Endeavour

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

BERITA tentang Endeavour dibaca ketika sedang menyaksikan teror bom Marriott dan Ritz Carlton Kuningan Jakarta. Ketika menyaksikan darah dan air mata berceceran secara mengenaskan di pusat Ibu kota Republik Indonesia.

Ketika usai berdiskusi soal etika politisi kita yang kehilangan metafora dalam berkomunikasi dan membangun relasi politik yang lebih mencerminkan harkat dan martabat bangsa yang konon sopan santun, ramah tamah, gotong royong, kekeluargaan, dan jujur adil ini.

***

Sebenarnya Endeavour menghibur hati. Pesawat ruang angkasa itu akhirnya meluncur dari Kennedy Space Centre di Cape Canaveral, Florida, Kamis 16 Juli 2009. Setelah menunggu sekian lama akhirnya Endeavour meluncur juga pada percobaan keenam. Ke mana dan untuk apa Endeavour mengorbit?

Ternyata pesawat ruang angkasa yang bertubuh bulat panjang dengan bagian depan seperti pinsil habis diruncing, dan bagian ekor sepintas mirip kepala senter ini melesat menuju Stasiun Ruang Angkasa Internasional dengan tujuan merampungkan pengerjaan laboratorium Kibo Jepang. Bangga benar bisa ikut menikmati kehebatan teknologi penerbangan yang begitu canggih yang dikerjakan oleh sesama manusia di belahan bumi tanah airnya Mikhael Jackson, the King of Pop.

Namun, dirinya tiba-tiba mengecil gara-gara teror Jakarta Jumat 17 Juli pagi hari. Ada apa dengan pertahanan keamanan negara yang hebat ini? Kalau pelakunya orang luar negeri,
pertanyaannya, ada apa dengan kita negara Indonesia? Begitu mudah disusupi? Begitu lemahnya? Kalau pelakunya orang kita sendiri, pertanyaannya, doktrin apakah yang begitu merasuk pikiran dan hati sehingga tega membenci dan melakukan teror bom di tanah air sendiri? Benza pusing tujuh keliling memikirkan ini.

***
"Benza! Aku mau ikut ke angkasa luar dengan Endeavour!" Rara tergesa-gesa menyampaikan keinginannya kepada Benza. "Kamu mau ikut? Ayo, kita ramai-ramai jadi astronout! Sekalian menjauhkan diri dari incaran bom!"

"Mau jadi astronout? Kamu mimpi atau mimpi?" Tanggapan Benza dingin-dingin saja. "Bertahun-tahun NASA persiapkan Endeavor dengan teknis yang supercermat dan supermodern. Siapkan astronout dengan planning dan program yang teruji dan diuji berkali-kali. Kamu buat rencana dalam satu hari!"

"Rencananya sudah masuk dalam sidang perubahan anggaran. Kalau kurang kita bisa pakai dana silpa! Ayo, kita berangkat!"
"Benar, NASA berharap misi Endeavour dapat membantu pemerintah Jepang untuk memiliki laboratorium ruang angkasa. Luar biasa, enam astronout Amerika dan seorang asal Canada dengan misi memasang platform bagi para astronout agar dapat melakukan eksperimen 350 km di atas permukaan bumi," Rara berapi-api.


"Kalau Endeavour bisa bantu Jepang, tentu saja sangat bisa bantu kita," demikian harapan Rara. "Siapa tahu kita bisa siapkan hotel buat menginap dan lapangan sepak bola buat pertandingan MU versus Indonesia All Stars di sana? Saya tidak mau ke Jakarta, saya takut ikut kena bom. Soalnya aku kan penggemar berat sepak bola. Saya pemenang undian sepak bola dan dapat tiket gratis nonton di Senayan. Bahkan saya juga dapat tiket nginap di Ritz di kamar 17 bersebelahan dengan kamar Ronney. Bayangkan! Tetapi apa daya Marriott dan Ritz dibom. Ini semua pasti gara-gara Jaki yang iri karena keberuntungan saya dapat tiket gratis dan nginap di internasional hotel. Bahkan mungkin saja Jaki punya target tertentu untuk menewaskan saya saat pertemuan dengan Ronney nanti. Tolonglah Benza! Bongkar dan tangkap Jaki. Bila perlu Jaki kita seret ke penjara karena merakit bom untuk menjatuhkan saya! Ini kesempatan emas untuk menjatuhkan Jaki sekaligus kesempatan untuk meyakinkan dunia olahraga bahwa sayalah perebut tiket gratis menuju Senayan demi MU dan Indonesia All Stars," Rara terlihat sangat emosional.

"Teman, sabarlah!" Kata Benza dengan tenang. "Pencinta olahraga sebaiknya pandai atur emosi biar tidak tampak emosional. Pencinta olahraga sebaiknya sportif sebagaimana prinsip olahraga. Pencinta olahraga sebaiknya tidak memancing di air keruh. Pencinta olahraga sebaiknya tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan."

"Sungguh-sungguh Benza! Lewat Marriott dan Ritz Jaki memang bertujuan menjatuhkan saya!"
"Kamu jangan main tuduh begitu. Malu kepada dunia olahraga!" Nona Mia menyambung. "Ngapain Jaki repot-repot bom Jakarta kalau hanya untuk menggagalkan kamu? Dia pasti datang ke kampung kita, apalagi dia tahu persis kamu tinggal di gang ini. Tentu gang kita inilah yang diteror bom!"

"Ini sungguh! Tolong usut ini!"
"Jangan memperlebar soal. Mari kita kembali ke lokus dan fokus!" Benza segera berlalu diikuti Nona Mia dan Rara di belakangnya.

***
"Mari kita ke Marriott dan Ritz Carlton." Tujuannya hanya satu memberi kesaksian tentang bencana bom yang terjadi tepat satu minggu setelah pemilu presiden. Sungguh memalukan! Marriott dan Ritz Indonesia telah menjadi saksi lemahnya kinerja intelijen kita.

"Mau lihat Marriott dan Ritz?" Jaki menghadang di tengah jalan. "Aku akan membawa kalian bertiga menyusul Endeavour. Kita bangun lapangan bola dan hotel di sana! Kita undang MU dan Indonesia All Stars bermain di sana!"

"Bukankah kamu otak dibalik teror bom itu?" Rara gugup setengah mati.


"Apa pun kenyataannya kita sama-ama Indonesia All Stars. Kalau pagi-pagi kita sudah maen tuduh, bagaimana bisa terbang menyusul Endeavour?" *

Pos Kupang Minggu 19 Juli 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda