Igolodo, Sumber Air Masyarakat Witihama


ANTARA/
LORENS MOLAN

DENGAR
PENJELASAN
--Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya (dua dari kanan) mendengarkan penjelasan teknis dari seorang petugas teknis Subdin Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum NTT tentang rencana pembangunan dan pengelolaan mata air Igolodo di Desa Kolilanang, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Sabtu (27/6/2009).



GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya bersama sejumlah tokoh adat dan tokoh masyarakat serta lebih dari 100 orang warga di Kecamatan Witihama, Sabtu (27/6/2009), berbondong-bondong ke Kolilanang untuk melihat dari dekat sumber mata air Igolodo di desa tersebut.


Tidak hanya melihat sumber air di tempat itu, orang nomor satu di Propinsi NTT ini bersama masyarakat juga melakukan ritual adat dengan para pemangkut adat di Desa Kolilanang yang diyakini sebagai pemilik sumber mata air tersebut. Ritual itu ditandai dengan penyembelihan seekor babi dan darahnya dipercikkan di atas mata air tersebut sebagai lambang adat bahwa sumber mata air dengan debit sekitar 10 liter/detik itu akan segera dialirkan ke wilayah Witihama untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di lima desa dalam wilayah kecamatan itu.


Dan, sebagai tanda dimulainya pembangunan wadah penampuangan air, Frans Lebu Raya meletakkan batu pertama di sumber mata air tersebut.

Air dari sumber air ini, rencananya akan dialirkan ke Witihama dengan jaringan pipa sejauh sekitar 10 km dari sumber mata Igolodo itu. Pembangunan jaringan pipa air minum serta wadah penampung sumber mata air tersebut, ditangani langsung oleh Subdin Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum NTT yang berkedudukan di Kupang.

Kasubdin Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum NTT, Frans Pangalingan mengatakan, pihaknya akan segera mungkin membangun bendung dengan sistem pasir lambat untuk menampung dan menyaring air sebelum didistribusikan melalui jaringan pipa ke wilayah para konsumen.

Witihama yang juga merupakan kampung halaman Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, praktis tidak menikmati fasilitas air bersih setelah jaringan pipa dari sumber mata air Waidoko yang tak jauh dari Igolodo, karena dibor oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab di wilayah Desa Lamabunga, Kecamatan Klubagolit.

"Sepanjang 2008, kami hampir tidak pernah menikmati air bersih, karena jaringan pipa ke Witihama melalui Desa Lamabunga dibor oleh orang-orang tidak bertanggungjawab di desa itu sehingga tak ada aliran air yang mengalir sampai ke lima desa dalam wilayah Kecamatan Witihama," kata Thamrin Tolok Beni, mantan Kepala Desa Lamablawa.

Di saat itu, katanya, masyarakat dari lima desa tersebut langsung ke sumber mata air di Waidoko untuk menghancurkan jaringan pipa agar masyarakat Desa Lamabunga juga tidak menikmati sarana air bersih yang dibangun oleh seorang pastor (imam Katolik) asal Jerman yang bertugas di Paroki Maria Pembantu Abadi Witihama pada tahun 2000-an.

Persoalan tersebut nyaris bermuara ke arah perang tanding (saling baku bunuh) antara masyarakat Witihama dengan orang Lamabunga. Namun, keadaan itu berhasil diredahkan oleh tokoh masyarakat dari kedua wilayah tersebut.

Ketika berlangsungnya kampanye pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada 2008, Frans Lebu Raya yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur NTT (2003-2008) berjanji akan memasang jaringan pipa air bersih dari sumber mata air Igolodo di Desa Kolilanang ke Witihama jika terpilih menjadi Gubernur NTT periode 2008-2013.

"Janjinya ketika kampanye untuk membangun jaringan pipa air bersih dari sumber mata air Igolodo kini tinggal mendekati kenyataan," komentar Anton Bapa, seorang warga Desa Watoone ketika bersama masyarakat dari desa lainnya membahas soal rencana upacara adat bersama Gubernur NTT di sumber mata air tersebut pada Jumat (26/6/2009) tengah malam.

"Utang janji itu kini sudah saya lunasi, namun saya harapkan semua warga Witihama dapat memelihara sumber air minum tersebut agar tidak lagi kesulitan air bersih seperti pada waktu-waktu yang lalu. Saya tidak mau lihat lagi orang mendorong gerobak yang di atasnya penuh dengan derigen air minum," kata Gubernur Lebu Raya.

Ia mengharapkan para kepala desa dari lima desa dalam wilayah Kecamatan Witihama itu berunding kembali agar setiap rumah tangga dikenakan iuran air minum agar dana tersebut dapat digunakan untuk memelihara jaringan jika terjadi kerusakan. Menurut dia, Subdin Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum NTT akan memberikan pelatihan teknis penanganan pipa air bersih kepada masing-masing orang dari lima desa yang akan bertugas khusus menangani air bersih tersebut.

"Ini harus dibicarakan agar semua masyarakat dapat memahami, karena masyarakat kita selama ini sudah keenakan menikmati air gratis tanpa adanya pungutan. Karena itu, perlu adanya lembaga yang bertugas khusus untuk menangani masalah ini, seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)," katanya.


Kasubdin Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum NTT, Frans Pangalingan mengatakan, debet air dari sumber mata air Igolodo sebesar 10 liter/detik itu sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Witihama yang juga merupakan kampung halaman Gubernur NTT itu. "Debit air 10 liter/detik ini cukup besar. Yang penting kawasan di sekitar sumber mata air perlu dijaga agar tidak kering," katanya.

Perlu Reboisasi
Ketua Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) NTT, Yos Diaz yang ikut bersama rombongan, tampak sangat kecewa ketika melihat sebagian hutan di sekitar sumber mata air itu dibabat oleh penduduk setempat. Hutan yang di babat tersebut akan mempengaruhi debit air di tempat itu, bila kerusakan hutan tetap dibiaarkan atau semakin parah.

"Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, tetapi perlu segera dilakukan reboisasi atau penghijauan kembali di lokasi sumber mata air tersebut agar tidak gundul sekaligus menahan longsoran," katanya.

Menurutnya, jika kawasan yang telah digunduli tidak segera dilakukan reboisasi, tidak tertutup kemungkinan terjadinya longsoran yang akan menutup sumber mata air yang ada di bawah.

Gubernur Lebu Raya juga mengharapkan agar para kepala desa di wilayah Kecamatan Witihama perlu segera melakukan penghijauan di sekitar sumber mata air Igolodo yang akan menjadi sumber kehidupan masyarakat di wilayah Witihama. "Mungkin ini bentuk partisipasi kita dalam menjaga sumber mata air tersebut, agar tetap menjadi sumber air kehidupan bagi masyarakat di wilayah Witihama," katanya menambahkan.(antara/lorensius molan)

Pos Kupang Minggu 5 Juli 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda