Aku Pasti Bisa

Cerpen Olivia GS Bos

FAJAR mulai menyingsing. Nita sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi bersama ibunya. Dia sudah bangun tidur pada pukul 04.00 setelah jam weker yang di-stel-nya tadi malam berbunyi nyaring. Rambutnya masih awut-awutan. Itulah kegiatan rutinnya setiap pagi.

Membantu ibunya menjual sayur dan lombok di pasar, menjaga adiknya, Orin, yang masih berumur tiga tahun, dan membersihkan rumah. Hal ini sering dilakukannya ketika liburan semester. Maklum keluarganya bukan golongan kaya apalagi ayahnya sudah meninggal 4 tahun lalu.

"Nita, ke sini sebentar, tolong bantu Ibu merapikan pakaian dalam lemari! Adikmu Orin memang nakal," kata ibunya dari kamar tidur.

"Iya, Bu!" kata Nita seraya meletakkan nampan berisi nasi goreng dan kerupuk di atas meja makan. Ditemuinya ibunya dan membantu merapikan pakaian.
"Nita, Orin, kalian di rumah saja, ya! Ibu mau ke pasar dulu," ujar ibunya sambil tersenyum manis.
"Iya, Bu, hati-hati di jalan, ya!" ujar Nita sambil membalas senyum manis ibunya.

Ya, begitulah keadaan keluarga mereka. Mereka selalu rukun dan damai meskipun ayah sebagai penopang keluarga telah meninggalkan mereka.
Liburan panjang Nita sudah berakhir. Seharusnya Nita sudah mendaftarkan diri pada sekolah lanjutan pertama yang dikehendaki. Tapi, sesuatu telah menimpa Nita dan keluarganya. Saat itu, ketika Nita hendak mendaftarkan dirinya, ibunya jatuh sakit. Terpaksa uang sekolah Nita - hasil tabungannya selama empat tahun - digunakan untuk membayar biaya pengobatan ibunya di rumah sakit.

"Ibu, ibu kenapa?" tanya Nita pada ibunya di rumah sakit. Nita memandang ibunya yang tergolek lemah di ranjang sebuah ruangan "kelas 3" di rumah sakit itu. Di sebelahnya tampak Orin yang sedang bingung mengapa ibu dan kakaknya itu menangis. Aroma obat dari berbagai sudut ruangan menusuk hati ketiga insan itu.

"Ibu nggak apa-apa, Nak! Kamu tenang saja! Tak ada yang perlu kamu risaukan," jawab ibunya lemah.
"Iya, Bu," ujar Nita pelan.
"Tapi, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kamu sudah mendaftarkan diri pada SMP Tunas Jaya yang kamu favoritkan itu?" tanya ibunya.

"Aku ...." Nita menjawab sambil tertunduk.
"Ada apa, Nak?" tanya ibunya lagi.
"Ngg..., tak apa-apa, bu! Ibu tenang saja, yang penting ibu sehat dulu. Kalau soal sekolah Nita, itu sudah Nita atur. Pokoknya, beres deh!" jawab Nita berusaha tersenyum riang.

Nita berbohong. Dia belum mendaftarkan dirinya, apalagi membayar uang masuk sekolah. Tapi, itu dilakukannya karena ia tak ingin ibunya yang sedang sakit itu bertambah lesu.
Lalu, Nita meminta izin sejenak pada ibunya untuk pulang ke rumah. Dibawanya serta Orin bersamanya.

Di samping rumahnya, di bawah pohon cemara besar itu, dia duduk sendirian, merenungkan nasibnya dan memikirkan jalan keluarnya. Selama tiga jam ia duduk di situ. Sampai akhirnya ia bertekad untuk tetap sekolah. Ia tersenyum sambil memandang puisinya, "AKU PASTI BISA!"

"Pokoknya aku harus sekolah, bagamana pun caranya. Aku harus melakukan sesuatu, atau setidaknya aku mendaftar dulu, dan berbicara kepada ibu kepala sekolah di sana agar aku diberi keringanan biaya," serunya lantang.

Keesokan harinya, Nita pergi mendaftarkan dirinya dan berbicara kepada ibu kepala sekolah mengenai masalahnya. Ibu kepala sekolah memakluminya dan bersedia membantu Nita.
"Baiklah, Nita, untuk sementara ini, kamu masuk sekolah saja dulu, tidak perlu memikirkan kendalanya."

"Terima kasih, Bu!' jawab Nita senang.
Nita langsung menemui ibunya di rumah sakit. Namun, di sana pihak rumah sakit meminta Nita membayar biaya pengobatan karena ibunya sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Nita senang karena ibunya sudah sembuh. Tetapi dia bingung harus mencari ke mana biaya pengobatan ibunya. Uang tabungannya sendiri sudah habis digunakan untuk menebus resep obat ibunya di apotek.


Seharian Nita memikirkannya. Apa yang harus dilakukannya? Tiba-tiba....
"Tok, tok, tok!" bunyi pintu rumah diketuk.
"Iya, sebentar," jawab Nita sambil membuka pintu rumahnya.
Nita tampak kaget melihat Ibu Kepala Sekolah SMP Tunas Jaya berdiri di depannya, tersenyum manis, dan di samping berdiri seorang pria berjas hitam.

"Silakan masuk, bu, pak!" kata Nita sambil mempersilahkan ibu kepala sekolah dan pria berjas itu masuk.
Setelah duduk, ibu kepala sekolah menjelaskan semua perihal kedatangan mereka. Nita tampak tak percaya dan tercengang. Setelah ibu kepala sekolah dan pria itu pergi, Nita langsung menuju ke rumah sakit.

"Ibu, ibu, ada berita bagus, bu!" kata Nita sambil berlari memeluk ibunya. Ibunya tampak bingung.
"Ada apa?" tanyanya. Orin yang sedari tadi sibuk bermain yoyo menghentikan permainannya.

"Ibu, aku tadi didatangi Ibu Kepala Sekolah SMP Tunas Jaya dan seorang pria berjas. Mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka tertarik melihat buku kumpulan puisi yang aku ciptakan. Jadi, pria berjas itu ingin menerbitkan bukuku. Mereka pun memberikan sejumlah uang kepadaku untuk membayar biaya pengobatan Ibu di rumah sakit. 'Anggap saja, ini honor pertamamu,' kata mereka. Aduh, bu, aku senang sekali!" serunya riang.

"Tapi, dari mana mereka dapatkan buku puisimu itu?" tanya ibunya.
"Tadi aku lupa mengambil buku kumpulan puisiku yang tertinggal di meja ibu kepala sekolah. Dan tak sengaja ibu kepsek membacanya," jawab Nita.

"Oh, syukurlah, Nak. Kamu pasti bisa melanjutkan kembali sekolahmu," ungkap ibunya dengan penuh rasa syukur. Mereka pun berpelukan.

"Ternyata kepandaianku membuat puisi merupakan tambang emasku menuju bangku pendidikan dan meraih kesuksesan," kata Nita.
"Iya, Nak," jawab ibunya.

Sepuluh tahun kemudian, buku yang paling laris adalah buku-buku karangan Arielita Nita. Hobi dan bakatnya sudah membawanya menuju menara kesuksesan. Dan jalannya adalah pendidikan. (*)

Ruang Kelas II B SMPK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Awal Mei 2009

Pos Kupang Minggu 28 Juni 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda