ANTARA/LORENSIUS MOLAN
KONDISI TERAKHIR -- Inilah kondisi terakhir PT (Persero) Semen Kupang yang tidak lagi beroperasi sejak Maret 2008 akibat dililit utang. Satu-satunya industri semen di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diharapkan kembali mengepulkan asapnya untuk menunjang pembangunan di daerah ini.



PT (PERSERO) Semen Kupang, satu-satunya industri semen di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, sejak Maret 2008 lalu, asapnya tak lagi mengepul ke udara sebagai tanda bahwa pabrik itu sudah tak lagi berproduksi. Pabrik semen ini dibangun pada 22 Desember 1980 dan merupakan satu-satunya pabrik semen berskala kecil yang menggunakan tungku tegak di Indonesia.

Pabrik berkapasitas 120.000 ton per tahun itu, diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto (alm) pada 14 April 1984 untuk beroperasi secara komersial. Tujuan didirikannya pabrik semen tersebut, untuk melaksanakan dan menunjang kebijakan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya industri persemenan dan industri kimia dasar lainnya.

Pada 4 Januari 1991, status perusahaan tersebut dinyatakan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.4 Tahun 1991 perihal penyertaan modal negara ke dalam PT Semen Kupang dengan pengalihan saham PT Semen Gresik (Persero).

Pada awal berdirinya, PT Semen Kupang merupakan perusahaan patungan antara PT Semen Gresik (Persero), Bank Pembangunan Indonesia dan Pemerintah Daerah NTT melalui Perusahaan Daerah (PD) Flobamor.

Setelah berubah status menjadi BUMN, perusahaan ini terus meningkatkan kapasitas produksinya hingga 570.000 ton pada 1998 melalui optimalisasi kapasitas 'Cement Mill" dari 180.000 ton menjadi 270.000 ton, sampai didirikannya Pabrik Semen Kupang II dengan kapasitas 300.000 ton per tahun.

Namun, memasuki era 2000-an, pabrik tersebut sudah mulai mengalami pasang-surut, ibarat hidup enggan mati tak mau setelah pergantian direktur utama perusahaan itu, dari HM Sattar Taba kepada Abdul Madjid Nampira.

Karyawan perusahaan juga mulai panik, karena perusahaan tersebut dililit utang mencapai Rp30 miliar lebih, yang sebagian besarnya berasal dari PT Sewatama Jakarta sebagai perusahaan pemasok energi listrik ke pabrik tersebut. Karena tak sanggup melunasi utang sampai Rp25 miliar, PT Sewatama Jakarta memilih jalan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan PT Semen Kupang pada Maret 2008 lalu.

Para karyawan pun "dirumahkan" secara sepihak oleh manajemen, dengan alasan perusahaan tak sanggup lagi membayar upah karyawan.

Melihat situasi tersebut, Kementerian BUMN mencairkan dana sebesar Rp50 miliar dari APBN pada 2007 untuk menalangi utang-utang perusahaan serta memperbaiki manajemen yang terkesan amburadul itu. Namun, dana yang dikucurkan dari APBN itu tak jelas pemanfaatannya, sampai Dirut PT Semen Kupang, Abdul Madjid Nampira harus berusaha dengan aparat berwajib untuk mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan tersebut.

Ketika krisis keuangan terus menerpa industri semen tersebut, pihak manajemen berspekulasi akan menjual perusahaan itu kepada investor asing asal India.
Namun, skenario pihak manajemen itu hanya sebuah taktik belaka untuk menyenangi para karyawannya yang tengah gusar, karena tidak mendapatkan pengasong dari perusahaan yang "dirumahkan" secara sepihak itu.

Sejak Maret 2008, satu-satunya industri semen di NTT itu tak lagi beroperasi menyusul PHK yang dilakukan oleh PT Sewatama Jakarta, karena pihak perusahaan tak sanggup membayar utang sebesar Rp25 miliar dari penggunaan energi listrik itu.

Guangshou Berminat
Kini, sebuah perusahaan dari China, Guangshou Co.Ltd, berencana untuk mengambil alih pengelolaan PT (Persero) Semen Kupang yang sudah tidak beroperasi lagi sejak Maret 2008 lalu, akibat krisis keuangan dan manajemen itu.

"Saat ini perusahaan tersebut sedang melakukan negosiasi dengan Pemda NTT dan Bank Mandiri (pemegang saham mayoritas) guna menyelesaikan hutang-piutang pada bank tersebut," kata Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Harjokusumo setelah mengadakan pertemuan "Managing Director" Guangshou Group, Zhang Hui di Kupang, Selasa (21/7/2009).

Dalam pertemuan itu, Guangshou Co.Ltd bersedia untuk melunasi hutang pabrik di Bank Mandiri sebesar Rp400 miliar, sebelum membeli aset pabrik yang ditaksasi senilai sekitar Rp300 miliar itu. Perusahaan dari China itu menawarkan tiga opsi kepada pemerintah untuk mengambilalih pabrik semen tersebut, yakni mengambil alih seluruh aset, mengelola bersama pemerintah daerah dan meremajakan seluruh aset perusahaan.

"Pemerintah daerah menyetujui opsi pertama (mengambilalih seluruh aset), tetapi saham pemerintah daerah di PT Semen Kupang hanya sebesar 1,12 persen," katanya dan menambahkan, pemerintah daerah tidak mau asetnya hilang begitu saja meski hanya dalam bentuk hamparan lahan seluas 100 hektare," kata Partini.

Saham PT Bank Mandiri Tbk sebesar 35,39 persen, katanya, dipastikan hilang setelah perusahaan dari China itu melunasi hutang-hutangnya, sedangkan pemerintah pusat tetap memiliki saham 61,48 persen. "Setelah proses pengambilalihan selesai, baru dilakukan negosiasi ulang soal saham dan sistem bagi hasil dengan pemerintah," ujarnya.

Setelah PT Semen Kupang dinyatakan pailit, pabrik tersebut ditangani oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang ditunjuk oleh Kementerian BUMN. "Beberapa kali pabrik semen ditawarkan kepada sejumlah investor asing, tetapi terbentur pada persoalan hutang pabrik tersebut. Tetapi, kini perusahaan dari China itu mau melunasi semua utang pabrik di PT Bank Mandiri Tbk sebagai pemegang saham tersebut ," katanya.

Ia mengharapkan, jika pabrik semen Kupang kembali mengepulkan asapnya, seluruh tenaga di pabrik tersebut dapat dipekerjakan kembali sesuai keahliannya masing-masing. "Guangshou Co.Ltd menyepakati itu, namun mereka akan merekrut lagi tenaga kerja dua kali lipat dari tenaga kerja yang ada sebanyak 262 orang," katanya.(antara/lorensius molan)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda