Pasang 2 foto
Headshot Vinsensius Nurak
Vinsensius Nurak bersama keluarga


Mulai Dari Desa

MURAH senyum dan mudah akrab dengan semua orang merupakan ciri khas sosok Ir. Vinsensius Nurak. Suka guyon juga membuatnya dikenal luas di kalangan pegiat lembaga swadaya dan aktivis sosial, baik di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) maupun di NTT pada umumnya.

Namun di balik senyumnya yang ramah, pria berkulit kuning langsat ini merupakan sosok pekerja keras, ulet dan bisa membangkitkan semangat orang lain. Bersama beberapa temannya, ia mulai membangun Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM).

Lembaga yang menitikberatkan perhatiannya pada pemberdayaan petani dengan konsep wana tani atau pertanian berkelanjutan dengan tidak merusak hutan ini merintis aktivitas lembaga tersebut dari desa. Kini hampir semua desa di Kaupaten Timor Tengah Utara (TTU) telah dijamah oleh lembaga ini.

Kerja lembaga ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. Menurut Vinsensius, apresiasi Pemkab TTU ditunjukkan dengan seringnya Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek mengunjungi desa-desa binaan YMTM. Namun, itu saja belum cukup. Masih banyak hal yang perlu dilakukan Pemkab bersama lembaga- lembaga membangun desa-desa di Kabupaten TTU.

Untuk mengetahui sepak terjang Vinsensius bersama teman-temannya dalam mendobrak kemiskinan di TTU, berikut perbincangan Pos Kupang dengan Vinsensius beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda membangun YMTM hingga bisa eksis dan berkembang sampai saat ini?
YMTM resminya berdiri pada Agustus 1997. Saat ini kami bekerja di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Ngada, Nagekeo, kemudian TTU dan Belu. Kantor pusatnya ada di Kefamenanu-TTU. Sampai dengan saat ini jumlah staf kami ada 67 orang, tersebar di empat kabupaten dan terbanyak ada di TTU yaitu mencapai 45 orang.

Apa titik perhatian lembaga ini?
Sebenarnya kalau pertanyaan tentang kenapa kita memberikan perhatian pada pemberdayaan, saya kira kalau dari segi berdirinya, yayasan ini tidak mulai dari kantor. Kalau teman-teman LSM yang lain merintis kegiatan kantor baru ke desa, maka YMTM itu terbalik yaitu dari desa. Kami mulai dari desa, kantor kami di desa, kami punya kantor di desa. Kemudian, karena kebutuhan barulah secara perlahan kantor kami pindah ke kota. Kami berdiri tahun 1988, tapi kami baru punya kantor di kota 1994. Jadi selama enam tahun base kami di desa. Kami lebih mengutamakan segi pengembangan masyarakat. Kami berprinsip bahwa kalau kami mau membantu masyarakat, apalagi fokus kami pada pertanian, berarti kami tidak bisa menjadikan desa sebagai desa wisata, yaitu pagi datang dan sore pulang.

Tapi kami harus melihat desa sebagai bagian dari kehidupan kami. Sehingga kami mengambil strategi sebagai pendamping lapangan. Kami harus tinggal bersama petani di desa, tidak pernah kita meninggalkan desa. Ya, kita seperti seorang antropolog yang datang ke desa, tinggal bersama orang desa, makan apa adanya dengan orang desa dan hidup susah dengan orang desa sehingga kita tahu kebutuhan orang desa untuk merencanakan bersama mereka dan bekerja sama dengan mereka. Kami tidak pernah membangun desa mulai dengan program yang sebenarnya dari kami, tapi bagaimana kami mengangkat program atau kebutuhan dari orang desa. Karena itu saya kira partisipasi masyarakat itu paling utama.

Apa yang menjadi ciri dan kekuatan lembaga ini?
Sesuatu hal yang menjadi kekuatan kami adalah seleksi staf. Saya kira memang karena seleksi staf kita itu sangat kuat terutama kadang-kadang saat rekrut mengecewakn klien, apakah karena melalui beberapa tahap kemudian sampai pada penentuan terakhir oleh petani. Petani yang menentukan orang ini layak bekerja dengan petani atau tidak. Karena prinsip kami adalah membantu petani, maka keputusan terakhir harus ada pada petani. Ini prinsip yang kami pegang. Kalau kepemimpinan dan saya menjadi direktur lalu kekuatan ada di saya itu bukan demikian, karena kita harus tahu bahwa kita harus bicara tentang partisipasi, demokrasi dan sebagainya. Karena itu, pimpinan LSM tidak disebut sebagai kepala, tetapi disebut koordinator, direktur sehingga diharapkan dia hanya mengkoordinir karena semua keputusan adalah keputusan bersama. Karena itu, seorang pimpinan atau seorang direktur hanya menjanjalankan atau menjaga keputusan yang sudah dilakukan secara bersama, sebenarnya mengawal itu saja.

Sekarang sudah berapa desa dampingan YMTM? Apa yang dikerjakan lembaga Anda?
Sekarang kami bekerja di TTU, ada 10 kecamatan, 40 desa. Program pertama kami adalah pertanian berkelanjutan atau wahana tani. Program pertama mulai dari konservasi tanah dan air, pengembangan tanaman umur panjang, penggembalaan ternak sampai dengan usaha sayur-mayur. Kedua, kami ada penguatan ekonomi dan pasar. Ketiga, kesejahteraan dan air bersih, tapi kesehatan yang kami dukung lebih pada reproduksi atau kesehatan ibu dan anak serta kesehatan lingkungan. Keempat itu pelatihan. Pemikiran kami adalah ketika petani berpikir tentang pengembangan lahan pertanian atau pembangunan pedesaan yang bila dikembangkan sendiri mungkin akan lambat sehingga ada latihan-latihan yang bisa melibatkan pemerinah, NGO yang lain agar keberhasilan ini bisa ditularkan dan lebih banyak mendapat manfaat itu adalah teman-teman dari Timor Leste. Kemudian dengan penguatan institusi petani, sekarang ada sekitar 200 kelompok petani di TTU ini belum termasuk di Ngada atau di Flores maupun Belu. Di TTU ada 200 kelompok petani dan ada sekitar 30 kelompok induk desa atau yang disebut dengan lopo tani. Kalau di pemerintah itu disebut dengan Gapoktan.

Ada keluhan dari pemehati lingkungan tentang pola bertani masyarakat di TTU yang berpindah dan tebas bakar dan lain-lain. Apakah lembaga ini juga memiliki perhatian mengubah cara-cara bertani demikian?
Saya pikir, sejak awal YMTM sudah memeberikan perhatian untuk pertanian berkelanjutan. Salah satunya untuk mengatasi masalah tebas bakar. Tapi, ketika kita bekerja sendiri, kita melihat bahawa paling tebas bakar itu hanya bisa diatasi di petani dampingan kita. Karena itu sejak empat tahun lalu, 2005, kita mengembangkan yang namanya Mubes (Musyawarah Besar) Petani Timor Barat.

Tema induk selama dua kali Mubes berturut-turut itu adalah bagaimana mengatasi masalah tebas bakar. Hanya masalahnya sampai dengan saat ini kami hanya bekerja di TTU dan Belu. Tindak lanjut seperti refleksi di Mubes ke empat ini, TTS sulit dikawal karena tidak ada LSM yang memberikan perhatian itu. Tapi hal lain adalah kita tidak bisa bekerja di luar itu, sekarang kita bersama dinas pertanian sementara mengembangkan Perda Kebun Tetap. Mungkin perda ini tidak langsung menjadikan petani membuat kebun tetap tapi suatu saat mungkin kita harapkan bisa jadi, dan kita sedang berdiskusi apakah ini Perda Kebun Tetap atau Perda Pertanian Berkelanjutan.

Biasanya yang menjadi masalah adalah pola pikir orang Timor, bagaimana pertanian berkelanjutan bisa diterapkan dan diupayakan bisa diterima oleh masyarakat?
Saya selalu bilang, kenyataan kalau pemerintah yang berbicara tentang mengatasi tebas bakar, kemudian melarang tebas bakar, maka sampai kapan pun tidak akan tercapai bila pemerintah atau LSM tidak menemukan satu teknologi alternatif untuk mengatasi masalah ini. Karena kita tahu bahwa tebas bakar itu murah dan mudah dilakukan. Karena itu, sebenarnya saya kira sampai dengan saat ini orang bertanya
mengapa orang TTU, mengapa Dinas Pertanian tidak kembangkan, lahan kering
yang namanya wanhana tani adalah diversifikai, orang harus bisa membedahkan antara pertanian tanaman pangan dan pertanian tanaman berumur panjang sampai kepada ternak. Ketiganya bagaimana orang bisa mengembangkan tanaman pangan, kemudian hasil tanaman pangan atau tanaman umur panjang itu memberikan hasil dan sisanya diberikan kepada ternak. Bagaimana kotoran ternak dibawa ke kebun untuk dijadikan pupuk. Sebanarnya teknolgi yang lebih murah, karena sekarang orang hanya berpikir bisa membuat pupuk organik. Kalau pupuk anorganik membutuhkan uang, sampai kapan pemerintah akan membantu dengan pupuk terus menerus.

Apakah petani binaan YMTM sudah pakai pupuk organik?
Sekarang desa dampingan kami bebas bahan kimia. Mereka lebih mengembangkan pupuk cair organik, ada pupuk kompos atau bokasi. Mereka hanya menggunakan itu dan kenyataannya hasil mereka jauh lebih baik. Saya ambil contoh Desa Humusu A Kecamatan Insana Utara yang dikenal sbagai desa terkering di Timor Barat. Desa itu ketika kita dampingingi petama adalah desa yang paling rawan pangan, tapi kalau kita mau jujur desa itu merupakan desa yang paling aman pangan. Dulu saya menjadi petugas lapangan di sana.

Kalau begitu TTU tidak seperti kabupaten lain yang selalu meributkan masalah kekurangan pupuk?
Iya, tapi ini tidak didasarkan pada kemauan kami. Kemampuan kami mendampingi karena keterbatasan sumber daya seluruh petani di NTT. Saya kira ini memerlukan suatu kebijakan yang lebih luas. Katakan ini regulasi sangat penting, tidak bisa kita bilang bahwa hanya sekadar batasi pupuk kemudian pakai pupuk organik. Ini tentu sulit. Tapi harus ada satu kebijakan, mungkin suatu saat saya pikir dalam mimpi saya mungkin Dinas Pertanian bilang bahwa kita tidak akan adakan pupuk kimia atau obat kimia, tapi kita latih petani bikin pupuk organik atau membeli alat kompos dan sebagainya, memberikan kesempatan kepada petani memproduksi pupuk sendiri.

Apakah pemerintah tahu kalau YMTM punya program ini?
Bukan hanya tahu saja, Pemerintah Kabupaten TTU melalui pak Bupati, Drs. Gabriel Manek itu selalu memberikan apresiasi ketika mengunjungi desa dampingan YMTM. Setiap enam bulan, pak bupati selalu kunjungi desa dampingan YMTM di TTU ini. Tetapi saya tidak tahu masalahnya apa, ini masalah regeluasi tidak mendukung atau apa.

Dalam memberikan pencerahan, YMTM memberikan rekomendasi bahwa pertanian berpindah-pindah itu kurang baik?
Saya kira itu adalah pekerjaan utama kami. Kita mengharapkan kalau kita mendampingi, kami tidak mau kalau orang mau berkebun lalu kita bilang bukan kawasan hutan. Saya kira kita tidak mau seperti itu, banyak kebijakan yang selalu menyesatkan. Seperti mau buat reboisasi tapi tebas hutan baru buat reboisasi itu sebenanya gila. Kalau YMTM itu selalu berpikir, konsepnya adalah penguatan ekonomi tapi dasarnya kelestarian lingkungan

Sering ada selentingan bahwa LSM itu cenderung menghabiskan dana bantuan baik dalam negeri maupun luar negeri tapi tidak memberikan laporan. Pekerjaan yang menghabiskan dananya?
Saya kira itu kritikan untuk refleksi bagi pegiat LSM. Saya juga pernah bertemu sekali dengan sebuah LSM nasional. Bersama-sama kami ketemu pak gubernur (Piet Talo), juga pak gubernur waktu itu juga berkomentar itu yaitu LSM dari luar selalu datang untuk menipu rakyat NTT. Tapi saya kira ini harus menjadi satu cambuk bagi LSM kita, bagaimana LSM kita menunjakkan pada pihak pemerintah bahwa kita bekerja lebih baik daripada orang lain. Kita tidak bisa mungkin stres atau apa dengan kenyataan itu, kita harus tunjukkan. Saya kira di TTU, pemerintah paling mengakui kami karena kami bekerja serius untuk apa, kami bekerja melepaskan diri dari politik. Kami mau masuk politik, maka kami harus berhenti dari sini.
YMTM punya kekuatan. Kami benar-benar membebaskan diri dari politik. Bila ada staf kami yang mau masuk ke jalur politik, maka harus mengundurkan diri dulu. Oleh karena itu kami bisa bekerja dengan siapa saja dan ini tidak akan mungkin dibatasi karena masalah politik atau apa. Dari segi kepercayaan pemerintah, kami harus jujur bahwa pemerintah TTU paling percaya kami. Kadang-kadang orang mencap kami LSM pemerintah atau LSM plat merah tapi memang kenyataannya. Prinsip kami adalah membangun masyarakat tidak bisa kita mengkotak-kotakkan LSM ini, itu atau punya ego begitu dan sebagainya. (alfred dama)

Menikmati Pekerjaan

DI mana punVinsensius Nurak berada tentu menjadi ceria suasana di tempat itu. Sikapnya yang suka bergurau meski dalam suasana formal selalu membuat suasana rileks. Menurut ayah empat anak ini, sebenarnya sikapnya tersebut biasa-biasa namun pembawaan diri yang selalu ceria.
Ditemui di Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), belum lama ini, Vinsensius Nurak menjelaskan, bekerja sebagai aktivis LSM sangat menyenangkan. Inilah yang membuatnya selalu menikmati setiap aktivitasnya.
Menurutnya, pekerjaan ini merupakan harapannya sejak duduk di bangku kuliah. Semasa kuliah, ia tidak berpikir kerja sebagai PNS atau dosen meskipun untuk dua profesi itu sangat memungkinkan lulus Fakultas Pertanian-Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini.
"Sebenarnya pekerjaan ini merupakan motivasi yang dilatarbelakangi masa lalu saya. Saya dari keluarga miskin tinggal di desa. Semasa kecil, saya merasakan bagaimana orang miskin termasuk orangtua saya itu sering ditekan orang yang berkuasa atau punya uang. Jadi saya berpikir, suatu saat saya bisa membantu orang-orang di desa keluar dari kemiskinan. Sebab, dengan ekonomi yang baik pasti tidak menjadi korban kesewenang-wenangan orang lain. Karena itu, ketika saya mulai kuliah, saya tidak berpikir jadi PNS dan itu terus terbawa sampai saya tamat. Dan, ada tawaran untuk menjadi PNS atau dosen, tapi saya berpikir bagimana saya bisa membantu masyarakat secara langsung kalau saya menjadi PNS atau dosen," jelas pria yang suka membaca dan menulis ini.
Ia menceritakan pengalamannya bekerja di desa yang dimulai dari Desa Hamusu A, Kecamatan Insana Utara-Kabupaten TTU. Menurutnya, selama tiga tahun tinggal di desa tersebut, ia lebih banyak mendalami aktivitas petani di desa tersebut. "Saya bekerja di desa selama tiga tahun itu tidak ada gaji, saya makan dan tinggal dengan petani. Waktu di Hamusu A, petani yang kasih makan saya. Saya sakit, petani yang mengobati saya. Tetapi saya berprinsip, saya bekerja ini untuk bisa mengubah petani dan orang susah," jelasnya.
Meskipun hidup susah, ia menikmati suasana tersebut karena hal tersebutlah yang dicari yaitu menemukan permasalahan para petani dan berusaha memecahkan permasalahan tersebut. Suatu kebahagiaan bagi Vinsensius kalau bisa mengajak petani bekerja sama untuk meningkatkan perekonomian para petani tersebut. (alf)

Data diri
Nama : Ir. Vinsensius Nurak.
Tempat/Tgl Lahir : Boas/11 Mei 1964.
Alamat Sekarang : Jl. Nuri, Kefamenanu, TTU. Telp. 0388-31444/31999,
E-mail: ymtm-ttu@telkom.net.
LSM Asal : Yayasan Mitra Tani Mandiri
Nama Istri : Ir. Marselina Sumu
Nama Anak : 1. Yoseph Pascalis Nurak (Pascal)
2. Christofel Edward Nurak (Cen)
3. Maria Ducis Nurak Banunaek (Noni)
4. Silvia Gloria Nurak Banunaek (Silvia)
Pendidikan
SDK Hanono-Boas, tahun 1972 – 1977
SMPK St. Yoseph Seon, tahun 1978 – 1982
SMA Negeri Atambua, tahun 1982 - 1985
Universitas Nusa Cendana Kupang, Fakultas Pertanian, Jurusan Agronomi, tahun 1985 - 1990.

Pengalaman
Sebagai anggota peneliti Agroekosistem daerah kering di NTT, tahun 1986 - 1990.
Sebagai anggota peneliti tanaman multiguna pendukung agroforestry, thn 1987 - 1990.
Sebagai anggota peneliti etnobotani, tahun 1989.
Dan lain-lain


Pos Kupang Minggu 28 Juni 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda