Dokter Valens Yth,
Selamat bertemu. Apha Khabhar dok, semoga sehat walafiat selalu bersama orang -orang Pos Kupang. Saya Rina 23 tahun, Pendidikan sarjanan muda dan sudah bekerja pada suatu perusahan swasta. Walaupun gaji atau upah yang saya peroleh tidak besar namun minimal saya tidak lagi bergantung pada orangtua untuk kebutuhan dasar saya.

Biasanya bila sudah pada keadaan mulai kearah madiri seperti ini, orangtua lantas memikirkan langkah hidup berikut adalah menikah. Tapi masalah yang muncul berikut adalah pada prinsip hidup pacar saya, Jhonny. Dia sudah bekerja pada satu instansi pemerintah, selama dua setengah tahun ini. Cuma saja dia selalu jawab, " kita boleh menikah kalau saya merasa sudah punya cukup modal untuk itu. Saya tidak mau bergantung terlalu banyak pada orangtua dan saudara.

Saya juga setuju tapi kapan kami bisa punya cukup modal. Dengan dasar pendidikan D3 yang dipegang Jhonny saya kuatir, terlalu lama menunggu. Jhonny adalah anak kedua dari lima bersaudara, sehingga menurut dia berat bagi ortunya mengurus pernikahan kami. Saya melihat Jhonny juga selain di kantor dia bekerja sambilan pada sore hari, dengan mengajar prifat pada sore hari. Saya hanya melihat dia terlalu memaksakan dirinya, dan kurang meluangkan waktu untuk kami berdua.

Paling-paling malam minggu kami bertemu, itupun kalau tidak ada kegiatan mengajar. Jadi saya kadang berpikir, apa sebenarnya yang dia kejar sebelum menikah ini. Karena bila kami sudah menikah, pasti kami bisa bergandengan tangan untuk membangun hidup kami berdua. Saya juga tahu honor mengajarnya kecil tapi dia begitu rajin dan mengabaikan waktunya untuk bertemu dengan saya.

Jangan-jangan nanti kami sudah nikah dia juga menganggap saya tidak penting dalam hidupnya. Dokter apakah ini gila kerja atau kerja gila. Pertanyaan saya yang lain adalah bagaimana sebaiknya saya menghadapi orang seperti Jhonny ini.
Merajuk, salah. Mau marah juga salah. Tapi dia mestinya perlu berpikir juga tentang saya, begitu. Dokter, Apakah saya boleh mengatakan bahwa Jhonny, me-nomor dua-kan saya, karena dia hanya selalu ingin kerja.

Kalau memang demikian apakah masih pantas Jhonny untuk saya ? Mohon
jawaban dokter, bila memang harus bersabar, saya akan menunggu, tapi bila itu tandanya, Jhonny kurang perhatian pada saya mungkin bukan dia yang cocok untuk saya. Atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam ....., Rina , Oebufu, Kupang.


Saudari Rina yang baik,
Selamat bertemu dan salam sejahtera buat Anda. Permasalahan yang Anda
alami sebagai mana Anda ceritakan dalam surat diatas, sangat menarik buat saya. Sekurang-kurangnya ada dua kalimat kunci untuk membuka pintu permasalah Anda tersebut.

Pertama, Anda butuh perhatian dari Jhonny. Kedua, Jhonny, butuh penghargaan dari Anda. Dalam sebuah buku yang berjudul "Men Are From Mars, Women Are From Venus, Dr. John Gray, menulis sebagai berikut:" Seperti juga para wanita yang sensitif pada perasaan ditolak ketika mereka tidak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan, para pria juga merasa sensitif pada perasaan kegagalan ketika wanita membicarakan tentang masalah yang dihadapinya. Pria ingin menjadi seorang jagoan.

Ketika sang wanita merasa kecewa atau tidak bahagia karena suatu hal, sang jagoan merasa gagal. Ketidak bahagiaan sang wanita menegaskan rasa takut pria yang terdalam yaitu bahwa dia tidaklah cukup berguna. (tersirat, betapa dia tidak mampu membuat wanita itu bahagia) Inilah yang menyebabkan pria terkadang sulit untuk mendengarkan.

" Bila Anda mencoba memahami tulisan John Gray diatas, maka wajar bila Anda tak sadar mengangguk perlahan terhadap kuatnya keinginan pacar Anda, Jhonny yang berusaha sekuat tenaganya, agar mampu memberi nilai mandiri pada rumah- tangga yang Anda bangun kelak.

Dia ingin agar ketika kalian bisa berada pada satu tempat yang sama yaitu rumah tangga baru, Anda akan bahagia, Anda tidak kesulitan hidup. Itulah nilai kebanggaan terbesar seorang pria. Pierre Mornell, seorang konsultan perkawinan dan psikiater, menulis dalam bukunya Passive Men, Wild Women, sebagai berikut : Bagi pria, menjadi seorang pahlawan, memenangkan hadiahnya adalah mendapatkan seseorang untuk dimenangkan. Seseorang yang dicintai dan bersamanya mereka berdua dapat membagai kesuksesan itu. Dia butuh seorang perempuan yang setelah semua kesulitan ini dilewati, memberi tepuk tangan yang tidak ada habisnya. Itulah yang membuat semua upaya berharga dan sempurna, bagi seorang pria."

Dan Jhonny-mu akan merasa bagai jagoan yang lulus
seandainya Anda menghargai apa yang dilakukannya. Sedikit spirit dan pujian dari Anda adalah obat yang amat mujarab untuk gairah hidupnya. Namun Jhonny rupanya kurang memandang lebih luas sehingga di pojok lain, dia lupa melihat bahwa wanitapun sangat ingin diperhatikan. Pada hal menurut Lucy Sanna dan Kathy Miller dalam buku How To Romance The Women You Love, menulis bahwa: kenyataannya, wanita tidak membutuhkan pria untuk menyelesaikan semua masalah mereka. Bila seorang pria terlalu cepat memecahkan masalahnya, itu mungkin akan menghilangkan nilai pentingnya masalah itu dan menyingkirkan perasaan sang wanita terhadap masalah tersebut. Kebanyakan wanita menginginkan para pria untuk memberi perhatian, mendengarkan, memahami dan menghargai situasi mereka.

Nah, Dengan demikian yang terjadi diantara Anda dan Jhonny adalah kalian berdua sedang duduk terpaku pada dunia alamiah Anda masing-masing. Jalan keluarnya adalah Pertama, Anda bisa membawa Koran Pos Kupang minggu ini kepada Jhonny dan membacanya bersama.. Dengan membacanya bersama, maka besok tidak adalagi istilah gila kerja dan kerja gila. Kedua, Anda jangan hanya menunggu Jhonny di rumah, sesekali datangi Jhonny ke tempat tinggalnya, walau cuma sebentar, namun itu memberi nilai bahwa kalian masih saling membutuhkan.
Dorong dia untuk bekerja namun sampaikan juga padanya bahwa kalianpun perlu waktu untuk hal yang romantis.

Dengan demikian tidak ada lagi kata marah dan merajuk apalagi merasa dinomorduakan. Baiklah, Saudari Rina, saya merasa sudah ada titik terang bagi jalan yang hendak Anda lalui, tinggal Anda berdua mau memperbesarkan nyalanya menjadi lampu atau mau emadamkannya. Semuanya terserah Anda. Semoga Anda bahagia..
Salam , dr. Valens Sili Tupen, MKM.

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda