Keluarga Muchsen Thalib dan Nurhasnah Ra'uf


FOTO ISTIMEWA
Muchsen Thalib ketika bersama istri dan ketiga anaknya

Mulai Dengan Membentuk Iman Anak

FENOMENA remaja saat ini yang rentan dengan pergaulan bebas dan minuman keras hingga narkoba membuat banyak orangtua selalu khawatir dengan perkembangan anak-anak mereka.

Demikian pula dengan Muchsen Thalib dan Nurhasnah Ra'uf. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut, pasangan ini tidak mau gegabah dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Itu sebabnya sejak kecil, anak-anak buah hati pasangan ini sudah dibentuk dengan hal-hal yang berbau rohani.


Ini dilakukan agar anak memiliki dasar iman yang kuat sejak dini.
Pasangan ini memiliki tiga anak, si sulung, Nurmuhyminah, lahir di Kupang, 22 April 1992, saat ini duduk di bangku kelas II, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Kupang. Putra keduanya, Muhammad Ichsan, lahir di Kupang, 16 November 1993, saat ini duduk di bangku kelas I, SMA Negeri 1 Kupang, dan putri bungsunya, Himiatilah, lahir di Kupang, 16 Agustus 1997, saat ini duduk di bangku kelas II, Madrasah Tsanawiyah (Mts) Pluss Nurul Iman Kupang.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Jalan Hati Mulia VI Oebobo, Kompleks Mesjid Nurul Iman Oebobo, Selasa (7/7/2009), mengatakan, rumah tangga adalah bentuk kehidupan sosial yang unik. Awalnya dari dua orang yang beda karakter, tapi dalam proses ketika disatukan perlu adanya komunikasi terdahulu untuk menyatukan langkah untuk mencapai keluarga yang rukun sejahtera dan bahagia.

Selama ini, katanya, banyak yang salah tafsir, bahwa keluarga yang bahagia harus punya mobil mewah, rumah megah, jabatan dan sebagainya. Padahal, semuanya itu hanya sebagai penunjang saja, karena yang terutam adalah kesiapan hati. Karena itu, katanya, kebiasaan yang diterapkan dalam keluarganya adalah mengajak istri dan anaknya untuk melakukan apa pun dari hati.

Menurutnya, hati harus bisa menerima perbedaan, kekurangan, kesempitan rezeki dan sebagainya. Dengan demikian jika hati sudah siap untuk menerima semuanya, tantangan apa pun pasti akan dilalui dengan baik. Hal ini akan berpengaruh pada pendidikan terhadap anak karena dilakukan dengan sentuhan hati.

Untuk itu, katanya, sebagai keluarga muslim dan sebagai seorang guru, dia punya beberapa prinsip. Pertama, membentuk hati dan iman anak. Ini dilakukan sejak anak-anaknya masih belum masuk taman kanak-kanak. Ia membiasakan anaknya mengucapkan doa dan syukur terhadap apa pun. Menurutnya, saat ini banyak yang terbalik mengajarkan anak untuk tahu membaca dan menulis terlebih dahulu. Namun, baginya, anak harus tahu berdoa dan bersyukur terlebih dahulu. Ia selalu memulai membentuk anaknya dengan hal-hal yang sederhana di rumah.

"Saya ajarkan mereka dari hal-hal kecil, misalnya saling menghargai, menyayangi dan menghormati. Misalnya pada saat makan, ayah duluan baru ibu, selanjutnya kakak yang paling tua dan baru yang adik. Atau barang kepunyaan kakak atau adik, kalau mau harus meminta terlebih dahulu, jangan sampai saling mendahului. Atau binatang yang masuk ke rumah, biasanya saya katakan jangan lempar, tetapi hargailah mereka karena sama- sama ciptaan Tuhan. Inilah yang saya lakukan pada anak-anak.

Saya ajarkan mereka bukan berarti harus takut, tetapi menjadi takut akan Tuhan. Kalau ini dilakukan sejak kecil, pasti ke depan anak-anak akan jadi baik. Karena akan tidak mungkin kalau sudah duduk di bangku SD baru kita mulai ajarkan hal-hal sederhana ini kepada anak," kata pria yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Kupang ini.

Kedua, mendidik perilaku dan akhlak anak.
Ketiga, kecerdasan anak. Menurutnya, jika konsep ini dilakukan dengan hati akan menciptakan anak-anak manusia yang sukses dan cerdas sesuai dengana apa yang diinginkan. Dikatakanya, saat ini banyak yang melakukan ritual formal, harus sembayang lima waktu, punya kumis yang panjang, pakai peci, tapi perilakunya nol. Selain itu, orang membanggakan kecerdasanya, tapi lupa akan Tuhan. Inilah, yang harus ia jaga agar anak- anaknya jangan sampai terjebak dengan ritual formal dan tidak seimbang dengan perilaku yang dijalankanya dalam kehidupan bermasyarakat.

Alumnus dari Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Muhammadiyah Kupang ini mengatakan, ada tiga hal yang menjadi perhatian utama bagi seorang anak, yakni, iman, fisik dan otak. Menurutnya, iman adalah makanan hati dimana selalu ingat akan Tuhan, syukur, ibadah dan baca firman. "Jangan sampai kitab suci Al'Quran hanya sebagai pajangan saja di rumah," katatnya. Sedangkan makanan otak adalah ilmu pengetahuan dimana anak diajarkan untuk membaca, mendengar dan mengamati, selanjutnya melaksanakan. Sedangkan makanan fisik adalah asupan makanan yang bergizi, karena sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Saat ini, katanya, seiring dengan perkembangtan ilmu pengetahuan, informasi dan tekologi yang begitu cepat dan ketat, banyak fenomena yang terjadi di masyarakat sehingga perlu dicermati secara baik oleh keduanya dalam mendidik anak- anaknya.

Dikatakanya, ada tiga hal pula yang selalu ditekankan di rumah kepada keluarganya, adalah tidak boleh marah, tidak boleh memerintah dan tidak boleh melarang. Dengan demikian, katanya, ketiga anaknya diberikan sebuah kebebasan untuk melakukan apa saja, tetapi tetap dalam pengarahan keduanya.
Dal hal belajar, ia selalu menekankan untuk membagi waktu dengan baik di rumah, yakni bangun pagi sembahyang habis langsung membaca.

Dikatakanya, kebiasaan yang ditanamkan pada anaknya dalam hal belajar adalah setiap haris membaca dua jam dan membaca apa saja, apakah buku, komik, majalah atau koran. (nia)

Pos Kupang Minggu 12 Juli 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda