96.393 KK di NTT Belum Miliki Jamban


Foto ilustrasi/www.dimsum.its.ac.id

482.165 Jiwa Siap Tularkan Diare
Oleh Vinsen Making SKM
Mantan Ketua Umum Jaringan Mahasiswa Kesehatan Kota Kupang (JMK3)

JAMBAN adalah suatu hal sederhana yang sering dilupakan oleh orang. Karena keberadaanya yang paling sensitif, akhirnya orang enggan untuk membahasnya lebih jauh. Sadar atau tidak, budaya kita yang menganggap sepele hal sederhana ini telah, sedang dan akan terus memberikan kita hal negative yang memilukan. Pernahkan terlintas dalam benak kita tentang bahaya yang ditimbulkan akibat kita tidak memperhatikan hal yang satu ini? Tentu banyak dari kita, khususnya orang NTT belum menyadarinya secara penuh.


CLTS (Community Lead Total Sanitatian) dalam suatu surveinya terhadap keadaan jamban di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merincikan hal-hal berikut; Di Propinsi Nusa Tenggara Timur jumlah desa sebanyak 2.463 buah dan jumlah kelurahan sebanyak 299 buah, total jumlah desa dan kelurahan 2.762 buah. Sedangkan jumlah rumah tangga sebanyak 881.120 KK (4.185.774 jiwa)

Dari jumlah KK tersebut yang telah memiliki jamban dapat dirinci sebagai berikut;
Sebanyak 205.748 rumah tangga telah menggunakan jamban model leher angsa
Sebanyak 140.576 rumah tangga menggunakan jamban model plesengan

Dan rumah tangga menggunakan jamban cemplung mencapai 271.269 buah, dan selebinya yaitu jamban model lainnya sebanyak 67.034 buah. Sehingga total rumah tanga yang menggunakan jamban mencapai 648.627 buah (NTT dalam angka 2005). Ini menggambarkan rumah tangga yang masih BAB di sembarang tempat atau yang belum memiliki jamban sebanyak mencapai 96.393 kk. Bila diasumsikan satu kk terdiri dari lima jiwa, maka jumlah warga yang membuang hajat tidak pada tempatnya mencapai 482.165 jiwa atau 11,5 persen.

Dari data ini sudah jelas, berbagai kasus Diare, dan muntaber yang melanda NTT selama ini, penyebab dasarnya adalah orang Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat. Untuk Indonsia sendiri diperkirakan ribuan anak meninggal pertahunnya, akibat terserang penyakit akibat BAB di sembarang tempat (Konferensi Sanitasi Nasional 2007).

Sumber penyakit
Membuang hajat tidak pada tempatnya bisa menjadi sumber penyakit baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Diare merupakan penyakit terbesar yang diakibatkan oleh BAB sembarang tempat ini. Bayangkan tinja yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (Vibrio cholerae, Shigella sp, dan Escherichia coli) sering menjadi tempat kerumunan lalat. Lalat kemudian menghinggapi makanan dan atau minuman dengan membawa kuman patogen dari tinja terkontaminasi tadi.

Dengan demikian, diare pun tertular ke host yang mengkonsumsi makanan dan atau minuman tersebut. Selain itu, kebiasaan anak-anak bermain tanpa alas kaki dapat menularkan penyakit ini. Tanpa sadar jika kaki telanjang menginjak kotoran yang telah terkontaminasi bakteri ini maka dengan sendirinya patogen itu akan masuk melalui pori-pori dan selanjutnya menginfeksi host (orang tersebut).

Jika host yang terinfeksi juga membuang tinja di sembarang tempat maka penularan berikutnya dapat terjadi lagi. Perlu diingat bahwa, penyebaran penyakit lewat tinja atau kotoran manusia ini terjadi sangat cepat dan dalam jangkauan wilaya yang cukup luas sebab penyebaran dapat lewat perantara manusia (host), binatang (lalat dan sejenisnya), angin, air, dan kontaminasi secara langsung.

Dari data diatas tadi, di NTT sendiri ada sekitar 482.165 jiwa yang BAB di sembarang tempat. Dapat dibayangkan saja betapa besar ledakan penularan yang terjadi. Dari 482.165 jiwa ini apabila menularkan masing - masing hanya satu orang saja angkanya sudah bertambah dua kali lipat, apalagi jika satu orang menularkan pada lebih dari satu orang, maka jumlahnya bisa berlipat ganda lagi.
Bagi beberapa daerah di NTT kebiasaan membuang hajat di tempat terbuka adalah hal yang wajar. Jadi tidak heran kalau hampir setiap saat ada saja korban diare dari daerah-daerah tersebut.

Mengapa BAB tidak pad tempatnya?
Sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang BAB di sembarangan tempat, yaitu pertama, kekurangtahuan tentang kesehatan. Kedua, merasa nyaman dan aman karena sudah dilakukan bertahun-tahun (turun temurun) tidak terkena penyakit. Ketiga, dan masih mendukung yaitu bisa BAB di kali dan pantai atau di lahan pekarangan karena masih luas.

Keempat, masih beranggapan bahwa untuk membuat jamban diperlukan biaya yang mahal. Kelima, tidak ada sanksi.
Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan suatu terobosan yang baru dan inovatif, sebagaimana yang telah dilakukan oleh CLTS (Community Lead Total Sanitatian). Bagaimana menggugah masyarakat supaya mengubah pola Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat (open defecation) ke tempat yang berkonsentrasi (jamban).

Yang Perlu Dilakukan Mayarakat
Hal-hal berikut ini perlu ditanamkan dalam diri masyarakat, bahwa :
(1) gampang terkena penyakit yang disebarkan lewat lalat, udara, air bahkan lewat tangan,
(2i) rasa malu dilihat orang lain,
(3) rentan terhadap serangan binatang buas,
(4) merugikan orang lain. Hal ini bertentangan dengan adat ketimuran kita.

Serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengajak masyarakat membandingkan dengan desa lain yang kondisinya lebih jelek (tidak mampu), namun bisa membangun jamban keluarga tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian masyarakat di desa tersebut terpicu untuk segera memiliki jamban sederhana, memenuhi aturan kesehatan.

Menurut Ehlers dan Steel, ada beberapa persyaratan jamban yang sehat, dua di antaranya yaitu, pertama, kotoran tidak boleh terbuka sehingga menjadi tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya, kedua, jamban harus terlindung dari penglihatan orang lain.

Benar bahwa kesehatan itu adalah segalanya, tanpa kesehatan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, mari kita satukan tekad dalam satu perjuangan menekan angka kesakitan dengan membudayakan Buang Air Besar (BAB) pada tempatnya. Sebab sebenarnya, dengan BAB disembarang tempat kita dapat membunuh diri sendiri dan juga orang lain.(*)

Pos Kupang Minggu 18 Juli 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda