan mempersoalkan peralatan atau perahu yang digunakan nelayan tradisional.

"Masalah inilah yang akan kami perjuangkan lewat aliansi tersebut, karena kami
sudah rugi besar setelah perahu kami dibakar oleh pihak Australia atas tuduhan melewati wilayah perairan mereka secara ilegal," ujar Haji Hamitu.
Ia mengaku, sudah sembilan unit perahu (masing-masing seharga antara Rp75 juta-Rp100 juta) miliknya dihancurkan dan dibakar oleh Australia ketika mencari ikan di Laut Timor.

"Saya ditangkap Australia tahun lalu, namun perahu-perahu yang dibakar dan dihancurkan itu digunakan oleh rekan-rekan nelayan lain yang menyewanya. Kami sekarang tidak bisa buat apa-apa lagi, karena harta kami berharga (perahu) sudah habis," katanya dalam aksen Bugis yang kental.

Jumlah nelayan tradisional Indonesia asal NTT tercatat lebih dari 1.000 orang, sedang untuk wilayah Kupang dan sekitarnya berjumlah ratusan orang. Menurut Sekretaris Antra Lamor, H Sadli Ardani, perahu bermesin yang digunakan nelayan tradisional Indonesia itu hanya untuk mempercepat langkah ke Laut Timor, karena dengan menggunakan perahu layar seperti pada masa lalu, lama mereka baru sampai ke tujuan.

"Kita sekarang sudah berada pada alam berbeda, modernisasi dan globalisasi, sehingga tidak beralasan bagi Australia melarang nelayan tradisional Indonesia mencari ikan di Laut Timor dan sekitarnya dengan menggunakan perahu bermesin serta navigasi dan peralatan tangkap modern," katanya.

"Kami merasa tidak puas dengan tindakan Australia tersebut, karena hak-hak kami sebagai nelayan tradisional seakan dikebiri dan tidak diakui hanya karena menggunakan perahu bermesin yang dilengkapi pula dengan navigasi dan peralatan tangkap modern," katanya.

Hukum Internasional
Berdasarkan deklarasi PBB, kata nelayan asal Pepela di Pulau Rote itu, hak-hak tradisional diakui sehingga tidak tepat jika Australia melarang nelayan tradisional Indonesia mencari ikan di Laut Timor dan Pulau Pasir. Ia juga menyatakan tidak sependapat dengan cara Australia menghukum nelayan Indonesia atas tuduhan memasuki wilayah perairan mereka secara ilegal.

"Jika nelayan suatu negara dipandang melanggar wilayah kontinental negara lain maka hukum yang diberlakukan adalah hukum internasional. Tetapi, hukum yang diterapkan Australia bagi nelayan Indonesia justru hukum lokal, bukan hukum internasional," katanya.

"Kami akhirnya memilih jalan membentuk aliansi ini, karena negara dan pemerintahan kita terkesan cuek dengan masalah yang dialami nelayan tradisional Indonesia," kata H Mustafa Arsyad.

Penasihat Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antra Lamor), Ferdi Tanoni menegaskan, pembentukan wadah organisasi nelayan tradisional Indonesia yang berbasis di Kupang dan Rote, NTT itu, bukan untuk merampas hak-hak Australia di Laut Timor. "Wadah ini sebagai payung untuk memperjuangkan hak-hak nelayan tradisional Indonesia yang secara turun-temurun mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor serta gugusan Pulau Pasir (ashmore reef)," katanya.
Ferdi Tanoni yang juga mantan agen Imigrasi Australia itu berpendapat, untuk menghindari nelayan tradisional Indonesia dari kejaran patroli AL Australia di Laut Timor, perlu dibentuk semacam Zona Perikanan Bersama antara Indonesia-Australia di kawasan Laut Timor.

Dengan adanya Zona Perikanan Bersama antara kedua negara, kata penulis buku "Skandal Laut Timor, Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta" itu, nelayan tradisional Indonesia akan dengan bebas memanfaatkan zona tersebut untuk mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor.

"Ini sebuah pilihan yang positif, karena bagaimana pun, Australia tidak berhak untuk mengusai wilayah perairan Laut Timor secara sepihak dengan membelenggu nelayan tradisional Indonesia yang mencari nafkah di wilayah perairan tersebut," katanya.

Menurutnya, Laut Timor dan Pulau Pasir (ashmore reef) merupakan wilayah perairan yang menjadi ladang kehidupan nelayan tradisional Indonesia karena sudah lama dilakukan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun. "Letak ketradisionalan inilah yang membuat nelayan asal Sulawesi, Kupang, Rote, Flores dan daerah lainnya di Indonesia, terus bergerak menuju Laut Timor untuk mencari ikan dan biota laut lainnya di sana," katanya menambahkan.

Menurut dia, kekhawatiran pihak Australia terhadap eksistensi nelayan tradisional Indonesia di Laut Timor, karena terdapat sumur-sumur minyak dan gas bumi (migas) di wilayah perairan tersebut. "Ada semacam kekhawatiran dari pihak Australia jika nelayan tradisional Indonesia mengganggu jaringan pipa minyak dan gas bumi dari sumur-sumur yang ada di Laut Timor menuju Darwin di Australia Utara. Inilah kekhawatiran utama pihak Australia atas aset migas di Laut Timor, bukan kehadiran nelayan tradisional Indonesia di Laut Timor," ujarnya.

Atas dasar itu, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) ini mengusulkan agar dibentuk zona perikanan bersama antara kedua negara untuk mengakhiri tragedi kemanusian yang dialami nelayan tradisional Indonesia selama ini.(antara/lorens molan)

Pos Kupang Minggu 19 Juli 2009, halaman 11 Lanjut...

Tentang Yum

Cerpen Charles Rudolf Bria

WAJAHNYA semakin hari seperti semakin kuyu, kecantikannya yang dulu perlahan hilang. Garis-garis kecoklatan satu-satu tergambar di wajahnya yang dulu seputih sutra. Bibirnya yang dulu indah seperti pecah retak dihantam terik matahari kota. Dia telah melupakan lipstick dan wewangian semenjak dua masa perkawinan berakhir tragis. Saumi yang pertama selingkuh lalu pergi bersama anak-anank mereka. Sementara suami yang kedua meninggal akibat over dosis minuman keras di sebuah lokalisasi.

Dari pernikhana yang kedua, Yum memiliki dua orang anak. Perempuan pertama sudah memutuskan mengakhir masa remaja ketika hamil di bangku kelas dua SMU. Sementara tinggal si bungsi, dia cacat sejak lahir. Anak-anak dari sumai pertama dan kedua tidak pernah mengunjungi ibunya bahkan sama sekali tidak ingin mengenalnya.

Anak permpuan dari semua kedua ternyata memiliki seorang suami brandalan dan pemabuk bahkan isterinya sering mendapat perlakuan kasar.
Yum, merasakan jejak langkah yang terlupakan sebagai seorang ibu juga sebagai seorang isteri. Dia sering menyalahkan rahimnya yang telah melahirkan. Dia marah terhadap dirinya yang terlalu emosional untuk memiliki anak. Dia juga sempat menyesali kecantikannya manakala akhirnya dia tercampak. Kecantikannya seperti sebuah sobekan baju tua di almari reot. Dalam lukanya dia sungguh menyesali kecantikannya.

Yum tidak tidak memiliki pekerjaan tetap seperti kebanyakan wanita lain. Dari seorang isteri muda yang dulunya cantik jelita dan selau tampil modis serta eksotis kini harus merambah dunia yang mengerikan. Dia menawarkan kerupuknya dari warung ke warung. Memungut sisa kaleng bekas untuk dijual kepada para penabah barang bekas. Dia juga mengais rejeki dari rumah ke rumah sebagai tukang cuci dan seterika keliling. Bahkan pernah ada seorang mucikari hampir saja menjebloskan dia ke sarang laki-laki hidung belang. Untung saja dia masih memiliki rumah peninggalan almarhum suami kedua.

Malam-malam baginya adalah ratapan dan gertakan. Dia ingin sekali menukarkan air matanya dengan cahaya bintang. Dalam kegerahan dia merangkak mencari cahaya yang mulai terkesan sombong. Padahal dia hanya meminta cukup semalam saja dia bias merasakan tidur dengan cahaya menggantung di ranjangnya. Pernah ada laki-laki yang datang menawarkan untuk menikahinya tapi dia terlanjur trauma dengan cinta. Hari-hari selepas itu tidak ada lagi yang pernah datang menawarkan diri untuk menikahinya. Kecantikannya telah dilumat habis oleh penderitaan yang dia tanggung dalam setiap menit hidupnya.

Dia sungguh terlempar dari hidup dan merasa tertatih untuk memungutnya kembali.
Suatu malam saat gerimis, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu depan. " Tidak biasanya ada tamu malam-malam begini," batinnya dalam hati. Kemudian dia melangkah dekat pintu dan terdengar lagi ketukan kedua. Jantungnya berdetak kencang, antara takut dan penasaran. Perlahan dia meraba gagang pintu lalu membuka pintu lebar-lebar.

Yum mendapati sosok laki-laki tua dengan wajahnya sedang menunduk lesu. Laki-laki itu sedang sedang mengapit seorang bocah kecillucu dan tampan. Setalah Yum persis ada di depannya, sedetik kemudian dia rebah ke tanah. Yum berubah pucat dan tegang.Yum kebingungan belum lagi bocah kecil langsung menangsi sejadi-jadinya. Yum berusah menenangkan bocah itu lalu dengan sekuat tenaga mengangkat laki-laki itu berpindah tempat di dalam rumah.

Semua terjadi secara kebutulan seperti semua kebetulan dalam hidupnya yang selalu saja membawa masalah. Sungguh diluar dugaanya sama sekali. Yum mulai kebingugan melayani tamu misterius itu. Makanan dia tak punya, karena untuk makan sehari saja dia mengalami kesulitan. Di dapur hanya tersisa satu kilogram beras dan tiga potong ikan asin untk persiapan sarapan pagi Yoga. Namun karean keadaan akhirnya Yum juga rela memberikan dalam kekurangan.

Setelah menyiapakan Yum berusaha menyadarkan kakek itu dengan sebotol mintal gosok. Perlahan kakek itu membuka matanya dan lama kelamaan kembali pulih. Yum segera menawarkan makananya. " saya hanya ada ini saja tidak ada yang lain lagi, saya bantu bapak dan adik ini makan." Ucap Yum sambil membungkuk di depan laki-laki dan bocah itu. Tidak ada pembicaraan apa-apa malam itu karean laki-laki tiu kembali tidur setelah kenyang. Malam semakin larut dan suasana seperti di pantai sepi dan arus tenangnya menenggelamkan. Dan ketika fajar masih sepotong terdenganr suara yang aneh dari pojok rumah tua itu.

Yum berteriak sekeras-kerasnya dan membanting diri ke lantai, mengacak rambutnya seperti orang gila. Dia mengambil seember air lalu menyiramkan ke seluruh tubuhnya. Seolah-olah dia ingin membaptis dirinya sebagai perempuan kelam. Dia merasakan suara Tuhan sayup di telinganya dan akhirnya hilang begitu saja. Dan dia benar-benar akan gila dengan semua ini. Dalam keterpurukannya dia baru mengerti kenapa manusia bisa menjadi gila.

Kemudian, dia mengacak seluruh isi rumahnya. Dia mencari sesuatu, mungkin mutiara atau benda berharga lainnya. Dia panik dan tidak peduli dengan semua mata yang menatapnya diam, Mata-mata itulah mata manusia pembunuh dan pendendam. Dia bertambah takut karena manusia telah dilengkapi dengan senjata yang siap membunuh. Lalu dia melihat banyak permpuan telanjang yang menari-menari sambil menangis. Teriakannya semakin bertambah keras dengan nada yang cukup panjang. Semua telah mati baginya termasuk Yoga satu-satunya emas yang dia miliki selama ini. Dia menangisi Yoga dari bibir ranjang, kenapa semua seperti mati olehnya. Kenapa dia selalu merasa menjadi miskin dan terus saja sengasara.

Tiba-tiba dia berteriak keras menghadap ke seluruh mata yang mati lalu berteriak keras. " Mana orang tua itu? " sambil matanya melotot tajam. " Dia ke sini membunuh Yoga, pasti Agus menyuruh dia membunuh Yoga karena Agus malu memiliki seorang anak cacat. Sambil mengacungkan tangannya tingg-tingi. " Agus penjahat dan orang tua itu pembunuh. Lalu dia mencari-cari seseorang. " Pak RT Bantu saya cari orang tua itu, tadi malam dia tidur di sini tapi dia sudah hilang, tangkap dia Pak RT. " Suaranya semakin tinggi.

Sepertinya semua orang kebingungan menjari jejak pembunuh. Manusia saat ini pintar menghilangkan apa pun yang bisa mengancam kebahagiaanya. Dan semua oran gmeras mati mengerikan itu biasa karena itu takdir. Semua orang tidak lagi mampu membedakan kekerasan dan kebaikan karena memang mereka lahir di dunia yang kasar dan bertopeng.

Yum benar-benar menjadi gila karean tekanan emosi dan frustrasi yang dalam. Dia kembali meraung di bawah ranjang Yoga. Suaranya perlahan hilang dan hanya terdengar sayup dari celah giginya lalu lenyap. Seperti melihat sesuatu yang besar dan mengerikan, tiba-tiba Yum terkejut. Dia hendak meloncat dari atas tempat tidurnya. Matanya samar-samar melihat sosok laki-laki tua ada di sebelahnya. Yum terkejut setengah mati.

"Anak tadi mimpi jelek berteriak dan mengais lalu Bapak berusaha bangunkan." Ucapa laki-laki tua itu tenang sambil tersenyum kecil. Yum segera mencari Yoga setelah dia tahu Yoga tidak lagi tidur di sampingnya. Laki-laki tua itu berdiri lalu pergi dan kembali menggendong Yoga. Yum segera mengmabil Yoga dari pelukan laki-laki lalu memeluknya erat. Air matanya mengalir sampai ke ranjang tidurnya.
Semua beban seperti patah setelah Yoga bisa berada dalam pelukannya. Anak cacat itu sepertinya telah memberikan kedamaian dalam kekarungannya sebagai manusia yang tidak sempurna. Perlahan matahari mulai menyengat pori-pori sampai terasa seperti cabe -mendidih- dan membikin panas. Laki-laki tua memohon diri melanjtukan perjalanan mereka. Selepas tamu itu pergi, Yum mengusir kegelisahanya dengan membersihkan isi rumahnya.

Tiba-tiba dia menemukan kantong plastik hitam persis di tempat laki-laki tadi tidur. Yum kebingungan kemana dia harus mencari laki-laki itu lagi. Perlahan dia membuka plastik itu. Ternyata sepasang kebaya dan selendang merah muda. lalu ada sebuah tulisan dengan kertas lusuh diatasnya. Isi potongan kertas itu mebuat Yun seperti mendapati surga yang indah, " Bapak kasi ini, anak harus bisa pakai ini dan anak akan terlihat seperti semula tapi dengan kecantikan yang berbeda dan anak harus tetap terus menjadi seorang perempuan dan ibu untuk anak ini.

Sekarang surga sudah dekat jangan takut, dan ketika kita bertemu anak tidak akan menangis lagi. Bergembiralah dalam hidup ini. Salam..."
Yum tiba-tiba seperti terbang melayang karena merasa meraih sepotong surga dari semua lukanya selama ini. Dia menoleh ke belakang melihat Yoga sedang menggesek-gesek bokong di lantai untuk berusah mendekatinya. Tidak yan glebih berharga dari anak ini. Perjuanganku hanya untuk dia. Semua orang melihatnya sebagai penggangu tapi Yum pagi itu mendapati kesempurnaan dalam diri anaknya. Dia membungkuk dan menggendong Yoga erat-erat. Dia kembali merasa seperti terbang melayang-layang. Semua samra-samar baginya, perlahan lukanya mulai tertutup satu per satu. (*)

Minggu 19 Juli 2009, halaman 6 Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda